Obituari Utha Likumahuwa

Posted: September 14, 2011 in Obituari

Utha Likumhuawa diiringi orkestra      Hei nona manis biarkanlah bumi berputa ,menurut kehendak yang Kuasa

 

Almarhum Dodo Zakaria sepertinya menuliskan lagu “Esokkan Masih Ada” itu khusus untuk almarhum Utha Likumahuwa,penyanyi stylish Indonesia yang menghembuskan nafas terakhir pada selasa 13 September 2011 di RS Fatmawati Jakarta .Lagu yang menyiratkan optimisme itu memang terlihat pada perilaku Utha Likumahuwa, yang dilahirkan 1 Agustus 1955 di Ambon Maluku dengan nama lengkap Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa.Meskipun terserang stroke akibat komplikasi berbagai penyakit diantaranya diabetes,Utha toh tetap bersikap optimis untuk memerangi penyakit yang dideritanya itu.Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan Utha Likumahuwa yang didampingi isteri Debby Likumahuwa malah menggumamkan lagu “Puncak Asmara” karya Oddie Agam yang dipopulerkannya pada tahun 1987.

Seperti lazimnya penyanyi-penyanyi berdarah Maluku yang lain,mulai dari Bob Tutupoly hingga Broery Pesolima dan Harvey Malaiholo ,maka Utha Likumahuwa adalah deretan penyanyi stylish yang memiliki karkater kuat.Mereka yang saya sebutkan ini memiliki ekspresi serta phrasering yang powerfull.Para penyanyi Maluku ini seperti ditakdirkan mampu bernyanyi dengan ekspresi jiwa yang mumpuni.Setelah era Utha Likumahuwa,deretan penyanyi stylish itu terlihat pada sosok Glenn Fredly.Lagu “Esokkan Masih Ada” itu bahkan sempat didaur ulang oleh Glenn Frdedly dengan melisma yang menyihir penikmatnya.Utha bahkan memuji penafsiran Glenn Fredly pada lagu “Esokkan Masih Ada”.”Saya yang menanam bibit lagu karya Dodo itu tapi Glenn berhasil menyemaikannya menjadi sebuah tanaman yang luar biasa.Suara dan gaya nyanyi Glenn jelas lebih bagus dari saya” puji Utha Likumahuwa ketika menyimak Glenn Fredly membawakan lagu itu dengan aura pop R&B.

Menurut Utha ,dia sangat kagum dan terinspirasi dengan gaya vokal Gino Vannelli serta Alex Ligertwood,penyanyi Skotlandia yang pernah mendukung Brian Auger’s Oblivion Express dan Santana.Gaya kedua penyanyi itu memang menyilang pada warna jazz rock yang ekspresif.Pengaruh Stevie Wonder atau James Ingram pun tertelusuri pada jatidiri vocal Utha.

Suara tenor Utha Likumahuwa memang terdengar lentur mendaki hingga 3 oktaf .Namun di satu sisi suara Utha pun ternyata juga hirau pada aura pop yang lebih sederhana.Inilah kelebihan Utha yang membuatnya bertahan dalam industri music kita.

Utha Likumahuwa mulai diperbincangkan namanya di Indonesia saat menyanyikan lagu “Tersiksa Lagi” karya almarhum Christ Kaihatu dan Younky Alamsyah di tahun 1982.Lagu ini sempat menuai kehebohan ketika ternyata lagu ini merupakan hasil plagiat atas karya instrumental pianis jazz Ramsey Lewis “You’re The Reason” dengan introduksi yang diambil dari lagu “Telluride” dari kelompok fusion Spyrogyra.Tapi apa boleh buat lagu itu terlanjut menjadi hit nasional.Bahkan penyanyi jazz Syaharani mendaur ulang lagu itu di tahun 2000.

Karir Utha memang tak sekejap mencuat dalam industry music Indonesia.Dia banyak malang melintang di dunia musik yang sarat perjuangan.Di era 70-an saat bermukim di Bandung Utha sempat tergabung dalam band rock bernama Big Brother sebagai penabuh drum.Selain itu Utha pun mampu bermain piano.Tapi ternyata dia lebih memilih sebagai penyanyi yang mengantarkannya ke dunia klab malam hingga pub. Di awal 80an Utha Likumahuwa berperan sebagai vokalis pada kelompok jazz rock Jopie Item Combo yang didukung Jopie Item (gitar),Rully Bachrie (drums),Christ Kaihatu (keyboard) dan Yance Manusama (bass).Mereka bermain di Captain Bar Mandarin Hotel Jakarta.

\Beruntung,Utha Likumahuwa tak terlalu lama menggeluti dunia music di bar atau pub.Utha mulai melangkah ke bilik rekaman.Di tahun 1979 Utha Likumahuwa membawakan dua lagu dari ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors yaitu “Dara” (Candra Darusman) dan “Cinta Diri” (Harry Dea) dalam album “10 Pencipta Lagu Remaja 1979” diiringi Prambors Band.Di tahun 1981 Utha bahkan didapuk menyanyikan lagu juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1981 bertajuk “Tembang Pribumi” karya Christ Kaihatu.

Di tahun 1980 Utha Likumahuwa dikontrak Purnama Record mewmbawakan lagu-lagu pop sebanyak dua album yaitu “Mama” (1980) dan “Jangan Sakiti Hatinya” (1981) diiringi music Bartje Van Houten.Album yang berisikan lagu-lagu remake atas karya Rinto Harahap ini tak berhasil dalam penjualannya.Kesuksesan justru mulai memihak pada Utha saat merilis album “Nada dan Apresiasi” di tahun 1982 bersama iringan Christ Kaihatu (keyboard),Karim Suweileh (drums),Yance Manusama (bass),Joko WH (gitar) dan Jopie Item (gitar) lewat hits “Tersiksa Lagi” dan “Rame Rame”.

Di tahun 1983 Utha Likumahuwa mulai dikontrak label Jackson Records & Tapes.Dimulai dengan album “Bersatu Dalam Damai” yang menghasilkan hits besar “Esokkan Masih Ada”.Di album ini Utha didukung sederet pemusik tenar seperti Jopie Item,Dodo Zakaria,Rully Djohan,Sam Bobo,Ongen Latuihamallo  hingga Addie MS.  Mulai tahun 1984 Utha mulai bergelimang hits seperti “Gayamu”,”Mereka Bukan Kita”,”Aku Pasti Datang”,”Puncak Asmara” termasuk duetnya dengan Trie Utami,Louise Hutauruk,Dian Pramana Poetra,Henry Restoe Poetra  dan Vonny Sumlang bahkan di tahun 1991 membuat trio bersama Fariz RM dan Mus Mujiono menyanyikan “Kekagumanku (Miracles” karya Dorie Kalmas.Di tahun 1986 Utha Likumahuwa pun ikut memperkuat Suara Persaudaraan,kelompok musik yang didukung 75 artis music untuk  membantu kegiatan sosial gagasan pemusik James F Sundah yang terisnpirasi USA For Africa .

Sejak itu sosok Utha Likumahuwa menjadi bagian dari khazanah musik pop Indonesia.Di era 80an nama Utha sejajar dengan Broery Pesolima,Fariz RM,Dian Pramana Poetra dan Harvey Malaiholo serta Mus Mujiono

Setidaknya ada  20 album pernah dirilis oleh almarhum Utha Likumahuwa semasa hidupnya. Bahkan Utha pun mencatat beberapa prestasi dalam beberapa ajang kompetisi seperti Grand Prix Song’s The 6th ASEAN Festival di Manila, Filipina pada tahun 1989. Lalu The 2nd in Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong pada tahun 1989 serta ABU World Song Festival di Malaysia pada tahun 1990,saat berduet dengan Trie Utami.

Disaat pemakaman Utha Likumahuwa di Bogor pada rabu 14 September 2012, beberapa stasiun radio dan TV swasta seolah melepas kepergian Utha dengan lirik “Esokkan Masih Ada” yang menyentuh relung sanubari kita semua :

Tuhan pun tau hidup ini sangat berat
Tapi takdir pun tak mungkin slalu sama
Coba-coba lah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada

Iklan
Komentar
  1. Maya berkata:

    Jadi teringat masa kecil dulu waktu itu utha sering tampil di TVRI, Selamat jalan sang legendaris musik indonesia,Tuhan menyertaimu.

  2. Big Fans berkata:

    Dimanakah akan ku cari pengganti dirimu..
    entah dimana…dimana…dimanaa lagi..akan ku cari.
    Selamat Jalan Bang Utha,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s