Musik Dalam Bingkai Kebebasan dan Kejujuran

Posted: Oktober 2, 2011 in Tinjau Acara

Sebuah karya musik akan menjadi fenomenal dan menjadi saksi jamannya adalah ketika kredo bermusik itu mengendapkan aura kebebasan dan kejujuran.Artinya musik diciptakan bukan berdasarkan rekayasa,bukan berdasarkan pesanan,bukan berdasarkan keterpkasaan melainkan kebebasan dan kejujuran.Mengalir dalam gagasan yang murni dan inspirasional.

Dari proses kreativitas semacam inilah dipastikan muncul sebuah sajian musik berkonsep.Sebuah konsep musik yang dikemas secara integral mulai dari proses kreativitas bermusik terutama penulisan lagu yang kemudian diteruskan dengan konsep performing yang saling terkait satu dengan yang lainnya dengan independensi berkarya sebagai payung utamanya.

LA Light Indiefest Festive Sound mungkin adalah salah satu contoh konkrit sebuah ajang festival yang mengakomodir kredo independensi dalam bermusik yang ada di negeri ini.Ajang yang telah digelar beberapa kali ini dengan semangat Freedom of Expression ini memang diakui banyak menggali potensi potensi musikal yang  terpendam tanpa eksposure yang memadai dalam industri musik Indonesia.Dengan tagline Proud to sing ! Proud to show ! Proud to perform,setidaknya memberikan cemeti semangat kepada anak muda yang tengah bergiat memadu bakat dalam sebuah komunitas musik.

Jelas ajang ini merupakan sebuah wadah yang tepat dianggap sebagai jembatan untuk berekspresi seluas-luasnya dalam dunia musik.Juga merupakan pintu untuk mewujudkan impian sebagai artis atau band kesohor.

Sederet band dengan prestasi mengkilap mencuat dari ajang LA Lights Indiefest ini mulai dari The Banery,Gecko,Popradio,The Cadenzza,Self,Respect dan masih banyak lagi.Bahkan mereka telah memperlihatkan taring dalam berbagai event musik yang digelar di negeri ini.

Denny Sakrie bersama The Banery

Denny Sakrie bersama Gecko Band dari Bali

Di mancanegara sendiri,saya mencatat beberap event music yang menjunjung tinggi kredo kebebasan bermusik.Misalnya South by Southwest Festival atau lebih dikenal dengan nama SXSW.Event yang pertamakali diluncurkan pada tahun 1987 ini memang berupaya menghimpun talenta dalam dunia musik secara independen yang berlangsung di Austin Texas.Festival musik indie yang diikuti oleh pelbagai negara di jagad raya ini berlangsung selama 5 hari berturut-turut.Berbagai kelompok music kemudian bisa ditonton aksi musikalnya pada sekitar 80 panggung.Kelompok White Shoes and Couples Company dari Indonesia pernah diundang ikut tampil dalam festival music indie berskala internasional ini.

Dalam catatan saya festival music berkonsep seperti yang saya contohkan diatas cukup banyak digelar mulai dari Lollapalooza,Bonnaroo,Coachella,Detroit Electronic Music Festival,Jazzfest,Progfest,Sasquatch Music Festival,Rothburry maupun Summerfest.Summerfest sendiri mungkin adalah festival musik berkonsep yang paling tua,karena mulai digagas sejak tahun 1968.Tepatnya setahun setelah Monterey Pop Festival di tahun 1967 dan setahun sebelum Woodstock Festival di tahun 1969.

Secara historic Monterey Pop Festival bisa dianggap inspirasi utama berbagai festival music berkonsep yang diadakan setelahnya.Monterey Pop Festival berlangsung selama 3 hari dari 16 juni hingga 18 juni 1968  di Monterey,California.Festival musik ini kerap dianggap sebagai symbol kontra kultur yang tengah merebak dikalangan generasi muda yang menolak kemapanan.Gerakan budaya pop ini menjadi cikal bakal dari gerakan anti-establishment yang kemudian banyak menyusup dalam kegiatan bermusik secara independen.Event Monterey Pop Festival ini dianggap sebagai cetak biru berbagai festival musik berkonsep di kemudian hari dan terus berlanjut hingga saat sekarang ini.  Dua tahun kemudian muncul Woodstock Music Festivals yang dianggap sebagai gerakan puncak kontra kultur generasi muda terhadap garis-garis kemapanan.Protes-protes terhadap Perang Vietnam dan sejenisnya memang mencuat dari komunal generasi bunga yang bertaut dalam event Woodstock.Agenda perdamaian merupakan elemen utama dalam festival yang berlangsung penuh selama 3 hari berturut-turut.

Di Indonesia sendiri sempat juga terkena imbas popularitas festival music berkonsep Woodstock,yaitu dengan digelarnya festival music terbesar dengan nama Summer’28 (singkatan Suasana Meriah Mejelang Kemerdekaan RI ke 28) yang berlangsung tanggal 16 dan 17 Agustus 1973 di Ragunan,Pasar Minggu Jakarta.Di tahun 1975 juga berlangsung acara serupa di Bandung dengan nama Pesta Musik Kemarau.

Jejak festival music berkonsep itu pun masih terlihat hingga sekarang ini terutama pada ajang LA Lights Indiefest Festive Sound 2011.Idealisme bermusik yang termaktub di ajang ini memang patut dipertahankan.Teruatama karena ajang bergengsi ini tak hanya menampilkan sebuah pesta music panggung dengan pengisi acara yang variatif lewat berbagai genre dan subgenre music tapi juga memberikan semacam fasilitas untuk bisa terhubung atau connect dengan label lewat program Meet Labels.Jadi LA Lightsa Indiefest memberikan sebuah fase lagi setelah melalui fase kreativitas bermusik yang menyusupkan elemen kebebasan dalam berkarya.Ingat karya-karya yang berdasar atas kjejujuran dan aura kebebasan pasti akan menjadi karya utuh yang bisa bertahan di kuping masyarakat dan jamannya.

Tulisan ini dibuat untuk LA Lights Indiefest Festive Sound 2011 di Banjarmasin 1 Oktober 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s