Scorsese Tentang Harrison : “Living In The Material World”

Posted: Oktober 5, 2011 in Uncategorized

Sutradara Martin Scorsese memang sangat musikal.Dia juga sangat ngerock.Jadi saya tak perlu geleng geleng kepala lagi manakala menerima kabar bahwa hari ini sutradara Martin Scorsese memang sangat musikal.Dia juga sangat ngerock.Jadi saya tak perlu geleng geleng kepala lagi manakala menerima kabar bahwa hari ini 5 dan 6 Oktober 2011 film documenter tentang George Harrison yang dibesut Scorsese dengan mengambil judul dari salah satu karya almarhum Harrison “Living In The Material World”.Saya masih inget,ketika Scorsese memdokumentasikan pentas perpisahan kelompok The Band “Last Waltz”.Juga membuat documenter tentang Bob Dylan “No Direction Home” termasuk mengabadikan konser The Rolling Stones di usia senja lewat “Shine A Light” serta karya awal rockumentary Scorsese bersama rekan-rekannya di tahun 1969 “Woodstock”. Passionate Scorsese terhadap aura music menjadikan karya-karyanya rockumentarynya menjkadi lebih personal,lebih depth dan tetap detil dalam historikalnya.Ini kelebihan Martin Scorsese.Dia sangat mengetahui pemusik pemusik yang menjadi obyek dokumentasinya secara mendalam.Karena Scorsese adalah die hard fans dari The Beatles,The Rolling Stones hingga Bob Dylan.Tiga pilar utama musik era 60-an dari Inggeris. Kegemaran Scorsese terhadap rock memang terpantul dalam lagu-lagu yang kerap dipakainya dalam berbagai soundtrack film yang dibesutnya.

George Harrison dan Eric Clapton

Dalam film bernaunsa mafia “Goodfelass” (1990) ,jika anda mencermati maka akan tersimak sayup sayup salah satu lagu milik gitaris The Beatles George Harrison yaitu lagu “What Is Life”,terutama pada adegan yang memperlihatkan tokoh bernama Henry Hill yang diperankan actor Ray Liotta tengah mengalami halusinasi saat berkendara dengan pengaruh kokain.

Indikasi ini menunjukkan bahwa Martin Scorsese sangat memahami music yang dipergunakannya untuk soundtrack filmnya.Ketika terbetik kabar bahwa Scorsese akan menggrap rockumentary tentang George Harrison, saya pun merasa lega. Martin Scorsese menyajikan “Living In The Material World”dalam durasi sepanjang 3 jam dan dibagi dalam dua bagian,yang ditayangkan HBO pada 5 dan 6 Oktober ini. Dalam pengakuannya,Scorsese merasa terimpresi dengan album solo George Harrison “All Thing Must Pass” yang rilis tahun 1970 setelah the Beatles membubarkan diri.Saat itu Scorsese menyimak piringan hitam pertama dari dua pringan hitam yang menjadi bagian dari album rilisan Apple Records itu.”Saya terpukau dengan bunyi-bunyian gitar George,juga lirik lirik yang ditulisnya serta tata suara yang diracik Phil Spector.

Ada sesuatu dalam teknik bermainh gitar George.Bagaikan sesuatu yang menghipnotis.Saya betul-betul terbawa…..” komentar Scorsese. Lebih jauh Scorsese mendeskripsikan music George Harrison sangat hirau terhadap symbol-simbol spritualisme.”Sangat ritualistic” ungkap Scorsese perihal musik George Harrison. Seperti yang dituturkan George pada saya bahwa musik adalah transedental dalam kehidupan George,demikian ungkap Scorsese.”Musik membawa saya ke pijakan yang berbeda,dari satu pijakan ke pijakan yang lain seperti tempat,bayangan,khayalan,orang orang,warna dan apa saja ke dalam benak saya” komentar Harrison di rockumentary yang dibesut Scorsese. Difilm ini dengan lirih Harrison menuturkan kisah kehidupannya,mulai dari rumahnya yang sangat sederhana di Liverpool termasuk kebun sayuran milik ayahnya.Harrison juga bertutur tentang makna kebebasan yang diraupnya dari kredo rock and roll.George tergila-gila dengan lagu “Raunchy” nya Duanne Eddy yang menyajikan instrumental gitar elektrik. Secara detil Scorsese pun menyorot hubungan antara Paul Mc Cartney dan George Harrison terutama saat Harrison memutuskan untuk meninggalkan The Beatles.Ini adalah bagian yang lumayan penting dalam documenter George Harrison.Dalam catatan hariannya pada tanggal 10 Januari 1969 George pun menulis : “ Latihan di Twickenham hingga makan siang tiba,lalu meninggalkan The Beatles,pulang ke rumah…..”.

Juga ditampilkan tentang kegemaran berkebun dari George Harrison.Terasa puitik dan mampu menjelaskan pribadi seperti apakah Harrison ini.Kegemaran bercocok tanam ini jelas menurun dari kegemaran sang ayah..”It’s great when I’m in my garden”…..ucap Harrison lirih. Pendek kata Scorsese mampu menakwilkan George Harrison secara personal.Bahwa George Harrison bukanlah semeledak John Lennon atau sekemilau Paul McCartney,tapi Scorsese pada akhirnya adalah orang yang tepat mendeskripsikan bahwa sesungguhnya George Harrison juga seorang visioner dan juga pemusik jenius…… i 5 dan 6 Oktober 2011 film documenter tentang George Harrison yang dibesut Scorsese dengan mengambil judul dari salah satu karya almarhum Harrison “Living In The Material World”.Saya masih inget,ketika Scorsese memdokumentasikan pentas perpisahan kelompok The Band “Last Waltz”.Juga membuat documenter tentang Bob Dylan “No Direction Home” termasuk mengabadikan konser The Rolling Stones di usia senja lewat “Shine A Light” serta karya awal rockumentary Scorsese bersama rekan-rekannya di tahun 1969 “Woodstock”. Passionate Scorsese terhadap aura music menjadikan karya-karyanya rockumentarynya menjkadi lebih personal,lebih depth dan tetap detil dalam historikalnya.Ini kelebihan Martin Scorsese.Dia sangat mengetahui pemusik pemusik yang menjadi obyek dokumentasinya secara mendalam.

Karena Scorsese adalah die hard fans dari The Beatles,The Rolling Stones hingga Bob Dylan.Tiga pilar utama musik era 60-an dari Inggeris. Kegemaran Scorsese terhadap rock memang terpantul dalam lagu-lagu yang kerap dipakainya dalam berbagai soundtrack film yang dibesutnya.Dalam film bernaunsa mafia “Goodfelass” (1990) ,jika anda mencermati maka akan tersimak sayup sayup salah satu lagu milik gitaris The Beatles George Harrison yaitu lagu “What Is Life”,terutama pada adegan yang memperlihatkan tokoh bernama Henry Hill yang diperankan actor Ray Liotta tengah mengalami halusinasi saat berkendara dengan pengaruh kokain. Indikasi ini menunjukkan bahwa Martin Scorsese sangat memahami music yang dipergunakannya untuk soundtrack filmnya.Ketika terbetik kabar bahwa Scorsese akan menggrap rockumentary tentang George Harrison, saya pun merasa lega. Martin Scorsese menyajikan “Living In The Material World”dalam durasi sepanjang 3 jam dan dibagi dalam dua bagian,yang ditayangkan HBO pada 5 dan 6 Oktober ini. Dalam pengakuannya,Scorsese merasa terimpresi dengan album solo George Harrison “All Thing Must Pass” yang rilis tahun 1970 setelah the Beatles membubarkan diri.Saat itu Scorsese menyimak piringan hitam pertama dari dua pringan hitam yang menjadi bagian dari album rilisan Apple Records itu.”Saya terpukau dengan bunyi-bunyian gitar George,juga lirik lirik yang ditulisnya serta tata suara yang diracik Phil Spector.Ada sesuatu dalam teknik bermainh gitar George.Bagaikan sesuatu yang menghipnotis.Saya betul-betul terbawa…..” komentar Scorsese. Lebih jauh Scorsese mendeskripsikan music George Harrison sangat hirau terhadap symbol-simbol spritualisme.”Sangat ritualistic” ungkap Scorsese perihal musik George Harrison. Seperti yang dituturkan George pada saya bahwa musik adalah transedental dalam kehidupan George,demikian ungkap Scorsese.”Musik membawa saya ke pijakan yang berbeda,dari satu pijakan ke pijakan yang lain seperti tempat,bayangan,khayalan,orang orang,warna dan apa saja ke dalam benak saya” komentar Harrison di rockumentary yang dibesut Scorsese. Difilm ini dengan lirih Harrison menuturkan kisah kehidupannya,mulai dari rumahnya yang sangat sederhana di Liverpool termasuk kebun sayuran milik ayahnya.Harrison juga bertutur tentang makna kebebasan yang diraupnya dari kredo rock and roll.George tergila-gila dengan lagu “Raunchy” nya Duanne Eddy yang menyajikan instrumental gitar elektrik. Secara detil Scorsese pun menyorot hubungan antara Paul Mc Cartney dan George Harrison terutama saat Harrison memutuskan untuk meninggalkan The Beatles.Ini adalah bagian yang lumayan penting dalam documenter George Harrison.Dalam catatan hariannya pada tanggal 10 Januari 1969 George pun menulis : “ Latihan di Twickenham hingga makan siang tiba,lalu meninggalkan The Beatles,pulang ke rumah…..”.

Juga ditampilkan tentang kegemaran berkebun dari George Harrison.Terasa puitik dan mampu menjelaskan pribadi seperti apakah Harrison ini.Kegemaran bercocok tanam ini jelas menurun dari kegemaran sang ayah..”It’s great when I’m in my garden”…..ucap Harrison lirih. Pendek kata Scorsese mampu menakwilkan George Harrison secara personal.Bahwa George Harrison bukanlah semeledak John Lennon atau sekemilau Paul McCartney,tapi Scorsese pada akhirnya adalah orang yang tepat mendeskripsikan bahwa sesungguhnya George Harrison juga seorang visioner dan juga pemusik jenius……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s