DjakSphere 2011 :Kolaborasi Musik Menghalau Amnesia Sejarah

Posted: Oktober 24, 2011 in Konser
Tag:, , , , , ,

The Brandals dan Koes Plus
Yockie Surjoprajogo dan Pure Saturday
Sarasvati dan Keenan Nasution “Sendu” (foto Bayu Adhitia)
Pure Saturday
Margie Segers “Semua Bisa Bilang” (foto DjakSphere)
Yockie Surjoprajogo (foto Pure Saturday)

Djakarta ArtMosphere yang disingkat DjakSphere merupakan konsep pertunjukan musik yang tak hanya menghibur tapi memberikan tumpahan edukasi bahkan merekat tali silaturahmi antar generasi musik yang kerap terputus di negeri ini.Untuk ketiga kalinya DjakSphere digelar dan ditonton dua generasi musik Indonesia.Saya cukup terharu melihat banyak orang tua yang dating bersama anaknya menonton konser yang rada langka ini.Si orang tua bertutur tentang pemusik idolnya di era silam dan si anak menguraikan pahlawan musiknya di era sekarang.Amnesia sejarah music pun sesungguhnya mulai bisa tertangkal di acara yang menampilkan generasi lama Koes Plus,Margie Siegers,Yockie Surjoprajogo dan Keenan Nasution yang dimempelaikan dengan The Brandals,Pure Saturday,Sarasvati dan duo pasutri Endah N Rhesa.Penempatan artis musiknya pun cukup jeli,karena mewakili genre musik yang pernah dan sedang berkibar di negeri ini,ada pop,rock dan jazz.
Dibuka dengan penampilan duo Endah N Rhesa yang mengemuka dengan nuansa minimalis.Rhesa bermain bass membentuk sebuah rhythm section yang kukuh diimbuh petikan gitar Endah isterinya yang juga berperan sebagai pelantun vokal.I Don’t Remember  menguak yang disusul interpretasi mereka pada karya Red Hot Chilli Peppers “Around The World”.Duo ini berjingkat dari genre satu ke genre yang lain tapi tetap dengan format akustik nan menggelitik.Simak saja saat duo ini mengimbuh Tuimbe dengan Yamko Rambe Yamko yang bernuansa worldfolk .Endah N Rhesa memang sangat menguasai panggung,pun saat mereka melantunkan lagu yang bertendensi romansa seperti “When You Love Someone”.Rhesa yang bertubuh tinggi,lalu membungkukkan badan dan mengecup kening Endah.
Endah kemudian memanggil Margie Segers,penyanyi Ambon yang mencuat di industry music 70an oleh tangan dingin Jack Lesmana,ayah Indra Lesmana.Dengan didukug gitaris Andika,Margie bersama Endah N Rhesa menyanyikan lagu “Enggo Lari” karya almarhum Christ Kaihatu dan Georgie Lewakabessy dari album solo Margie Segers di tahun 1982.Disusul lagu “Semua Bisa Bilang” karya almarhum Charles Hutagalung yang juga dipopulerkan Charles bersama The Mercy’s di tahun1973 dan diremake oleh Margie Segers pada tahun 1975 .Jack Lesmana lah yang memilih lagu Semua Bisa Bilang untuk Margie saat akan merilis album solonya pada label Hidayat Audio Bandung .Kolaborasi ini juga meinterpretasikan karya Tracy ChapmanGive Me One Reason”.
Kolaborasi kedua muncul Sarasvati,mantan vokalis kelompok elektronik Bandung Homogenic.Sarasvati tampil dengan aura rada mistis.Berbusana hitam dan ambience musik yang dekat dengan gaya scoring sinema horror.Diperkuat pula dengan atmosfer etnikal Sunda dari Karinding Attack,yang juga pernah mendukung konser band Jasad beberapa waktu lalu.sarasvati tampaknya kekeuh ingin menyusupkan nuansa Jawa Barat.Bahkan lagu yang jelas jelas bertutur tentang Bali pun,musiknya tetap bersendi Sunda.Itu jelas tersimak pada lagu “Chopin Larung” yang ditulis Guruh Soekarno Putera tentang kemasgulannya terhadap budaya Bali yang mulai terusik budaya Barat.Guruh bertamsil kata dengan memasukkan nama komposer klasik Polandia Frederick Chopin sebagai metafora budaya Barat.Sarasvati pun bersenandung “Yen Chopin padem ring Bali kerarung saking Daksina….”.Tapi ambience musiknya diganti menjadi Sunda.Sebuah paradox yang membingungkan.Sarasvati dengan dukungan penyanyi latar yang membayangi vokalnya dengan beberapa layer harmoni itu mengingatkan saya pada konsep vokal ala Laurie Anderson.Lagu lagu seperti Fighting Club,Bilur,Cut and Paste,Aku dan Buih termasuk interpretasi yang berhasil atas karya Franki Sahilatua “Perjalanan” lebih mengukuhkan posisi Sarasvati sebagai vokalis wanita berkarakter khusus,yang memang jumlahnya tak banyak di negeri ini.
Keenan Nasution drummer Guruh Gipsy lalu diajak berkolaborasi menyanyikan “Zamrud Khatulistiwa” karya Guruh dari album solo pertama Keenan “Di Batas Angan Angan” (1978).Sayang di lagu ini harmoninya tak jelas.Tepatnya Keenan dan Sarasvati tak berbaur.Untungnya duet mereka saat menyanyikan lagu “Sendu” karya Keenan dari soundtrack film “Roda Roda Gila” (1979) itu memberikan sebuah harmoni yang padu.Lalu muncullah lagu tentang makhluk halus “Story Of Peter”.Keenan berada dibalik drum berduet dengan drummernya Sarasvati.Tapi duet ini tak berhasil padu.Atraksi solo drum Keenan bahkan terasa tak perlu karena berkesan tidak kontekstual.Sayang !.
Berikutnya Yockie Surjoprajogo yang pernah tergabung dalam Badai Band bersama Keenan Nasution,didapuk untuk berkolaborasi denga band Bandung Pure Saturday .Ini kolaborasi yang menarik,karena pada bagian Yockie mulai ikut mengimbuh dibalik perangkat keyboards,aura music Pure Saturday mulai terdengar lebih progresif.Dengan portamento dan glissando pada synthesizers Virus,Pure Saturday seperti sebuah band yang didukung Tony Banks,Rick Wakeman atau Keith Emerson.Yockie menyanyikan lagu “Citra Hitam” (karya Yockie dan Junaedi Salat) dari album “Sabda Alam” (Chrisye,1978) dan “Elang” dari album solo Yockie di tahun 1983.Kehadiran Yockie pada akhirnya mempertebal musik Pure Saturday yang semula terasa kosong pada lagu ” Buka”, “Spoken”, “Kosong”, dan “Desire” karena Arief sang gitaris urung tampil, kabarnya  karena urusan keluarga .
Di lagu “Elora”,Yockie menyusupkan permainan Hammond-nya.Musik Pure Saturday mulai terasa gempal dan berisi.Bahkan permainan keyboard Yockie memberikan sentuhan lain pada repertoar Pure Saturday terutama pada dua lagu baru mereka “Horse Men” dan “Albatross”.Entah kenapa band ini seperti menjadi follower band progresif rock Inggeris era 80an Marilllion.
Puncak perhelatan musik lintas generasi ini dipungkas oleh The Brandals dan Koes Plus.Bagi saya The Brandals tampil dengan aura rockn’roll yang tepat,tidak dibuat buat.Eka Annash dengan energik menggeram lewat “ Hati Emosi”, “Obsesi Mesin Kota”, dan “Perak”.Dilanjutkan dengan berkolaborasi dengan Koes Plus lewat “Kelelawar”,lagu yang diambil dari debut album Koes Plus di tahun 1969 “Dheg Dheg Plas”.Lagu yang riff nya memiripi “Jumping Jack Flash” nya Rolling Stones ini bahkan seperti adegan battle antara Koes Plus dan The Brandals.The Brandals turun panggung ,berganti Koes Plus yang menggeber “Bujangan” dan berlanjut terus ke lagu “Diana” dengan bassline yang mengingatkan kita pada “Obladi Oblada” nya The Beatles.
Dipenghujung acara,The Brandals dan Koes Plus bersama-sama meneriakkan “Jemu” dan “Pelangi”.Kolaborasi lintas generasi pun usai.Penonton dari dua generasi berbeda itu pun pulang dengan suka cita.Semoga amnesia sejarah musik Indonesia bisa sirna dengan konsep acara seperti yang disajikan DjakSphere ini.

Iklan
Komentar
  1. lodegen berkata:

    ulasannya asik, mengalir. sy bisa membayangkn suasananya. kurang tepat penempatan titik dan koma saja, yang agak mengganggu. hehe

  2. fifin berkata:

    salam kenal kang denny,

    tulisannya sangat menarik… saya ingin band kakak saya juga bisa maen di acara Djakarta ArtMosphere yang akan datang, dan tentu saja dibuatkan tulisan juga (>,<)

  3. rakamateur berkata:

    nice review, menurut saya yang juara endah n rhesa sama margie sergers . Menurut kang denny djaksphere tahun depan yang kolaborasi siapa sama siapa kang yang menurut kang denny harus dilakukan? terima kasih

  4. gatot berkata:

    Den,kalau nanti akan rilis DVD nya,lagu ” Elang ” Yockie & Pure saturday,harus ada ya…keren.

  5. arif berkata:

    wah ulasannya selalu menarik, berbobot dan padat. tp msh belum dibuat kategori ya mas denny,

  6. Satria berkata:

    Terimakasih review nya mas den.. terimakasih juga udah di tengokin dulu.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s