Sekelumit Catatan Skena Musik Indonesia Tahun 2011

Posted: Januari 31, 2012 in Musik Indonesia, Uncategorized
Tag:,

Trio Lesmana Likumahuwa Winarta di Blue Note Tokyo Jepang 28 Desember 2011

“Just had a great show @bluenotetokyo.. Full house n what a great audience.”
Itulah kalimat yang ditulis oleh pemusik jazz Indra Lesmana di akun twitter-nya pada Rabu 28 Desember 2011, jam 19.20 WIB.

Indra Lesmana (keyboard) bersama trio jazz LLW yang terdiri atas, Barry Likumahuwa (bass) dan Sandy Winarta (drums), menutup catatan musik Indonesia 2011 dengan bermain jazz di Blue Note Tokyo Jepang. Trio jazz ini diam-diam, tanpa gembar-gembor diekspos media, melakukan terobosan secara internasional.

Pada tanggal 25 April 2011 LLW merilis album “Love Life Wisdom” secara digital. Tanpa dinyana, publik merespon pemunculan trio ini dengan men-download album jazz tersebut. Di minggu pertama pasca rilis-nya, album itu menduduki peringkat 42 sebagai new entry album dalam Most Download Album Chart. Diminggu kedua, mereka memang sempat turun ke peringkat 50, tapi lalu melejit ke peringkat 18 dari 100 album yang dipantau dalam perolehan download.

Ini merupakan prestasi gemilang era musik digital. Keterpurukan musik Indonesia dengan terkuburnya penjualan fisik, pada akhirnya memiliki peluang lain dalam sebuah distribusi alternatif yang futuristik. Sekaligus membuktikan bahwa industri musik bisa menjauh dari pintu kiamat.

Lewat akun twitternya tanggal 13 Mei lalu Indra Lesmana menulis quote yang menggelitik dan provoke:

Istilah “Go-International” sudah kadaluarsa sejak adanya Internet”.

Dewa penyelamat bernama ring back tones

Dan industri musik Indonesia pun tertolong dari jurang kehancuran ketika pertengahan era 2000-an muncul dewa penyelamat bernama ring back tones. Beberapa label yang beringsut mati suri akhirnya seolah mendapat suntikan darah segar dengan merebaknya tren RBT yang sebetulnya hanyalah sebuah gimmick marketing belaka.

Sayangnya revolusi musik dalam era digital ini di Indonesia hanya menghasilkan bisnis yang menggiurkan pada RBT saja. Selebihnya hanyalah download gratisan dari berbagai situs yang tidak jelas penerapan copy right-nya alias situs download music secara illegal.
Masyarakat Indonesia, apa boleh buat, lebih menyukai hal-hal yang gratis dan cenderung lebih berminat mendengarkan musik melalui CD bajakan maupun MP3 illegal yang dijajakan secara bebas dimana-mana.

Berbeda dengan Amerika Serikat atau Negara Negara maju lainnya yang telah melakukan revolusi musik digital, semisal teknologi Cloud yang menjadi isu hangat.

Teknologi Cloud itu pada akhirnya memunculkan nama nama seperti Spotify, iTunes Match,Google Music,MOG hingga Amazon Cloud.

Di Indonesia sendiri,industri musiknya tiba-tiba limbung ketika RBT dibekukan penggunaannya pada tanggal 18 Oktober sebagai reaksi pemerintah terhadap penyalahgunaan pengaktivasian SMS Premium serta kasus RBT yang tak bias unreg.

Akhirnya, jumlah pengaktivasian RBT menyusut drastis setelah terjadinya reset ulang. Menurut data dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), penggunaan RBT menukik tajam hingga 90 persen.
Di sisi lain pemanfaatan media sosial seperti kanal Youtube maupun Twitter termasuk yang lebih banyak memberikan peluang kepada siapa saja untuk melambungkan diri dalam dunia hiburan terutama musik.

YouTube

Kanal Youtube sendiri di tahun 2011 banyak melejitkan bintang baru secara instan. Seperti duo lipsynch Shinta Jojo, Norman Kamaru hingga artis artis dadakan lainnya seperti Bona Paputungan dan Udin Sedunia serta Ayu Tingting. Promosi lewat Youtube ternyata cukup ampuh untuk mengkatrol popularitas siapa saja yang ingin menerobos dunia hiburan yang sarat kemilau.

Ya! Walaupun kenyataannya artis-artis instan ini terbukti hanya berhenti sebagai sensasi belaka. Sepak terjang mereka pun cepat dilupakan orang, karena memang tak diikuti dengan planning secara managerial yang terarah. Padahal mereka telah mengantongi peluang menembus industri hiburan, tapi karena tak adanya perencanaan jangka panjang secara professional, akhirnya karir mereka pun terlupakan khalayak dalam sekejap.

Tren Musik memuakkan

Industri musik mainstream pun terlihat hanya mengandalkan metode aji mumpung.

Ketika sebuah band berhasil menancapkan popularitas membawakan lagu-lagu pop bercengkok Melayu, seterusnya diikuti oleh sederet panjang band dengan epigonisme yang memuakkan dan bikin jengah.

Ini pun terjadi ketika merebak tren boyband atau girlband setelah mengkloning mentah-mentah gaya K-Pop dari Korea Selatan. Semuanya pun hanya mementingkan rating.

Lihatlah! Hampir semua TV swasta setiap pagi menjejalkan program acara musik yang senada dan sejenis. Padahal sesungguhnya, iklim musik di negeri tak sesemrawut yang ditayangkan berbagai TV swasta di negeri ini.

Keragaman musik sebenarnya masih bernafas di negeri ini,tapi tak pernah diendus atau diekspos oleh media-media mainstream karena dianggap tak memiliki rating yang bagus.

Ketika trio blues rock Gugun Blues Shelter tampil di Hyde Park London bersama band-band besar seperti Bon Jovi, banyak masyarakat kita yang tak mengetahuinya.
Ini hanya sekelumit permisalan dari banyak peristiwa di skena musik Indonesia yang tak pernah diekspos media.

Sebaliknya, justru band-band dengan keseragaman bunyi dan lagu lah yang berjaya. Kegetolan menampilkan band-band seragam ini selalu diasumsikan sebagai selera masyarakat atau selera pasar.

Menyinggung soal selera masyarakat itu adalah sesuatu yang mutlak. Tapi praktek yang ada justru penyeragaman selera.

Cutting Edge

Pemusik atau band yang kerap disekat dalam terminologi cutting edge atau non mainstream justru tak pernah terganggu dengan anjloknya pengguna aktivasi RBT. Mereka tetap manggung dan tetap rilis CD.

Bagi mereka kreativitas musik tetap berkibar bahkan (sekalipun) tanpa adanya exposure dari media-media lokal. Mereka pun cuek maju untuk melakukan silaturahmi musik secara internasional.

Banyak contoh yang bisa dipetik, ketika Superman Is Dead, Burgerkill, White Shoes and Couples Company, Endah N Rhesa, Adhitya Sofyan, Tohpati Etnomission, Gugun Blues Shelter, Bottlesmoker,LLW dan masih sederet panjang lainnya melanglang buana memainkan musik mereka. Hal tersebut adalah prestasi yang jarang atau bahkan nyaris tak diketahui khalayak luas.

Kesimpulannya adalah…

Tentunya di tahun 2012 kita selalu menginginkan adanya perubahan dengan munculnya pergeseran. Apakah kita bisa menjadikan industri musik Indonesia lebih maju dan bersinar di tahun 2012?

Dengan tekad dan komitmen yang jelas pasti bisa. Setidaknya problematika industri musik yang tercacah di negeri pasti bisa diatasi jika kita melakukannya bersama-sama dan bukan sekedar wacana mewah yang sama sekali tanpa aksi.

Selamat tahun baru 2012!
Dukung terus Musik Indonesia!

Komentar
  1. Mandy mengatakan:

    Sebuah catatan yang singkat namun komprehensif. Yang menarik adalah dalam tulisan ini tersirat bahwa…jangan-jangan karena yang kita lihat di media mainstream adalah yang itu-itu saja, kita jadi yakin bahwa itu yang laku, tapi juga karena yang tampil yang itu-itu saja selera jadi makin terbentuk ke arah itu. Vicious circle🙂

    • dennysakrie63 mengatakan:

      Ha ha ha ha…begitulah …..

      • Dicky Harisman mengatakan:

        Mas Denny.. Saya fans Mas Denny.. Mata pisau analsisnya itu lho.. kereeeen lah… saya seorang penikmat Musik, penulis musik lepas di harian Pikiran Rakyat Bandung, penggagas Forum Diskusi Musik 80 (kita pernah ngadain diskusi dengan alm Utha Likumahuwa, Adjie Soetama dan Mel Shandy).. dan kolektor CD./PH Jaz.. (jadi curhat nih)… hahaha… Mas Aku juga mau nulis tentang tulisan Musik Indonesia “Mau Dibawa Kemana?” tulisan Mas Denny bener-bener jadi rujukan dan inspirasi bagi saya.. Teruslah berkarya mas.. saya akan tetap membaca tulisan mas Denny… Bravo Musik Indonesia

  2. dennysakrie63 mengatakan:

    Wow terimakasih komentarnya ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s