Konser Mono : Tenggelam Dalam Samudera Bunyi

Posted: Oktober 27, 2011 in Uncategorized

Konser Mono di Nusa Indah Balai Kartini 11 Okt 2011 (foto Rendy Nur Rizal)

                         Konser Mono ,     Tenggelam Dalam Samudera Bunyi

Entah kenapa banyak anak muda yang memandang aneh kearah saya saat menginjakkan kaki di pelataran lobi Nusa Indah Balai Kartini untuk menyaksikan konser Mono,kuartet postrock Jepun pada 11-10-2011 (hei lihat kombinasi angkanya he he).Jakarta lepas maghrib memang diguyur hujan.Macet memagar beberapa ruas jalan saat saya membelah Jakarta dari Senayan ke Gatot Subroto dengan menaiki taksi.Suasana temaram,dingin yang mencekam seperti sebuah fanfare alam sebelum menyimak ritual postrock Mono yang untuk kedua kalinya menyambangi Jakarta .Saat pertama Mono konser di Senayan dalam event Jakarta Rock Parade yang membawa petaka nista itu saya tak memiliki kesempatan untuk menontonnya.Dan kesempatan kedua ini jelas tak saya sia-siakan.Jauh jauh hari sahabat saya Ryann  yang berambut kribo dan gempal itu sudah menjanjikan saya sebuah tiket tanda masuk.

Nah wajah wajah anak muda yang seolah meragukan kredibilitas saya sebagai penonton postrock itu mungkin tak pernah tahu bahwa saya juga menyimak postrock termasuk Mono.Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa saya juga menyimpan dua vinyl Mono di rak vinyl saya dirumah.

Saya bahkan terperanjat ketika beberapa hari usai konser Mono saya melihat di Jurnalicca Webzine nama saya disebut-sebut dalam artikel mengenai konser Mono itu.Ini dia petilannya : “Tanpa magnet yang sama mana mungkin hastag #MonoJKT masih berkeliaran beberapa hari paska hari H. Akhirnya, tanpa daya tarik yang sama, mana mungkin Denny Sakrie, kritikus musik tua kenamaan, mau muncul di Nusa Dua Theatre. Denny Sakrie menonton post-rock? Ini baru progres! .

Wah saya kaget terpingkal-pingkal membaca komentar yang berlebihan itu.Kenapa ? Kalimat itu mendeskripsikan seolah saya ini tidak perduli dengan subgenre musik yang kerap dianggap tak popular.Bahkan disebut tua segala yang menurut pemahaman saya bahwa orang tua itu sudah tak mau perduli dengan pergeseran nilai-nilai musik yang baru atau apalah.Gilanya pake ditulis kayak gini lagi  : ”Ini baru progress ?.O my God…….Kalian terlalu mengunderestimate saya.Tapi saya akhirnya jadi mahfum,mungkin anggapan mereka itu lantaran  saya sering terlihat mengomentari banyak artis-artis mainstream di kaca TV dan menganggap kuping dan benak saya tak mungkin bisa involve di ceruk musik  semacam postrock yang seolah mengekslusifkan diri itu.Karena terus terang saya pun bisa mengendus bahwa banyak diantara penonton yang menyaksikan konser Mono itu justeru tengah menjalanai ritual “naik kelas” atau “naik pangkat”.Bahwa kenaikan tingkat atau strata menikmati musik itu merupakan sebuah pengakuan yang patut diamini dalam pergaulan.”Gua bukan bagian dari musik alay.Musik gua lebih cerdas.Musik gua tidak tipikal.Musik gua cutting edge et cetera et cetera”.Walaupun saya yakin juga bahwa tak semua penonton Mono yang berperilaku seperti yang saya tudingkan itu. 

Kedatangan saya di konser Mono ini memang ingin memasrahkan diri berenang dan tenggelam dalam samudera bunyi yang maha luas dan berlapis lapis itu.Sebelum Mono saya memang sudah terkagum kagum dengan para ksatria bunyi bunyian dari negeri Sakura semisal Ryuichi Sakamoto yang tercerabut dari kelompok Yellow Magic Orchestra hingga perkusionis Stomu Yamash’ta yang sejak era 70an kerap bersimbiose mutualisme dengan pemusik-pemusik idealis Barat seperti Al Di Meola,Steve Winwood hinggal Michael Shrieve.Di benak saya Mono adalah generasi penerus pemusik Jepang era terdahulu walau mungkin dalam subgenre yang tak sama.

MONO

Tamaki,multi-instrumentalis yang menawan (foto Rendy Nur Rizal)

Sebelum Mono yang terdiri atas Tamaki (satu satunya wanita di band ini),Yasunori Takada (drums), serta duo gitaris Takaakira “Taka” Goto  dan Yoda naik panggung,menyeruak alunan playback musik klasikal yang simfonik dan disusupi suara penyanyi wanita sopran membentuk tekstural yang mencekam .Angelic voice yang mencengkram indra pendengaran kita.Pemilihan sequencing music semacam ini memang tepat untuk menjadi bridging pertunjukan Mono.Meski introduksi ini terasa melelahkan karena berdurasi sekitar 25 menit.Keempat Mono akhirnya muncul juga dari balik tirai hitam dengan menggunakan busana hitam pekat pula.Takada dan Tamaki kemudia membentuk harmoni tabuhan glockenspiel yang repetitive seolah pengantar sebuah ritme mantra dalam sebuah ritual tertutup.Dan saya mengenal komposisi ini Ashes In The Snow dari album “Hymn To The Immortal Wind” yang dirilis tahun 2009.

MONO

(Foto Foto Rendy Nur Rizal)

Komposisi yang mereka garap berempat itu terasa begitu kontekstual dengan muramnya cuaca di Jakarta karena rinai hujan yang mengguyur.Saya sengaja mengambil posisi duduk di tengah tepat dua row di depan FOH.Ini posisi yang bisa memanjakan kuping saya.Komposisi ini memang beranjak dari sebuah repetisi ritme muram hingga akhirnya mencapai klimaks sesuai dengan tajuk lagunya Ashes In The Snow.

MONO

Mono (Foto Rendy Nur Rizal)

Komposisi musik Mono memang mencuatkan citarasa sinematik.Komposisi yang mereka torehkan seperti sebuah peniruan atas jelujur simfonik ala music klasik.Simak bilah bilah keyboard Tamaki yang terasa chordial dan seperti merepresentasikan sebuah bunyi orchestral yang grand dan megah. Ternyata Mono masih berkutat di album “Hymn To The Immortal Wind”.kali ini bertajuk “Follow The Map” yang bernaunsa adventurial.Dalam album rekamannya,Mono didukung oleh sebuah chamber 25 pieces.Ah andaikan saat itu ada imbuhan chamber juga.

MONO

Konser Mono di Jakarta (Foto Rendy Nur Rizal)

Jantung saya ikut berdetak saat Tamaki menghadirkan bunyi virtual organ vintage Hammond B-3 pada lagu “Burial At Sea” yang juga dipetik dari album yang sama.Diikuti dengan harmoni duo gitar elektrik yang membius,Taka dan Yoda berbagi tugas antara memetik single string theme dan melodi.Bunyi-bunyian elektris itu seperti menggumpal dan saya betul betul tenggelam dalam samudera bunyi yang maha luas dan lebar itu.

Mono seperti meniupkan udara salju yang luar biasa dingin lewat  “Pure As Snow” (Trails Of The Winter Storm) .Sebuah komposisi yang membuat seisi ruangan menjadi bergidik.Saya pun merasa efek kedinginan yang tiada tara saat itu.Apalagi saat itu saya datang nonton konser Mono sendirian tanpa siapa-siapa.Imbuhan drum Takada perlahan terasa powerful dengan konstanitas yang terjaga baik.

Kemudian tanpa sama sekali komunikasi dengan penonton,Mono tetap berkomunikasi melalui musik yang mereka jejalkan.Masuklah “Sabbath” yang mistis dari album “One Step More And You Die” yang dirilis tahun 2003.Inilah album Mono yang saya dengarkan untuk pertama kali dan kemudian jatuh cinta dengan kuartet ini.Kenapa ? Karena sound tekstural yang menggenangi seluruh permukaan album mengingatkan saya pada King Crimsons,grup prog-rock Inggeris yang dimotori Robert Fripp.King Crimson saat itu,terutama pada era album Lark’s In Tongue Aspic banyak memainkan fragmen-fragmen bunyi yang esensialistik.Komposisi “Sabbath” yang menyemburatkan dinamika ini akhirnya membuat duo gitaris yang tadinya duduk di kursi lalu berdiri dan seperti tengah in trance  .Berlanjut dengan “Halo” dari album “One Step More And You Die”.Komposisi ini berdurasi mendekati 8 menit.Cukup panjang tapi menggairahkan raga.

Saya yakin sebagian besar penonton dirangkul imajinasi masing-masing akibat semburan music dari Mono yang tekstural itu.Saya merasakan hal itu,terutama ketika menyimak komposisi bertajuk “Moonlight” yang secara harafiah seperti menyiratkan sebuah titik kesepian yang hanya ditemani cahaya bulan yang temaram dan muram.”Moonlight” berasal dari album “You Are There” (2006).

Tamaki adalah sosok yang menarik disamping duo gitaris Yoda dan Goto yang bersosok psikedelik itu.Tamaki berpindah pindah instrument dari glockenspiel,bass dan tumpukan keyboard.Suasana muram menjadi kian muram saat jari jemari Tamaki menggerayangi bilah bilah tuts keyboard menghasilkan ambience yang subtil dan tetap mistikal.dan ternyata itulah muasal dari komposisi “Everlasting Light”,komposisi yang menutup album “Hymn to The Immortal Wind” dan ternyata juga dipilih menjadi penutup konser Mono di Jakarta.Tapi sebagian besar penonton tetap tak beranjak dari kursi.Mereka tampaknya mendambakan munculnya encore dari mono.Teriakan We want more yang berkumandang toh tetap tak digubris.Mono tetap tak naik panggung melayani encore.Selama satu jam sepuluh menit,Mono telah melukis tekstur bunyi dalam petualangan yang fantastik.Sebuah petualangan musical yang rasanya tetap bersemayam dalam benak saya entah sampai kapan.

Iklan
Komentar
  1. rayculz berkata:

    Tulisan yang sangat menarik pak. Jujur, kami sebagai penggemar post-rock di Indonesia tidak menyangka bahwa ternyata pak Denny juga datang ke konser Mono atas inisiatif sendiri dan undangan (berupa tiket) dari Ryan. Bahkan memiliki 2 vinyl dari Mono.

    Memang saat ini, post-rock mulai booming dalam beberapa tahun ini di Indonesia (meski di dunia gairah akan genre ini mulai lesu). Kedatangan Mono ibaratnya sebagai pintu masuk buat artis serupa yang mengusung genre ini bisa datang ke negeri ini.

    Hmm, apakah jika ada artis dengan genre serupa hadir. Apakah pak Denny juga akan hadir di konser tersebut sambil menikmati bunyi cresendo dengan alur yang mulai naik sampai titik puncak eargasm anda ?

  2. hamdalah berkata:

    kotak itu genre, genre itu kotak. musik harus di kotakkan

  3. aconk berkata:

    Om Den, setelah saya baca tulisan om saya langsung ingat Orexas nya Remy Sylado 🙂

  4. Ismail Reza berkata:

    Nah Den, lo kayaknya perlu detox citra deh … =) udah terlalu dianggap ‘mainstream’ (apan sih? komersil kali..=)) … bahas John Zorn, ANBB, Tortoise, Boris gitu2 deh … =P BTW anak jaman sekarang juga taunya Post Rock rata2 cuman Mogway,Mono, sigur ros (yg notabene “mainstream” juga di postrock) … emang mereka tahu Slint, Talk Talk, Tortoise, gituh? =P …..dan jangan lupa kedahsyatan Godspeed You! Black Emperor! hahahaha! Mono mah masih emo kl dibandingin sama suhu2 ituh ….

    • dennysakrie63 berkata:

      Ha ha ha iya…makanya gua kaget juga ada yang nulis di blog merasa kaget karena gua nonton Mono ha ha ha.Nuah Slint en Tortoise itu baru nyeseeek ha ha ha.Btw,susah banget ya ketemu elo.Berkali2 gua ke Bdg tapi lo agak family man.Gak postrock ah gayanya ha ha ha

  5. Ismail Reza berkata:

    Hihihi, iya nih-tapi sekarang udah hampir puber kedua nih gua-kalo ke Bandung kontak2 ya! =)

    BTW gua sekarang jaraaaaang banget nonton konser, karena alasan sombong (tapi jujur) ; kok musiknya nggak level sama kuping gua ya? kenapa gua selalu boring ditengah konser? … gawat! udah snob akut nih! Harus sering ngobrol sama elo Den, supaya curahan hati gua bisa didengar industri, dan mereka mau ngedatengin ; euh, minimal Soundgarden lah ke Indonesia …. (gua mau minta King Crimson, Univer Zero, Magma, Boris, SunnO))), tapi kayaknya kita harus tahu diri lah dalam bermimpi .. =P)

    viva Pop! Death to boring rock! =P

  6. rayculz berkata:

    @Ismail
    Bicara Slint, Talk Talk, Tortoise apa tidak sekalian Bark Psychosis … mereka yang termasuk pendiri tiang post-rock seperti apa yang dimaksud oleh Sam Reynolds, tetapi menjadi kesini itu sudah berubah. Template post-rock yang dimaksud dulu oleh Sam Reynolds sudah berubah ketika memasuki post-rock modern yang dibawa sama Mogwai.

    Well, jangan underestimate “anak jaman sekarang” yang benar2 ‘tahu’ post-rock loh.

  7. semrele berkata:

    post-power syndrome ya om :v

  8. Ismail Reza berkata:

    Mas Ray,

    Saya hanya menanggapi tulisan Denny Sakrie-apakah anda dapat menjamin secara kuantitatif bahwa anak muda yg datang ke konser Mono 100% mengerti Post Rock? Tidak ada yang hanya menuruti lifestyle saja?

    Saya rasa memang ada beberapa orang yg – meminjam tulisan Denny ; “….. bisa mengendus bahwa banyak diantara penonton yang menyaksikan konser Mono itu justeru tengah menjalanai ritual “naik kelas” atau “naik pangkat”.Bahwa kenaikan tingkat atau strata menikmati musik itu merupakan sebuah pengakuan yang patut diamini dalam pergaulan.”

    Nah, ini yang saya maksudkan-Denny memang orang tua, tapi mungkin karena ketuaannya dia cukup akrab dengan musik Krautrock yg jadi cikal bakal konsepsi Post Rock semisal Neu! atau Can … selain metodologi studio remix dari Miles Davis era Fusion awal yg juga sayup-sayup dilakukan Tortoise, misalnya – tulisan diatas ini adalah bahasan tentang akar dan pengaruh.

    Terus-terang saya tidak menyindir anda (saya baca komentar anda diatas); ini adalah komentar terhadap keseluruhan tulisan Denny – kecenderungan lifestyle sekarang seringkali melupakan keberadaan pengaruh akar yang kait mengkait sehingga menghasilkan sesuatu yg terdengar “sekarang” dan “baru”.

    Saya tidak pernah baca tulisan Sam Reynolds-saya tahu Post Rock saat dulu, tahun 2000an saya merasa secara musikal sangat stagnan; sehingga mencari musik baru.
    Lalu disana saya ketemu dengan Tortoise, yang anehnya saya mendengar Miles Davis, Can dan Neu! disana (secara metodologis).

    Saya menyebut Slint, Talk Talk, Tortoise, Godspeed You! Black Emperor, Mogwai karena menurut saya musik mereka jauh punya ciri khas dibandingkan dengan Mono-buat saya, Mono itu pop, dan cenderung Emo…

    …. kalau anda memang anak sekarang yg benar-benar tahu Post Rock, seharusnya tidak merasa tersinggung, karena saya hanya membahas kelakuan sekian persen yang bersemangat lifestyle … bilapun anda adalah yg menulis di blog, itu kan karena anda keseringan melihat Denny Sakrie mengomentari musik Indonesia sekarang yg sedih-sedih itu … (satu hal yg saya yakin secara mental jadi beban juga buat Denny, cuman sejauh ini dia tahan saja =P) makanya saya bilang Denny harus detox citra … =P

    cheers! nice comment BTW…

    Salam Sakral!

  9. Ismail Reza berkata:

    Btw, apakah mungkin Sam Reynolds itu adalah si Simon Reynolds dari majalah Wire? karena emang dia yg pertama mencetuskan “post rock” …

  10. dedi berkata:

    Mono itu pop? Mono itu emo? are you kidding me? 😀
    Mono itu udah punya karakter sendiri, jadi ya udah punya ciri khas sendiri. Saya udah tau itu lagunya mono walau masih diputer 15 detik pertama.
    Tapi kembali lagi emang masalah selera, saya justru lebih suka Mono daripada Mogwai. Entah kenapa, mungkin karena Mono lebih meledak2 (see bukan pop ya? :D).
    Istilah postrock emang pertama2 disebut ketika slint muncul, tapi di akhir 90-an sampai sekarang, genre postrock sudah berubah sangat banyak. Kadang saya merasa malah bekas2nya udah gak ada.
    Bahkan para musisi2 postrocker sekarang juga gak mau disebut postrock 😀

  11. dedi berkata:

    oh iya satu lagi, saya itu kurang sreg ya kalau ada yang standout dan laku kemudian dibilang mainstream. Sigur Ros emang laku, tapi apakah itu mainstream?
    Atau misalnya di genre post metal, ketika neurosis laku apakah bisa disebut mainstream juga?
    saya rasa tidak ya.
    Ketika sigur ros bikin album dan mereka laku ya berarti bagus, tujuan mereka bukan mainstream juga toh?
    saya setuju juga dengan mas raycul “Well, jangan underestimate “anak jaman sekarang” yang benar2 ‘tahu’ post-rock loh.”. Post Rock sekarang bukan genre yang terlalu ekslusive, yang ketika ada orang nyebut post rock dia berharap kasta dan derajatnya naek :D. Genre ini sudah makin diterima, dan anak2 sekarang tidak hanya sekedar tau band yang mas Ismail sebutkan diatas.
    marilah kita kembalikan musik pada tempatnya, untuk didengerin…dan dibeli. tanpa prejudice macem2

  12. Sev berkata:

    Mono… emo?

  13. rayculz berkata:

    Mas Ismail,

    Jujur, dalam hati saya berpendapat sama dengan banyak rekanan saya. Apakah mereka datang disana untuk Mono jepang atau Mono yang lain (dalam hal ini dibaca : Mono UK yang terkenal dengan single Life In Mono) yang beraliran Trip-Hop. Dan saya tidak mengetahui itu jika penggemar Mono lumayan banyak dan itu diluar komunitas Post-Rock Indonesia di forum2 online yang kami bangun sejak setengah dekade yang lalu.

    Kedatangan Mono memang ibaratnya sebuah ritual, karena untuk band jenis ini sangatlah susah untuk datang ke Indonesia. Sangat jarang untuk dilirik promotor dan saya mewakili rekanan penggemar post-rock seluruh Indonesia sangat berterima kasih oleh Ryan sebagai promotor yang cukup berani mendatangkan Mono ke Indonesia. Sedangkan untuk rekanan yang memiliki berpenghasilan lebih, kedatangan band2 serupa ke negeri tetangga-pun akan di datangi untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana bunyi2an itu dihasilkan oleh musisi yang sudah kerasukan musik yang mereka mainkan. Bahkan Mogwai yang akan konser di Thailand-pun akan didatangi. Itu adalah gairah yang tidak sama ketika menyaksikan lewat video.

    Well, untuk meluruskan … tidak ada pengakuan untuk kenaikan strata di dalam komunitas. Elemen post-rock yang kami kenal dan kami dalami tidak terpaku pada lifestyle. Karena hanyalah musik yang bisa berbicara lewat emosi musiknya. Tapi anda mengatakan bahwa Mono adalah emo, sekali lagi saya tanya … apa itu emo ? Mono itu pop … apa itu pop ?

    Harus dicatat dan digaris bawahi, setiap band post-rock pasti memiliki style dan ciri khas tersendiri. Mogwai sangat identik dengan quiet-loud, Godspeed You! Black Emperor sangat identik dengan cresendo, Mono sangat identik dengan tremolo dengan noise, Explosion In The Sky sangat identik dengan twinkle, dan lain sebagainya. Style mono memang seperti itu dengan konsistensinya seperti itu sejak album pertama sampai Hymn of Immortal Wind. Mono tidak bisa dibandingkan dengan GY!BE dan juga tidak bisa dibandingkan dengan EITS karena semuanya memiliki style sendiri-sendiri.

    Bukan hanya Mono dan band2 post-rock papan atas, kedatangan band underated tidak terdengar oleh khalayak umum akan kami apresiasikan juga secara seimbang. Bahkan sudah ada beberapa band post-rock ‘yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena anda juga tidak tahu’ dari luar yang ingin datang ke Indonesia, namun akhirnya gagal karena susah mendapatkan promotor yang sanggup mendatangkan mereka.

    Intinya hanya satu, apresiasi akan musik mereka yang bisa dinikmati secara live. Tidak terbentur pada tembok senior, junior, mainstream, underated, terkenal, tidak terkenal, atau … emo …. hahaha itu lucu. Karena jika anda adalah penggemar musik sejati seharusnya tahu bahwa :

    ” MUSIK ITU KONSUMSI TELINGA BUKAN MATA ”

    That’s it !

    *ps … bukan saya yang menulis review di blog lain mengenai Mono yang akhirnya ditindak lanjuti oleh om Denny*

  14. dedi berkata:

    saya jadi inget saya pernah ngomong “gakpapalah orang kenal musik pertama ikut2an, toh bakal ada seleksi kalau tetep suka ya berarti dia tidak akan menjadi hipster lagi, kalau gak suka ya udah..cukup sekian”… gak papa orang dateng ke konser untuk lifestyle, toh kita gak mbayarin mereka. Saya malah suka ketika mereka datang berbondong2 tanpa tahu musiknya seperti apa. Ketika mereka pertama kali kesini, saya masih dengerin MP3nya (kasarnya masih hispterlah). Begitu saya melihat mereka maen, langsung jatuh cinta dan sekarang koleksi vinyl mono saya lengkap (kecuali album pertama yang memang sudah susah nyarinya).

  15. Evangeline berkata:

    Mono is emo? wahhh salah genre dong saya selama ini…

    makasih ya pencerahannya om ismail…

    salam sakral 🙂

  16. ollay berkata:

    @ Mas Ismail.

    kalau boleh saya ikut nimbrung nih.
    soal strata “naik kelas”, kalau saya boleh bilang apa salahnya? saya yakin kita semua sudah capek diberondong “musik pagi hari” yang notabene seragam dan bikin orang ingin bunuh diri. dari tulisan mas, saya tau mas Ismail punya selera yang bagus soal musik. tapi apa enaknya kita menikmati musik yang benar2 “musik” itu sendiri? apa mas Ismail takut “musik” yang dinikmati mas menjadi mainstream sehingga mas ga bisa terlihat “eksklusif” (maaf, saya bukan men-judge, itu cuma perumpamaan)?
    bukannya ini suatu pertanda yang baik kalau banyak orang sudah mau menghargai atau setidaknya mencoba menikmati musik yang berkualitas (terlepas dr anggapan mas bahwa Mono itu berkelas atau tidak, tp saya menganggap musik mereka bukan musik kacangan)?

    pada saatnya nanti, mereka yang tadinya masih dalam taraf mencoba menikmati, pasti akan tersortir sendiri dan menyisakan orang-orang yang benar-benar mencintai jenis musik tersebut.
    hal ini tak cuma terdapat dalam musik, tapi dalam segala segi (jika dlm ekonomi penerapannya biasanya dalam perilaku konsumsi).

    oh ya, saya juga salah satu yang kadang mampir ke forum2 postrock. mereka tak seperti yang anda kira mas, mereka juga tau sejarah2nya. dan itulah gunanya forum, untuk berbagi. membuat musik yang berkualitas supaya bisa dinikmati bersama. musik berkualitas bukan milik kaum elitis, apalagi setelah adanya internet.. 🙂

  17. Ismail Reza berkata:

    Mas Ray,

    Itulah-problemnya saya sebutkan diatas tadi, dengan mudah orang merasa dan menyantolkan gelar dengan mudah. Karena bung Denny kebanyakan mengomentari musik2 “mainstream”; dibilang jadi pengamat musik “mainstream” …. jadi curiga apakah titel banyak “pengamat musik” justru kontra produktif-justru lebih kearah style daripada kemampuan sesungguhnya ….

    >>>
    Jujur, dalam hati saya berpendapat sama dengan banyak rekanan saya. Apakah mereka datang disana untuk Mono jepang atau Mono yang lain (dalam hal ini dibaca : Mono UK yang terkenal dengan single Life In Mono) yang beraliran Trip-Hop….
    >>>

    yup. Berarti kita sepakat akan hal ini.

    >>>>
    Kedatangan Mono memang ibaratnya sebuah ritual, karena untuk band jenis ini sangatlah susah untuk datang ke Indonesia. …
    >>>>

    Intinya sih, kalau anda suka band Mono, silahkan. Itu kan hak asasi anda. Tapi saya berharap bahwa para penggemar Musik bisa melihat wawasan luas dari lansekap musikalnya, membandingkan dan mencoba mengunyah gradasi warna yang ada.
    Mono hanyalah satu fragmen dari gradasi itu-dan buat saya, sekali lagi, buat saya, bukan sebuah fragmen yg penting … =)

    >>>
    Well, untuk meluruskan … tidak ada pengakuan untuk kenaikan strata di dalam komunitas. Elemen post-rock yang kami kenal dan kami dalami tidak terpaku pada lifestyle. Karena hanyalah musik yang bisa berbicara lewat emosi musiknya. Tapi anda mengatakan bahwa Mono adalah emo, sekali lagi saya tanya … apa itu emo ? Mono itu pop … apa itu pop ?
    >>>

    Euh, saya ini berdiskusi dengan anda atau sebuah kolektif seperti Borg dalam Star Trek itu ya? =P

    Pop buat saya adalah domain musik besar, yang mencakup Jazz, Funk, Rock, RnB, Disco dll … oleh karena itu saya beri tabik ke Denny “viva Pop!” …..

    Musik Populer adalah musik yang enak dikuping …. yg easy listening …. sayangnya ini juga dengan mudah dikelompokkan/dibaurkan dengan kata “pop” seperti yg saya gunakan saat saya menulis : “Mono itu pop”….

    Yang saya maksudkan disini adalah, musik Mono akan jauh lebih bisa diterima oleh banyak kalangan … dibandingkan Tortoise, Godspeed You! Black Emperor, Stereolab dll … olah karena itu, dikuping saya, Mono ada di fragmen gradasi paling masuk akal untuk didatangkan ke Indonesia, negara RBT yg pop banget inih … =D… karena ya itu, seharusnya mereka lebih mudah dicerna, punya pendengar fanatik (anda misalnya) jadi secara umum kesimpulannya lebih mudah untuk dijual …. harusnya sih balik modal nggak pake degdegan. Sekali lagi, ini bukan dosa, karena disini musik bersanding dengan bisnis…

    Kembali, di kuping saya, saya merasa bahwa dari seluruh lini Post Rock yang saya dengar dari tahun 2000an, Mono adalah yg paling ringan, dramatis, serta ada unsur “imaginary soundtrack” … sayangnya dramatika musiknya saya rasa mengacu kepada musik2 Emo semisal Carpark North … jadinya bila dibandingkan dengan grup Post Rock yg lain agak berada diperbatasan konteks Post Rock (menurut saya).

    Istri saya malah bilang bahwa musik Mono seperti soundtrack film kartun Jepang …. =) BTW dia penggemar Tortoise, tapi kritis banget dengan Stereolab (“vokalisnya males-malesan”) dan Godspeed You! Black Emperor (“emoh, bikin depresi”)…. emang kalao ngomong sembarangan dia inih … =)

    >>>
    Bukan hanya Mono dan band2 post-rock papan atas, kedatangan band underated tidak terdengar oleh khalayak umum akan kami apresiasikan juga secara seimbang. Bahkan sudah ada beberapa band post-rock ‘yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena anda juga tidak tahu’ dari luar yang ingin datang ke Indonesia, namun akhirnya gagal karena susah mendapatkan promotor yang sanggup mendatangkan mereka.
    >>>
    Dijamannya Post Rock, sekitar tahun 2001an itu sudah ada komunikasi Tortoise dengan Ajie Wartono dari Warta Jazz; dan betapa Tortoise ingin banget manggung di Indonesia … mereka bahkan mau manggung gratis, cuman dibayarin tiket aja … sayangnya memang saat itu kondisi kita yg tidak memungkinkan ….

    Tapi ya itu, karena memang pertunjukan musik punya faktor bisnis yg besar, makanya para promotor pun berhitung ….

    >>>
    Intinya hanya satu, apresiasi akan musik mereka yang bisa dinikmati secara live. Tidak terbentur pada tembok senior, junior, mainstream, underated, terkenal, tidak terkenal, atau … emo …. hahaha itu lucu. Karena jika anda adalah penggemar musik sejati seharusnya tahu bahwa :
    ” MUSIK ITU KONSUMSI TELINGA BUKAN MATA ”
    That’s it !
    >>>>

    euh, SAYA SETUJU SEKALI! Oleh karena itu saya akan sangat kritis kepada apa yg saya dengar … =)

    Kalau tidak bisa bangkrut… =) Apalagi kalau tiap konser saya datangi … WAH! eh, iya kan musik itu konsumsi telinga bukan mata ya? ngapain juga datang ke konser? =D!

    Kembali, saya ingatkan bahwa “Talking about music is like dancing about architecture”, masalah ini sangat dipengaruhi oleh selera masing2 …. dan bisa tidak berujung pangkal bilamana kita berupaya untuk lebih menang satu dan lainnya – buat saya, diskusi tentang musik akan sangat menarik bilamana yg terjadi adalah semacam ulasan kritis, bukannya saling memuji, tapi saling mereview kritis terhadap berbagai macam band, dengan referensi musikal masing-masing ….

    Sekali lagi, saya berterimakasih kepada anda; sudah membuat saya membuka kembali koleksi CD-CD band Tortoise, Stereolab, Godspeed You! Black Emperor, Mono, Slint, Talk-Talk … terakhir saya setel mereka di tahun 2003 …
    Tanpa adanya diskusi ini, mungkin mereka akan semakin berdebu …=)

    Kalau anda mau mencoba mendengar cikal bakal Post Rock, cobain Can yg “Soon Over Babaluma” (1974) di komposisi “Chain Reaction” … =)

    cheers!
    Salam Sakral!

  18. dennysakrie63 berkata:

    Pemusik dan komposer kontemporer Tony Prabowo malah pernah menulis bahwa postrock adalah bagian dari “musik pop”…..Gimana menurut kalian ?

  19. dennysakrie63 berkata:

    Terimakasih untuk posting2 yang masuk di blog saya ini.Saya sangat menikmati indahnya perbedaan pendapat itu .Tetap MUSIK….

  20. Foxtronaut berkata:

    dedi the dude

  21. RRW berkata:

    bagi saya Mono termasuk modern classical, seperti yang mereka katakan pada the sky remains the same as ever

  22. sev berkata:

    Carpark North…emo?? -__-

  23. soktaumusik berkata:

    “Musik Populer adalah musik yang enak dikuping”

    apakah ketika prog menjadi musik populer ketika itu tergolong musik yang enak dikuping? gentle giant, yes?

  24. Canterburyscener berkata:

    Dengan pengalaman hidup lebih lama di bumi dan beberapa pengetahuan tentang kraut scene (yang katanya diatas cikal bakal post-rock), menurut saya tidaklah bijak jika seseorang menganggap pendengar muda lebih buruk citra rasanya daripada pendahulunya. Biarkan saja mereka menentukkan selera mereka sendiri, toh kalaupun memang mereka setia pada jalur tersebut akan sampai pada rootsnya masing-masing.

  25. Fariz Aufarifqi berkata:

    “BTW anak jaman sekarang juga taunya Post Rock rata2 cuman Mogway,Mono, sigur ros (yg notabene “mainstream” juga di postrock) … emang mereka tahu Slint, Talk Talk, Tortoise, gituh?”

    haha. what are you, some kind of god in post rock scene?

  26. Hanif Nugraha berkata:

    😀 saya dengar ‘and so i watch you from afar’, ‘aphasia’, ‘giants’, ‘if these trees could talk’, ‘years of rice and salt’, masih postrock2 lah mungkin, sebenernya peduli setan mau genrenya apa, asal bisa bikin eargasm dan soundscaping saja kakak 😀

    btw lebih baik setelah menikmati ya menciptakan musik yuk, sekalian nitip lapak lagu *yang katanya* postrock campur2 bau2 jawa dikit bikinan saya sendiri, mudah2an enak 😀

    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s