Mengenang Chrisye (1949 – 2007)

Posted: September 16, 2011 in Obituari

Gipsy di pelataran Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta 1969

Gipsy di tahun 1971

Chrisye bersama Gipsy di tahun 1969

Jika Chrisye masih hidup sekarang ini pastilah dia telah berusia 62 tahun.Tepat hari ini 16 September 2011  almarhum Chrisye merayakan hari ualng tahunnya.Disaat seperti ini mungkin tepat jika kita berupaya mengenang karya-karya Chrisye dalam khazanah musik Indonesia.

Dan berikut ini saya kembali mencuplik catatan tulisan saya,sebuah obituari yang pernah di muat di majalah Tempo edisi 8 April 2007 silam.

Mungkin bisa dihitung jari sebelah tangan, penyanyi yang memiliki karakter kuat dan juga memiliki karier musik panjang serta nyaris tak pernah stagnan. Di antara para penyanyi itu adalah Broery Marantika, Benya-min S., Farid Hardja, dan yang baru saja meninggalkan kita semua, Jumat 30 Maret silam, adalah Chrisye.

Suara Chrisye berkarakter kuat karena hampir tak ada yang bisa meniru atau menyamainya. Begitu mendengar senandungnya, kita pun bisa menebak siapa siempunya suara tersebut. Kesamaan lainnya, baik Broery, Benyamin, Farid maupun Chrisye mampu menyiasati pergeseran tren yang sering bergonta-ganti dalam konstelasi musik pop. Mereka luwes berlenggang pada era-era yang berbeda. Jika banyak pemusik atau penyanyi lain yang tersungkur karena hantaman tren yang menggelegak, maka Broery, Benyamin , Farid, dan Chrisye justru menjumput penggalan elemen musik yang tengah mewabah lalu dibaurkan dengan identitas musik mereka sendiri. Tanpa sedikit pun ada kesan pemaksaan sama sekali.

Lihatlah Benyamin S. yang mampu merengkuh berbagai idiom musik yang populer pada zamannya mulai dari blues, soul, funk, rock. hingga dangdut sekalipun tanpa harus memasung identitas musikalnya yang berlatar budaya Betawi. Itu pula yang terjadi pada Broery, Farid, hingga Chrisye.

Pola semacam ini juga kita temukan dalam gaya bermusik Broery Marantika, Benyamin S., dan Farid Hardja. Karya-karya mereka menjadi immortal dari generasi ke generasi. Mari kita lihat betapa memasyarakatnya idiom ”buah semangka berdaun sirih” dari lagu Aku Begini Engkau Begitu karya Rinto Harahap yang dipopulerkan Broery. Juga, fenomena Karmila hingga Ini Rindu dari Farid Hardja serta Benyamin S. dengan Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis.

Tepatnya, Chrisye adalah penyanyi yang selalu tepat dalam menafsirkan lagu dari siapa saja. Sudah banyak komposer yang menyodorkan lagu untuk Chrisye, mulai dari Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, Oddie Agam, Rinto Harahap, Dian Pramana Poetra, Adjie Soetama, Younky Soewarno, Andi Mapajalos, Bebi Romeo, Ahmad Dhani, Pongky Jikustik, dan sederet panjang lainnya. Ketika lagu-lagu ciptaan me-reka dinyanyikan Chrisye, atmosfernya lalu berubah menjadi atmosfer Chrisye.

Itu pun terjadi ketika Chrisye dalam album Dekade (2002) membawakan lagu dangdut karya A. Rafiq berjudul Peng-alaman Pertama hingga Kisah Kasih di Sekolah dari Obbie Messakh, semuanya meleleh menjadi karakter Chrisye.

Ini mengingatkan saya pada Phil Collins, drumer rock progresif Genesis yang kemudian lebih dikenal sebagai ikon musik pop. Phil Collins penyanyi yang juga menjadi mata air inspirasi Chrisye. Phil Collins adalah Midas yang mampu mengubah lagu siapa saja menjadi lagu Phil Collins. Simak saja, misalnya, You Can’t Hurry Love yang awalnya dipopulerkan The Supremes hingga Groovy Kind of Love-nya Wayne Fontana & The Mindbender. Semuanya seolah lagu karya Phil Collins.

Singkatnya, kemampuan menginterpretasikan karya adalah salah satu titik kekuatan Chrisye, di samping timbre vokal yang khas. Chrisye memang tepat disebut sebagai penyanyi bernapas panjang. Konon, semasa bergabung di Gipsy antara 1969 dan 1973,Chrisye paling sering membawakan repertoar grup brass rock Chicago dan pemusik blues kulit putih John Mayall. Karakter vokalis Peter Cetera dan John Mayall yang mengandalkan napas panjang dalam mendaki lengkingan vokal yang tinggi tampaknya membentuk karakter vokal khas Chrisye yang dikenal orang sekarang ini.

Sayangnya, sang pemilik napas panjang ini usianya tak panjang. Ketiga rekannya pun berusia tak panjang: Broery 52 tahun, Benyamin 56 tahun, dan Farid 48 tahun. Karena penyakit yang bersarang di tubuhnya, Chrisye pun pamit dari hadapan kita enam bulan sebelum dia genap berusia 58 tahun pada 16 September 2007 nanti.

Kepergian Chrisye disambut rinai hujan yang mengguyur Jakarta. Sayup-sayup terngiang suara lirih Chrisye bernyanyi di sebuah radio:

Merpati putih berarak pulang terbang menerjang badai
Tinggi di awan menghilang di langit yang hitam.

Di muat di majalah Tempo Edisi. 06/XXXIIIIII/02 – 8 April 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s