Hikayat Rock Progresif di Indonesia

Posted: September 12, 2011 in Sejarah

The Gang of Harry Roesli 1973

Giant Step 1985

Gipsy di tahun 1969 membawakan King Crimsons

Abadi Soesman,keybaordis progresif rock

Barongs Band 1976

Triawan Munaf,keyboardis Giant Step Bandung

Makara di TVRI

Keenan Nasution,Oding Nasution dan almarhum Chrisye

Pada tahun 1966, band Sabda Nada yang terdiri dari Pontjo Soetowo, Zulham Nasution, Gauri Nasution, Keenan Nasution, Ronald, Eddy, dan Edit-mencoba bereksperimen memadu musik Barat, dengan gamelan Bali yang dipimpin I Wayan Suparta Widjaja. Peristiwa itu berlangsung di Gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin, Jakarta. “Eksperimen itu kami lakukan karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Biasalah, anak muda kan selalu coba ini coba itu. Apalagi, kami sering merasa jenuh memainkan yang itu-itu juga,” ungkap Keenan (50), yang menabuh drum. Sepuluh tahun berselang, ketika Sabda Nada telah berganti nama menjadi Gipsy, Guruh Soekarnoputra mengajak grup musik yang bermarkas di Jalan Pegangsaan itu, membuat musik eksperimen memadukan musik gamelan Bali, kali ini dengan musik rock. Ini sesuatu yang baru terjadi di Indonesia, menggabungkan gamelan Bali yang pentatonis, dengan musik rock yang diatonis. Meskipun di tahun yang sama, pemusik rock Jerman, Eberhard Schoener, baru saja merilis album Bali Agung yang mengawinkan rock dengan musik Bali. Bahkan jauh sebelum itu, pemain kibor The Doors, Ray Manzarek, telah menyusupkan nafas gamelan Bali dalam album LA Woman (1971), dan album solonya, The Golden Scarab (1973). Guruh Gipsy-yang terdiri dari Guruh (piano, komposer), Keenan (drum, vokal), Roni Harahap (piano, kibor, komposer), Oding Nasution (gitar), Abadi Soesman (synthesizer) dan Chrisye (bas, vokal)-bisa disebut sebagai grup yang mempelopori gerakan rock progresif Indonesia. Dan 25 tahun berselang, jejak Guruh Gipsy diikuti oleh Discus, grup rock progresif yang telah merilis album di Italia, dan tampil di beberapa event internasional. Seperti halnya Guruh Gipsy, Discus pun masih merasa perlu membaurkan unsur musik etnik Bali dalam komposisinya yang kompleks itu. Bahkan, Discus pun mengajak pemusik Bali, I Gusti Kompyang Raka, yang juga membantu Guruh Gipsy di tahun 1970-an, sebagai mitra bermusik. Kompyang, bersama 25 pemain gamelan Bali yang dipimpinnya, juga ikut mendukung penampilan grup Gong 2000 pada awal tahun 1990-an lewat lagu Anak Adam dan Bara Di Timur. Tampaknya, unsur gamelan, baik Jawa maupun Bali, masih merupakan daya tarik untuk digabungkan dengan musik rock. Karakter rock yang meletup-letup rasanya memang pas bersanding dengan karakter gamelan, terutama gamelan Bali yang sarat dinamika. Ini pun dilakukan pemusik Bandung, Harry Roesli yang menggabungkan beberapa instrumen tradisional Jawa Barat seperti gamelan, calung, dan angklung, dalam upaya memempelaikan musik rock, dan etnik Jawa Barat. Bila Guruh Gipsy terkesan serius, Harry Roesli malah memilih penggarapan yang penuh canda. Album Titik Api (1975) yang dirilis oleh majalah Aktuil, adalah salah satu pencapaian yang dilakukan Harry Roesli, setelah sebelumnya melakukan terobosan lewat album Philosophy Gang (1973) yang dirilis Lion Record, label rekaman yang ada di Singapura. Pada saat yang bersamaan, pemusik Surabaya, Gombloh & Lemon Trees Anno ’69, juga mencoba hal serupa: menyusupkan unsur musik etnik Jawa Timur dalam musik Barat, yang merupakan persilangan antara rock dan folk seperti yang dipelopori Jethro Tull dari Inggris. Beberapa karya Gombloh yang bisa dianggap esensial memiliki nafas rock progresif yang kuat, antara lain Merah Putih Bersilang Di Mukaku, Nadia & Atmosphere, Tetralogi Fallot, Silhuette Kuda Jantan, yang terdapat dalam album Nadia dan Atmosphere (1976). Juga lagu Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng dari album Berita Cuaca (1977), yang sering disebut sebagai “rock Jawa” karena liriknya menggunakan bahasa Jawa. Selain berkesan memanfaatkan eksotisme Timur (gamelan serta instrumen tradisional Indonesia lainnya) dalam bingkai musik Barat, baik Guruh Gipsy, Gang Of Harry Roesli, maupun Gombloh & Lemon Trees Anno ’69, juga memanfaatkan medium ini sebagai ajang melontarkan kritik sosial. Misalnya, rasa was-was Guruh terhadap intervensi budaya Barat yang melanda generasi muda, terwakili dalam lagu Chopin Larung yang ditulis dalam bahasa Bali: Sang jukung kelapu-lapu Santukan baruna kroda Nanging Chopin nenten ngugu Kadangipun ngarusak seni budaya (Perahu terombang-ambing Karena dewa laut murka Namun Chopin tiada memahami.  Bangsanya merusak seni budaya) Di lagu yang pada salah satu bagiannya menggabungkan komposisi Fantasia Impromptu karya Chopin dengan gamelan Bali ini, digambarkanlah keprihatinan Guruh terhadap dekadensi budaya luar yang diibaratkan pada sosok komposer klasik asal Polandia, Fryderyk Franciszek Chopin. Demikian juga kritik sosial yang ditulis Harry Roesli dalam lagu berlirik Inggris, Peacock Dog. Menurut Harry Roesli, negara kita memiliki dua sisi yang kontradiktif, antara merak yang mempesona, dengan anjing yang menyebalkan. Pada tahun 1970-an, seolah-olah ada “keharusan” bahwa musik rock progresif adalah campur sari antara musik rock dengan musik tradisional, serta lirik-lirik lagu yang cenderung ke arah kritik sosial. Tetapi, tak semua grup yang berkiblat pada art rock (istilah yang dipakai sebelum istilah rock progresif), yang mencampur musik Barat dan Timur dalam komposisinya. Sebut saja Giant Step, grup Bandung yang dimotori Benny Soebardja dan Albert Warnerin, yang melahirkan komposisi bernuansa progresif pada album Giant On The Move (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Mereka mengacu pada beberapa grup rock progresif luar negeri yang tengah naik daun saat itu, seperti Gentle Giant, Yes, Genesis,dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer). Begitu pula halnya dengan dua grup Jakarta yang muncul secara bersamaan pada tahun 1978, yaitu Abbhama dan Rara Ragadi. Abhama, grup yang didukung mahasiswa LPKJ (sekarang IKJ), dan hanya merilis satu album (Alam Raya, 1978) ini, menawarkan tatanan musik rock progresif dengan pengaruh musik klasik yang kuat. Sedangkan Rara Ragadi-yang didukung Raidy Noor, Riza Arshad, Luke Arshad, dan Cendi Luntungan-menyebut musiknya dengan art rock fusion. Rara Ragadi, nama yang diambil dari tokoh pesilat perempuan, juga cuma merilis sebuah album. Memang harus diakui, grup yang memainkan rock progresif pada era 1970-an bisa dihitung dengan jari. Grup rock terkenal seperti SAS dari Surabaya, tercatat cukup intensif membawakan repertoir dari ELP, seperti Karn Evil # 9 hingga Pictures At An Exhibition yang sangat rumi. Begitu pula God Bless, yang pernah menyajikan repertoir Yes, Focus, Kansas, dan ELP di panggung. Sayangnya, keterampilan grup-grup ini dalam membawakan karya-karya yang rumit itu, justru tidak diikuti dengan membuat karya-karyanya sendiri. Meskipun God Bless pernah merilis album Cermin (1980) yang berbau rock progresif, tetapi itu masih diragukan orisinalitasnya lantaran di beberapa lagu, seperti Anak Adam, terasa adanya kemiripan dengan beberapa lagu semisal Journey From Maria Bronn (Kansas), dan Celebration Suite Part II (Return To Forver). Yang patut dipuji adalah Barongs Band yang didukung Eros Djarot, Gauri Nasution, Tri, Epot, Adi, dan Debby Nasution. Mereka mencantumkan nama komposer klasik Johann Sebastian Bach pada sampul album Barongs Band (1976) Record) ketika dalam beberapa aransemen musiknya Debby Nasution mencuplik beberapa bagian komposisi karya Bach. Seiring dengan surutnya popularitas musik rock progresif di Inggris, berguguranlah grup-grup Indonesia yang mengusung musik “negeri atas angin” ini di akhir 1970-an. Tetapi, masih ada juga yang nekad menekuni semacam ini. Setidaknya seperti yang diperlihatkan Wow yang hingga pertengahan 1980-an tetap konsisten di jalur rock progresif dengan merilis album Produk Hijau (1982), dan Produk Jingga (1983). Wow terdiri dari Fariz RM (drum, vokal), Moesja Joenoes (gitar), Iwan Madjid (kibor, vokal), dan Darwin Rachman (bas). Di samping Wow, mencuat pula grup Makara yang terdiri atas Harry Mukti (vokal), Kadri (vokal), Adi Adrian (kibor), Agus Anhar (gitar), Januar Irawan (bas), dan Andy Julias (drum). Makara menyebut musiknya sebagai art metal. “Istilah ini memang karangan kita sendiri. Saat itu kami mencoba memainkan warna art rock dengan suara sedahsyat musik heavy metal,” ungkap Andy. Makara pun banyak menebar lirik berbau kritik sosial, misalnya Laron-Laron yang menyorot isu urbanisasi hingga Fabel yang menyindir kondisi sosial negeri tercinta ini. Grup yang tumbuh dari lingkungan kampus Universitas Indonesia ini pun menyilangkan unsur musik etnik Sumatera Barat, lewat penyerapan instrumen tradisional talempong yang berkesan ritmis dan repetitif, terutama pada lagu Fabel.

Di awal era 90am muncul grup progresive rock  bernama Cynomadeus yang terdiri atas Iwan Madjid (keyboard),Eet Sjahranie (gitar),Arry Safriadi (vokal),Fajar Satritama (drums) dan Todung Panjaitan (bass).Sayangnya kelompok ini hanya sempat menghadirkan satu album saja.Lalu menghilang tanpa jejak. Tapi dua dari Cynomadeus yaitu Eet Sjahranie dan Fajar Satritama kemudian menyempal dan membentuk EdanE bersama Iwan Xaverius dan vokalis Eki Lamoh.

Cynomadeus Arry Safriadi,Fajar Satritama,Iwan Madjid,Todung Panjaitan dan Eet

Munculnya Discus di tahun 2000 lewat album Discus 1st yang diedarkan oleh Aquarius Musikindo dan Mellow Record Italia, bisa dianggap sebagai pemicu bangkitnya rock progresif di Tanah Air. Discus sendiri bahkan telah go international dengan tampil di dua acara internasional, yakni ProgDay 2001 di North Carolina (AS), dan Baja Prog 2002 di Meksiko. Yang menggembirakan, Discus kini tidak sendirian sebagai grup pembawa aliran rock progresif karena sudah ada yang berkembang pesat seperti Smesta, Pendulum, Imanissimo, In Memoriam, Zabrix, Hypothalamus, Gibraltar, dan lain-lain. Beberapa di antaranya malahan sudah merilis album yang diedarkan secara independen. Bahkan, Adi Adrian, pemain kibor dari Kla Project yang dulu pernah memperkuat Makara, diam-diam tengah menyiapkan sebuah album solo yang bercorak rock progresif. Apakah ini pertanda musik rock progresif akan mengulang kejayaannya di tahun 1970-an silam? Kita lihat saja. Denny Sakrie pengamat musik Kompas Senin, 29 April 2002 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/29/dikbud/dari43.htm

Lukisan Guruh Gipsy

Iklan
Komentar
  1. marketplusmagz berkata:

    Halo mas Denny 🙂
    Salam kenal dari majalah marketplus.

  2. Revi NOnot berkata:

    salam kenal mas..thanks nambah wawasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s