Mesin Waktu (1) Djambore Band Djakarta 1970

Posted: Juli 18, 2011 in Tinjau Acara
Tag:,

Koes Plus

Sabtu malam 7 November 1970,pelataran Istora Senayan terlihat menyemut dengan kerumunan penonton yang siap menonton perhelatan musik terbesar di Djakarta.Setidaknya 3000 penonton mendatangi arena olahraga Senayan ini untuk melihat sebuah pertunjukan musik yang diberi tajuk “Djambore Band Djakarta 1970” yang menampilan band wanita The Candies,Bhajangkara Band,The Rhadows,Panbers dan Koes Plus.
Hiburan band seperti ini merupakan tontonan yang memiliki magnet luar biasa saat itu di Djakarta.Apalagi yang menjadi atraksi utama adalah band yang tengah mendaki jenjang ketenaran sebut misalnya Koes Plus yang tahun 1969 silam merilis album perdananya “Dheg Dheg Plas” pada label Mesra/Dimita yang dimiliki Dick Tamimi.
Djambore Band Djakarta dibuka lewat suara yang rada ngebas dari Sambas,penyiar RRI/TVRI yang pernah menciptakan lagu “Manuk Dadali”.Dengan the Golden Voice-nay Sambas langsunmg membuka konser pertunjukan yang diadakan Ikatan Mahasiswa Djakarta.Kabarnya mereka tengah menggalang dana untuk pembangunan sebuah Youth Center.
Dengan busana warna warni terbuat dari satin yang dilengkaoi celana model bell bottom atau yang kerap disebut cutbray,The Candies yang terdiri atas Dora Sahertian yang tampil sebagai penyanyi dan pemencet organ serta 3 rekannya Esther,Judith dan Sandra.Meskipun belum setaraf dengan Dara Puspita,tapi The Candies tampaknya punya masa depan cerah sebagai band wanita yang potensial.
Oleh pihak panitia penyelenggara,setiap band dijatah untuk mendendangkan sekitar 4 lagu.
Usai The Candies,muncul band Bhajangkara.Baru dua lagu mereka bawakan,mikropfon nya malah tak bersuara alias mati.Bhajangkara malah mempersilahkan Panbers naik panggung dulu.
Panbers yang terdiri atas Hans Panjaitan(gitar),Benny Panjaitan (gitar,organ,vokal),Doan Panjaitan (bass,vokal) dan Asido Panjaitan (drum) segera menebar pesona dengan memainkan bunyi-bunyian mirip sirene.Lalu mengalunlah lagu yang menyerempet ke pola rock “Djakarta City Sound”.
Walau mereka menyebut diri sebagai band pop,tapi aksi panggungnya mirip rockers.Terutama drummer Asido Panjaitan yang kerap berakrobat : nendang cymbal pakai kaki atau berdiri diatas kursai drumnya.
Benny Panjaitan memanmg memiliki suara yang melengking.Diduga dia mampu mendaki lebih dari 3 oktaf.
Lagu “Akhir Cinta” yang dinyanyikan Benny memperoleh aplause dari penonton.Usai Panbers dengan gaya pseudo rocknya.
Sambas dengan suaranya yang berat lalu mendaulat The Rhadows untuk beraksi.Band yang tampak menghambakan diri pada rock ini terdiri atas Rudy Dotulong (vokal,gitar),Wempy Tanasale (bass),Ibbung (keyboard) dan John Dotulong (drum).John ini adalah ayah dari Amara Lingua.
The Rhadows menampilkan warna musik yang cenderung keras.Rudy Dotulong pun terampil meniti nada nada tinggi tanpa terpeleset satu not pun.
Setelah The Rhadows,publik kian antusias.Karena yang dijadwalkan tampil adalah Koes Plus yang terdiri atas 3 bersaudara Koeswoyo (Tonny,Yon dan Yok) serta anggota baru Kasmuri dan lebih dikenal dengan panggilan Murry.Drummer yang enerjik ini tadinya adalah drummer band Patas dengan salah satu anggotanaya adalah Wempy Tanasale yang mendukung the Rhadows.
Usai the Rhadows lalu muncullah band yang ditunggu tunggu publik performansinya.
Dengan pakaian yang sangat sederhana untuk sebuah pertunjukan besar,Koes Plus tampaknya betul betul siap untuk menghibur penonton yang tengah kepayang dengan sajian band-band ngetop di Djakarta.
Koes Plus berhasil merampas perhatian penonton lewat lagu-lagu karya sendiri terutama yang ditulis oleh Tonny Koeswoyo.Dibuka dengan lagu “Manis dan Sayang” serta “Derita” yang diambil dari debut album mereka di tahun 1969.Saat itu lagu-lagu Koes Plus mulai dipengaruhi warna sweet sound ala Bee Gees.Yon Koeswoyo sendiri tiba-tiba berupaya menghasilkan vibra seperti halnya Barry Gibb dari Bee Gees.
malam itu Koes Plus takl ketinggalan membawakan hits lama mereka saat masih menggunakan nama Koes Bersaudara yaitu “Senja”.
Lagu keempat yang dilantunkan Koes Plus adalah Tjintamu Telah Berlalu ytang introduksi lagunya mengingatkan kita pada lagu “Lamplight” nya Bee Gees dari album “Odessa” (1969).
Walaupun Koes Plus telah menyudahi penampilannya .Tapi penonton tak beranjak.Mereka berteriak memohon encore.Koes Plus pun memainkan sebuah ballad bertajuk “Tiba Tiba Kumenangis”.Ini sebuah lagu cinta nan unik,karena Yon pun menyanyikannnya seperti orang bersedih dengan suara sesungukan.

jauh malam hari
sayup kudengar kenari
kududuk sendiri
hatiku rindu mencari

tiba-tiba ku menangis
sedih hatiku sedih
mengapa ku begini
ha…ha

ku tiada pernah mengerti
pergi mengapa pergi
mungkinkah kau kembali

Penonton Djambore Band Djakarta 70 pun terkesima.Mereka seperti dihipnotis.Aplause pun merebak dan menggaung di Istora Senayan.
Malam minggu itu jelas sudah bhawa Koes Plus merupakan bintang panggung.Mereka berhasil menguasai penonton yang berjumlah ribuan.
Koes Plus memang siap menjadi band pop terbaik dengan penggemar terbanyak di acara ini.
Konser pertunjukan ini merupakan indikasi timbulnya fenomena band-band-an di Indonesia yang dipicu oleh kelahiran Koes Plus.
Koes Plus pun menjadi role model bagi anak band yang tengah bergiat membentuk band di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s