Radio, Penyambung Lidah Musik

Posted: September 1, 2011 in Opini

Fariz RM
Denny Sakrie dan Harry Roesli

We watch the shows,we watch the stars
On video for hours and ours
We hardly need to use our ears
How music changes throuh the years
Let’s hope you never leave old friend


(“Radio Gaga” – Queen 1984)

Setuju banget apa yang dilantunkan Freddie Mercury di paruh 80-an memang kenyataan tak terbantahkan. Radio tetap jadi sahabat yang tetap didekap dan disimak, walau berjuta tayangan visual menggoda di depan mata. Kotak ajaib yang bernama radio ini memang daya sihir luar biasa. Tak berlebihan jika musik dan radio ibarat pasangan abadi yang tak lekang dimakan zaman. Dan radio, menurut saya, adalah penyambung lidah musik.

Mungkin kebayang apa jadinya anak band era jadul tanpa radio. Pasti mereka tak akan bisa memainkan Elvis Presley, The Beatles, The Rolling Stones, Deep Purple, Black Sabbath dan sederet kugiran-kugiran mancanegara. Benny Likumahuwa bercerita di zaman itu jika pemusik ingin tetap update wawasan musiknya ya…..harus rajin-rajin nguping siaran radio luar negeri seperti ABC Australia, Hilversum Belanda hingga Voice Of America.

Menyimak musik tempo doeloe memang butuh perjuangan luar biasa. Tidak seperti anak band sekarang, tinggal pilih CD, nonton kanal MTV yang ngeglobal hingga download dari internet. Dahulu, pas lagi siap mau denger radio eh……ada giliran pemadaman lampu dan berbagai kendala lainnya.

Jika majalah Aktuil sejak tahun 1967 telah mewartakan berita-berita musik mancanegara, maka gelombang radio pun menyiarkan lagu-lagu. Di jelang akhir dasawarsa 60-an mendirikan pemancar radio memang seolah menjadi ritual dari kegiatan anak muda selain ngeband. Di pelosok negeri dari kota kecil hingga kota besar mulai terlihat antene dari bambu mencuat membelah langit yang dibangun sekelompok anak muda.

Di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Semarang, Manado, Makassar hingga Ambon eksperimen elektronik kaum belia memang tengah menjamur. Saat itu memang bisa disebut fase euphoria , peralihan dari rezim Orde Lama ke Orde Baru dan larangan musik ngak ngik ngok memang pelan-pelan pupus. Apalagi setelah cukup lama teraliansi dan terkungkung akibat iklim politik yang serba tertutup, nyaris semua anak muda mengisi masa-masa remaja yang indah dengan melakukan siaran.

Seperti apa sih siarannya ? Ya, Cuma cuap-cuap sambil tebar pesona diseling mutar lagu-lagu . Terus kirim-kirim lagu. Semuanya serba suka-suka. Hari ini mengudara, besoknya menghilang di udara. Hari ini siaran di gelombang anu eh…….besoknya udah nangkring di gelombang yang lain. Gak ada aturan sama sekali. Makanya kegiatan ini dikenal dengan Radio Amatir, kadang juga disebut Pemancar Gelap atau Pemancar Liar.

Jumlah pemancar gelap yang nongkrong di jalur AM dan SW lumayan banyak. Bejibun. Razia demi razia tak membuat mereka kapok. Mereka tetap siaran, walau berbekal pemancar berdaya 15 watt dan radius jangkauannya mungkin cuma sekecamatan atawa sekelurahan. Tapi itu sudah sangat membanggakan dan prestisius.

Sampai akhirnya peraturan resmi dari Pemerintah perihal peradioan ini muncul juga di tahun 1970, salah satunya adalah bahwa radio siaran harus berbentuk badan hukum perseroan terbatas atau perkumpulan.

Karena regulasi ini satu persatu pengelola radio amatir mulai tersungkur. Namun toh banyak juga yang serius untuk mengelola radio di jalur resmi dengan motivasi bisnis. Mulailah terdengar kiprah seperti PT. Elshinta Broadcasting System hingga PT. Prambors Rasisonia Broadcasting Service di Jakarta. Lalu ada Bonkenks dan Oz di Bandung, Radio Suzana Surabaya, Radio Zodiac Surabaya, Radio Bonsita Medan, Radio Telstar Ujung Pandang, Sound Of Love Manado dan banyak lagi.

Radio-radio yang berbadan hukum ini kalau anda masih ingat, acapkali memasang iklan di majalah Aktuil. Masing-masing radio swasta niaga itu mulai berpromosi mengenai acara-acara yang ada di stasiunnya misalnya Prambors dengan “Blues Line” atau “Rest & Relax”.

Mereka pun mulai pamer motto radionya seperti Radio Bonsita Medan dengan tagline  Semua Bukan Berarti satu, Tapi Satu Sudah Tentu Untuk Semua, Itu Pasti” atau yang paling terkenal adalah idiom dari Prambors Rasisonia : ”Mumpung Masih Muda Harus Jujur, Gesit dan Kreatif”. Sebuah ungkapan yang penuh makna memotivasi kaum muda untuk melakukan sesuatu, tak sekedar ngebut-ngebutan atau mabuk-mabukan.

Mereka, para pengelola radio, mulai sadar bahwa radionya harus memiliki jatidiri yang kuat. Ini terlihat dari format program acara yang mereka rancang bahkan ke soal logo atau maskot. Lihatlah logo grup rock progresif Belanda yang dibentuk Rick Van Der Linden “Ekseption” bergambar wanita berambut kribo, diadopsi dan dimodifikasi radio Prambors menjadi logo yang terus dipakai hingga era 2000-an ini.

Upaya mengenal lagu-lagu baru terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika justru bermuara di stasiun-stasiun radio swasta niaga ini. Persaingan mulai terasa ketika radio-radio bermodal besar yang kebetulan berada di Jakarta atau Bandung mulai berlomba-lomba memutar lagu-lagu mancanegara yang baru dirilis yang diistilahkan sebagai new entry. Lagu-lagu gres itu sumbernya dari Piringan Hitam yang disupply kolega mereka di Amerika maupun di Inggeris atau Belanda. ”Piringan Hitam itu dititipin sama pramugari atau pilot pesawat,” cerita Sys NS, yang ikut besar dalam lingkup Radio Prambors.

Popularitas lagu di negeri tercinta ini memang sangat tergantung oleh kiprah para pengelola radio ini. Dengan frekuensi pemutaran yang lebih tinggi atau kerap disebut Heavy Rotation atau Top Airplay sebuah lagu bisa mencuat sebagai hits nasional. Banyak sudah contoh, sebuah lagu mancanegara menjadi ngetop hanya di Indonesia karena jasa pihak radio yang memilih lagu tersebut sebagai calon hits. Sebut misalnya lagu “Question” dari Manfred Mann’s Earth Band yang sangat ngetop di negeri kita, justeru di negeri asalnya Inggris malah yang jadi hits adalah “Blinded By The Light.” Contoh lain, betapa populernya lagu “It’s a Shame” dari Heavy Metal Kids di sini, padahal lagu ini dilirik orang pun tidak di Amerika Serikat.

Lagi-lagi semuanya adalah upaya kreatif dari para broadcaster.

Lebih jauh lagi, radio-radio swasta mulai melebarkan jaringan sebagai produser kaset. Prambors mulai menyeleksi lagu-lagu dalam charts hit di radionya untuk direkam dalam bentuk kaset dan dijual ke pasaran. Mulailah keluar serial “Prambors Disco,” ”Prambors Hits” hingga “Rest & Relax.” Saking kreatifnya, Prambors bahkan memilih hit single sendiri misalnya mengedit album “Journey to the Center of the Earth”-nya Rick Wakeman yang berdurasi puluhan menit menjadi single berdurasi 3 menit sesuai dengan pakem radio dalam durasi lagu “three minutes rule.”

Tak bisa dipungkiri, sinergi antara info musik yang ditebar majalah Aktuil sebagai satu-satunya media yang menjejalkan budaya anak muda dan radio yang memutar lagu-lagu mancanegara terkini bagai mempelai yang duduk harmonis dipelaminan. Sebuah simbiose mutualisme.

Ketika Aktuil dengan Aktuilmusicollection mulai merilis sederet album kompilasi seperti “Aktuil Hitmakers,” ”Aktuil Just Rock” hingga “Aktuil Discotime,” lagu-lagu yang terangkum di dalam album tersebut ikut berkumandang di radio-radio yang bermitra dengan Aktuil. Silakan lihat majalah Aktuil No.238 edisi 30 Januari 1978 di halaman 4 terpampang iklan dari Aktuilmusicollection berbunyi:

Dengarkanlah lagu-lagu ini di Radio Amigos Jakarta, Radio ARH Jakarta, Radio Cakrawala Jakarta, Radio Bonkenks Bandung, Radio Elgangga Bandung, Radio Merdeka Surabaya, Radio Suzanna Surabaya, Radio Zodiac Surabaya antara tanggal 23 s/d 27 Januari 1978.

Beberapa radio lain yang mengikuti jejak Prambors dalam bisnis kaset antara lain Radio Queen Jakarta, Radio Elshinta Jakarta. Saat itu memang belum ada Undang-Undang yang mengatur perihal Hak Cipta. Jadi setiap lagu mancanegara yang dirilis secara internasional, juga direkam oleh para perekam yang tumbuh bak jamur antara lain Lolita, Perina, Aquarius Saturn, Top’s, King’s, Atlantic, Yess, Monalisa, Bootleg, Hin’s dan banyak lagi termasuk Aktuil dan radio-radio swasta.

Namun di sisi lain, radio-radio seperti Prambors malah menggagas merekam album-album dari pemusik Indonesia yang berkonotasi idealis misalnya merilis album perdana God Bless di tahun 1976 dengan melakukan kongsi bersama Aquarius dibawah label Pramaqua (Prambors Aquarius).

Majalah kesayangan kita Aktuil pun melakukan hal yang serupa yaitu merilis album fenomenal Harry Roesli “Titik Api” dan Konser Rakyat Leo Kristi “Nyanyian Fajar.”

Kegiatan merekam lagu-lagu mancanegara kemudian berakhir ketika muncul gugatan dari Bob Geldof dari The Boomtown Rats yang murka karena siaran lewat satelit “Live” pada Juli 1985 dibajak dalam serial kaset oleh perekam Indonesia.

Kegiatan radio lama kelamaan memang kian beragam, tak hanya memutar lagu dan menjadi ajang kirim-kiriman lagu belaka. Banyak kegiatan radio yang lebih populer dengan istilah kegiatan off air mulai memancing minat para pendengarnya. Masih ingat ketika sejumlah radio mulai membentuk divisi Disko mulai pada paruh era 70-an. Bahkan radio-radio pun ikut menaungi kegiatan anak band. Kang Gandjar dari Radio OZ Bandung bahkan menjadi manajer grup rock Giant Step. Beberapa personil Giant Step semisal Benny Soebardja dan Triawan Munaf bahkan sempat ikut siaran segala. Mulailah terdengar kelompok-kelompok musik yang berafilisiasi pada radio antara lain Prambors Band, Prambors Vokal Group, Geronimo II dan Geronimo VIII, Amigos Vokal Group dan banyak lagi.

Di tahun 1977 Radio Prambors malah menggagas Lomba Cipta Lagu Remaja yang gaungnya malah dianggap ikut memberi warna baru dalam konstelasi musik pop Indonesia. Radio Amigos Jakarta menggagas Lomba Vokal Group yang antara lain menetaskan grup Chaseiro-nya Chandra Darusman hingga Bourest Vokal Group yang antara lain didukung Dian Pramana Poetra.

Di tahun 1978, almarhum Demas Korompis dari radio Ganesha Bandung menggelar sebuah acara bertajuk Top Hits Pop Indonesia (THPI) yang merangkum lagu-lagu pop Indonesia yang terpopuler berdasarkan chart tangga lagu yang didukung oleh sindikasi radio swasta niaga di seluruh Indonesia.

Dari sini jelas sudah medium radio memang tak bisa dipisahkan dengan musik, begitupun sebaliknya. Dugaan dan prediksi banyak orang bahwa eksistensi siaran radio akan tersungkur dan terjerembab dengan menjamurnya jumlah stasiun televisi swasta maupun televisi kabel, sama sekali tidak berbuah bukti. Radio tetap dalam pelukan siapa saja, segala usia dan dari strata sosial apapun.

Siapa yang berani membantah lengkingan Freddie Mercury dalam “Radio Gaga” ?

My only friend through teenage nights
And everything I had to know
I heard it on my radio
You gave them all those old time stars

(Tulisan ini awalnya akan dimasukkan dalam buku tentang “Majalah Musik Aktuil”,tapi karena sesuatu dan lain hal batal diterb

itkan)

Denny Sakrie bersama Ekki Soekarno

Komentar
  1. amadklise mengatakan:

    Memang benda yang satu ini sangat kecil bentuknya namun sangat besar manfaat dari segi kegunaannya dan bahkan memberikan dampak yang besar pula buat karakter kita.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s