Arsip untuk September, 2011

Sally Jo ,penggesek biola Sahardja

Mereka laksana menebar metafora. Menyatukan elemen musik dunia menjadi satu kesatuan yang utuh bukan sesuatu yang gampang. Tapi upaya ini dilakukan oleh Saharadja, kelompok musik asal Bali yang diarsiteki peniup trompet Rio Siddik (Indonesia) dan penggesek biola Sally Jo (Australia). Mereka berdualah yang menorehkan konsepsi musik eklektik Saharadja. Bayangkan jika kuping Anda harus menerima sajian musik perpaduan dari berbagai kecenderungan. Ada etnik Bali, Mesir, Aborigin, bluegrass, India, dan Celtic, serta jazz, funk, dan klasik. Yang menarik, Saharadja tetap menomorsatukan ritmik yang tegas walau tak terlalu gamblang. Sajian semacam itu memang lazim ditemui pada pola musik rakyat. Alhasil, musik Saharadja seolah menawarkan godaan yang impulsif. Kurang-lebih begitulah deskripsi mengenai grup, yang oleh sebagian orang sering ditahbiskan sebagai bagian dari ranah world music, ini. Saharadja berupaya peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Simaklah komposisi bertajuk Bali Smile yang menjadi track pembuka debut album One World, yang ditulis Rio Siddik untuk korban bom Bali pada 12 Oktober 2002. Musiknya menyediakan ruang penuh optimisme bahwa Bali masih bisa kembali tersenyum. Denyut bas fretless yang dimainkan Badut Widyanarko, meskipun menggeram, terasa ceria. Lewat musik, Saharadja menebar metafora. Kepiawaian Sally Jo menggesek biola terlihat pada Celtic Jungle. Nomor tradisional Celtic ini, yang juga didukung bunyi-bunyian sintesis, terasa berpihak pada musik yang sering berdentam di arena clubbing. Seolah berada di sebuah petualangan menelusuri wilayah demi wilayah, Saharadja lalu menyemburkan napas musik Mesir pada lagu Saharadja. Tetabuhan rebana dan darbuka, yang dimainkan Ajat Lesmana, terasa aksentuatif.

Masih kurang? Saharadja pun mengobrak-abrik sebuah komposisi karya Johannes Brahms, Hungarian Dance, dengan sentuhan perkusi yang kental. Dalam lagu ini menyeruak dialog antara bunyi trompet redam yang ditiup Rio Siddik dan jari-jemari Sally Jo yang ligat menelusuri fret biola elektriknya. Eksotis.

Apalagi jika ditambah dengan menyimak Tabla Man, komposisi yang ditulis Rio Siddik dan diaransemen Igor Tamerlan, yang kental nuansa India-nya. Atau simaklah serpihan musik tradisi Aborigin dalam Didge Desire, yang menampilkan trompet Rio Siddik dan bas Badut Widyanarko serta instrumen suku Aborigin, didgeridoos, yang dimainkan Ajat Lesmana. Saharadja dibentuk di Bali pada 2002 oleh sepasang kekasih, Rio Siddik (trompet) dari Indonesia dan Sally Jo (biola) dari Australia. Mereka berdua menyatukan latar belakang kultur yang berbeda dalam visi yang sama: musik. Keduanya menulis komposisi musik mereka. Pendukung lainnya adalah Ajat Lesmana (darbuka, rebana, jembe, didgeridoos), Barok Khan(banjo, gitar, tabla), Gede Yudhana (gitar, vokal), Eddy Siswanto (drum), dan Badut Widyantoro (bas fretless). Mereka juga didukung oleh sederet pemusik tambahan, seperti Igor Tamerlan (synthesizers), Ketut Riwin (gitar), Ketut Rico (keyboard), Ony Pa (drum), Koko Harsoe (gitar), Erick Sondhy (synthesizers), Donny Dewandaru (perkusi), dan Jimmy Sila’a (bas). Menyimak repertoar Saharadja laksana menikmati tamasya musik. Tak berlebihan jika sajian lintas kultural Saharadja ini terasa seperti ingin menyatukan dunia dalam musik. Bahkan Rio pun pernah berucap, “Salah satu mimpi saya adalah ingin bermain musik di hadapan para pemimpin dunia sehingga musik dengan keragaman etnik bisa menyatu dalam kebersamaan.

” DENNY SAKRIE, PENGAMAT MUSIK (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 21 Januari 2006)

Mengenang Chrisye (1949 – 2007)

Posted: September 16, 2011 in Obituari

Gipsy di pelataran Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta 1969

Gipsy di tahun 1971

Chrisye bersama Gipsy di tahun 1969

Jika Chrisye masih hidup sekarang ini pastilah dia telah berusia 62 tahun.Tepat hari ini 16 September 2011  almarhum Chrisye merayakan hari ualng tahunnya.Disaat seperti ini mungkin tepat jika kita berupaya mengenang karya-karya Chrisye dalam khazanah musik Indonesia.

Dan berikut ini saya kembali mencuplik catatan tulisan saya,sebuah obituari yang pernah di muat di majalah Tempo edisi 8 April 2007 silam.

Mungkin bisa dihitung jari sebelah tangan, penyanyi yang memiliki karakter kuat dan juga memiliki karier musik panjang serta nyaris tak pernah stagnan. Di antara para penyanyi itu adalah Broery Marantika, Benya-min S., Farid Hardja, dan yang baru saja meninggalkan kita semua, Jumat 30 Maret silam, adalah Chrisye.

Suara Chrisye berkarakter kuat karena hampir tak ada yang bisa meniru atau menyamainya. Begitu mendengar senandungnya, kita pun bisa menebak siapa siempunya suara tersebut. Kesamaan lainnya, baik Broery, Benyamin, Farid maupun Chrisye mampu menyiasati pergeseran tren yang sering bergonta-ganti dalam konstelasi musik pop. Mereka luwes berlenggang pada era-era yang berbeda. Jika banyak pemusik atau penyanyi lain yang tersungkur karena hantaman tren yang menggelegak, maka Broery, Benyamin , Farid, dan Chrisye justru menjumput penggalan elemen musik yang tengah mewabah lalu dibaurkan dengan identitas musik mereka sendiri. Tanpa sedikit pun ada kesan pemaksaan sama sekali.

Lihatlah Benyamin S. yang mampu merengkuh berbagai idiom musik yang populer pada zamannya mulai dari blues, soul, funk, rock. hingga dangdut sekalipun tanpa harus memasung identitas musikalnya yang berlatar budaya Betawi. Itu pula yang terjadi pada Broery, Farid, hingga Chrisye.

Pola semacam ini juga kita temukan dalam gaya bermusik Broery Marantika, Benyamin S., dan Farid Hardja. Karya-karya mereka menjadi immortal dari generasi ke generasi. Mari kita lihat betapa memasyarakatnya idiom ”buah semangka berdaun sirih” dari lagu Aku Begini Engkau Begitu karya Rinto Harahap yang dipopulerkan Broery. Juga, fenomena Karmila hingga Ini Rindu dari Farid Hardja serta Benyamin S. dengan Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis.

Tepatnya, Chrisye adalah penyanyi yang selalu tepat dalam menafsirkan lagu dari siapa saja. Sudah banyak komposer yang menyodorkan lagu untuk Chrisye, mulai dari Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, Oddie Agam, Rinto Harahap, Dian Pramana Poetra, Adjie Soetama, Younky Soewarno, Andi Mapajalos, Bebi Romeo, Ahmad Dhani, Pongky Jikustik, dan sederet panjang lainnya. Ketika lagu-lagu ciptaan me-reka dinyanyikan Chrisye, atmosfernya lalu berubah menjadi atmosfer Chrisye.

Itu pun terjadi ketika Chrisye dalam album Dekade (2002) membawakan lagu dangdut karya A. Rafiq berjudul Peng-alaman Pertama hingga Kisah Kasih di Sekolah dari Obbie Messakh, semuanya meleleh menjadi karakter Chrisye.

Ini mengingatkan saya pada Phil Collins, drumer rock progresif Genesis yang kemudian lebih dikenal sebagai ikon musik pop. Phil Collins penyanyi yang juga menjadi mata air inspirasi Chrisye. Phil Collins adalah Midas yang mampu mengubah lagu siapa saja menjadi lagu Phil Collins. Simak saja, misalnya, You Can’t Hurry Love yang awalnya dipopulerkan The Supremes hingga Groovy Kind of Love-nya Wayne Fontana & The Mindbender. Semuanya seolah lagu karya Phil Collins.

Singkatnya, kemampuan menginterpretasikan karya adalah salah satu titik kekuatan Chrisye, di samping timbre vokal yang khas. Chrisye memang tepat disebut sebagai penyanyi bernapas panjang. Konon, semasa bergabung di Gipsy antara 1969 dan 1973,Chrisye paling sering membawakan repertoar grup brass rock Chicago dan pemusik blues kulit putih John Mayall. Karakter vokalis Peter Cetera dan John Mayall yang mengandalkan napas panjang dalam mendaki lengkingan vokal yang tinggi tampaknya membentuk karakter vokal khas Chrisye yang dikenal orang sekarang ini.

Sayangnya, sang pemilik napas panjang ini usianya tak panjang. Ketiga rekannya pun berusia tak panjang: Broery 52 tahun, Benyamin 56 tahun, dan Farid 48 tahun. Karena penyakit yang bersarang di tubuhnya, Chrisye pun pamit dari hadapan kita enam bulan sebelum dia genap berusia 58 tahun pada 16 September 2007 nanti.

Kepergian Chrisye disambut rinai hujan yang mengguyur Jakarta. Sayup-sayup terngiang suara lirih Chrisye bernyanyi di sebuah radio:

Merpati putih berarak pulang terbang menerjang badai
Tinggi di awan menghilang di langit yang hitam.

Di muat di majalah Tempo Edisi. 06/XXXIIIIII/02 – 8 April 2007

Obituari Utha Likumahuwa

Posted: September 14, 2011 in Obituari

Utha Likumhuawa diiringi orkestra      Hei nona manis biarkanlah bumi berputa ,menurut kehendak yang Kuasa

 

Almarhum Dodo Zakaria sepertinya menuliskan lagu “Esokkan Masih Ada” itu khusus untuk almarhum Utha Likumahuwa,penyanyi stylish Indonesia yang menghembuskan nafas terakhir pada selasa 13 September 2011 di RS Fatmawati Jakarta .Lagu yang menyiratkan optimisme itu memang terlihat pada perilaku Utha Likumahuwa, yang dilahirkan 1 Agustus 1955 di Ambon Maluku dengan nama lengkap Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa.Meskipun terserang stroke akibat komplikasi berbagai penyakit diantaranya diabetes,Utha toh tetap bersikap optimis untuk memerangi penyakit yang dideritanya itu.Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan Utha Likumahuwa yang didampingi isteri Debby Likumahuwa malah menggumamkan lagu “Puncak Asmara” karya Oddie Agam yang dipopulerkannya pada tahun 1987.

Seperti lazimnya penyanyi-penyanyi berdarah Maluku yang lain,mulai dari Bob Tutupoly hingga Broery Pesolima dan Harvey Malaiholo ,maka Utha Likumahuwa adalah deretan penyanyi stylish yang memiliki karkater kuat.Mereka yang saya sebutkan ini memiliki ekspresi serta phrasering yang powerfull.Para penyanyi Maluku ini seperti ditakdirkan mampu bernyanyi dengan ekspresi jiwa yang mumpuni.Setelah era Utha Likumahuwa,deretan penyanyi stylish itu terlihat pada sosok Glenn Fredly.Lagu “Esokkan Masih Ada” itu bahkan sempat didaur ulang oleh Glenn Frdedly dengan melisma yang menyihir penikmatnya.Utha bahkan memuji penafsiran Glenn Fredly pada lagu “Esokkan Masih Ada”.”Saya yang menanam bibit lagu karya Dodo itu tapi Glenn berhasil menyemaikannya menjadi sebuah tanaman yang luar biasa.Suara dan gaya nyanyi Glenn jelas lebih bagus dari saya” puji Utha Likumahuwa ketika menyimak Glenn Fredly membawakan lagu itu dengan aura pop R&B.

Menurut Utha ,dia sangat kagum dan terinspirasi dengan gaya vokal Gino Vannelli serta Alex Ligertwood,penyanyi Skotlandia yang pernah mendukung Brian Auger’s Oblivion Express dan Santana.Gaya kedua penyanyi itu memang menyilang pada warna jazz rock yang ekspresif.Pengaruh Stevie Wonder atau James Ingram pun tertelusuri pada jatidiri vocal Utha.

Suara tenor Utha Likumahuwa memang terdengar lentur mendaki hingga 3 oktaf .Namun di satu sisi suara Utha pun ternyata juga hirau pada aura pop yang lebih sederhana.Inilah kelebihan Utha yang membuatnya bertahan dalam industri music kita.

Utha Likumahuwa mulai diperbincangkan namanya di Indonesia saat menyanyikan lagu “Tersiksa Lagi” karya almarhum Christ Kaihatu dan Younky Alamsyah di tahun 1982.Lagu ini sempat menuai kehebohan ketika ternyata lagu ini merupakan hasil plagiat atas karya instrumental pianis jazz Ramsey Lewis “You’re The Reason” dengan introduksi yang diambil dari lagu “Telluride” dari kelompok fusion Spyrogyra.Tapi apa boleh buat lagu itu terlanjut menjadi hit nasional.Bahkan penyanyi jazz Syaharani mendaur ulang lagu itu di tahun 2000.

Karir Utha memang tak sekejap mencuat dalam industry music Indonesia.Dia banyak malang melintang di dunia musik yang sarat perjuangan.Di era 70-an saat bermukim di Bandung Utha sempat tergabung dalam band rock bernama Big Brother sebagai penabuh drum.Selain itu Utha pun mampu bermain piano.Tapi ternyata dia lebih memilih sebagai penyanyi yang mengantarkannya ke dunia klab malam hingga pub. Di awal 80an Utha Likumahuwa berperan sebagai vokalis pada kelompok jazz rock Jopie Item Combo yang didukung Jopie Item (gitar),Rully Bachrie (drums),Christ Kaihatu (keyboard) dan Yance Manusama (bass).Mereka bermain di Captain Bar Mandarin Hotel Jakarta.

\Beruntung,Utha Likumahuwa tak terlalu lama menggeluti dunia music di bar atau pub.Utha mulai melangkah ke bilik rekaman.Di tahun 1979 Utha Likumahuwa membawakan dua lagu dari ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors yaitu “Dara” (Candra Darusman) dan “Cinta Diri” (Harry Dea) dalam album “10 Pencipta Lagu Remaja 1979” diiringi Prambors Band.Di tahun 1981 Utha bahkan didapuk menyanyikan lagu juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1981 bertajuk “Tembang Pribumi” karya Christ Kaihatu.

Di tahun 1980 Utha Likumahuwa dikontrak Purnama Record mewmbawakan lagu-lagu pop sebanyak dua album yaitu “Mama” (1980) dan “Jangan Sakiti Hatinya” (1981) diiringi music Bartje Van Houten.Album yang berisikan lagu-lagu remake atas karya Rinto Harahap ini tak berhasil dalam penjualannya.Kesuksesan justru mulai memihak pada Utha saat merilis album “Nada dan Apresiasi” di tahun 1982 bersama iringan Christ Kaihatu (keyboard),Karim Suweileh (drums),Yance Manusama (bass),Joko WH (gitar) dan Jopie Item (gitar) lewat hits “Tersiksa Lagi” dan “Rame Rame”.

Di tahun 1983 Utha Likumahuwa mulai dikontrak label Jackson Records & Tapes.Dimulai dengan album “Bersatu Dalam Damai” yang menghasilkan hits besar “Esokkan Masih Ada”.Di album ini Utha didukung sederet pemusik tenar seperti Jopie Item,Dodo Zakaria,Rully Djohan,Sam Bobo,Ongen Latuihamallo  hingga Addie MS.  Mulai tahun 1984 Utha mulai bergelimang hits seperti “Gayamu”,”Mereka Bukan Kita”,”Aku Pasti Datang”,”Puncak Asmara” termasuk duetnya dengan Trie Utami,Louise Hutauruk,Dian Pramana Poetra,Henry Restoe Poetra  dan Vonny Sumlang bahkan di tahun 1991 membuat trio bersama Fariz RM dan Mus Mujiono menyanyikan “Kekagumanku (Miracles” karya Dorie Kalmas.Di tahun 1986 Utha Likumahuwa pun ikut memperkuat Suara Persaudaraan,kelompok musik yang didukung 75 artis music untuk  membantu kegiatan sosial gagasan pemusik James F Sundah yang terisnpirasi USA For Africa .

Sejak itu sosok Utha Likumahuwa menjadi bagian dari khazanah musik pop Indonesia.Di era 80an nama Utha sejajar dengan Broery Pesolima,Fariz RM,Dian Pramana Poetra dan Harvey Malaiholo serta Mus Mujiono

Setidaknya ada  20 album pernah dirilis oleh almarhum Utha Likumahuwa semasa hidupnya. Bahkan Utha pun mencatat beberapa prestasi dalam beberapa ajang kompetisi seperti Grand Prix Song’s The 6th ASEAN Festival di Manila, Filipina pada tahun 1989. Lalu The 2nd in Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong pada tahun 1989 serta ABU World Song Festival di Malaysia pada tahun 1990,saat berduet dengan Trie Utami.

Disaat pemakaman Utha Likumahuwa di Bogor pada rabu 14 September 2012, beberapa stasiun radio dan TV swasta seolah melepas kepergian Utha dengan lirik “Esokkan Masih Ada” yang menyentuh relung sanubari kita semua :

Tuhan pun tau hidup ini sangat berat
Tapi takdir pun tak mungkin slalu sama
Coba-coba lah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada

Bersatu Dalam Damai 1983
Album Nada dan Apresiasi 1982
Utha Likumahuwa bersama Twilite Orchestra di Sydney Opera House
Utha Likumahuwa dan Bagoes AA 1984