Arsip untuk Maret, 2012

Minggu malam 25 Maret 2012 ketika menelusuri kanal TV tiba-tiba saya menyaksikan acara Harmoni SCTV yang menampilkan Dwiki Dharmawan Orkestra.Tampaknya acara ini agak beda,karena menampilkan lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus oleh berbagai penyanyi lintas generasi dan lintas genre.Ada David Naif,Blink,Sammy Simorangkir,Glen Fredly,Ita Purnamasari,Bob Tutupoly,Harvey Malaiholo  dan banyak lagi.Dengan aransemen yang sumringah,semua penampil berupaya menginterpretasikan karya-karya Koes Plus. Acara yang bermaksud mengapresiasikan karya-karya Koes Bersaudara dan Koes Plus memang kerap dilakukan dalam berbagai bentuk acara,entah itu di panggung pertunjukan maupun layar kaca.Membuktikan bahwa Koes Bersaudara dan Koes Plus yang dimotori almarhum Tonnny Koeswoyo masih tetap ajeg lestari disanubari siapa saja dari berbagai generasi seperti halnya The Beatles dibelahan Barat sana.

Menyaksikan acara ini setidaknya kembali mengingatkan saya bahwa Tonny Koeswoyo adalah sosok jenius yang menjadi lokomotif kelompok yang didukung oleh saudara-saudara kandungnya itu.Bahkan menjadi lokomotif industri musik Indonesia yang mulai bangkit iklim bermusiknya setelah menyingsingnya rezim Orde Baru.

Dan tepat hari ini seperempat abad yang lalu , 27 Maret 1987 ,  Koestono Koeswojo atau lebih dikenal dengan Tonny Koeswojo telah menghembuskan nafas terakhir karena kanker usus. Dan  tak berlebihan jika saya menyebut pria tampan dan simpatik ini sebagai sumber inspirasi bagi band-band yang tumbuh kembang di Indonesia sejak paruh dasawarsa 60-an bahkan mungkin hingga saat sekarang ini.Popularitas Koes Bersaudara hingga Koes Plus yang fenomenal adalah bukti nyata yang tak terbantahkan.Di era 70an bak lokomotif,Koes Plus melaju sendirian tanpa saingan dalam industri musik Indonesia.
Dimata  saya sendiri sosok  Tonny Koeswoyo tak hanya seorang pemusik yang terampil bermain gitar,main keyboard,bikin lagu dan menyanyi sekalipun,tapi Tonny  Koeswoyo pun seorang visioner.Dalam setiap wawancara mengenai musik Indonesia saya selalu menekankan bahwa almarhum Tonny adalah seorang visioner yang sesungguhnya .Tonny Koeswoyo,saya anggap bagaikan almarhum  John Lennon di belahan dunia sana.

Meskipun  tak seradikal dan seekstrem John  Lennon namun Tonny memiliki konsep kesenian yang jelas terutama seni pop .Dia adalah seniman sejati.Dia betul betul tulus  menggantungkan segenap jiwa raga dan hidup pada music,music  dan musik.Sesuatu yang bagi adiknya sendiri Koesnomo atau Nomo Koeswoyo dianggap sesuatu yang berada diambang ketidak warasan.”Bagaimana bisa musik menghidupi ?” mungkin itu yang terbersit dibenak Nomo saat harus meninggalkan Koes Bersaudara pada akhir dasawarsa 60-an.
Tapi hingga ajal menjemput Tonny ternyata telah membuktikan bahwa musik adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.Dan Tonny pun meninggal dunia dan dikenang khalayak sebagai sosok pemusik.
Tonny Koeswoyo dilahirkan  di daerah  Tuban ,Jawa Timur pada 19 Januari 1936, sebagai putera keempat dari sembilan bersauadara anak pasangan Koeswoyo dan Atmini. Lima diantaranya lalu bergabung dalam band Koes Bersaudara yaitu Koesjono (John),Koestono (Tonny), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), dan Koesroyo (Yok).
Titisan darah musik menurun dari Koeswojo sang ayah yang terampil memetik gitar dan main musik Hawaiianl. Tonny sendiri ketika berusia empat tahun bisa berjam-jam menabuh ember dan baskom dengan menggunkan stik  berupa  lidi-lidi yang ujungnya ditancapkan bunga jambu yang masih kuncup.
Saat memasuki usia akil balik , Tonny Koeswoyo  tak mau lagi menabuh ember. Intuisi  musiknya kian menderu-deru tanpa ada yang mampu menghalangi .Tonny lalu  memohon minta dibelikan gitar, biola, dan buku-buku musik. Pak Koeswoyo memenuhi permintaan itu dengan  pertimbangan sebagai alternative untuk mengalihkan kegiatan anak-anaknya supaya jangan ikut-ikutan tren berkelahi maupun jadi crossboy.Saat itu demam ngegang tengah berlangsung di kota-kota besar seperti Jakarta,Bandung maupun Surabaya.
Disi lain Tonny pun ternyata cukup  rajin mengikuti berbagai kegiatan kesenian mahasiswa seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), dan berpartisipasi sebagai pemusik. Tonny Koeswoyo juga senantiasa  suka hadir di pesta-pesta dan ikut memainkan lagu-lagu yang sedang digandrungi anak-anak muda waktu itu semisal The Beatles dan sejenisnya.

Secara otodidak, Tonny belajar memetik gitar, ukulele, piano, termasuk meniup suling.Kabarnya Tonny pun mahir meniup saxophone.

.Ketika duduk di bangku SMA, Tonny membentuk band di sekolahnya, Gita Remaja. Lalu bersama pelukis komik Jan Mintaraga- yang sempat ikut Kus Bersaudara-dan Sophan Sophiaan,Tonny malah mendirikan band Teenage’s Voice dan Teruna Ria.Band yang lalu sering tampil diperhelatan remaja di sekolah-sekolah.
Tonny Koeswoyo pun pada akhirnya  menjadi bintang pesta karena begitu mahir membawakan lagu-lagu asing (Inggeris dan Amerika Serikat)  yang sedang populer waktu itu. Namun, Tonny toh  tetap berusaha memenuhi harapan kedua orang tuanya  untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke bangku kuliah Sastra Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta.Walaupun semangat bermusik tak padam jua.
Dengan memakai nama Kus Bros, sekitar tahun 1958 mereka malang-melintang dalam berbagai acara ulang tahun atau pesta pernikahan hingga sunatan. Honor bagi mereka saat itu urusan yang kesekian.Yang penting bisa tampil di depan publik dan menyantap makanan enak.
Keempat saudaranya mulai dari yangt tertua Jon, Nomo, Yon, dan Yok menganggap pikiran Tonny tak warasa. Namun Tonny Koeswoyo berprinsip  pantang mundur, bahkan Tonny nekad keluar dari di Perkebunan Negara tempatnya bekerja agar memilikii banyak waktu untuk menulis lagu.
Kus Brothers sebagai band sudah sering tampil di berbagai pesta, dan Soejoso Karsono atau kerap dipanggil Mas Yos san g pemilik label Irama juga telah mendengar tentang Kus Brothers. Mas Yos dan supervisor musik Irama Jack Lemmmers atau Jack Lesmana lalu menerima Kus Brothers sebagai grup rekaman yang mereka kontrak pada tahun 1962.
Tonny Koeswoyo memetik perangkat  gitar melodi, bersama Jon (bas), Nomo (drum), Jan Mintaraga (gitar) mengiringi duet vokal Yon dan Yok. Baru tiga lagu Jan Mintaraga mengundurkan diri, lebih memilih melanjutkan sekolahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta dan kemudian menjadi komikus. Sementara Jon dijadikan gitaris, dan bas dimainkan Yok.
Mas Yos pun segera  menyarankan Kus Brothers yang sekarang anggotanya empat orang itu diganti namanya menjadi Kus Bersaudara karena dianggap kebarat-baratan . Dengan nama baru inilah album pertama Tonny Koeswoyo beserta  adik-adiknya diterbitkan pada tahun 1963.
Kalau seandainya dalam penyajian musik saya Saudara menemukan pengaruh-pengaruh dari penyanyi Barat terkenal Kalin Twin dan Everly Brothers, atau barangkali asosiasi Saudara dalam mendengar musik kami tertuju ke arah mereka, itu tidak kami sangkal dan salahkan karena memang mereka-lah yang mengilhami kami hingga terbentuk orkes kami ini,” itu kalimat panjang yang ditulis Tonny sebagai liner notes pada cover vinyl atau iringan hitam (PH) pertama Kus Bersaudara yang diedarkan Irama Record.

PH yang bernomor register  IML 150 berisikan 12 lagu yang diproduksi tepat 40 tahun yang lalu itu adalah Dara Manisku, Jangan Bersedih, Hapuskan, Dewi Rindu, Bis Sekolah, Pagi Yang Indah, Si Kancil, Oh Kau Tahu, Telaga Sunyi, Angin Laut, Senja, dan Selamat Tinggal.
Waktu itu usia Tonny Koeswoyo telah berusis  26 tahun, Nomo (23tahun ), Yon (19 tahun ), dan Yok (17 tahun ). Makanya  tidak heran lagu-lagu mereka berisikan lirik-lirik tentang harapan, cinta, kebahagiaan, dan kesepian.Romansa memang menjadi bagian tak terpisahkan dari notasi lagu-lagu mereka di saat itu.
Selain itu, yang perlu dicatat lagi bahwa ke , 12 lagu Kus Bersaudara itu semuanya merupakan karya cipta Tonny Koeswoyo . Demikian juga dalam beberapa PH single yang  berisikan empat lagu: Dara Berpita, Untuk Ibu, Di Pantai Bali  (lagu yang diadaptasi dari lagu “Kon Tiki-nya The Ventures) dan sebuah lagu karya Pak Daldjono bertajuk , Bintang Kecil. Piringan hitam  single lainnya hanya berisikan dua lagu, Kuduslah Cintaku dan Harapanku.
Walaupun sudah memiliki lagu-lagu sendiri dalam bentuk rekaman, Kus Bersaudara masih dibayar dengan honor yang seadanya kalau menyanyi di panggung. Lagu-lagu Tonny  Koeswoyo boleh saja populer, tetapi kehidupan ekonomi keluarga Koeswoyo tidak banyak berubah.
Yang berubah justru Kus Bersaudara menjadi Koes Bersaudara. Demikian juga musik dan vokal Yon dan Yok, dari gaya Kalin Twin dan Everly Brothers ke The Beatles. Bahkan, mereka sampai merasa perlu berjas tanpa leher seperti yang dikenakan oleh John Lennon,Paul McCartney,George Harrison dan Ringo Starr.
Pada tahun 1965 Koes Bersaudara menjadi kelomor  musik sohor tanah air dan nyaris tanpa saingan sama sekali.Tapi Koes Bersaudara masih merasa perlu manggung secara berkala di gedung bioskop sebagai selingan pemutaran film atau di International Airport Restaurant Kemayoran dua kali seminggu. Penonton nyang berjubel dan tumpang tindih  selalu merequest lagu-lagu dari kelompok n The Beatles.
Padahal, pemerintah memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang melarang musik “ngak- ngik-ngok” yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. tetapi, Tony sulit mengelak permintaan penggemarnya.
Bersama Dara Puspita dan Quarta Nada, Koes Bersaudara tanggal 25 Juni 1965 diundang ke sebuah pesta yang diadakan oleh Kolonel Koesno . Ketiga band  top itu membawakan lagu-lagu Barat secara bergantian.
Ketika Koes Bersaudara yang tampil terakhir baru saja mulai membawakan nomor The Beatles, I Saw Her Standing There, lemparan batu-batu menyasar ke atap rumah  Kolonel Koesno yang  diikuti teriakan teriakan berbau kekiri-kirian seperti : “Ganyang Nekolim! Ganyang Manikebu! Ganyang Ngak-ngik- ngok!”
Pertunjukan pun terhenti seketika . Koes Bersaudara dipaksa minta maaf dan Tonny dan tenang segera  memenuhi permintaan itu serta dipaksa berjanji tak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Setelah nama-nama personel dari band penghibur itu dicatat oleh pengunjuk rasa, semua yang hadir dalam pesta tersebut membubarkan diri.

Tonny, Nomo, Yon, dan Yok pulang dengan perasaan lega. Tetapi, empat hari kemudian, tepatnya  pada tanggal 29 Juni 1965, keempat bersaudara Koeswoyo ini  ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Glodok. Perintah penangkapan disertai sebuah  Surat Perintah Penahanan Sementara Nomor 22/023/K/ SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani L Aroen SH.
Kurang 100 hari keempat bersaudara itu mendekam di Penjara Glodok, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan Glodok yang antara lain menjajakan dengan bebas lagu-lagu Tony yang diproduksi para pembajak. Mereka dibebaskan  pada  tanggal 29 September 1965.,tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI yang dramatic itu.
Pengalaman selama 100 hari itulah yang antara lain dituangkan ke dalam dua album Koes Bersaudara, Jadikan Aku DombaMu dan To The So Called The Guilties yang diterbitkan Dimita Moulding Company dengan label Mesra milik pengusaha berdarah Minang Dick Tamimi.
Kedua album itu berisi 20 lagu karya  Tonny Koeswoyo  dan satu ciptaan Yon yaitu : Untuk Ayah Ibu, Lonceng Yang Kecil, Rasa Hatiku (Yon), Jadikan Aku DombaMu, Aku Berjanji, Balada Kamar 15, Bidadari, Bilakah Kamu Tetap Di Sini, Mengapa Hari Telah Gelap, Untukmu, Bunga Rindu, Lagu Sendiri, Voorman, Hari Ini, Three Little Words, To The So Called The Guilties, Apa Saja, Di Dalam Bui Poor Clown, dan Bintang Mars. Tony mengakui terus terang, musik dalam album-album ini banyak dipengaruhi The Beatles.
Hingga era Koes Plus, lirik lagu Tonny Koeswoyo dinilai sejumlah kritikus tidak mengalami kemajuan, kecuali beberapa saja seperti Nusantara. Namun, dalam penyusunan nada dan aransemen, Tonny Koeswoyo  diakui banyak kalangan.
Mereka bahkan menjadi tambang emas  roda industri musik Indonesia sampai saat ini. Jelas tak banyak  pencipta lagu yang bukan hanya menciptakan lagu pop berbahasa Indonesia, namun juga dalam bahasa Jawa, keroncong, kasidahan, Natal, anak-anak, pop Melayu dan bosanova. Koeswoyo Senior yang tadinya menentang, ikut menciptakan lagu dan mendorong Tonny mempopulerkan keroncong bagi anak-anak muda generasinya.
Pergeseran  iklim politik dari Orde Lama ke Orde Baru membuka peluang lebih luas bagi Koes Bersaudara untuk berkembang sehingga mereka mendapat panggilan pentas di mana-mana. Tonny Koeswoyo  dan adik-adiknya tampil sebagai lambang kebebasan atas penindasan dan kesewenang-wenangan politik.
Pada  Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Hasilnya, keluarga Koeswoyo bisa pindah rumah yang lebih luas, Jalan Sungai Pawan 21 Blok C, masih di Kebayoran. Tetapi, setelah itu kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan. Nomo Koeswoyo , misalnya, mulai berinistiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum dan memilih berusaha di luar bidang musik untuk menghidupi keluarganya.Nomo tampaknya bersikap  lebih pragmatis.Nomo jelas memiliki prinspi yang sangat berbeda dan bertolak belakang dengan Tonny Koeswoyo.
Posisi drummer yang diduduki Nomo Koeswoyo  kemudian beralih ke  Kasmuri dan dikenal dengan panggilan Murry  ,yang saat itu masih tergabung dalam Patas Band bersama Maxi Mamiri,Edmond Rumapar dan Wempy Tanasale . Tak lama berselang muncullah kelompok  Koes Plus pada tahun 1969 lewat debut album Dheg Dheg Plas yang dirilis Dick Tamimi bersama label Dimita/Mesra.Tapi Koes Plus sebetulnya mulai dikenal dan dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu Derita serta Manis Dan Sayang dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.Saat itu Koes Plus tampil bersama Panbers dan beberapa band sohor lainnya.Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung,menggelegak dan merajai industry music Indonesia terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin alamrhum Eugene Timothy.Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.Dalam catatam pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album.Itu berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.Terbayang betapa kreativitas Koes Plus diperah bagai sapi.Di tahun 1976-1977 popularitas Koes Plus mulai menukik kebawah.Banyak yang menduga  Koes Plus mengalami paceklik gagasan bermusik.Eugene Timothy mengajukan gagasan untuk menghidupkan kembali Koes Bersaudara.Keempat Koeswoyo bersaudara ini menyetujuinya.
Tonny, Nomo, Yon, dan Yok pada akhirnya memang berkumpul untuk menyelesaikan sejumlah lagu dalam album rekaman Koes Bersaudara bertajuk  Kembali pada tahun 1977 . Tetapi, usaha itu ternyata tidak mampu juga mengembalikan pamor dan kedigdayaan  Koes Bersaudara di masa silam .Di tahun 1978,panji Koes Plus justeru dibangkitkan lagi. Tonny Koeswoyo kemudian terus melangkah bersama Yon, Yok, dan Murry mengibarkan bendera Koes Plus hingga akhir hayatnya.

Tonny Koeswoyo dimata saya adalah bapak band Indonesia.

Image

Iklan

Saya mulai mengakrabi lagu-lagu Earth Wind and Fire sejak tahun 1977,saat genre disko mulai mencuat diambang kedigdayaan diseantero jagad.Kesukaan terhadap kelompok yang didukung 9 personil ini kian memuncak saat Earth Wind and Fire yang didukung produser David Foster merilis album “I Am” (1979) yang kemudian menghasilkan hits terbesar mereka “After The Love Has Gone”,lagu yang sesungguhnya ditulis bukan oleh Earth Wind and Fire melainkan oleh triumvirat  David Foster,Jay Graydon dan David Foster.

Dan yang bikin saya terpekur adalah kenapa baru tahun 2012 ini saya menonton konser Earth,Wind and Fire, disaat band yang dibentuk oleh maestro Maurice White ini hanya menyisakan tiga personil asli yaitu Philip Bailey (vokal utama,perkusi),Verdine White (bass) dan Ralph Johnson (perkusi,suara latar).Sebelum kelompok soul funk kontemporer ini manggung di Tennis Indoor Senayan 28 Maret lalu, sejak tahun 2005 penonton Indonesia telah berkali-kali dihibur oleh tribute band yang menggunakan nama Earth Wind & Fire Experience yang dimotori mantan gitaris Earth Wind and Fire,Al McKay.Yang bikin gemes,banyak yang menyangka itulah Earth Wind and Fire yang orisinal.

Walaupun tidak didukung lagi oleh inspirator Maurice White sejak 1995 karena mengidap Parkinson, Earth Wind and Fire yang terbentuk di Chicago ini masih terus berkibar dipelataran industri musik dunia.Mereka masih manggung dan merilis album,antara dengan menggamit sosok belia dalam konstelasi music R&B seperti Raphael Shaddiq hingga will I.am dari The Black Eyed Peas.

Meskipun tinggal bertiga,toh Earth Wind and Fire masih menyisakan ruh musik dari 6 personil lainnya yang telah pension seperti Maurice White,Al McKay,Larry Dunn,Fred White,Andrew Woofolk dan Johnny Graham.Satu satunya personil Earth Wind and Fire yang telah bergabung dengan grup ini sejak awal terbentuk adalah Verdine White,adik dari Maurice White.

Jelas banyak pergeseran dalam aura Earth Wind & Fire yang sejak era 70an selalu tampil dengan atmosfer mistik Afrika dan Mesir lewat fashion maupun cover album yang sarat simbolistik.”Itu semua gagasan dari Maurice White” ungkap  Verdine White saat berbincang dengan saya di belakang panggung.Bahkan jumlah personil Earth Wind and Fire sebanyak 9 orang itu pun,karena White meyakini 9 adalah numerical istimewa pembawa berkah.

Di era 70an Verdine White kerap melakukan trick saat bermain bass antara terbang tanpa gravitasi.Fashion,simbolistik dan trick panggung yang teaterikal sudah tak terlihat lagi ketika Earth Wind and Fire menumpahkan sederet hitsnya dihadapan sekitar 3500 penonton yang memadati arena Tennis Indoor Senayan Jakarta.

Ralph Johnson dan Philip Bailey menggunakan kostum yang semi formal,mengenakan rompi.Namun sesekali mereka melakukan sedikit koreografi khas Afro American.Philip Bailey pun masih memainkan Kalimba,semacam piano genggam yang dipencet dengan kedua ibu jari.Kalimba adalah instrument tradisonal Afrika yang kerap dibawa Maurice White dalam rekaman maupun konser Earth Wind and Fire.

Lagu “Boogie Wonderland”  dari album “I am” (1979) menguak pertunjukan Earth Wind and Fire yang disambut hangat penonton.Lagu ini sempat jadi hits besar dimana-mana termasuk Indonesia.Di tahun 80an rasanya hampir semua radio anak muda memutar lagu ini.Sederet hits lainnya pun berkumandang seperti Sing A Song,Shining Star,Serpentine Fire.

Di saat menynayikan Brazillian Rhyme,kelompok ini memperlihatkan kemampuan memecah vokal secara hormonal dengan melafalkan sylabel tanpa makna.

Philip Bailey kemudian memainkan Kalimba secara solo dan disambut dengan beat Latin yang eksotis dan berlanjut dengan lagu “Evil” serta disusul  “Keep Your Head Up To The Sky”.Ini adalah lagu-lagu Earth Wind and Fire di era 70an dari album  Head To The Sky (1973)  yang kurang popular di Indonesia.Banyak penonton yang tak memahami lagu ini.

Suara falsetto Philip Bailey kemudian memecah gedung saat menyanyikan “Devotion” dan “That’s The Way Of The World”.Tanpa adanya Maurice White,Philip Bailey berakrobat bergonta ganti pitch vocal dari suara tenor ala Maurice White dan seketika berubah dalam falsetto.Yang mengagumkan,kemampuan vokal  Philip Bailey masih belum berkurang sama sekali.

Suasana konser yang beratmosfer party berubah menjadi romantic saat Earth Wind and Fire menyuguhkan ballad terbesar mereka yaitu “After The Love Has Gone” dan “Reasons”.

Tak ketinggalan pula adaptasi Earth Wind and Fire atas karya Lennon McCartney “Got To Get You Into My Life” (The Beatles) yang pernah mereka bawakan saat muncul dalam film layar lebar “Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band” (1978).Lagu ini bahkan sempat meraih Grammy Award di tahun 1978.

Sayangnya penonton kurang mengenal lagu ini.Tetapi ketika introduksi lagu “Fantasy” menguak ,respon penonton sangat antusias.Apalagi setelah berlanjut dengan hits besar lainnya seperti “September” dan “Let’s Groove” yang jadi hits di tahun 1981 .

Musik yang dimainkan Earth Wind and Fire terasa eklektik.Sejak merilis debut album di tahun 1971 hingga sekarang, mereka terlihat terampil merajut berbagai benang musik mulai dari soul,funk,Brazillian,rock hingga jazz sekalipun yang kemudian terbagi dalam dua pilah beat yaitu upbeat dan ballad.

Penampilan Earth Wind and Fire yang didukung sederet session player seperti Robert Burns Jr (trumpet),Gary Bias (saxophone),Reginald Young (trombone),Myron McKinley (keyboards),Benjamin David Whitworth Jr (vokal,perkusi),Greg Moore (gitar),Morris O’Connor (gitar),John Le Van Paris (drums) dan Philip Doron Bailey (perkusi) putera dari Philip Bailey, berakhir dengan encore “In The Stone”.

Walau tinggal bertiga dan ketiganya baik Bailey,White dan Johnson telah berusia 60 tahun  ,namun  Earth Wind and Fire masih memperlihatkan gradasi musikalitas yang luar biasa.Rolling Stone sendiri pernah  memuji inovasi musik yang ditebar Earth Wind and Fire :” innovative, precise yet sensual, calculated yet galvanizing”.

 Image

The Singers…….Band Wanita

Posted: Maret 18, 2012 in Uncategorized

Wanita bertubuh kurus dan berpipi cekung ini dilahirkan dengan nama lengkap Siti Salamah Koerniati atau lebih dikenal dengan panggilan ngepop Sally Sardjan.Kiprah musiknya mulai mencuat ketika Sally bersama saudara saudaranya Titi Qadarsih dan Ani Tjokro membentuk Salanti Bersaudara.

Jaman itu memang tengah naik daun kelompok Koes Bersaudara.Salanti Bers audara pun sering manggung bareng Koes Bersauadara.

Ketika Salanti Bersaudara vakuum.Sally yang tetap bersemangat untuk bermusik menggagas terbentuknya band wanita The Singers.

Sally(keyboard) lalu mengajak Neneng Salmiah (gitar,vokal),Shinta Dungga (gitar,vokal),Henny Poerwonegoro (vokal,drum) dan Tuti Thaher (bass) untuk ikut bergabung.Ini terjadi pada tahun 1967,di saat iklim politik di negeri ini berubah dari rezim orde lama ke orde baru.

Formasi The Singers kian komplit dengan direkrutnya almarhumah Uun Sarbini pada melodi gitar. The Singers lalu merekam album perdana pada perusahaan rekaman Dimita milik alamrhum  Dick Tamimi.Di perusahaan ini pula Koes Bersaudara  dan Pandjaitan Bersaudara (Panbers) merekam album albumnya.

Kehadiran The Singers akhirnya menambah daftar panjang band band wanita yang bermunculan,saat itu,mengikuti Dara Puspita.

Namun,persoalan dalam band wanita adalah ketika para personilnya mulai terikat lembaga pernikahan.The Singers pun harus merelakan beberapa anggotanya yang mengundurkan diri karena telah menikah.

Geger Gelgel” adalah lagu yang sangat agresif pada album Guruh Gipsy (1976).Jika menyimak bangunan musiknya,maka tanpa menyimak secara seksama lariknya,kita pun mahfum bahwa lagu ini bertendensi anger.Musiknya pun merupakan perpaduan antara riuhnya gamelan Bali yang mengisyarakatkan perang dan raungan rock gitar yang memacu adrenaline.

Mari kita simak larik  lagu “” yang dinyanyikan Keenan Nasution :

Dulu di Gelgel pernah geger

Namun tak segeger hatiku

Hasrat hati ingin membeber

Segala perilaku palsu

Degup jantung irama Batel

Bagai derap pasukan Gelgel

Menentang penjajah angkara murka

Penindas hak dasar manusia

Wahai kawan nyalangkan matamu !

Simaklah dalam babad moyangmu

Di Gelgel pernah geger

Semangat suci luber

Kepalsuan terbeber

Orang bathil tercecer-cecer

Geger Gelgel Geger Gelgel

Di Gelgel geger

Hatta nasib rakyat jelata

Yang bukan ahli berbicara

Tapi hanya bersuara

Menuntut hak alam merdeka

Kaum Sudra dipermainkan

Oleh muliawan gadungan

hati tercekam suasana

Ngeri,was was merajalela

Wahai kawan jangan engkau lengah

Ketidakadilan harus musnah

Singsingkan cadar ragu

Singsingkan fajar baru

Mari kita bersatu

Didalam setiap nafasmu

Menyingkap dan menelnajangi adegan palsu

Membahana sangkakala

Menyibak mega raya

Menyongsong bahagia

Moga sirna duka derita

Janji sang Maha Kuasa niscaya kan nyata

Durma  : Bintang benderang cemerlang

              Sakasi agung luhur suci

Sinom  : Tergurat Babad Gelgel

              dalam sastera

              Di medan perang suci

             Bajik melawan angkara

             Tentera Gelgel sura

            Berjuang tak takut mati

Takwil “Geger Gelgel”

Introduksi lagu ini memang telah berbau “perang”.Berawal dengan tabuhan alat musik tabuh Bugis Makassar Tunrung Pakkanjara dan diimbuh dengan bunyi tuts piano bagian bass yang menggeram dan muram.Diteruskan dengan riffing gitar elektrik yang seperti memuntahkan napalm.Dan terdengar sayup hingga mengeras suara I Gusti Kompyang Raka bernuansa mistis.

Kaset Guruh Gipsy yang dirilis tahun 1977 (Foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy yang dirilis tahun 1977 (Foto Denny Sakrie)

Menurut Guruh Soekarno Putera,ketika “Geger Gelgel” tengah digarap,dia dan personel Gipsy tengah penuh antusias melakukan rekaman di studio Tri Angkasa di kawasan Kebayoran .Dan lagu “Geger Gelgel” merupakan lagu kedua yang mereka rancang dalam proyek eksperimen Bali Rock Guruh Gipsy.

“Di malam hari,saya dan Keenan mereka-reka notasi lagu ini di rumah mas Tok (Guntur Soekarno Putera),tempat saya menginap” cerita Guruh.”Keenan memainkan gitar,saya disebelahnya memainkan tuts piano yang sebagian besar sudah macet.Mas Tok memang kurang merawat piano” kata Guruh lagi.

Beberapa hari kemudian,cerita Guruh,kami mencoba lagi beramai ramai lagu ini di Pegangsaan Barat,rumah Keenan.Pak Kompyang bahkan memboyong separuh perangkat Gamelan Kebyar.”Sing itu tiba tiba hujan turun.Sangat lebat.Rumah Keenan bocor,pas di ruangan tempat latihan penuh air hujan.Terpaksa latihan pun diurungkan hingga hujan reda” kata Guruh.

“Saya salut sama mbak Retno dan rekan rekan.Mereka ini penari dari kelompok seni Saraswati,dari Yayasan Kebudayaan Bali di Jakarta.Walaupun bocor dan air menggenang dimana-mana,semangat mereka tak luntur untuk membuat paduan suara.Bayangin,mereka tuh hanya melantunkan bunyi satu huruf saja…..e e e e.Edan gak ?” ujar Guruh.

Menurut Keenan,hanya dengan dua kali latihan saja,lagu “Geger Gelgel” yang diinspirasikan dari musik Gamelan Kebyar dan musik rock langsung take recording di Tri Angkasa dibawah koordinirAlex Kumara.

Gamelan yang dipergunakan dalam sesi lagu ini adalah Gamelan Kebyar (Pelog) yang kurang lebih sepadan dan setara dengan kunci Cis major Eropa.Kesetaraan maupun harmonisai laras memang diabaikan.Karena sesungguhnya Guruh Gipsy memang dengan sengaja ingin mencari keselarasan paduan bunyi baru.Makanya tak heran jika Gong memiliki fungsi mediator disini,yaitu menawarkan terjadinya “tabrakan” nada-nada.

Teknik vokal di lagu ini (yang dilakukan Keenan) memakai style western serta gaya Aria terutama pada bagian Sinom dan Durma.Menurut Guruh,di Bali acapkali pesinden menyenandungkan lagu berlaras slendro dengan musik yang bermain pada laras Pelog.Pengertian sumbang atau fals menurut kaidah musik Barat disini tidaklah berlaku.

Denny Sakrie

Asal Usul Nama God Bless

Posted: Maret 18, 2012 in Kisah
Ludwig LeMans,Fuad Hasan dan Achmad Albar (Foto Gunadi Haryanto)

Ludwig LeMans,Fuad Hasan dan Achmad Albar (Foto Gunadi Haryanto)

Ingin tahu asal usul nama God Bless ?

Ketika gitaris Ludwig LeMans dan Vokalis Achmad Albar menginjakkan kaki mereka di Jakarta untuk berlibur pada tahun 1973 tiba-tiab mereka berdua melihat fenomena musik panggung terutama rock yang terasa euphoria .Keinginan untuk ngeband di Indonesia kian menggebu setelah melihat konser-konser band-band rock ternama Indonesia saat ituLudwig LeMans dan Achmad Albar.Loetje,panggilan akrab Ludwig LeMans bahkan telah merancang nama The Balls untuk jatidiri band rock yang mereka idamkan.

Nama The Balls hampir dipergunakan.Bahkan dalam beberapa media cetak termasuk diantaranya di majalah Aktuil,gagasan nama The Balls yang diulurkan Loetje telah dimuat.Tapi Achmad Albar malah lebih sreg dengan nama The Road.Tapi The Road pun batal untuk dipakai sebagai nama band.Setahun kemudian Deddy Dorres menggunakan nama The Road untuk nama proyek musik popnya di Purnama/Remaco bersama Ludwig LeMans (gitar),Donny Gagola (bas) dan Fuad Hasan (drum).

Lalu nama lain pun diusulkan yaitu  The God.Cuma nama ini urung pula dipakai,karena membawa beban berat,kata mereka.

Kemudian versi resmi yang sering dilontarkan oleh personil God Bless mengenai asal usul nama yaitu ketika di bulan Desember,di rumah Mia (Camellia Malik)dan almarhum Fuad Hassan (drummer) ,Donny dan Iyek melihat sebuah Kartu Natal dan Tahun Baru tergeletak di meja ruang tamu.Donny tertarik dengan kata God Bless pada Greeting Card yang berbunyi ……may God bless you !. Donny dan Iyel lalu berembuk.”Wah kita pakai saja kata God Bless” sepakat mereka berdua Dan resmilah mereka menggunakan nama God Bless hingga kini.

Mungkinkah karena nama inilah yang membuat God Bless bertahan hingga 40 tahun kemudian ? Diberkati Tuhan.

Wallahualam

Glenn Di Panggung Romantis

Posted: Maret 18, 2012 in Konser

Nama Acara    : Intimate Concert Glenn Fredly
Tempat           : Jakarta Convention Center
Waktu             : 20.00-23.00 WIB
Hari/Tanggal   : Minggu,1 Juni 2008
Promotor         : Ruth Sahanaya Productions

Tepat satu dasawarsa perjalanan karirnya sebagai penyanyi solo,Glenn Fredly menandainya dengan menggelar konser tunggal bertajuk “Intimate Concert” minggu malam kemarin.Pilihan nama konser akhirnya menjadi konsep utama dari konser Glenn ini.Tata panggung dibuat dalam atmosfer yang intimate.Para performer tampaknya diharuskan tampil cair.Tidak mematung.Tapi bergerak sesuai ekspresi lagu.Tampaknya band yang mengiringi Glenn pun dibekali bloking.Makanya tak heran jika perkusionis Rejoz tak hanya terpaku didepan tumpukan perkusinya.Atau lihatlah gitaris Andre Dinuth yang diberi keleluasaan mengitari panggung.
Pada galibnya sebuah pertunjukan memang harus berkonsep semacam ini.Bukankah penonton yang datang ingin dihibur dan terpuaskan dengan segala sajian musik yang ada.
Konser Glenn Fredly dikawal oleh Aminoto Kosin sebagai music director dan konduktor,Saunine’ Orkestra dan back up band Glenn Fredly yang dimotori Rayendra Sunito (drums),Lawrence Aswin (turntables),Andre Dinuth (gitar),Hendry Budidharma Soleiman (gitar),Rejoz (perkusi,rap),Bonar Darmawan Abraham (bass),Nicolaus Manuputty (saxophone),,Victor Lango (keyboard) serta Harry Anggoman,keyboardis sepuh yang pernah memperkuat Tarantula dan Gong 2000.

Glenn pun aktif bercengkerama dengan penonton.Walau pun segmen yang memintal sekitar 13 lagu yang dirajut dengan narasi yang dibacakan Glenn serta imbuhan berupa kelebat adegan yang diperankan Gary Iskak dan Ningrum di layar pada latar belakang terasa melelahkan.Mungkin karena deskripsinya sangat obvious dan berkepanjangan serta kelebat adegan yang sangat klise dan garing.
Tapi untungnya,melodi lagu karya Glenn memang membius sukma.Apalagi sebagian lagu yang dirangkum dalam satu babak dari konsernya itu memang bertutur tentang kekalahan dalam bercinta,selingkuh,pengkhianatan asmara dan hati yang terluka.Apa boleh buat karaoke massal pun tak terhindari lewat lagu yang dijelujur menjadi satu kesatuan ,mulai dari “Kafe Biru”,”Mimpi Biru”,”Kasih Putih”,”Terpesona”,”Jejak Langkah Yang Kau Tinggal”.”Akhir Cerita Cinta”,”Terserah”,”Habis”,”Tega’,”Kalah”,”Sedih tak Berujung”,”Sekali Ini saja” dan “Pada Satu Cinta”.
Ini memang keunggulan Glenn Fredly sebagai seorang ballader dan komposer berbagai “love song”.Glenn mengingatkan kita pada kiprah Babyface,komposer dan penyanyi R&B yang karyanya kerap menjadi hits,tak hanya ketika dinyanyikannya sendiri tapi juga ketika diinterpretasikan penyanyi lain.
Malam itu,Glenn pun menyanyikan sederet hits karyanya yang menjadi sohor ditangan penyanyi lain seperti “Cinta Takkan Usai” (Pinkan Mambo),Katakan Kau Milikku” (Rio Febrian),”Cinta Dibalas Dusta” (Audy),”Bukan Dia ” (Helena) hingga “Karena Cinta” (Joy Tobing).

Tetapi Glenn pun membuat imbang qua konsernya.Dia pun mencoba memasuki wilayah musik yang tak hanya berlumuran asmaran.Glenn pun tampil dengan lagu berlirik kritik sosial lewat lagu “’45” yang diambil dari album “Happy Sunday” :
Jaman makin susah
Hidup makin gila
Banyak orang yang mencari aman masing-masing
Ini crazy baby
Dunia semakin tak terkendali

Yang gila berkuasa makin menjadi-jadi
Yang tertindas tinggal menangisi nasibnya saja
Ini crazy baby
Dunia semakin tak terkendali

Penguasa-penguasa bukannya aku sok tahu
Aku memang anak baru
Namun bicara keadilan itu tak pernah kenal waktu

Apakah kita harus
Hidup sperti sebelum tahun 45
Pastinya aku tak mau….
Kebebasan hati dan bicara lantang tentang cinta
Itu yang kita mau
Aku tak bisa
Kamu tak bisa
Rasanya hidup seperti sebelum tahun 45

Glenn pun lalu menyambung lagu karyanya tadi dengan lagu “Bento” karya Iwan Fals dan Khusnul Yakin dari album fenomenal “Swami”.
Walhasil,konser Glenn ini memang sarat warna.Di segmen lain,Glenn malah berduet dengan Dewi Persik,penyanyi dangdut yang sempat dicekal dimana-mana,konon karena goyangnya dianggap mengganggu stabilitas moral (hmmm…..!) dalam lagu “Hikayat Cinta”,sebuah lagu baru bernuansa Arabic yang terdapat pada album terbaru Glenn “Private Collection Glenn Fredly” yang akan dirilis Sony BMG dalam waktu dekat ini.
Glenn memang banyak melakukan surprising diantaranya menyelipkan vokalis Tompi yang melakukan voicing meniru bunyi  muted trumpet pada lagu bernuansa laid back crooner “Tega”.Termasuk menghadirkan sederet artis hip hop seperti Iwa K dengan menyuguhkan “Malam Itu Indah” serta idiom dancehall yang diwakili Ras Muhammad dalam sebuah komposisi berbasis stomp music “RRP Anthem” yang disinergikan dengan “Lenggang Jakarta” (karya Harry Sabar) yang pernah dipopulerkan Andi Meriem Mattalatta pada tahun 1987 serta”Mobil Mama” dari debut albumnya di tahun 1998 silam.
Sebuah konser yang pantas untuk diacung jempol setelah konser “Sendiri” Chrisye di tahun 1994 silam.

SETLIST
Medley
1.Kau(ciptaan Glenn Fredly) 1998
2.Ku Masih Disini (ciptaan Eq Humania) 2003
3.Seandainya(ciptaan Widi Puradiredja) 2007
4.Cukup Sudah (ciptaan Yovie Widianto) 1998
Medley
5.Rame-Rame (ciptaan Christ Kaihatu) 1982
6.Dansa  (ciptaan Glenn Fredly) 2005
7.Hikayat Cinta (ciptaan Glenn Fredly) 2008
8.Kafe Biru (ciptaan Glenn Fredly) 2000
9.Mimpi Biru (ciptaan Glenn Fredly) 1998
10.Kasih Putih (cip Yovie Widianto) 2000
11.Terpesona (cipta Ekka Bhakti/Angelique) 1997
12.Jejak Langkah Yang Kau Tinggal (ciptaan Tohpati/Erros Chandra) 2002
13.Akhir Cerita Cinta (cip Glenn Fredly) 2005
14.Terserah (ciptaan Glenn Fredly ) 2008
15.Habis (ciptaan Glenn Fredly ) 2003
16.Tega (ciptaan Glenn Fredly)2006
17.Kalah (ciptaan Andre Dinuth) 2007
18.Sedih Tak Berujung (ciptaan Glenn Fredly) 2003
19.Sekali Ini Saja (ciptaan Glenn Fredly) 2003
20.Pada Satu Cinta (ciptaan Yovie Widianto) 2005
21.Selamat Pagi,Dunia ! (ciptaan Glenn Fredly) 2003
22.Jauh (ciptaan Glenn Fredly) 2007
23.Belum Saatnya Berpisah (ciptaan Glenn Fredly) 2003
24.Dibalas Dengan Dusta (ciptaan Glen Fredly) 2005
25.Bukan Dia (ciptaan Glenn Fredly) 2005
26.Cinta Takkan Usai (ciptaan Glenn Fredly ) 2005
27.Apa Adanya (ciptaan Glenn Fredly)
28.Katakan Kau Milikku (ciptaan Glen Fredly) 2001
29.Kisah Yang Salah (ciptaan Glenn Fredly) 2007
30.45 (ciptaan Glenn Fredly) 2007
31.Bento (ciptaan Iwan Fals/Khusnul Yakin) 1990
32.RRP Anthem (ciptaan Glenn Fredly) 2007
33.Lenggang Jakarta (ciptaan Harry Sabar) 1987
34.Mobil Mama (ciptaan Edi Timisela/Iwang Noorsaid)1998

35.Malam Itu Indah (ciptaan Iwa K)
36.Happy Sunday (ciptaan Glenn Fredly) 2007
37.Terang (ciptaan Glenn Fredly) 2006
38.You re My Everything (ciptaan Nyong Webz/Glenn/Ika/DJ Tius) 2005
39.Kisah Romantis (ciptaan Glenn Fredly) 2005
40.Januari (ciptaan Glenn Fredly) 2003
ENCORE
41.Karena Cinta (ciptaan Glenn Fredly) 2004

Menyeruaknya Psychedelia Pop

Posted: Maret 18, 2012 in Opini, Wawasan

Efek Rumah Kaca

Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya “inflasi” musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.

Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata “mengapa” yang menteror kuping.

Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata “selingkuh”, “kekasih gelap”, “bagai bintang”, “bukan pujangga”.

Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.

Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.

Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli “Zeke” Gumelar (vokal, keyboard), Iman “Babyfaced” Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo “Mugeni” Ringo (gitar), Yudhi “Sideburns” Harry Noor (bas), dan Amir “Kuro” (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.

Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.

Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).

Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:

Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati

Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:

Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:

Zeke and The Popo

Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn’t Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.

Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.

Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: “an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness”.

Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut–Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca–layak disimak.
Denny Sakrie, pengamat musik
Koran Tempo  Minggu, 21 Oktober 2007