Arsip untuk Desember, 2011

Ngobrol Blues dengan mbah John Mayall

Posted: Desember 19, 2011 in Sosok

Saya dan John Mayall

Bagi anak muda sekarang, nama John Mayall nyaris tak dikenal. Mereka justeru lebih mengenal John Mayer.Tapi di Indonesia,terutama ketika rezim orde baru mulai berkuasa, setiap anak muda merasa terkucilkan jika tak mengenal sosok John Mayall. Begitu populernya musik dan sosok John Mayall dimata anak muda Indonesia era akhir 60an hingga 70an hingga muncul istilah John Mayall High School.

  Istilah itu ditujukan untuk sekolah lanjutan atas yang mengizinkan muridnya memelihara rambut gondrong.
Karena ingin berambut gondrong dan bebas merokok, Supartono Suparto, atau lebih dikenal dengan panggilan Tono Bigman, akhirnya memutuskan bersekolah di Perguruan Taman Madya, SMA di Blok S, Jakarta Selatan pada tahun 1970. “Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena muridnya berambut gondrong,” ungkap Tono (58), yang saat itu telah ngeband bersama grup Bigman Robinson.
John Mayall, pemusik blues Inggris, dengan rambut tergerai sepunggung, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Mayall  menjadi idola anak muda di kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an.
 Di Bandung pun ada sekolah John Mayall. “Sekolah itu berada di Jalan Naripan. Murid-muridnya dibolehkan memelihara rambut gondrong,” ungkap Triawan Munaf (53) yang pernah mendukung sederet grup rock di Bandung seperti Lizzard,Tripod, Giant Step, dan Gang Of Harry Roesli.
John Mayall usai melegalisir vinyl saya di Istora Senayan
 
John Mayall sedang memegang vinyl John Mayall milik saya
 
 
John Mayall yang kerap dipanggil Godfather of British Blues kini telah berusia 78 tahun akhirnya manggung juga di Jakarta 17 Desember 2011 dalam event “Jakarta Blues Festival 2011” di Istora Senayan Jakarta.Mayall masih tetap gondrong.Tapi rambutnya yang memutih dikuncir rapi.Semangatnya masih membara.Suaranya pun masih melengking,walau tak bisa dipungkiri Mayall kadang agak tersengal dan tertatih mendaki nada-nada yang agak tinggi.
Hampir 1,5 jam John Mayall tampil energik bersama Oli Brown (gitar elektrik),Greg Rzab (bass) dan Jay Davenport (drums).Lagu-lagu lama John Mayall yang mengharu biru anak muda Indonesia 60an dan 70an berkumandang seperti “All Your Love”,” “So Many Roads” ,”Parchman Farm”  hingga “Room to Move”.
John Mayall berhasil menghibur jemaah blues yang melakukan guyub di Istora Senayan.Sebagian jemaah John Mayall memang nyaris memutih pula rambutnya ,seperti halnya Mayall.
Jam 11.30 sabtu 17 desember 2011 saya tiba di Istora Senayan untuk melihat persiapan yang dilakukan John Mayall bersama The Bluesbreakers.Hampir 1,5 jam dihabiskan Mayall melakukan persiapan cek sound.
Tampaknya John Mayall sosok yang perfeksionis.Disela-sela preparing konsernya, saya sempat ngobrol ngobrol dengan John Mayall yang dilahirkan 29 November 1933.
Saat bertemu dengan John Mayall saya langsung menyodorkan piringan hitam saya John Mayall ,sebuah album kompilasi saat John Mayall masih didukung Eric Clapton,Peter Green,John McVie,Asley Dunbar dan Mick Taylor,untuk ditandatangani .Mayall terperangah lalu tersenyum.Dia lalu mengguratkan spidol hitam tepat di font namanya John Mayal pada kover album.
 
John Mayall  (JM) :”Ini album kompilasi era 1967 dan 1969”
Denny Sakrie (DS)  :”Bagaimana bisa merekrut musisi-musisi yang kemudian kelak menjadi ikon musik rock dunia  ?”
JM :”Well….saya hanya melihat kemampuan mereka bermain blues.Mereka berbakat Saya tertarik,lalu mengajak mereka bergabung ke band saya The Bluesbreakers”.
DS :Pemusik yang anda ajak di Bluesbreakers pada akhirnya dikenal lewat band-band terdepan seperti Cream,Blind Faith,Fleetwood Mac atau juga the Rolling Stones.Anda setuju jika saya menyebut anda sebagai seorang penemu bakat yang luar biasa ?
JM :Hmmm….saya lebih suka disebut sebagai band leader saja .
DS : Kenapa pilih musik blues ?
JM : Ayah saya memiliki banyak piringan hitam blues dan jazz.Saya suka beberapa diantaranya terutama yang memainkan gitar seperti Leadbelly,Eddie Lang atau Lonnie Johnson.Musik mereka itu membuat saya mampu menikmatinya berjam jam.
DS :Tapi anda juga terampil meniup harmonika kan ?
JM :Setelah mendengar album Sonny Boy Williamson,saya mulai tertarik bermain harmonika.Apalagi harmonika blues itu sangat ekspresif. Harmonika  bisa jadi representasi perasaan saat meniupnya.
DS : Kenapa anak muda Inggeris di era 60an sangat terpengaruh dengan blues ?
JM : Well…..boleh jadi karena blues itu lebih ke persoalan rasa dan ekspresi.Anak muda pasti selalu tertantang untuk berekspresi sebebas-bebasnya.Dan itu ada dalam musik blues.Blues itu kan akar dari segala musik yang ada.Jazz dari blues, begitu juga  rock berasal  dari blues.
DS : Masih tetap bikin album ?
JM : Yeah….album terakhir saya “Tough”, dirilis tahun 2009.Malam ini saya akan membawakan dua lagu dari album itu ,yaitu “ The Sum of Something” dan “Nothing To Do With Love
DS : Ada berapa album yang telah anda rilis ?
JM : Mungkin  hampir  sekitar 60 album.
DS : Apa album favorit anda ?
JM : Saya suka semua album yang pernah saya bikin.bagi saya album itu adalah representasi dari apa yang bisa saya lakukan,dalam musik tentunya.Mulai dari bikin lagu hingga liriknya.  Album adalah semacam catatan harian dari apa yang saya pernah lakukan.
DS : Tahukah anda bahwa di era 70an musik anda justeru   menjadi bagian dari kehidupan anak muda  Indonesia ?
JM : Oh really ? Iya saya dengar dari beberapa orang disini pun seperti itu.Tapi setahu saya pada era 70an yang namanya musik  blues memang menjadi elemen dari musik rock.Dan ini terjadi dimana-mana.
 
Iklan

Pasukan Perkusi (foto Dion Momongan)

Sebelum berpulang menghadap sang Khalik,almarhum Djauhar Zaharsjah Fahrudin Roesli,demikian nama lengkap Harry Roesli berpesan  :”Jangan matikan lampu di meja kerja saya…..!”.Pinta filosofi yang dimaknai bahwa lampu kreativitas harus tetap berpijar.

Dan ahli waris Harry Roesli pun memaknainya dengan menggelar konser “Titik Api” yang untuk kedua kalinya digelar di Sasana Budaya Ganesha Bandung Jumat 5 Juni 2009, setelah yang pertama di Komunitas Seni Salihara Jakarta 4 Maret 2009.

Ketika kaki saya menjejak di pelataran Sabuga,jantung saya berdetak kencang,hati saya bergidik karena aura Harry Roesli masih terasa kuat mencengkram benak saya.”Kang Harry masih hidup….” cetus saya membatin.

Apalagi pada saat acara ini dikuakkan pada jam 20.00 WIB diputar rekaman berisikan narasi dan senandung kang Harry yang khas :

Oh Tuhan bawalah aku pulang

  ketempat yang kutuju

  Ke tempat yang kucinta

  Oh Tuhan bawalah aku pulang

  Ke tempat Yang Tercinta

  Segera………….

Lalu menyusup sebuah introduksi dari notasi yang saya hafal banget hingga sekrang.Ini lagu bertajuk “Prolog” dari album “Titik Api” yang dirilis Aktuil Musicollection di tahun 1976.Saat itu saya seperti tengah “naik kelas” menyimak karya Harry Roesli.Di tahun 1976 saya duduk dibangku kelas 1 SMP.

Jelas lagu ini memiliki notasi yang tak lazim untuk sebuah lagu bernuansa pop.Juga,liriknya,yang nyeleneh.Candil menafsirkannya dengan bagus :

Kerak bumi menjerit jerit

Menantang langit

Yang merayap       

Itu mentari dan ekor suci

Tujuan dan kesan berseru masa

Tuhan Maha Esa

Tuhan Maha Esa

Bunyi-bunyian sintesis orkestra dari perangkat synthesizers mempertebal atmosfer grand pada lagu ini.

Dari sebelah kiri panggung kemudian terdengar raunganmotor gede hitam yangmenggiring Ipang ke atas panggung.

Berlumur nuansa rock yang pekat,Ipang lalu meneriakkan bagian intoduksi opera rock “Ken Arok”,sebuah gagasan sensaional Harry Roesli di paruh dasawarsa 70-an :

Aku Ken Arok yang engkau tunggu

Engkau beli tiket menontonku………..

Lirik lagu tampaknya memang disesuaikan dengan kondisi kini antara lain dengan menyusupkan idiom caleg…….

Ah……kebengalan Harry Roesli masih menancap.

Disudut panggung saya melihat,La Yala Roesli,salah satu dari putera kembar Harry Roesli tersenyum ke arah panggung.Yala yang berpostur dan bersuara pleg dengan Harry Roesli,tampaknya mewarisi perangai Harry Roesli.

 

Panggung memang tak pernah jeda dengan warisan musik Harry Roesli yang diguratnya semasa hidup.Simaklah dentang perkusi yang ritmis yaitu  mik perkusif suara kayu yang dieksplorasi dari bangku kayu dan tabuhan lainnya yang terbuat dari kayu. Merupakan ekserp  dari komposisi  “Musik Sikat Gigi” yang digarap pada 1982 (ini ssat saya pertamakali duduk dibangku kuliah…….tetap menikmati Harry Roesli).Ini adalah karya karya Harry Roesli sepulang menimba ilmu di negeri kincir angin Belanda.Saat itu karya karya nya lebih dititikbertakan pada karya karya perkusi serta musik konkrit yang lebih memberhalakan bunyi bunyian sebagai sumber musik yang tak berlimitasi.

Kemudian masuklah era perkawainan musik.Disaat Harry Roesli dengan semangat tak serius tapi menampilkan keseriusan yaitu memempelaikan musik Barat (baca elektrifikasi rock) dengan aura tradisional (baca Karawitan Sunda).Sebuah perkawinan yang meresahkan kaum purist.Sebuah kebengalan yang kreatif.Bergaunglah “Sekar Jepun”,sebuah karya karawitan berlumur distorsi rock

Karya yang yang ditatah seniman Jawa Barat RAF dan Harry Roesli ini menampilkan sebuah intro unik,seolah sebuah mantra dalam ritual tradisional :

Dina hate nu daria

Da mi na

Dipibanda ku balarea

Ngan hanjakal nyatana

Jadi pacengkadan

(Terjemahannya :

dalam ketulusan hati

da mi na (tangga nada Karawitan Sunda)

dimiliki semua orang

namun sayangnya kemudian

dijadikan perbantahan.

Notasi bernuansa Sunda lalu terdengar lewat lagu berjubah pop dengan aksentuasi yang renyah dan ringan,bertajuk “Sekuntum Bunga” lewat suara Netta Kusumah Dewi yang kenes dan menggemaskan.Lagu ini diangkat dari album Harry Roesli & DKSB Band “Cas Cis Cus” (1992).Musik dibuat Harry Roesli dan lirik oleh Nano Riantiarno untuk pementasan “Opera Julini” dari Teater Koma  di tahun 1989.
Meski diambil dari pementasan yang sama “Opera Julini”,namun lagu “Sejuk dan Teduh” ini terasa lebih dark dan gloomy.Dulu saya sering berfikir,selain Harry Roesli siapa ya penyanyi yang mampu menafsirkan lagu ini dengan muatan spirit yang sama ?.Ternyata selang beberapa tahun,sejak lagu ini dirilis oleh Musica Studios/Hemagita dalam album “Cas Cis Cus” (1992),ekspresi yang menggeletarkan sukma itu berhasil diperlihatkan oleh penyanyi wanita bertubuh gempal Dira,yang baru saja merilis album solo dengan arahan produser Bluey dari kelompok acid jazz Inggeris Incognito.

Dira memperlihatkan talenta luar biasa.Dira seperti tersusupi ruh Harry Roesli manakala melantunkan lagu ini.Dira seperti menghidupkan kata per kata yang termaktub dalam deretan lirik lagu ini.

Penampilan yang setara dengan Dira diperlihatkan pula oleh Trie Utami yang dikawal permainan piano Purwa Tjaraka,abang kandungnya.Intensitas,kendali emosi serta ekspresi,merupakan anasir yang membangkitkan nafas tema lagu ini.Sebuah lagu bertajuk “Manusia Baru” yang musiknya ditulis Harry Roesli serta lirik guratan  Aat Soeratin,berpesan tentang perubahan,perubahan ke arah sosok manusia baru.

Sebuah lagu berjubah spiritual yang kental.

Berlanjut dengan komposisi musik vokal “Ad Libitum” yang mengingatkan saya pada eksperimentasi Laurie Anderson.Komposisi ini diangkat dari “Musik Bunyi” yang digarap pada tahun 1986.
Ekserpsi ini mengantar penonton pada komposisi bernuansa jazz rock “Orang Basah”.

Komposisi yang dibuat dalam pola ritme yang rapat serta sarat sinkopasi ini ditulis oleh salah satu murid terbaik Harry Roesli Doddy Kusdaryanto yang pernah membentuk kelompok fusion “Miracle” hingga kelompok synth-pop “Digital Music Crew” di awal dasawarsa 90-an.

Lirik “Orang Basah” ditulis oleh Harry Roesli.Mungkin berdasarkan pola melodi yang telah dibuat oleh Doddy.Bunyi-bunyian lirik tersebut sebetulnya seolah merupakan bgain dari instrumentasi lagu itu sendiri.Perhatikan efek vokal saat menyenandungkan liriknya seperti dibawah ini :

Orang basah tak bisa kering

Orang basah itu penting

Paduan Suara Unpad berhasil mengekspresikan komposisi rumit ini dengan sempurna.Sebuah komposisi yang justeru mengingatkan saya pada karya karya Frank Zappa dalam nuansa jazz rocknya.

Suasana lalu berubah dengan atmosfer akustik lewat penampilan Ary Juliant bersama Kelompok Musisi Jalanan,yang diasuh almarhum Harry Roesli semasa hidupnya.Mereka membawakan  2 komposisi dari album “Titik Api” (1976) yaitu “Semut” dan “Epilog”.Dua lagu ini di beberapa album lainnya malah diberi judul yang berbeda meski liriknya sama.Misalnya “Semut” lalu diubah menjadi “Kaki Langit” dan “Epilog” berubah menjadi “Hidup Lebih Kejam Dari Peperangan”.

Gambar gambar di layar pun mendukung bunyi lirik “Epilog” :

Kau lari dari kehidupan

Langkahmu pun menuju hutan

Tak peduli segala luka di badanmu itu

Kuberdiri disisi kirimu

Langkahmu pun kutak kenal lagi

Menuju sana dimana kau berada

Melihat pemberani

Kau berdiri diantara intan

Dan kubersandarkan diantara dua pedang

Kita bicara tentang keberanian

Yang pasti akan kau rasakan

Dimana hidup  lebih kejam dari peperangan
Suasana yang pekat lalu berubah ke atmosfer berderu-deru dari 11 penabuh tom tom yang dilengkapi dengan sebuah cowbell.Komposisi perkusi ini oleh almarhum diberi judul “Bedug Jepang”.Komposisinya  bisa dimainkan dengan beragam perlakuan. Musik perkusif yang dinamis dan segar. Karakternya, seperti yang disampaikan HR, ialah “main-main tapi sungguhan”. Karya ini ditampilkan sebagai semacam “goro-goro” dalam setiap konser musik Harry Roesli  : menyusupkan anasir humor dalam bermusik.

Malaria” adalah sebuah karya Harry Roesli yang sarat metaphora.Lagu ini awalnya terdapat pada album “Philosophy Gang” yang dirilis Lion Record Singapore pada tahun 1973 dengan cover garapan perupa Ade Murad Handoyo yang sempat dicekal karena dianggap menyeruak ke imajinasi pornografi.

Di tahun 1978,Harry Roesli merevisi lagu “Malaria” dengan mengimbuh beberpa baris melodi dan lirik yang kemudian direkam lagi pada album “L.T.O” (singkatan Lima Tahun Oposisi”),dirilis Musica Studios.

“Malaria” versi 1978 inilah yang ditampilkan oleh Candil pada konser “Titik Api” dengan tensi yang bermuara di zona rock yang dinamis.

Lagi lagi Harry Roesli bermetaphora dengan mencuplik episode perang saudara dalam kitab Ramayana yang memperlihatkan perang antara Pandawa dan Kurawa.Lagu bertajuk “Barata Yudha”  ini sebetulnya memotret negeri kita tercinta : Indonesia.Pertamakali dirilisdalam bentuk kaset pada album “Gadis Plastik” di tahun 1977.

Ipang,walau belum menampilan ekspresi yang paripurna,namun sesungguhnyatelah menagkap esensi dari lagu yang bangunan melodinya seolah ingin menghantar kita ke medan peperangan.

Dikuatkan pula penampilan solo gitar Rama Jaque Mate yang terpengaruh blues rock ala Jimi Hendrix atau Stevie Ray Vaughan

Ipang pun menjerit lantang :

Mulut yang penuh tetapi kosong

Ini disebut jantan ?

Coba cerita kan tentang merdeka

Dalam dimensi perawan.

Puncak dari “Titik Api” adalah lagu “Jangan Menangis Indonesia”,lagu yang ditulis Harry Roesli sekeluarnya dari penjara saat berdemonstrasi pada tahun 1974.Lagu yang bermotif semacam hymne ini dirilis dalam album “L.T.O” pada tahun 1978.

Lagu ini kembali berdentang,manakala para mahasiswa turun ke jalan pada tahun 1998 dan menjadi penyeba mundurnya Soeharto dari singgasana kepresidenan selama lebih dari tiga dasawarsa.

Lagu “Jangan Menangis Indonesia” lalu direkam lagi oleh Harry Roesli untuk album “Jangan Pilih Politisi Busuk” pada tahun 2004.

Versi inilah yang diputar pada ujung konser “Titik Api” 5 juni 2009 lalu di Sabuga Bandung :

Candil membawakan lagu “Malaria” (1973)

Di tahun 1977 bisa dianggap sebagai tahun produktif bagi biang bengal Bandung Harry Roesli.Bayangkan,Harry Roesli di tahun ini merilis album solo pada berbagai perusahaan rekamn,mulai dari Chandra Recording,Aneka Nada hingga Musica Studio’s.
Entah kenapa Harry Roesli jadi kalap membabi buta merilis album-albumnya.
Satu diantaranya adalah “Gadis Plastik” yang dirilis Chandra Recording, label yang berdomisili di Bandung.
Seperti biasa Harry banyak menampilkan serangkaian lirik yang rada absurd.Susah untuk ditakwilkan
Musiknya tetap bergelayut eklektik.Ada pop,rock,funk dan sedikit blues.
Dengan sentuhan blues yang cair,ditandai pula dengan aksentuasi tiupan harmonika Harry Pochang serta notasi bluesy dari petiklan gitar Albert Warnerin dari Giant Step,Harry Roesli menampilkan lagu “Peti Mati”.Liriknya terkadang membuat kita tersenyum geli :
Peti tadi, ia tak sendiri
Mencoba membuka,memberti udara padsa jasad
Yang telah lama teretutup olehnya.

Gaya metafora masih tetap ditebar oleh  Harry Roesli pada sebagian komposisi musik yang ditatanya  , setidaknya jika menyimak lagu “Bharata Yudha“,  sebuah epik perang saudara dalam babad pewayangan :

Mulut yang penuh tetapi kosong
ini disebut jantan ?
Coba bicara tentang merdeka
dalam dimensi perawan

Harry  Roesli memang terampil memadu gaya satiris dengan metafora. Sesuatunyang pada kahirnya menjadi jatidiri sebahagian besar komposisi yang diguratnya. Simak saja lagu  “Aku Mendapat” ,yang berkesan tak serius, namun serius :

Saya menuju ke toko serba ada
Tanya pada pelayan tokonya

Kaset "Gadis Plastik" Harry Roesli (Chandra Recording Bandung,1977)

.

Sayangnya usia Harry Roesli lebih pendek dari usia karya-karya musiknya.

Tracklist

1.Gadis Plastik
2.Senyuman Hari Ini
3.Hidup
4.Mungkin Ada, Mungkin Tidak
5.Cerita Dua Remaja
6.Peti Mati
7.Bharata Yudha
8.Aku Mendapat

Setiap tanggal 8 Desember, seluruh penggemar band legendaris Inggeris The Beatles terutama John Lennon,menundukkan kepala dengan khusuk dan dalam. 31 tahun silam,8 Desember 1980 di New York ,John Winston Lennon,salah satu dari the Beatles jatuh tersungkur ke bumi setelah diberondong tembakan Special 38 yang digenggam penggemar beratnya Mark David Chapman.Lelaki  berusia 25 tahun asal Honolulu  Hawaii bertubuh gempal dengan kacamata yang memiripi milik mendiang John Lennon ini  melakukannya dengan sangat tenang.Dunia pop berkabung.Buyar sudah upaya reuni the Beatles yang kerap diupayakan banyak orang dengan berhembusnya nafas terakhir tokoh yang paling menyita perhatian publik sejak era akhir 60an dari kelompok The Beatles.

Dalam buku bertajuk December 8,1980 The John Lennon Died yang ditulis Keith Elliot Greenberg,peristiwa itu dituturkan dan diungkap dengan sangat rinci. Senin tanggal 8 Desember 1980  John Lennon bersama Yoko Ono ditempat bermukim mereka The Dakota Building tengah menanti fotografer Anne Leibowitz .Agenda hari itu adalah sesi pemotretan untuk cover  majalah Rolling Stone.

John dan Yoko memulai senin itu  dengan kegiatan sesi foto bersama fotografer Anne Leibowitz untuk majalah Rolling Stone pada jam 14.00 hingga 15.00 sore . Dalam wawancara terakhir untuk Rolling Stone,John Lennon berceloteh :” “I consider that my work won’t be finished until I’m dead and buried and I hope that’s a long, long time.”.Sebuah pernyataan yang berselimut firasat.

Jam 15.30 Anne Leibowitz yang sempat bersitegang dengan Lennon karena Lennon tetap gigih agar dipotret bersama Yoko Ono.Awalnya Leibowitz hanya menginginkan pose Lennon untuk Rolling Stone,namun Lennon bersikeras agar Yoko Ono berada disampingnya saat pemotretan.

Pemotretan untuk cover Rolling Stone oleh Anne Leibowitz,8 Desember 1980

Usai sesi pemotretan John dan Yoko bergegas ke studio rekaman Record Plant.

Langkah bergegas pasangan suami isteri dihadang oleh seorang penggemar The Beatles yang datang dari Hawaii ke New York khusus untuk bertemu dengan John Lennon, sang idola.

Tanda tangan John Lennon diatas cover vinyl “Double Fantasy” milik Mark David Chapman 

Mark lalu menyapa John :”John, mohon tandatangan disini” seraya menyodorkan  kover piringan hitam  album terbaru John Lennon “Double Fantasy” yang baru dirilis .”Sure,no problem” timpal John sambil menorehkan tandatangan di atas kover Double Fantasy dengan pulpen milik Mark David Chapman.

John Lennon menandatangani cover vinyl “Double Fantasy” milik Mark David Chapman 8 Desember 1980

John lalu melangkah ke dalam limousine .Yoko menanti dalam limo.Keduanya kemudian berlalu.Saat itu dalam pengakuannya Mark memang telah berniat ingin menghabiskan nyawa Lennon dengan pistol yang telah disiapkannya.Tapi niat itu urung dilakukannya.Mark merasa kecewa.Tapi memutuskan menunggu John Lennon  kembali ke apartemennya hingga malam menjelang.

John dan Yoko lalu bertandang ke studio rekaman Record Plant  untuk menyelesaikan rekaman Yoko Ono bertajuk “Walking On Thin Ice”.Usai berkutat di studio,keduanya berniat untuk makan malam bersama tapi batal dan limousine kemudian mengarah ke The Dakota Building.Saat Yoko dan John turun dari mobil,Mark David Chapman pun menguntitnya.John berjalan agak tergesa.Mark membuntutinya sambil menyapa :”Mr Lennon ?”.Sekonyong konyong 5 tembakan dari moncong Special 38 dari tangan Mark menyalak keras.Empat peluru bersarang paripurna di tubuh Lennon yang tersungkur berlumur darah.John merangkak untuk berdiri menuju apartemen dan berteriak lemah :  “I’m shot ! ”.Namun John rebah.Yoko menjerit minta tolong.Dari mulut John mengucur deras darah.Mark David Chapman tetap berdiri di sekitar lokasi penembakan di West 72th Street Manhattan New York  hingga polisi muncul. Polisi datang dan melarikan John Lennon yang sekarat ke Roosevelt Hospital Center .Tapi nyawa Lennon tak tertolong lagi.Pada jam 220:45 John Lennon menghembuskan nafas terakhir dalam usia 40 tahun  .Seantero jagad pun berkabung.Meratapi kepergian tokoh penting budaya pop era 60-an dan 70an.

Howard Cossell dalam acara TV “Monday Night Football” kemudain mewartakan secara resmi berpulangnya John Lennon.

Tertembaknya John Lennon ditangan penggemarnya sendiri memang menjadi headline diseluruh dunia.Apalagi John baru saja merilis album solonya setelah nyaris 5 tahun menghilang dari dunia musik dengan tujuan ingin memusatkan perhatian mengasuh Sean Ono Lennon,putera hasil pernikahannya dengan Yoko Ono, pelaku seni avant garde Jepang yang telah meluluhkan John Lennon bahkan kerap dituding pangkal perpecahan dalam tubuh the Beatles.

Jenazah John Lennon akhirnya dikremasi.Mark David Chapman pun menjalani masa hukuman 20 tahun Foto John Lennon telanjang bersama Yoko Ono menjadi cover majalah Rolling Stone edisi 22 Januari 1981.

Sahabat sahabat John Lennon kemudian menulis lagu tentang John Lennon.George Harrison menulis lagu memorial bertajuk “All  Those Years Ago” (1981) yang didukung Ringo Starr dan Paul McCartney.Lalu Paul McCartney menulis lagu “Here Today” (1982).Elton John bersama Bernie Taupin menulis “Empty Garden (Hey Hey Johnny” (1982) dan Freddie Mercury menulis “Life Is Real (Song For Lennon) ” (1982).

Tanpa terasa kejadian tragis itu telah memasuki tahun yang ke 31.Tragedi itu tetap diingat oleh penggemar The Beatles yang tak pernah surut jumlahnya di seluruh dunia.Pada setiap tanggal 8 Desember ,seluruh penggemar John Lennon selalu memperingati saat berpulangnya sang idola di depan bangunan Capitol Record yang berada di Vine Street,Hollywood.

John Lennon pada akhirnya bukan hanya sekedar pemusik.Dia adalah visioner yang memberikan banyak pencerahan untuk dunia yang senantiasa bersimbah peluh dan kotoran.John Lennon adalah juru bicara generasi yang visinya masih tetap bergaung hingga ke  generasi ke generasi.Seperti senandung Freddie Mercury, John Lennon adalah sosok jenius.
Lennon is a genius
Living in ev’ry pore
Life is real life is real

Nouvelle Vague di Grand Kemang Mei 2007

Lagu-lagu klasik new wave seolah berganti baju.Boleh jadi banyak yang tak mengenal Nouvelle Vague, grup musik asal Prancis, yang digagas pasangan komposer, produser, dan pemusik Marc Collin dan Oliver Libaux, yang telah merilis dua album, Nouvelle Vague (2004) dan Bande a Part(2007).

 
 Uniknya, Nouvelle Vague mampu menebar pesona dalam penampilannya di pelataran Grand Kemang Hotel, Jakarta, Jumat lalu di hadapan lebih dari 500  penonton.
Nouvelle Vague di Oslo
 
 
Apa daya tarik Nouvelle Vague?.  Dengan formasi Marc Collin (keyboard), Oliver Libaux (gitar), Thibaut Barbillon (bas akustik), dan Thomas Orthowieck (drum, perkusi), serta dua vokalis wanita, Melanie Pain dan Phoebe Killdeer, mereka membekap r penonton dengan repertoar berambiens akustik dan bossanova.

Tak satu pun repertoar yang disajikan orisinal. Mereka menyajikan lagu-lagu 1980-an, tepatnya saat era new wave dan post-punk tengah menjadi fokus dalam industri musik dunia.

Dengan modal semacam itu–lagu-lagu yang pernah menjadi hit Nouvelle Vague mampu menjadi sahabat para penonton. Yang hadir pun sudah tak menghiraukan lagi siapa sebetulnya orang-orang di balik Nouvelle Vague. Kekuatan lagulah yang menggiring penonton larut dalam pertunjukan yang digelar selama sekitar satu setengah jam, yang digagas oleh Soundshine dan Pusat Kebudayaan Prancis, itu.

Dalam bahasa Prancis, Nouvelle Vague memiliki kesamaan makna dengan new wave. Dan dalam bahasa Portugis juga memiliki arti yang sama dengan bossanova. Dari permainan kata ini, Marc Collin memang seolah ingin menjembatani dua era berbeda dari dua genre yang juga tak memiliki keterkaitan sama sekali itu.

Bossanova adalah gaya musik dari Brasil yang digagas oleh Vinicius de Moraes, Joao Gilberto, dan Antonio Carlos Jobim pada 1958 dan berkembang pesat ke seluruh dunia pada 1960-an. New wave sendiri adalah gerakan musik yang terjadi pada 1978-1981, setelah berepideminya gerakan punk rock, dengan aksentuasi pada ritme musik ska, reggae, dan funk yang juga bersimbiose dengan penggunaan instrumen synthesizers.

Nouvelle Vague di dunia sinema Prancis lebih lekat dengan gerakan sinema gelombang baru yang antara lain mengetengahkan nama seperti sineas Jean Luc Goddard.

Nouvelle Vagua

Collin dan Libaux berupaya menafsirkan sederet repertoar new wave ke dalam bentuk yang lebih earthy dan penuh intimacy, dalam hal ini adalah musik bossanova.

Malam itu, dari racikan Nouvelle Vague, bertebaranlah berbagai hit yang mewarnai era new wave dalam kemasan bossanova. Ada Love Will Tears Us Apart yang dipopulerkan Joy Division pada 1980, juga Heart of Glass-nya Blondie. Dance with Myself dari Generation X malah diberi sedikit sentuhan swing. Ada pula Just Can’t Get Enough-nya Depeche Mode (dari album Speak & Spell), yang dirombak habis ke dalam karakter blues.

Di tangan Collin dan Libaux, lagu-lagu klasik new wave seolah berganti baju. Menurut Collin, ia bahkan memilih penyanyi yang sama sekali tidak pernah mengakrabi lagu-lagu new wave itu. “Saya hanya memberikan notasi melodi tanpa memperdengarkan aransemen asli,” ungkap Collin.

Dengan upaya semacam itu, sang penyanyi bebas berinterpretasi tanpa tergangguoleh bayang-bayang lagu orisinalnya. Dan kiat ini pun tampak berhasil.

Penyimak konser Nouvelle Vague banyak yang tidak sadar bahwa mereka tengah menafsirkan Too Drunk to Fuck (The Deady Kennedys), Sorry for Laughing (Propaganda), Dance with Me (The Lords of the New Church), Ever Fallen in Love (Buzzcocks), Let Me Go (Heaven 17), Killing Moon (Echoe & The Bunnymen), dan sederet lagu new wave lainnya.

Selain memainkan dalam tema bossanova, reggae, dan sedikit blues, Nouvelle Vague tampaknya tak ingin menampilkan lagu dalam durasi lebih dari tiga menit. Semuanya dikemas sangat simpel, bahkan nyaris tak menyediakan ruang sedikit pun untuk interlude ataupun improvisasi.

Nouvelle Vague juga didukung dua vokalis yang pas untuk takaran musiknya. Melanie Pain bahkan tampil selayaknya tipikal penyanyi pop Prancis dengan timbre vokal yang tipis dan sensual, yang mengingatkan kita pada Francoise Hardy, penyanyi pop Prancis pada 1960-an.

Namun, yang menjadi pertanyaan apakah Nouvelle Vague akan tetap bertahan dengan pola menafsirkan new wave dalam bentuk bossanova. Apakah Nouvelle Vague hanya menjadi tren sesaat?

Nouvelle Vague terus bernyanyi bersama penonton:

All the things you do to me .

And everything you said .

And I just can’t get enough I just can’t get enough

DENNY SAKRIE, pengamat musik

(Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 16 Mei 2007) 

 

Mbelingnya Musik Remy Sylado

Posted: Desember 4, 2011 in Tinjau Album

Album ini seingat saya  dirilis pada tahun 1975. Saat itu saya masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar ,tapi saat itu saya malah  sudah baca majalah Aktuil (karena Si Kuncung dan Kawanku bagi saya sudah tak memiliki greget lagi……Hah ).Di era ini melalui majalah Aktuil mulai berkibar istilah Puisi Mbeling yang dikerek oleh seseorang seniman multi-dimensi Remy Silado.Lalu apasesungguhnya makna Puisi Mbeling ?. Remy lalu mengungkap :

Dalam bahasa jawa, kata mbeling berarti nakal atau suka
memberontak terhadap kemapanan dengan cara-cara yang menarik
perhatian. Namun berbeda dengan kata urakan, yang dalam bahasa Jawa
lebih dekat dengan sikap kurangajar dan asal beda, kata mbeling
mengandung unsur kecerdasan serta tanggung jawab pribadi.

Terus Remy Sylado yang tampangnya mirip Neil Young dan warna suara persilangan antara Jim Morrison dan Frank Sinatra itu menambahkan :

” Apa yang hendak didobrak oleh gerakan puisi mbeling adalah
pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur
dan dipilih-pilih sesuai stilistika yang baku. Pandangan ini,
menurut gerakan puisi mbeling, hanya akan menyebabkan kaum muda
takut berkreasi secara bebas.”

Makanya saat itu saya sempat terkesiap,ketika Remy Silado memusikalisasikan puisinya “Surat Seorang Putera Buat Ibunya” dalam bentuk folk rock.Jelas ia mencoba mengadopsi lagak  folk rock ala Bob Dylan maupun Neil Young yang oleh generasi 90-an disebut sebagai ayah baptis gerakan grunge.

Remy sendiri punya istilah sendiri untuk menyebut terminologi folk-rock yaitu gulayak cadas.Nah !

Simaklah lantunan vokal Remy :

Sedangkan Yesus Tuhanku

Juga mencintai pelacur……….

Untuk menyiasati rima puisinya yang terkadang panjang berjejal-jejal,Remy Sylado  banyak melakukan spoken atau rapping (minjam istilah komunal hip hop sekarang ).Suatu gaya yang kemudian dikembangkan pula oleh Doel Soembang,pengagum dan murid Remy Silado, pada tahun 1982.

Simak pula “Jalan Tamblong“,yang di era 80-an kembali dinyanyikan oleh Ritta Ruby Hartland :

Puntung-puntung rokok bersatukan ludah

Di jalan Tamblong

Berdatangan disana para teladan

Digoda dingin

Malam masih hidup

tapi tinggal kerangka.

Kita pun akan tersenyum menyimak deretan larik yang sangat ngejeplak seperti pada lagu “Ayah Arab Ibu Tionghioa Dia Batak“.Moral ceritanya mungkin ingin mengemuka perihal asimilasi budaya di negeri ini.
Di album ini Remy Silado yang (saat itu) masih muda menyindir habis para seniman sastrawi seperti Ajip Rosidi hingga Sapardi Djoko Damono.

Disaat seniman musik masih berpepatah-pepitih idiom beraroma eufisme romantik Remy Silado dengan semangat mbelingnya telah melakukan semuanya,jauh sebelum ada Iwan Fals,sebelum Slank menjadi komunal kaum muda.

Sayangnya,tak semua orang pernah mendengar album yang fenomenal ini.

Dalam bagian dalam kaset Remy Sylado menulis perkenalan tentang Remy Sylado Company : Remy Sylado Company dengan instrumen-instrumen piano,organ,vibrafon,gitar akustik,gitar 12,harp,biola,harmonika,lira,bas dan drum dengan begitu merupakan kelompok folk Studio Klasik Bandung yang memainkan musik-musik klasik murni dari Bach,Handel,Mozart,Beethoven,Haydn,Brahms sampai ke Villa-Lobos dan Gershwin.

Adapun Remy Sylado Company ini terdiri atas Remy Sylado (komposer,penyanyi,gitar),Iwan Irawan (gitar),Desmond Deje (drums),Geoffrey Iwan Surya (piano),Ricky Hakim (gitar),Iqbal Thahir (gitar,piano),Eddy Tobing (vokal) dan Betty Djuhara (vokal).

Kaset Remy Sylado Company yang dirilis Gemini Record tahun 1975 (Foto Denny Sakrie)

Kaset Remy Sylado Company yang dirilis Gemini Record tahun 1975 (Foto Denny Sakrie)

 

TRACKLIST

1. Surat Seorang Putra Buat Ibunya – Remy Sylado
2. Ali Wekdut – Remy Sylado, Eddy Tobing, Betty Juhara
3. Sukabumi Anno 1975 – Betty, Remy Sylado, Eddy Tobing
4. Mantra – Betty, Remy Sylado, Eddy Tobing
5 Ayah Arab Ibu Tionghoa Dia Batak – Remy Sylado, Eddy Tobing
6 Istriku Dibawa Lari Monyet2 – Remy Sylado, Eddy Tobing
7 Pacarnya Mati Disengat Tawon – Betty, Remy Sylado, Eddy Tobing
8 Tuan Ayip DiMuka Mahasiswanya – Anny Kusuma
9 Jalan Tamblong – Anny Kusuma, Titiek Pramudo, Mebby Segers
10 Sang Moderator Sang Penyair – Anny Kusuma, Titiek Pramudo, Mebby Segers
11 Pelarian – Titiek Pramudjo
12 Pagi Buta Yang Astaga – Anny Kusuma, Titiek Pramudo, Mebby Segers
13 Joko Damono Kelahi Dengan Arloji – Anny Kusuma

14.St.Matthew The Sixth – Anny Kusuma,Lies April

 

Ketika pertamakali menyimak album ini di tahun 1986, di benak saya terbersit kebanggaan tiada
tara terhadap sosok Indra Lesmana yang dalam usia 18 tahun telah melahirkan
album jazz fenomenal terutama karena dirilis oleh Zebra/MCA Record di Amerika Serikat yang melibatkan
sederet pemusik kelas dunia seperti perkusionis Airto Moreira,drummer Vinnie
Collaiuta,bassist Charlie Haden,saxophonis/flutist  Joel Peskin,session
gitaris Michael Landau,bassist Jimmy Haslip dari Yellowjackett dan trumpetis
Bobby Shew.
Indra Lesmana memainkan seluruh perangkat keyboards seperti piano,mini moog
synthesizers,Yamaha DX-7,Oberheim OB8,Fender Rhodes Electric Piano serta menulis
7 komposisi dari 8 track yang ada dalam album.
Pengerjaan album ini berlangsung pada tahun 1984 di studio milik Chick Corea The
Mad Hatter Studio.
Saat itu Indra Lesmana  memang bersahabat dekat dengan Chick Corea,keyboardis alumnus
Miles Davis dan sohor dengan proyek jazz rock nya di dasawarsa 70-an Return To
Forever.
Makanya tak heran jika pengaruh musik Chick Corea masih kuat terasa pada
beberapa komposisi di album ini seperti “Corroborres”,apalagi di lagu ini
beberapa pemusik yang pernah terlibat dalam proyek album Chick Corea ikut
membantu semisal Airto Moreira,Vinnie Colaiuta dan Joel Peskin.

Airto Moreira  yang pernah
mendukung album “Light As A Feather” nya Return To Forever  memberikan
kontribusi memikat lewat permainan perkusinya.Juga pada lagu bertajuk  “L.A” yang
bernuansa Brazillian Samba.
Di album ini Indra Lesmana memilah kecenderungan musiknya
menjadi electro fusion dan akustik.Lagu “Stephanie” yang saat itu sempat
masuk charts “Contemporary Jazz” di majalah Billboards merupakan komposisi yang
terasa lebih lite dan sekarang ini mungkin bisa dimasukkan dalam format smooth
jazz.
Dalam pola jazz akustik,Indra Lesmana  mampu bersinergi dengan bassist prestisius
Charlie Haden dan trumpetis Bobby Shew.
Sayangnya setelah merilis album ini,Indra Lesmana kembali ke Indonesia dan
bergabung dengan Krakatau.Sejak saat itu jejak Indra Lesmana dalam kancah jazz
dunia memupus   .

Dan album ini sejak beberapa tahun silam menjadi inceran para kolektor di dunia maya.

Vinyl "For Earth and Heaven" Indra Lesmana (Zebra/MCA 1984)

TRACKLIST

1.STEPHANIE
2.L.A
3.CORROBORES
4.SONG FOR E.T
5.FOR EARTH & HEAVEN
6.MORRO ROCK
7.FIRST GLANCE