Saharadja….Eklektika Jazz dan World Music

Posted: September 28, 2011 in Tinjau Album

Sally Jo ,penggesek biola Sahardja

Mereka laksana menebar metafora. Menyatukan elemen musik dunia menjadi satu kesatuan yang utuh bukan sesuatu yang gampang. Tapi upaya ini dilakukan oleh Saharadja, kelompok musik asal Bali yang diarsiteki peniup trompet Rio Siddik (Indonesia) dan penggesek biola Sally Jo (Australia). Mereka berdualah yang menorehkan konsepsi musik eklektik Saharadja. Bayangkan jika kuping Anda harus menerima sajian musik perpaduan dari berbagai kecenderungan. Ada etnik Bali, Mesir, Aborigin, bluegrass, India, dan Celtic, serta jazz, funk, dan klasik. Yang menarik, Saharadja tetap menomorsatukan ritmik yang tegas walau tak terlalu gamblang. Sajian semacam itu memang lazim ditemui pada pola musik rakyat. Alhasil, musik Saharadja seolah menawarkan godaan yang impulsif. Kurang-lebih begitulah deskripsi mengenai grup, yang oleh sebagian orang sering ditahbiskan sebagai bagian dari ranah world music, ini. Saharadja berupaya peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Simaklah komposisi bertajuk Bali Smile yang menjadi track pembuka debut album One World, yang ditulis Rio Siddik untuk korban bom Bali pada 12 Oktober 2002. Musiknya menyediakan ruang penuh optimisme bahwa Bali masih bisa kembali tersenyum. Denyut bas fretless yang dimainkan Badut Widyanarko, meskipun menggeram, terasa ceria. Lewat musik, Saharadja menebar metafora. Kepiawaian Sally Jo menggesek biola terlihat pada Celtic Jungle. Nomor tradisional Celtic ini, yang juga didukung bunyi-bunyian sintesis, terasa berpihak pada musik yang sering berdentam di arena clubbing. Seolah berada di sebuah petualangan menelusuri wilayah demi wilayah, Saharadja lalu menyemburkan napas musik Mesir pada lagu Saharadja. Tetabuhan rebana dan darbuka, yang dimainkan Ajat Lesmana, terasa aksentuatif.

Masih kurang? Saharadja pun mengobrak-abrik sebuah komposisi karya Johannes Brahms, Hungarian Dance, dengan sentuhan perkusi yang kental. Dalam lagu ini menyeruak dialog antara bunyi trompet redam yang ditiup Rio Siddik dan jari-jemari Sally Jo yang ligat menelusuri fret biola elektriknya. Eksotis.

Apalagi jika ditambah dengan menyimak Tabla Man, komposisi yang ditulis Rio Siddik dan diaransemen Igor Tamerlan, yang kental nuansa India-nya. Atau simaklah serpihan musik tradisi Aborigin dalam Didge Desire, yang menampilkan trompet Rio Siddik dan bas Badut Widyanarko serta instrumen suku Aborigin, didgeridoos, yang dimainkan Ajat Lesmana. Saharadja dibentuk di Bali pada 2002 oleh sepasang kekasih, Rio Siddik (trompet) dari Indonesia dan Sally Jo (biola) dari Australia. Mereka berdua menyatukan latar belakang kultur yang berbeda dalam visi yang sama: musik. Keduanya menulis komposisi musik mereka. Pendukung lainnya adalah Ajat Lesmana (darbuka, rebana, jembe, didgeridoos), Barok Khan(banjo, gitar, tabla), Gede Yudhana (gitar, vokal), Eddy Siswanto (drum), dan Badut Widyantoro (bas fretless). Mereka juga didukung oleh sederet pemusik tambahan, seperti Igor Tamerlan (synthesizers), Ketut Riwin (gitar), Ketut Rico (keyboard), Ony Pa (drum), Koko Harsoe (gitar), Erick Sondhy (synthesizers), Donny Dewandaru (perkusi), dan Jimmy Sila’a (bas). Menyimak repertoar Saharadja laksana menikmati tamasya musik. Tak berlebihan jika sajian lintas kultural Saharadja ini terasa seperti ingin menyatukan dunia dalam musik. Bahkan Rio pun pernah berucap, “Salah satu mimpi saya adalah ingin bermain musik di hadapan para pemimpin dunia sehingga musik dengan keragaman etnik bisa menyatu dalam kebersamaan.

” DENNY SAKRIE, PENGAMAT MUSIK (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 21 Januari 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s