Nouvelle Vague,Bossa Nova New Wave

Posted: Desember 5, 2011 in Uncategorized

Nouvelle Vague di Grand Kemang Mei 2007

Lagu-lagu klasik new wave seolah berganti baju.Boleh jadi banyak yang tak mengenal Nouvelle Vague, grup musik asal Prancis, yang digagas pasangan komposer, produser, dan pemusik Marc Collin dan Oliver Libaux, yang telah merilis dua album, Nouvelle Vague (2004) dan Bande a Part(2007).

 
 Uniknya, Nouvelle Vague mampu menebar pesona dalam penampilannya di pelataran Grand Kemang Hotel, Jakarta, Jumat lalu di hadapan lebih dari 500  penonton.
Nouvelle Vague di Oslo
 
 
Apa daya tarik Nouvelle Vague?.  Dengan formasi Marc Collin (keyboard), Oliver Libaux (gitar), Thibaut Barbillon (bas akustik), dan Thomas Orthowieck (drum, perkusi), serta dua vokalis wanita, Melanie Pain dan Phoebe Killdeer, mereka membekap r penonton dengan repertoar berambiens akustik dan bossanova.

Tak satu pun repertoar yang disajikan orisinal. Mereka menyajikan lagu-lagu 1980-an, tepatnya saat era new wave dan post-punk tengah menjadi fokus dalam industri musik dunia.

Dengan modal semacam itu–lagu-lagu yang pernah menjadi hit Nouvelle Vague mampu menjadi sahabat para penonton. Yang hadir pun sudah tak menghiraukan lagi siapa sebetulnya orang-orang di balik Nouvelle Vague. Kekuatan lagulah yang menggiring penonton larut dalam pertunjukan yang digelar selama sekitar satu setengah jam, yang digagas oleh Soundshine dan Pusat Kebudayaan Prancis, itu.

Dalam bahasa Prancis, Nouvelle Vague memiliki kesamaan makna dengan new wave. Dan dalam bahasa Portugis juga memiliki arti yang sama dengan bossanova. Dari permainan kata ini, Marc Collin memang seolah ingin menjembatani dua era berbeda dari dua genre yang juga tak memiliki keterkaitan sama sekali itu.

Bossanova adalah gaya musik dari Brasil yang digagas oleh Vinicius de Moraes, Joao Gilberto, dan Antonio Carlos Jobim pada 1958 dan berkembang pesat ke seluruh dunia pada 1960-an. New wave sendiri adalah gerakan musik yang terjadi pada 1978-1981, setelah berepideminya gerakan punk rock, dengan aksentuasi pada ritme musik ska, reggae, dan funk yang juga bersimbiose dengan penggunaan instrumen synthesizers.

Nouvelle Vague di dunia sinema Prancis lebih lekat dengan gerakan sinema gelombang baru yang antara lain mengetengahkan nama seperti sineas Jean Luc Goddard.

Nouvelle Vagua

Collin dan Libaux berupaya menafsirkan sederet repertoar new wave ke dalam bentuk yang lebih earthy dan penuh intimacy, dalam hal ini adalah musik bossanova.

Malam itu, dari racikan Nouvelle Vague, bertebaranlah berbagai hit yang mewarnai era new wave dalam kemasan bossanova. Ada Love Will Tears Us Apart yang dipopulerkan Joy Division pada 1980, juga Heart of Glass-nya Blondie. Dance with Myself dari Generation X malah diberi sedikit sentuhan swing. Ada pula Just Can’t Get Enough-nya Depeche Mode (dari album Speak & Spell), yang dirombak habis ke dalam karakter blues.

Di tangan Collin dan Libaux, lagu-lagu klasik new wave seolah berganti baju. Menurut Collin, ia bahkan memilih penyanyi yang sama sekali tidak pernah mengakrabi lagu-lagu new wave itu. “Saya hanya memberikan notasi melodi tanpa memperdengarkan aransemen asli,” ungkap Collin.

Dengan upaya semacam itu, sang penyanyi bebas berinterpretasi tanpa tergangguoleh bayang-bayang lagu orisinalnya. Dan kiat ini pun tampak berhasil.

Penyimak konser Nouvelle Vague banyak yang tidak sadar bahwa mereka tengah menafsirkan Too Drunk to Fuck (The Deady Kennedys), Sorry for Laughing (Propaganda), Dance with Me (The Lords of the New Church), Ever Fallen in Love (Buzzcocks), Let Me Go (Heaven 17), Killing Moon (Echoe & The Bunnymen), dan sederet lagu new wave lainnya.

Selain memainkan dalam tema bossanova, reggae, dan sedikit blues, Nouvelle Vague tampaknya tak ingin menampilkan lagu dalam durasi lebih dari tiga menit. Semuanya dikemas sangat simpel, bahkan nyaris tak menyediakan ruang sedikit pun untuk interlude ataupun improvisasi.

Nouvelle Vague juga didukung dua vokalis yang pas untuk takaran musiknya. Melanie Pain bahkan tampil selayaknya tipikal penyanyi pop Prancis dengan timbre vokal yang tipis dan sensual, yang mengingatkan kita pada Francoise Hardy, penyanyi pop Prancis pada 1960-an.

Namun, yang menjadi pertanyaan apakah Nouvelle Vague akan tetap bertahan dengan pola menafsirkan new wave dalam bentuk bossanova. Apakah Nouvelle Vague hanya menjadi tren sesaat?

Nouvelle Vague terus bernyanyi bersama penonton:

All the things you do to me .

And everything you said .

And I just can’t get enough I just can’t get enough

DENNY SAKRIE, pengamat musik

(Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 16 Mei 2007) 

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s