Ngobrol Blues dengan mbah John Mayall

Posted: Desember 19, 2011 in Sosok

Saya dan John Mayall

Bagi anak muda sekarang, nama John Mayall nyaris tak dikenal. Mereka justeru lebih mengenal John Mayer.Tapi di Indonesia,terutama ketika rezim orde baru mulai berkuasa, setiap anak muda merasa terkucilkan jika tak mengenal sosok John Mayall. Begitu populernya musik dan sosok John Mayall dimata anak muda Indonesia era akhir 60an hingga 70an hingga muncul istilah John Mayall High School.

  Istilah itu ditujukan untuk sekolah lanjutan atas yang mengizinkan muridnya memelihara rambut gondrong.
Karena ingin berambut gondrong dan bebas merokok, Supartono Suparto, atau lebih dikenal dengan panggilan Tono Bigman, akhirnya memutuskan bersekolah di Perguruan Taman Madya, SMA di Blok S, Jakarta Selatan pada tahun 1970. “Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena muridnya berambut gondrong,” ungkap Tono (58), yang saat itu telah ngeband bersama grup Bigman Robinson.
John Mayall, pemusik blues Inggris, dengan rambut tergerai sepunggung, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Mayall  menjadi idola anak muda di kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an.
 Di Bandung pun ada sekolah John Mayall. “Sekolah itu berada di Jalan Naripan. Murid-muridnya dibolehkan memelihara rambut gondrong,” ungkap Triawan Munaf (53) yang pernah mendukung sederet grup rock di Bandung seperti Lizzard,Tripod, Giant Step, dan Gang Of Harry Roesli.
John Mayall usai melegalisir vinyl saya di Istora Senayan
 
John Mayall sedang memegang vinyl John Mayall milik saya
 
 
John Mayall yang kerap dipanggil Godfather of British Blues kini telah berusia 78 tahun akhirnya manggung juga di Jakarta 17 Desember 2011 dalam event “Jakarta Blues Festival 2011” di Istora Senayan Jakarta.Mayall masih tetap gondrong.Tapi rambutnya yang memutih dikuncir rapi.Semangatnya masih membara.Suaranya pun masih melengking,walau tak bisa dipungkiri Mayall kadang agak tersengal dan tertatih mendaki nada-nada yang agak tinggi.
Hampir 1,5 jam John Mayall tampil energik bersama Oli Brown (gitar elektrik),Greg Rzab (bass) dan Jay Davenport (drums).Lagu-lagu lama John Mayall yang mengharu biru anak muda Indonesia 60an dan 70an berkumandang seperti “All Your Love”,” “So Many Roads” ,”Parchman Farm”  hingga “Room to Move”.
John Mayall berhasil menghibur jemaah blues yang melakukan guyub di Istora Senayan.Sebagian jemaah John Mayall memang nyaris memutih pula rambutnya ,seperti halnya Mayall.
Jam 11.30 sabtu 17 desember 2011 saya tiba di Istora Senayan untuk melihat persiapan yang dilakukan John Mayall bersama The Bluesbreakers.Hampir 1,5 jam dihabiskan Mayall melakukan persiapan cek sound.
Tampaknya John Mayall sosok yang perfeksionis.Disela-sela preparing konsernya, saya sempat ngobrol ngobrol dengan John Mayall yang dilahirkan 29 November 1933.
Saat bertemu dengan John Mayall saya langsung menyodorkan piringan hitam saya John Mayall ,sebuah album kompilasi saat John Mayall masih didukung Eric Clapton,Peter Green,John McVie,Asley Dunbar dan Mick Taylor,untuk ditandatangani .Mayall terperangah lalu tersenyum.Dia lalu mengguratkan spidol hitam tepat di font namanya John Mayal pada kover album.
 
John Mayall  (JM) :”Ini album kompilasi era 1967 dan 1969”
Denny Sakrie (DS)  :”Bagaimana bisa merekrut musisi-musisi yang kemudian kelak menjadi ikon musik rock dunia  ?”
JM :”Well….saya hanya melihat kemampuan mereka bermain blues.Mereka berbakat Saya tertarik,lalu mengajak mereka bergabung ke band saya The Bluesbreakers”.
DS :Pemusik yang anda ajak di Bluesbreakers pada akhirnya dikenal lewat band-band terdepan seperti Cream,Blind Faith,Fleetwood Mac atau juga the Rolling Stones.Anda setuju jika saya menyebut anda sebagai seorang penemu bakat yang luar biasa ?
JM :Hmmm….saya lebih suka disebut sebagai band leader saja .
DS : Kenapa pilih musik blues ?
JM : Ayah saya memiliki banyak piringan hitam blues dan jazz.Saya suka beberapa diantaranya terutama yang memainkan gitar seperti Leadbelly,Eddie Lang atau Lonnie Johnson.Musik mereka itu membuat saya mampu menikmatinya berjam jam.
DS :Tapi anda juga terampil meniup harmonika kan ?
JM :Setelah mendengar album Sonny Boy Williamson,saya mulai tertarik bermain harmonika.Apalagi harmonika blues itu sangat ekspresif. Harmonika  bisa jadi representasi perasaan saat meniupnya.
DS : Kenapa anak muda Inggeris di era 60an sangat terpengaruh dengan blues ?
JM : Well…..boleh jadi karena blues itu lebih ke persoalan rasa dan ekspresi.Anak muda pasti selalu tertantang untuk berekspresi sebebas-bebasnya.Dan itu ada dalam musik blues.Blues itu kan akar dari segala musik yang ada.Jazz dari blues, begitu juga  rock berasal  dari blues.
DS : Masih tetap bikin album ?
JM : Yeah….album terakhir saya “Tough”, dirilis tahun 2009.Malam ini saya akan membawakan dua lagu dari album itu ,yaitu “ The Sum of Something” dan “Nothing To Do With Love
DS : Ada berapa album yang telah anda rilis ?
JM : Mungkin  hampir  sekitar 60 album.
DS : Apa album favorit anda ?
JM : Saya suka semua album yang pernah saya bikin.bagi saya album itu adalah representasi dari apa yang bisa saya lakukan,dalam musik tentunya.Mulai dari bikin lagu hingga liriknya.  Album adalah semacam catatan harian dari apa yang saya pernah lakukan.
DS : Tahukah anda bahwa di era 70an musik anda justeru   menjadi bagian dari kehidupan anak muda  Indonesia ?
JM : Oh really ? Iya saya dengar dari beberapa orang disini pun seperti itu.Tapi setahu saya pada era 70an yang namanya musik  blues memang menjadi elemen dari musik rock.Dan ini terjadi dimana-mana.
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s