Napak Tilas Musik Era Rezim Soeharto

Posted: Oktober 19, 2011 in Tinjau Acara
Tag:,

God Bless tampil di konser The Legend (foto Adib Hidayat)

9 kelompok musik yang pernah menuai kejayaan di era 70an,di era rezim Soeharto juga tengah berada di puncak kejayaan, tampil dalam konser bertajuk “The Legend”.Penggagas acara musik beratmosfer nostalgia ini adalah Metro TV yang memiliki acara mingguan “Zona Memori”.”The Legend” ini kami gelar untuk memperingati HUT Zona Memori” ungkap Agus Mulyadi dari Metro TV.
Sekitar 4000 penonton yang memadati Tennis Indoor tiada henti-hentinya mengaplause band-band favorit mereka masing-masing mulai dari Koes Plus,Panbers,Bimbo ,The Rollies,Favorite’s Group,D’Lloyd,Usman Bersaudara,Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak hingga God Bless.
Kesembilan grup musik ini memang meniti karir pada saat rezim Orde Baru mulai berkuasa di negeri ini.Bimbo dan The Rollies terbentuk tahun 1967.Koes Plus dan D’Lloyd terbentuk di tahun 1969,Panbers di tahun 1971,Favorite’s Group di tahun 1972,God Bless di tahun 1973 dan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks di tahun 1978.Usia mereka rata-rata memasuki kepala enam dan tujuh.Achmad Albar yang berusia 65 tahun masih memperlihatkan stamina menggaungkan musik rock.Yon Koeswoyo bahkan tetap memperlihatkan kestabilan vokal di usia yang ke 70.”Saat mereka ngeband dulu,kami ini masih ABG” tutur Omen dari OM PSP.
Walaupun usia telah memasuki senja,bahkan beberapa band personilnya sudah tidak utuh lagi karena ada yang telah berpulang,namun semangat bermusik mereka sangat tinggi.Mereka terlihat sangat passionate.Benny Panjaitan vokalis dan leader Panbers yang duduk di kursi roda pasca stroke seolah tak menganggap handicap itu penghalang untuk bermain music di hadapan para penggemarnya yang fanatic.Suara Benny melengking tinggi membawakan “Akhir Cinta”,hits pertama mereka di tahun 1972 termasuk lagu “Indonesia My Lovely Country” yang mengambil pattern ritme Tapanuli itu.Sekedar mengingatkan bahwa Panbers adalah salah satu band yang masuk dalam kompilasi “Those Shocking Shaking Days”,album yang berisikan lagu-lagu Indonesia era 70-an oleh label indie di Kanada.Di album itu lagu Panbers “Haai” bahkan disebut-sebut sebagai lagu bernuansa rock yang kental.Henry Rollin bahkan memuji Panbers.

Benny Panjaitan diatas kursi roda (Foto:Dudut SP)
Passionate bermusik itu pun diperlihatkan Favorite’s Group yang telah kehilangan dua tokoh utamanya yaitu A.Riyanto dan Is Haryanto.Dengan dua vokalis Mus Mulyadi dan Mamiek Slamet,Favorite’s Group juga berupaya tampil prima dengan hits seperti “Mawar Berduri” dan “Rek Ayo Rek”.Dengan kondisi mata yang tuna netra,Mus Mulyadi terlihat sangat bersemangat membawakan lagu-lagunya.Sebuah pemandangan yang mengharukan.Bahwa semangat bermusik bisa mengalahkan kendala apa saja.Ini bisa menjadi teladan bagi anak-anak band sekarang.
Kelanggengan usia band yang telah melewati tiga dasawarsa ini juga merupakan pelajaran bagus untuk pemusik atau anak band sekarang yang rentan bubar dan sebagainya.
The Rollies walaupun telah kehilangan sederet personil kuatnya seperti Iwan Krisnawan,Deddy Stanzah,Bonnie Nurdaya,Delly Djoko dan Bangun Sugito tapi mereka tetap gigih mempertahankan formasi bandnya.”The Rollies sudah masuk dalam formasi kelima” ucap Benny Likumahuwa yang bergabung dengan The Rollies tahun 1969.
Malam itu The Rollies mempersembahkan lagu-lagunya untuk ketiga vokalisnya yang telah almarhum seperti “Burung Kecil”,”Kau Yang Kusayang” dan “Hanya Bila haus Di Padang Tandus”.The Rollies pun menyanyikan lagu milik kelompok Love Affair “Gone Are The Song Of Yesterday” yang diambil dari album debut mereka pada label PopSound Singapore di tahun 1969.

The Rollies dibelakang panggung (Foto Denny Sakrie)
Bimbo dan Usman Bersaudara mungkin adalah kelompok musik yang beruntung.Kenapa ? Karena kedua grup ini formasinya masih utuh.Bimbo masih ada Sam,Acil,Jaka dan Iin Parlina.Usman Bersaudara masih ada Usman,Sofyan,Said dan Mamo.”Syukur Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan olehNya untuk bermain musik bersama “ ungkap Sam dengan mata berkaca kaca dibelakang panggung.
Bimbo membawakan sederet hitsnya di era 70-an mulai dari Adinda,Antara Kabul dan Beirut hingga Tante Sun yang sempat dicekal pada paruh era 70-an karena dianggap menyindir isteri pejabat.
Di era rezim Soeharto memang tercatat cukup banyak lagu lagu yang dicekal karena dianggap menyindir atau sarat dengan kritik sosial.Lagu “Hidup Di Bui” milik D’Lloyd pun termasuk yang pernah dicekal karena dianggap menggambarkan keadaan yang tak benar mengenai Lembaga Pemasyarakatan.”Saat itu saya harus merevisi ulang liriknya.Bahkan untuk lebih safety lagi,saya kemudian rela tidak mencantumkan nama saya sebagai komposer.Di kaset lagu itu tercantum sebagai karya NN” jelas Bartje Van Houten,gitaris,komposer dan leader dari D’Lloyd.
Kritik sosial dalam lirik lagu memang menjadi hal yang tabu dalam konsep penulisan lirik di negeri di saat Orde Baru berkuasa.”Kami sendiri akhirnya mengkritik diri kami sendiri sebagai mahasiswa saat itu lewat lagu “Gaya Mahasiswa” ujar Ade Anwar dari OM Pancaran Sinar Petromaks.Lebih jauh Ade Anwar mengatakan bahwa terbentuknya OM PSP itu sendiri adalah bentuk kritik beberapa mahasiswa UI atas diberlakukannya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang saat itu melarang mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan politik di kampus.”Kami lalu bikin orkes dangdut ha ha ha” tambah Omen berderai tawa.
God Bless pun adalah band rock yang juga senantiasa menyusupkan lirik lirik lagu bertema kritik sosial.Misalnya tentang Kusni Kasdut dalam lagu “Selamat Pagi Indonesia”.Namun God Bless dengan pola penulisan lirik yang lebih terjaga pada akhirnya memang luput dari pembreidelan pemerintah.Dalam konser The Legend,God Bless yang terdiri atas Achmad Albar (vokal),Donny Fattah (bass),Ian Antono (gitar),Abadi Soesman (keyboard) dan Yaya Moektio membawakan sederet hits di era 70an dan 80an seperti Panggung Sandiwara,Bla Bla Bla,Menjilat Matahari,Syair Kehidupan,Bis Kota,Kehidupan dan Semut Hitam.

Yok Koeswoyo nyanyi tanpa bass (Foto Dudut SP)
Puncak The Legend menampilkan Koes Plus dengan dua anggota yang tersisa duo kakak beradik Yon dan Yok Koeswoyo.Secara historis mereka memulainya dengan nama Koes Bersaudara dengan mengetengahkan harmoni vokal duo Yon dan Yok yang terisnpirasi dari duo bersaudara The Everly Brothers dan The Kalin Twin.”Saya dan Yon itu tepatnya mirip Nakula Sadewa ha ha ha tokoh kembar dalam pewayangan.Dan Alhamdulillah kita berdua masih diberi kesempatan untuk nyanyi bareng di hadapan masyarakat” pungkas Yok Koeswoyo,adik dari Yon Koeswoyo.
The Legend memang tak sekadar romantika nostalgia belaka,tapi merupaka ajang napak tilas yang bisa merekat missing link antar generasi musik di negeri ini.Beberapa artis sekarang yang ikut tampil bersama the Legend seperti Andien,Saykoji,Rio Febrian,Piyu,Fadly atau Anji setidaknya bisa memetik banyak hikmah di acara The Legend ini.

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s