Bubi Chen Hidup Untuk Jazz (1938 – 2012)

Posted: Maret 1, 2012 in Uncategorized

Bubi Chen, Manusia Piano

Saya terhenyak menerima berita perihal berpulangnya sang maestro jazz Indonesia Bubi Chen pada 16 Februari 2012 jam 18.50 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang.

Minggu lalu,Om Bubi, demikian sapaan akrab beliau, baru saja merayakan hari ulang tahun yang ke 74, 9 Februari 1938. Saya tiba-tiba jadi teringat pula  saat nonton konser jazz yang sangat fenomenal,7 tahun silam, tepat di tanggal yang sama saat om Bubi menghembuskan nafas terakhir.Konser itu bertajuk The Art of Duo berlangsung 16 Februari 2005 di Taman Ismail Marzuki yang menampilkan dialog antara Bubi Chen dan Indra Lesmana masing-masing pada Grand Piano Steinway. Kedua pemusik lintas generasi ini bukanlah orang baru.Sejak kecil Indra Lesmana,putera Jack Lesmana,soul mate Bubi Chen dalam bermain jazz,memang sangat dekat dengan Bubi Chen.

Om Bubi adalah orang yang sangat ramah dan selalu menyunggingkan senyum.Sahabatnya banyak,dari berbagai kalangan.Dalam bermusik,Bubi Chen adalah sosok yang fleksibel dan cair.Meskipun musik yang dimainkannya adalah jazz, tapi dia bisa diajak berkolaborasi dengan siapa saja.

Di tahun 1988, penyanyi dan pencipta lagu Doel Sumbang mengajak Bubi Chen bermain dalam albumnya bertajuk “Arti Kehidupan”.Di album ini Bubi memainkan Yamaha DX-7 dalam lagu “Suti Sumarti Rasyid” dengan beat yang bernuansa Samba Brazil. Di tahun 1989 Bubi Chen merilis album “Kedamaian” yang mempertemukan permainan pianonya dengan musik karawitan Sunda yang dimainkan oleh Uking Sukri (kecapi indung) ,Dede Suparman (kecapi rincik) dan Endang Sukandar (seruling).

Bisa saja kita menyebut pencapaian album Bubi Chen ini sebagai pernikahan yang aneh.Tapi saya condong menyebutnya sebagai dialog musik antar kultur.Bukan masalah,jika dialog ini memang tak menghasilkan harmoni yang serasi,seia-sekata dan sejenisnya.Tapi sebuah “persahabatan” telah terbingkai. Dalam liner notes album “Kedamaian”, pemusik Harry Roesli menuliskan : “Jika Bubi Chen, serang maestro piano jazz yang kita miliki saat ini, bermain bersama kecapi-suling Mang Uking, tentu masalahnya bukan sekadar gabung menggabung musik Barat dan Timur, atau tradisi dan modern. Masalahnya lebih luas dari itu, yakni eksplorasi perluasan estetika dan bisa dicatat sebagai generasi sebuah musik post modern “.

Memainkan ramuan “east meet west” semacam ini toh bukan barang baru bagi Bubi Chen yang sejak usia 5 tahun telah bermain piano. Di tahun 1967 saat tergabung dalam Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (gitar),Maryono (saxophone),Benny Mustafa (drums) dan Jopie Chen (bass), Bubi Chen selain bermain piano juga memetik instrument tradisonal kecapi. Album “Djanger Bali” yang merupakan kolaborasi Indonesian All Stars dan klarinetis jazz Amerika Tony Scott memperlihatkan sajian musik jazz dengan ambience musik etnik  Indonesia yang khas.

Seperti galibnya para pemusik jazz yang selalu siap melakukan jam session dengan siapa saja atau dengan musik apa saja, Bubi Chen pun menerima tawaran dari Piyu Padi yang meminta kesediaan Bubi mengisi permainan piano dalam lagu “Elok” yang terdapat pada album keempat Padi “Padi” (2005).

Di sampul belakang album Bubi Chen  Bila Ku Ingat (Irama,1966), pemusik Mus Mualim menuliskan komentar tentang musikalitas Bubi Chen: “seorang pianis yang sempurna, baik dalam kecepatan dan keampuhan jari-jarinya maupun dalam susunan improvisasi yang progresif dan modern. Dia adalah seorang pemain piano yang rapi dan teliti.”.

 

Kolaborasi lain yang pernah dilakukan Bubi adalah merekam album Bubi di Amerika (Hidayat Audio, 1984) bersama Albert “Tootie” Heath, pemain drum jazz yang pernah mendukung Herbie Hancock, Dexter Gordon, dan Yusef Lateef, serta pemain bas John Heard yang pernah mendukung The Count Basie Orchestra, Louie Bellson dan Oscar Peterson. Rekaman yang berlangsung di Pasadena, California, ini memainkan genre Be Bop dan Hard Bop karya Miles Davis hingga Sonny Rollins.

Kolaborasi lintas bangsa itu masih terus dilakukan Bubi Chen , misalnya ketika merilis album Virtuoso,  pada era 90an yang didukung pemusik jazz dari Australia, Singapura, dan Filipina.

Dari catatan-catatan saya tadi, bisa disimpulkan  bahwa Bubi Chen adalah seorang pemusik yang mampu melakukan dialog . Berdialog dengan pemusik jazz antarbangsa, berdialog dengan pemusik beda generasi, hingga berdialog dengan jenis musik lain di luar jazz.

Simaklah album Bubi Chen “The Many Colours of Bubi Chen” (2009) yang tampaknya   ingin mendeskripsikan penjelajahan Bubi Chen terhadap berbagai genre musik yang kemudian di make over ke dalam format jazz.

Kelumrahan semacam ini memang mengingatkan kita pada gaya Eumir Deodato,Dave Grusin,Bob James,Ahmad Jamal maupun Joe Sample di dekade 70-an maupun 80-an yang mengupayakan interpretasi jazz rock terhadap berbagai komposisi dari pelbagai genre.
Notasi asli baik dalam bentuk introduksi,tema dan interlude memang masih dipertahankan oleh Bubi Chen. Bubi terlihat mengimbuh dalam harmonisasi dan akord yang terasa beratmosfer jazz. Jelas Bubi Chen tak mau menggiring pendengarnya jauh dari notasi asli.

Yang mungkin terasa beda adalah arransemen rhythm section yang bermuara pada aksentuasi funk,Latin dan Brazillian music serta sesekali dalam terpaan musik rock.Tak ada yang menduga seorang sosok jazz legendaris  seperti Bubi Chen tertarik membawakan “Stairway To Heaven” (Led Zeppelin),”Dust In The Wind” (Kansas),”Soldiers of Fortune” (Deep Purple) serta “Holiday” (Scorpion) dalam bingkai jazz. 

Mulai dari era 50an hingga era 2000an,Bubi Chen tak pernah berhenti bermain jazz baik di panggung maupun di studio rekaman.Dalam keadaan sakit yang mendera, Bubi tetap berkomitmen untuk memainkan musik.Perjalanan karir musik Bubi Chen memang telah terdokumentasi dalam bentuk vinyl,kaset dan CD. Sebuah dokumentasi yang kelak akan diketahui pula oleh generasi setelahnya.Sejarah musik Indonesia pun mencatat bahwa Bubi Chen adalah jazz itu sendiri.

Selamat jalan Om Bubi !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s