Arsip untuk Januari, 2012

Trio Lesmana Likumahuwa Winarta di Blue Note Tokyo Jepang 28 Desember 2011

“Just had a great show @bluenotetokyo.. Full house n what a great audience.”
Itulah kalimat yang ditulis oleh pemusik jazz Indra Lesmana di akun twitter-nya pada Rabu 28 Desember 2011, jam 19.20 WIB.

Indra Lesmana (keyboard) bersama trio jazz LLW yang terdiri atas, Barry Likumahuwa (bass) dan Sandy Winarta (drums), menutup catatan musik Indonesia 2011 dengan bermain jazz di Blue Note Tokyo Jepang. Trio jazz ini diam-diam, tanpa gembar-gembor diekspos media, melakukan terobosan secara internasional.

Pada tanggal 25 April 2011 LLW merilis album “Love Life Wisdom” secara digital. Tanpa dinyana, publik merespon pemunculan trio ini dengan men-download album jazz tersebut. Di minggu pertama pasca rilis-nya, album itu menduduki peringkat 42 sebagai new entry album dalam Most Download Album Chart. Diminggu kedua, mereka memang sempat turun ke peringkat 50, tapi lalu melejit ke peringkat 18 dari 100 album yang dipantau dalam perolehan download.

Ini merupakan prestasi gemilang era musik digital. Keterpurukan musik Indonesia dengan terkuburnya penjualan fisik, pada akhirnya memiliki peluang lain dalam sebuah distribusi alternatif yang futuristik. Sekaligus membuktikan bahwa industri musik bisa menjauh dari pintu kiamat.

Lewat akun twitternya tanggal 13 Mei lalu Indra Lesmana menulis quote yang menggelitik dan provoke:

Istilah “Go-International” sudah kadaluarsa sejak adanya Internet”.

Dewa penyelamat bernama ring back tones

Dan industri musik Indonesia pun tertolong dari jurang kehancuran ketika pertengahan era 2000-an muncul dewa penyelamat bernama ring back tones. Beberapa label yang beringsut mati suri akhirnya seolah mendapat suntikan darah segar dengan merebaknya tren RBT yang sebetulnya hanyalah sebuah gimmick marketing belaka.

Sayangnya revolusi musik dalam era digital ini di Indonesia hanya menghasilkan bisnis yang menggiurkan pada RBT saja. Selebihnya hanyalah download gratisan dari berbagai situs yang tidak jelas penerapan copy right-nya alias situs download music secara illegal.
Masyarakat Indonesia, apa boleh buat, lebih menyukai hal-hal yang gratis dan cenderung lebih berminat mendengarkan musik melalui CD bajakan maupun MP3 illegal yang dijajakan secara bebas dimana-mana.

Berbeda dengan Amerika Serikat atau Negara Negara maju lainnya yang telah melakukan revolusi musik digital, semisal teknologi Cloud yang menjadi isu hangat.

Teknologi Cloud itu pada akhirnya memunculkan nama nama seperti Spotify, iTunes Match,Google Music,MOG hingga Amazon Cloud.

Di Indonesia sendiri,industri musiknya tiba-tiba limbung ketika RBT dibekukan penggunaannya pada tanggal 18 Oktober sebagai reaksi pemerintah terhadap penyalahgunaan pengaktivasian SMS Premium serta kasus RBT yang tak bias unreg.

Akhirnya, jumlah pengaktivasian RBT menyusut drastis setelah terjadinya reset ulang. Menurut data dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), penggunaan RBT menukik tajam hingga 90 persen.
Di sisi lain pemanfaatan media sosial seperti kanal Youtube maupun Twitter termasuk yang lebih banyak memberikan peluang kepada siapa saja untuk melambungkan diri dalam dunia hiburan terutama musik.

YouTube

Kanal Youtube sendiri di tahun 2011 banyak melejitkan bintang baru secara instan. Seperti duo lipsynch Shinta Jojo, Norman Kamaru hingga artis artis dadakan lainnya seperti Bona Paputungan dan Udin Sedunia serta Ayu Tingting. Promosi lewat Youtube ternyata cukup ampuh untuk mengkatrol popularitas siapa saja yang ingin menerobos dunia hiburan yang sarat kemilau.

Ya! Walaupun kenyataannya artis-artis instan ini terbukti hanya berhenti sebagai sensasi belaka. Sepak terjang mereka pun cepat dilupakan orang, karena memang tak diikuti dengan planning secara managerial yang terarah. Padahal mereka telah mengantongi peluang menembus industri hiburan, tapi karena tak adanya perencanaan jangka panjang secara professional, akhirnya karir mereka pun terlupakan khalayak dalam sekejap.

Tren Musik memuakkan

Industri musik mainstream pun terlihat hanya mengandalkan metode aji mumpung.

Ketika sebuah band berhasil menancapkan popularitas membawakan lagu-lagu pop bercengkok Melayu, seterusnya diikuti oleh sederet panjang band dengan epigonisme yang memuakkan dan bikin jengah.

Ini pun terjadi ketika merebak tren boyband atau girlband setelah mengkloning mentah-mentah gaya K-Pop dari Korea Selatan. Semuanya pun hanya mementingkan rating.

Lihatlah! Hampir semua TV swasta setiap pagi menjejalkan program acara musik yang senada dan sejenis. Padahal sesungguhnya, iklim musik di negeri tak sesemrawut yang ditayangkan berbagai TV swasta di negeri ini.

Keragaman musik sebenarnya masih bernafas di negeri ini,tapi tak pernah diendus atau diekspos oleh media-media mainstream karena dianggap tak memiliki rating yang bagus.

Ketika trio blues rock Gugun Blues Shelter tampil di Hyde Park London bersama band-band besar seperti Bon Jovi, banyak masyarakat kita yang tak mengetahuinya.
Ini hanya sekelumit permisalan dari banyak peristiwa di skena musik Indonesia yang tak pernah diekspos media.

Sebaliknya, justru band-band dengan keseragaman bunyi dan lagu lah yang berjaya. Kegetolan menampilkan band-band seragam ini selalu diasumsikan sebagai selera masyarakat atau selera pasar.

Menyinggung soal selera masyarakat itu adalah sesuatu yang mutlak. Tapi praktek yang ada justru penyeragaman selera.

Cutting Edge

Pemusik atau band yang kerap disekat dalam terminologi cutting edge atau non mainstream justru tak pernah terganggu dengan anjloknya pengguna aktivasi RBT. Mereka tetap manggung dan tetap rilis CD.

Bagi mereka kreativitas musik tetap berkibar bahkan (sekalipun) tanpa adanya exposure dari media-media lokal. Mereka pun cuek maju untuk melakukan silaturahmi musik secara internasional.

Banyak contoh yang bisa dipetik, ketika Superman Is Dead, Burgerkill, White Shoes and Couples Company, Endah N Rhesa, Adhitya Sofyan, Tohpati Etnomission, Gugun Blues Shelter, Bottlesmoker,LLW dan masih sederet panjang lainnya melanglang buana memainkan musik mereka. Hal tersebut adalah prestasi yang jarang atau bahkan nyaris tak diketahui khalayak luas.

Kesimpulannya adalah…

Tentunya di tahun 2012 kita selalu menginginkan adanya perubahan dengan munculnya pergeseran. Apakah kita bisa menjadikan industri musik Indonesia lebih maju dan bersinar di tahun 2012?

Dengan tekad dan komitmen yang jelas pasti bisa. Setidaknya problematika industri musik yang tercacah di negeri pasti bisa diatasi jika kita melakukannya bersama-sama dan bukan sekedar wacana mewah yang sama sekali tanpa aksi.

Selamat tahun baru 2012!
Dukung terus Musik Indonesia!

Phil Collins

 
Selamat malam .Terimakasih  atas kehadiran anda.Apa kabar ? Saya bangga dan bahagia berjumpa dengan anda ……” itu ucapan Phil Collins dalam bahasa Indonesia sebelum menyanyikan lagu “I Wish Would Rain Down “ ,menyapa penonton Jakarta di  Ancol Jakarta pada malam minggu 25 Maret 1995.Kedatangan Phil Collins saat itu dalam rangka tur Both Side World Tour.
Penonton terkesima karena Phil Collins mengucapkan kalimat bahasa Indonesia itu dengan baik.Kalimat itu dibaca Collins dari 3 lembar kertas yang digenggamnya.Aplaus pun mengudara.Collins memang pintar memikat perhatian penonton.Dia memang ramah dan hangat.Saya pun masih terkesima ketika siangnya bertemu Phil Collins di Horison Hotel Ancol .Dengan antusias Phil Collins mencoretkan namanya diatas kover piringan hitam saya,album Genesis Live yang dirilis tahun 1973.Air mukanya selalu cerah.Kerap tersenyum.Phil Collins memang sosok yang sangat humoris.Kejenakaannya itu kerap ditampilkannya di pentas pertunjukan, baik ketika bersama Genesis maupun konser solonya.Karena rasa humornya itu,mengakibatkan banyak penggemar Genesis tak menyukainya.Bagi mereka Genesis adalah band serius dan rada sakral.
Ketika Phil Collins melucu, hal itu dianggap sebuah kekonyolan. Tapia pa mau dikata,popularitas Genesis memang membumbung tinggi saat Phil Collins mengambil posisi vokalis utama ketika Peter Gabriel mengundurkan diri di tahun 1975, setelah album “The lamb Lies Down On Broadway” dirilis.
Tepat hari ini senin 30 Januari,Phil Collins yang bernama lengkap Phillips David Charles Collins  genap berusia 61 tahun.Collins memang telah memasuki  ambang senja.Sangat disayangkan pula,Collins telah memutuskan diri putus dari dunia musik.Dia tak lagi menabuh drum dan bernyanyi untuk Genesis,band rock progresif yang dimasukinya pada tahun 1970.saat itu Collins membaca iklan di Melody Maker yang mencari seorang drummer yang menyukai sentuhan musik akustik terutama dari bunyi-bunyian gitar 12 snar.Collins yang saat itu tergabung dalam trio Flaming Youth tertarik.Collins lalu diundang mengikuti audisi di rumah orang tua Peter Gabriel.Genesis akhirnya memilih Phil Collins sebagai drummer.Tak hanya itu,Phil Collins pun diminta menjadi vokalis bayangan bagi Peter Gabriel.Ketika  Peter Gabriel mundur dari Genesis ,Phil Collins telah terbiasa menempati posisi sebagai vokalis.
Ketika posisi frontman dipegang Phil Collins,Genesis mulai terlihat sukses secara komersial.Album Genesis “And Then There Were Three” (1978) berhasil menembus chart Billboard di Amerika,disusul album “Duke” (1980),Abacab (1981),Genesis (1983),Invisible Touch (1986)  dan seterusnya.
Di tahun 1996 Phil Collins menyatakan mundur dari Genesis untuk lebih berleluasa dalam solo karir yang telah dikuakkannya pada tahun 1981.Posisi Phil Collins lalu diganti Ray Wilsons.Di tahun 1999,Genesis melakukan reuni dengan mengajak gitaris Steve Hackett dan vokalis Peter Gabriel dalam single “Carpet Crawlers” yang menjadi bagian album kompilasi hits Genesis “Turn It On Again The Hits.Tahun 2007 Phil Collins kembali bergabung dengan Genesis.Genesis kemudian melakukan tur ke Eropa dan Amerika Utara dengan nama “Turn It On Again The Tour”.Reuni Genesis ini sama sekali tak menghasilkan sebuah album baru.
Selain bersama Genesis,Phil Collins tetap menjalani karir solonya dengan merilis “Going Back” di tahun 2010.Album ini merupakan dedikasi Phil Collins terhadap hits besar Motown Record di era 60an hingga 70an.
Tak lama setelah melakukan tur untuk album “Going Back”,pada tanggal 4 Maret 2011 Phil Collins mengumumkan bahwa dia berhenti dari semua kegiatan musik, baik bersama Genesis maupun karir tunggalnya.
Alasan pengunduran diri Phil Collins terutama karena alas an kesehatan yang tak memungkinkan dirinya untuk tampil maksimal menekuni karir musiknya.Phil bertutur bahwa gangguan yang terjadi pada kedua tangannya yang menyebabkan dia tak lagi mampu menabuh drum.Gangguan pada kedua tangannya itu merupakan akibat dari hasil operasi yang dilakukan Phil Collins terhadap gangguan yang terjadi pada lehernya.Bahkan sejak tahun 2000 Phil Collins mengalami gangguan pendengaran pada telinga kanannya.
Tak lama berselang Phil Collins melalui situs pribadinya mengatakan bahwa dia pension dari dunia musik karena ingin lebih mencurahkan perhatian kepada kelaurganya.
Tak sedikit yang kecewa dengan keputusan yang diambil Phil Collins,sosok midas dalam industri musik ini.Sejak era 80an,Phil Collins memang tak ada bedanya dengan Midas dari mitologi Yunani,tentang seorang raja yang memiliki kemampuan unik,setiap tangannya menyentuh sesuatu selalu berubah menjadi emas.
Saat itu Phil Collins adalah pemusik,komposer hingga produser musik  yang bergelimang kesuksesan.Dalam catatan yang dilakukan Sunday Times tentang daftar orang-orang kaya di sepanjang tahun 2011,Phil Collins diestimasikan memiliki pendapatan sekitar 115 juta pound sterling.Nama Phil Collins masuk deretan Top 20 Rich List of 2011 dalam skala industri music Inggeris.
Apakah mungkin karena kekayaan yang berlimpah ini yang membuat Phil Collins memutuskan untuk berhenti   atau pensiun dari dunia musik ? .
Selamat ulang tahun Phil !

Konser Etta James di Deauville Prancis 20 juli 1990

Etta James tahun 1961

Entah untuk yang keberapa kalinya saya memutar dvd bernuansa sejarah musik di Amerika bertajuk “Cadillac Record” (2009)  yang dibintangi Adrian Brody dan Beyonce Knowles.Jelang tengah malam rabu 18 januari 2012 saya memutar kembali DVD yang bernilai historik itu.Adrian Brody memerankan Leonard Chess,pemilik Chess Records yang berkulit putih dan penyanyi Beyonce Knowles berperan sebagai Etta James,salah satu artis Chess Records.

Sampai akhirnya terbetika kabar bahwa Etta James,penyanyi soul R&B yang di film “Cadillac Record” diperankan penyanyi Beyonce Knowles itu telah menghembuskan nafas terakhir pada hari jumat 20 Januari 2012.Saya terhenyak.Tapi sama sekali tak terkejut.Karena Etta James yang dikenal lewat lagu At Last itu telah lama berkarib dengan penyakit yang sudah pasti sarat derita. Dalam kurun waktu yang panjang Etta James mengidap gagal ginjal,leukimia dan dementia.Etta sendiri telah berulang kali keluar masuk rumah sakit.
Terakhir pada pertengahan Desember 2010,Etta kembali dirumahsakitkan dan respirator pun mulai dipasang .Pada awal tahun 2010,Etta jatuh dan dinyatakan terkena Alzheimer akut.Sebelum album terakhirnya “The Dreamer” dirilis 25 Oktober lalu,Etta yang memiliki rona vokal eksotik ini mengumumkan masa pensiunnya dari dunia musik yang telah membesarkan namanya sejak lama.
Etta James berpulang , 5 hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke 74 pada 25 Januari 2012 nanti
Dibalik pesona suaranya yang sarat pesona,di sepanjang hidup Etta James seperti berlumur deruta nestapa tiada tara.Beberapa adegan dalam film Cadillac Records pun mentakwilkan hal muram tersebut.
73 tahun silam Etta dilahirkan di Los Angeles dengan nama lengkap Jamesetta Hawkins.Tak ada yang tahu siapa ayah sesungguhnya.Suatu ketika,Etta pernah berspekulasi bahwa ayahnya adalah Rudolf “Minnesota Fats” Wanderone, yang dikenal sebagai jagoan billiard.Ibunya tak memperdulikan Etta.Wanita bertubuh subur ini mulai memperlihatkan bakat seni suaranya di saat berusia 5 tahun saat tergabung dalam paduan suara gospel the Echoes of Eden dari gereja St Paul Baptist di Los Angeles.
Di usia 12 tahun ,Etta  James hijrah ke San Farnsisco dan bergabung dalam kelompok vokal bergaya doo wop “The Creolettes”.Saat itu memang tengah merebak tren kelompok berharmoni vokal doo wop.The Creolettes lalu berganti nama menjadi The Peaches.The Peaches menjadi penyanyi latar Johnnny Otis yang memiliki hits R&B No.1 pd tahun 1955 “The Wallflower  (Dance With Me,Mr Henry)”.
Etta James lalu mundur dari The Peaches dan sejak tahun 1960 menjadi penyanyi solo Chess Records yang dikelola Leonard Chess .Muncullah hits Etta bertajuk “All I Could Do Is Cry” dan “My Dearest Darling”.Etta pun berduet dengan Harvey Fuqua lewat lagu “Spoonfull” dan “If I Can’t Have You”.Etta juga menjadi penyanyi latar untuk artis Chess Record seperti Chuck Berry dalam lagu “Back In The USA”.
Tapi lagu “At Last” lah yang mengubah segalanya.Lagu ini menjadi trademark Etta James.”At Last” ditulis Mack Gordon dan Harry Warren pada tahun 1941 untuk film musikal “Orcherstra Wives”.Leonard Chess sang pemilik Chess Record yang mengusulkan lagu “At Last” agar dibawakan oleh Etta James.Leonard Chess  berpendapat corak vokal Etta James yang bernuansa ballad terasa sangt cocok untuk lagu “At Last”.Etta sendiri mengaku tidak yakin bisa menginterpretasikan lagu klasik itu dengan baik dan sempurna.
At Last” akhirnya berkumandang di pelbagai gelombang radio.Pada tahun 1962 “At Last” versi Etta James menempati peringkat 2 dalam R&B Chart Billboard dan berada diperingkat 47 dalam Hot 100 Singles Billboard.
Itulah momen bersejarah dalam titian karir Etta James .Selain “At Last”,Etta James mulai bergelimang hits seperti “Stop The Wedding”,”Trust In Me”,”The Fool That I’m “ hingga “Something’s Got A Hold On Me”.
Masa masa di Chess Record tak hanya berlumur kemilau,tapi EttaJames  malah memulai menciptakan kesuraman dalam karirnya.Sejak pertengahan 60an,Etta yang tersungkur dalam penggunaan narkoba mulai berinisiatif untuk menghalau.Tapi tetap nihil.Walaupun sempat reda di tahun 1974.Etta bertahan sebagai artis Chess Record hingga tahun 1978.Di tahun 1988,Etta masuk rehabilitasi narkoba di Betty Ford Center,Di tahun 2010 Etta berupaya menghilangkan ketergantungan terhadap painkiller yang menggerogoti tubuhnya termasuk upaya menaklukkan masalah obesitas.
Namun yang pantas dicatat,Etta James tetap gigih mengatasi keterpurukan dirinya.Lihatlah,ketika Etta James menjadi atraksi pembuka konser the Rolling Stones di paruh era 80an.Jangan lupa Etta pun pernah manggung bareng kelompok acid rock The Grateful Dead.Album solonya “The Seven Year Itch” (1989) memperoleh review bagus dari kritikus musik.
Di tahun 1996 Etta James menyanyikan ulang lagu milik Muddy Waters “I Just Wanna Make Love To You” untuk iklan Coca Cola.Lagu ini bahkan masuk Top 10 di Inggeris.
Berderet-deret penghargaan musik yang pernah diterima Etta James antara lain 3 Grammy Award  serta Lifetime Achievement pada Grammy Awards tahun 2003 .Majalah Rolling Stone menempatkan Etta James di urutan ke 22 pada 100 Greatest Singers of All Time dan pada urutan 62 The Greatest Artist of All Time.
Lalu apa keistimewaan Etta James ? Menurut saya ,Etta adalah sosok penyanyi yang sangat lentur dan open minded.Setidaknya ini juga yang membuat Etta James bisa bertahan begitu alam dalam industri musik.Tak banyak penyanyi yang mampu bertahan hingga 5 dasawarsa dalam karir musik,yang mencakup dunia panggung hingga rekaman.Pergeseran zaman serta paradigm dalam dunia musik bisa disikapi Etta tanpa harus menghancurkan jati diri musikalnya.
Ini jelas tersirat dalam buku memoarnya bertajuk “Rage To Survive : The Etta James Story” (2003) .Etta James adalah perempuan yang tegar dan gigih.

Dan saya masih ingat sebuah quotes Etta James dalam film “Cadillac Records” yang diperankan Beyonce : “ Don’t be looking at me like I ain’t got no draws on !”

At Last,Etta James

Kantata Barock bermandi cahaya gemerlap

Jujur saya sebetulnya tidak terlalu memendam hasrat yang sedemikian dalam untuk sebuah tontonan yang bernama napak tilas atau kunjung ulang .Istilah kerennya Revisited.Kenapa ?.Karena  pada galibnya sebuah nawaitu acara selaik itu memang hanyalah sebuah napak tilas yang memintal benang benang nostalgia masa lalu.Ada sejujurnya,pasti tak ada sesuatu yang baru.Artinya kreativitas mungkin hanya tersaji dalam batasan aransemen dan ekspresi kekinian belaka. Makanya ketika Setiawan Djody ketika berbincang dengan saya di kediamannya di bilangan Kemanggisan Raya pada 23 Juni 2011 lalu, saya hanya menyambutnya tanpa semburat rasa euphoria sedikit pun.

”Ah, mas Djody mungkin hanya ingin bernapak tilas”  batin saya saat itu. 21 tahun silam tepatnya 23 Juni 1990 ,Stadion Utama Senayan (sekarang lebih ringkas disebut GBK),ditumpahi sekitar 150.000 penonton untuk ikut dalam ritual seni bertajuk Kantata Takwa.Nama Kantata itu diberikan oleh almarhum WS Rendra.Dan nama itu juga yang menjadi keberatan ahli waris WS Rendra saat Kantata Barock aka digelar 30 Desember 2011 lalu.

Dan memang tak ada sesuatu yang baru dalam Kantata Barock yang digelar spektakuler dengan permainan lighting dan laser,namun sayangnya tidak diimbangi dengan kualitas sound yang memadai. Tapi keberanian Kantata Barock menyemburkan protes yang keras,yang disusupi dalam setiap segmen acaranya,mungkin merupakan daya tarik lain dari acara ini.Lihatlah pada layar yang terbentang tertera tulisan PRESIDENKU TIDAK BISA HENTIKAN KORUPTOR .Korupsi dan kesewenang wenangan penguasa sepertinya menjadi agenda dalam tiap adegan Kantata Barock.

Akan tetapi  dimunculkannya foto Gayus Tambunan berpakaian astronot di layar raksasa itu kok malah seperti semangat anti korupsi yang kerap terlihat di social media macam Twitter atau Facebook.Semacam olok olokan yang tak patut dilakukan kelompok seni seperti Kantata Barock.

Memunculkan foto 6 presiden NKRI itu pun sudah terlalu sering diusung ke panggung.Saya mencatat dalam konser “Apa Yang Telah Kau Buat” Keenan Nasution pada 5 Mei 2007 pun telah melakukan hal yang sama yaitu menampilkan foto para presiden NKRI. Lagu lagu yang ditampilkan memang adalah lagu-lagu yang pernah popular dibawakan Kantata Takwa maupun dalam beberapa album solo Iwan Fals,magnet utama konser ini. Lagu lagu baru yang ditampilkan Kantata Barock antara lain adalah Mukjizat,lagu yang ditulis Setiawan Djody ketika sembuh dari sakit kronis beberapa waktu lalu,Ombak dan Megalomania.Lagu yang disebut terakhir memang memotret perangai sebagian besar masyrakat negeri ini yang haus akan hal hal duniawi.

Kantata Takwa jelas sebuah masterpiece yang tak mungkin terulang.Itu pasti.Meskipun apa yang menjadi tema Kantata Takwa memang masih tetap relevan dengan kondisi zaman.Masih kontekstual.Atmosfer revisited mendominasi pertunjukan Kantata Barock yang juga melibatkan barisan pemain perkusi dan elemen teaterikal yang ditata Sawung Jabo.

Lagu Bento yang diambil dari album Swami kini berubah menjadi Barong Bento .Liriknya bergeser.Aura musiknya pun dipoles musik tradisional Bali.Tak kental memang.Yang menyolok justeru adalah raungan gitar ala gitar heroes yang memekakkan kuping sebagian besar penonton.Sepertinya Kantata Barock ini memang dikemas dalam sanggian musik bertumpu pada tekstur distorsi gitar elektrik.Mungkin ini obsesi Setiawan Djody yang mengaku tergila-gila dengan Jimi Hendrix,Frank Zappa,Steve Vai dan Allan Holdsworth.Saya masih ingat tutur Djody yang mengatakan :”Ketika Jimi Hendrix meraung raung dengan gitar elektriknya,saya yang saat itu lagi asyik belajar gitar akustik,kemudian mencampakkan gitar akustik dan mulai menyentuh gitar elektrik”.

Sayangnya emosi Setiawan Djody jadi tak terbendung ketika memainkan gitar elektrik di pentas Kantata Barock.Dia seperti pelukis yang sangat royal memercikkan kuasnya dengan warna warni yang tumpang tindih.Harmoni bahkan tak diberi ruangg sedepapun.Djody terus membombardir gitar tanpa aksentuasi yang jelas. Kondisi ini kian tak elok,manakala sound yang konon berkekuatan 300.000 watt itu ditata secara tak sempurna. Untunglah,Iwan Fals tetap memercikkan pesona dengan lagu-lagu protesnya seperti Puing hingga Ombak .

Kantata Barock memang menjadi chaotic saat Bongkar hingga Bento yang kini berganti dalam versi Barong Bento.Paduan suara massal dari penonton membarengi introduksi kedua lagu yang diangkat dari album Swami itu. Jika Bento di tahun 1990 dimulai dengan lirik : Namaku Bento.Maka Barong Bento di tahun 2011 berubah menjadi Akulah Bento. 21 tahun lalu lirik Bento berbunyi : Yang penting aku senang,aku menang.Persetan orang susah karena aku,yang penting aseeekkk”. Di tahun 2011 lirik Barong Bento berbunyi : Yang penting aku menang,kucing senang, kurcaci kenyang .

Riuh rendah panggung Kantata Barock seperti milik rakyat,apa lagi setelah pintu stadion sengaja dijebol agar penonton diluar stadion yang berteriak teriak ingin menjadi bagian dari pesta rakyat itu bisa bergabung sambil mengepal-ngepalkan tinjunya ke udara.”Stadion ini milik rakyat.Biarkan kami masuk” teriak para penonton yang tak mampu membeli tiket di luar stadion.

Iwan Fals pun menyambut mereka di atas pentas dengan baju hitam dengan rambut yang kian memutih.”Selamat datang di negeri para calo……” tukas Iwan,yang dibarengi teriakan riuh segenap penonton di GBK.

Menyaksikan Kantata Barock,penonton seperti menemukan pelampiasan yang tiada tara terhadap perilaku penguasa negeri yang kian menjauh dari rakyat.Orasi dari Iwan Fals pun seperti titah seorang pemimpin berwibawa yang didamba dan dirindukan segenap rakyat negeri ini. Dan malam itu saya pun mereka-reka,seandainya negeri ini betul betul telah berubah sejak rezim Orde Baru tumbang dan mencuatnya gerakan reformasi yang dijalankan dengan sebaik-baiknya, saya yakin seyakin-yakinya bahwa konser Kantata Barock tak lebih dari konser nostalgia belaka dari Setiawan Djody yang berusia 62 tahun,Sawung Jabo berusia 60 tahun dan Iwan Fals yang genap separuh abad.

Sehari menjelang tahun baru 2012 Kantata Barock kembali menjadi penyaksi :

 Banyak orang hilang nafkahnya

Aku bernyanyi menjadi saksi .

Banyak orang dirampas haknya.

 Aku bernyanyi menjadi saksi

(Foto Foto : Djajusman Junus)