Mengenang Lilis Surjani (1948 – 2007)

Posted: September 1, 2011 in Sosok

Insan seni yang komplit. Predikat ini rasanya tak berlebihan disematkan pada sosok almarhumah Lilis Surjani yang menghembuskan napas terakhirnya pada Ahad (7/10) 2007, sekitar 21.30 WIB. Lilis Surjani yang dilahirkan 22 Agustus 1948 tak hanya piawai sebagai penyanyi. Dia pun menulis sejumlah lagu, di antaranya bertajuk Tiga Malam, lagu yang sohor pada zaman konfrontasi Indonesia – Malaysia.

Lilis yang bertubuh mungil dan rambut model jambul ini juga seorang drummer dan pernah membintangi sederet film layar lebar pada kurun waktu 1964-1974.

Riwayat Seni Suara
Lilis telah merintis dunia seni suara sejak berusia 12 tahun, saat duduk di bangku sekolah rakyat (SR) di Gang Topekong, kawasan Kota, Jakarta Pusat. Suaranya lantang dengan artikulasi yang bening.Ini modal Lilis Surjani kelak, ketika meniti karier di dunia musik.

Dua tahun berselang, ketika menimba ilmu di Sekolah Kepandaian Putri Boedi Oetomo, Lilis telah menginjakkan kaki di pelataran Istana Negara, sebagai penyannyi remaja membawakan lagu berbahasa Sunda Tjai Kopi. Lilis, saat itu, adalah penyanyi paling belia di antara Nien Lesmana, Masnun Soetoto, maupun Titiek Puspa, yang di kemudian hari menjadi sahabat terdekatnya. Itulah awal perkenalan Lilis dengan Bung Karno.

Pengobar Heroisme
Selain Gang Kelinci, beberapa lagu Lilis yang populer, seperti Asmara maupun Hari Ulang Tahun, merupakan ciptaan Titiek Puspa. Namun demikian bukan berarti ia hanyalah artis yang sekadar pandai dan tahu urusan menyanyi saja. Sejak usia belasan, penyanyi yang sejak dahulu hingga kini berambut cepak ala Connie Francis ini banyak menulis dan menggubah sendiri lagu-lagu yang dibawakanya. Lagu pertama yang ditulis oleh Lilis adalah Di Kala Malam Tiba yang kemudian direkam pada 1963.

Lagu-lagu seperti Lenggang Kangkung, Ratapan Sang Bayi, Keluhanku, Adikku Sayang, Tari Gemulai, Air Mata, Kisah Si Ali Baba, Tiga Malam, Tepuk Tangan, dan Ujung Pandang adalah beberapa contoh lagu yang diciptakannya dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu ciptaannya, Si Baju Loreng yang bertemakan kekaguman seorang gadis terhadap seorang anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), bahkan menjadi lagu yang menjadi pengobar heroisme tersendiri di pertengahan 1960-an.

Antara 1963-1966, saat terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia, Lilis tercatat banyak menulis sekaligus menyenandungkan lagu-lagu bertema patriotik dan pemicu semangat bernegara. Di antaranya Pergi Berjuang, Tiga Malam, Kau Pembela Nusa Bangsa, Mohon Diri, Baju Loreng, Hurryku Sayang, dan Berita.

Sebahagian isi lirik yang dinyanyikan Lilis memang diangkat dari kisah kehidupannya sendiri. Ketika ia menikah dan menempuh hidup baru, dia lalu menulis lagu bertajuk Ku Telah Berdua. Atau pada saat pindah rumah dari Gang Kelinci, Pasar Baru ke Jalan Duri Pulo, Lilis yang menempati rumah baru bersama sang suami lalu menulis lagu Rumahku.

Lilis pun pernah berkolaborasi dengan almarhum Bing Slamet menulis lagu jenaka 007 yang terdapat pada album 007, dirilis oleh perusahaan rekaman Phillips Singapura.

Untuk Bung Karno
Pada dasawarsa 60-an, popularitas Lilis Surjani sering dikaitkan dengan Bung Karno, presiden pertama negeri ini. Terutama, ketika ia menyanyikan lagu pujian untuk Bung Karno bertajuk Oentoek Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno, karya Soetedjo yang terdapat pada album Lilis Surjani keluaran Irama Record diiringi Orkes Bayu di bawah pimpinan F Parera. Simaklah penggalan liriknya:
Laguku ini ingin kupersembahkan pada paduka yang agung serta mulia kan kudoakan kehadirat Illahi
semoga paduka tetap sejahtera selalu
betapa bahagia rakyat Indonesia
dalam bimbingan paduka yang mulia

Saat itu, Presiden Soekarno tengah giat-giatnya mengganyang budaya Barat yang disebut sebagai musik ngak ngik ngok. Dalam sebuah media yang terbit 1965, Lilis Surjani mengungkapkan bahwa dia sesungguhnya tak menyukai musik rock and roll yang ditularkan The Beatles. Tak heran, jika Bung Karno, termasuk pengagum Lilis. Apalagi, Lilis juga terampil menyanyikan pelbagai lagu-lagu daerah, mulai dari Minang, Makassar, hingga Sunda, dengan fasih.

Bung Karno lalu mulai memperkenalkan irama lenso yang dianggap sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Dan, muncullah album Mari Bersukaria dengan Irama Lenso. Pemusik dan penyanyi tenar yang ikut memopulerkan irama lenso, antara lain Bing Slamet, Jack Lesmana, Titiek Puspa, Nien Lesmana, dan termasuk Lilis Surjani.

Lilis Surjani dan Bing Slamet masing-masing menyanyikan lagu Gendjer Gendjer, karya senimana Banyuwangi, M Arief, yang kelak divonis sebagai lagu yang terlarang, karena berhubungan erat dengan peristiwa Gerakan G 30 S PKI.

Band wanita
Pada 1968, Lilis tak hanya tampil sebagai penyanyi solo yang sukses. Dia pun terlibat membentuk sebuah band wanita yang diberi nama The Females bersama Rita Rachman (keyboard) dan Rose Sumanti. Ia bermain drum di kelompok ini. Saat itu, kancah musik negeri ini diwarnai maraknya band-band wanita, seperti Dara Puspita, The Singers, The Reynettes, The Beach Girls, dan banyak lagi.

Popularitas Lilis pun kian mengangkasa. Dia tak hanya dikenal di Indonesia, melainkan ke negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, hingga Filipina. Di Singapura, Lilis sempat merilis beberapa album pada perusahaan rekaman Pop Sound yang merupakan subdivisi dari Phillips. Album-album Lilis pun dicetak ulang di Malaysia. Sosoknya kian berkobar di Malaysia.

Ketika ketenarannya memudar di Indonesia pada akhir 70-an, justeru Lilis tetap dikenang di Malaysia hingga saat sekarang ini. Siti Nurhaliza, misalnya, menyatakan kekaguman terhadap Lilis. Dalam salah satu albumnya, Siti Nurhaliza menyanyikan hit besar Lilis bertajuk Tiga Malam.

DISKOGRAFI

ALBUM SOLO
1.Pulang Muhibah (Irama Record EPLN 4)
2.Lilis Surjani (Irama Records LPI 175111 )
3.Ia Tetap di Atas (Irma Record LPI 17597)
4 Pantun Djenaka- Lilis Surjani (Bintang Record BT 103)
5.LS (Remaco RL)
6.Kisah Remadja (Remaco REP 010)
7.Wajah Menggoda (Bali/Remaco RL 018)
8.Gang Kelintji (Remaco RL 020)
9.Tjing Tulungan (Remaco REP 020)
10.Antosan (Bali/Remaco RL 022)
11.Permata Bunda (Bali Record BLM)
12.Ku Telah Berdua (Remaco RL 036)
13.Pemburu (Remaco RL 044)
14.007 (Remaco RL 053)
15.Taxi Ibukota (Remaco RL 081)
16.Si Aseng Matjan Glodok (Remaco RL 080)
17.Insaflah (Mutiara MLL 005)
18.Lilis Surjani (Indah SML 12 001)
19.Ditinggal Mama (Phillips 112619)
20.Kasih Nan Abadi ( Popsound /Philips Product)
21 Jangan Tanya (Pop/Phillips Product)
22.Airmata – Lilis Surjani (Pop/Phillips Product)
23.Selamat Tinggal – Lilis Surjani (Pop Sound/Phillips)
24.Lilis Suryani Vol.1 (Yukawi IMR 900121)
25.Lilis Suryani Vol 2 ‘Neng Pipit’ (Yukawi IME 900121)
26.Pakarena (Remaco)

ALBUM DUET
1.Lilis Surjani dan Suhaeri (Diastar DSL 001)
2.Tukang Loak – Lilis Surjani dan Benjamin S (Remaco RLL)
3.Lilis Surjani & Hamiedan (Remaco RLL)

ALBUM KOMPILASI
1.Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso ( Irama LPI 1758)
2.Varia Malam Eka Sapta ( Bali Record BLM 7002)
3.Aneka 12 (Remaco RLL 03)

FILMOGRAFI
1.Di Ambang Fadjar (PT Agora Film,1964) – Aktris
2.Bunga Putih (PT Agora Film,1966) – Aktris
3.Mahkota (PT Agora Film,1967) – Aktris
4.Jangan Kau Tangisi (PT Daya Isteri Film,1974) – Aktris

Tulisan ini dimuat di Harian Republika Senin, 22 Oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s