Ketika Pemimpin Bermusik

Posted: Maret 7, 2012 in Opini

Musik, pada akhirnya, menjadi pilihan untuk lebih merekatkan jalinan silaturahmi antara pemimpin dengan rahayat. Dan jika sudah begini, maka tak syak lagi musik pun bisa berubah konotasi menjadi salah satu piranti politis. Belakangan ini banyak pemimpin dan pejabat yang masuk ke bilik rekaman dan merilis album musik. Bukan hanya di negeri tercinta ini, tapi di belahan dunia lainnya. Gejala apakah ini?

Ketika presiden SBY meluncurkan album bernuansa romansa bertajuk “Rinduku Padamu” yang juga menyertakan sederet artis musik Indonesia seperti Ebiet G. Ade, Kerispatih, Dhea Mirela dan sebagainya, maka respons seperti yang saya paparkan sebagai pembuka tulisan merebak lagi. Ada yang menyebut, album tersebut ingin mengangkat popularitas SBY yang terjungkal lantaran didera problematika panjang negeri ini mulai dari konflik politis hingga bencana alam.

Yang jelas, banyak target yang ingin digapai dengan merilis sebuah album musik. Kita mungkin masih ingat pada paruh dasawarsa 60-an presiden Soekarno juga ikut aktif terlibat dalam rilis album bertajuk “Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso” (Irama Records 1965) yang melibatkan artis kesohor saat itu seperti Bing Slamet, Lilis Surjani, Nien Lesmana, Rita Zahara dan Jack Lesmana. Saat itu bersama pemusik-pemusik yang sering diundang ke Istana, Bung Karno meracik sebuah ragam musik yang berkarakter Indonesia yaitu Irama Lenso untuk menangkal British Invasion yang sering disumpahserapahkan sebagai budaya kapitalis atau musik ngak ngik ngok. Di album ini Bung Karno pun ikut menggubah lagu.

Presiden Sukarno ikut menggubah lagu di album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (Foto Denny Sakrie)

Presiden Sukarno ikut menggubah lagu di album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (Foto Denny Sakrie)

Memang, tak semua kepala Negara mampu bermain musik, menyanyi sekaligus menggubah lagu. Selain Bung Karno, tercatat pula Raja Thailand Bhumibol Adulyadej sebagai sosok raja yang menguasai ilmu musik. Dia menulis sederet komposisi jazz dan musik tradisional Thailand. Bhumibol bahkan pernah berjam session dengan pemusik jazz legendaris seperti Benny Goodman, Jack Teagarden dan Lionel Hampton.

Dalam masa konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno melalui siaran RRI pernah memainkan lagu “Terang Bulan” untuk menyindir lawan politiknya Tengku Abdul Rachman. “Terang Bulan” sendiri adalah lagu kebangsaan Malaysia yang dihibahkan Bung Karno ke Malaysia pada dekade 50an.Lagu “Terang Boelan” yang sebetulnya juga merupakan jiplakan atas lagu Prancis itu kemudian menjadi lagu kebangsaan Malaysia dengan judul “Negaraku
Ketika SBY merilis album “Rindu Padamu”, ada pula yang menyebut ini merupakan perhatian seorang presiden terhadap seni musik tanah air. Apalagi belakangan ini, negeri jiran Malaysia banyak mengklaim lagu rakyat Indonesia sebagai khazanah musik Malaysia.

Rindu Padamu - Album SBY

Rindu Padamu – Album SBY

Tapi apapun maksud dan tujuan para pejabat merilis album dan bernyanyi, hal ini sebetulnya bukanlah hal yang baru. Daftarnya pun lumayan berderet.

Ada Jenderal Wiranto yang merilis album “Untukmu Indonesiaku” pada tahun 2000 yang menyanyikan lagu-lagu pop seperti “Tak Ingin Sendiri” karya Pance Pondaag serta beberapa lagu bernuansa patriotik dengan kemasan musik keroncong.

Kaset Wiranto Untukmu Indonesiaku

Kaset Wiranto Untukmu Indonesiaku

Amien Rais pun pernah merilis sebuah album bertajuk “Campursari Reformasi” (2004) antara lain menyanyikan empat gubahan dari Ki Narto Sabdo. Album ini beredar memang pada saat tengah berlangsung musim kampanye Pemilihan Presiden RI.

Campursari Reformasi - Amien Rais

Campursari Reformasi – Amien Rais

Jadi memang sangat sulit untuk melepaskan atmosfer penggarapan album ini diluar sebagai atribut kampanye politik.

Di tahun 1992 Bill Clinton tiba-tiba meniup saxophone dalam acara televisi “The Arsenio Hall Show”. Musik memang merupakan cerminan dari kelenturan atau fleksibiltas. Seorang jenderal yang kaku dalam tindak tanduk dan penampilan, mungkin ingin menggeser citra itu dengan bernyanyi. Tak perduli jika suaranya sember maupun sumbang.

Dan sangat sulit pula untuk selalu menampik bahwa para pejabat bernyanyi hanya karena keinginan untuk berekspresi di ranah seni musik secara murni. Sudah pasti ada muatan-muatan yang ingin direngkuh, contoh yang paling konkrit adalag ranah politik.

Jika diamati secara seksama, kualitas secara musical memang agak terabaikan. Atmosfer sensasi lah yang terasa menyelimuti kegiatan musikal para pejabat tersebut. Simaklah tiupan saxophone Bill Clinton yang berkesan biasa biasa saja.

Tapi toh, ada beberapa pengecualian, misalnya keberhasilan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman yang melesatkan hits “Tak Semua Laki Laki” karya Leo Waldy dalam industri musik Indonesia terutama dangdut. Juga ada mantan Kapolri Hoegeng yang sukses melambungkan Irama Hawaii di TVRI bersama kelompok Hawaii yang dibentuknya The Hawaiian Seniors yang antara lain didukung oleh Bram Titaley hingga Mas Yos. Tanpa pretense politik sama sekali. Musikalitas Hoegeng sangat mencuat dalam aroma musik Hawaii-nya.

Lalu ada pula Togar Sianipar mantan Kadispen Polda yang meluncurkan album “Suara Hati” dengan dukungan pemusik Rinto Harahap dan dosen musik Rizaldi Siagian. Togar sendiri sebetulnya memang pernah aktif bermusik. Pada era 1970-an bersama band kepolisian PTIK, dia sering tampil dalam acara musik di TVRI.

Dalam catatan saya, di luar Indonesia sendiri banyak sekali para pemimpin Negara yang rame-rame merilis album. Mantan presiden Zambia Kenneth Kaunda tahun 2005 silam merilis album untuk membantu para pengidap HIV. Mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi merilis albumnya yang berisikan impresinya terhadap lagu-lagu Evis Presley diantaranya “Are You Lonesome Tonight” dan “Love Me Tender” pada tahun 2001. Di tahun 1999 mantan presiden Filipina Josep Estrada pernah merilis album solo dengan diiringi sebuah orkestra lengkap.

Presiden Venezuela Hugo Chavez juga merilis album bertajuk “Canciones de Siempre” (Song For All Time). Di album ini Chavez menyanyikan lagu-lagu tradisional Venezuela. Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi merilis album bertajuk “Meglio Na Canzone“. Berlusconi tak hanya menyanyi tapi menulis sendiri lagu-lagunya.

Pada akhirnya musik memang milik siapa saja. Entah itu rakyat kecil, alim ulama, politikus, negarawan dan entah siapa lagi. Tapi jika sang pemimpin hanya bernyanyi dan bermain musik, sementara sebahagian rakyatnya masih berkubang dalam kesusahan dan kemelaratan. Apakah masalah bangsa dan Negara bisa pupus terhapus begitu saja hanya dengan bernyanyi?

(Tulisan ini di muat di majalah Soap edisi Desember 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s