Yes Tetap Yes

Posted: Maret 16, 2012 in Uncategorized

Image

Denny Sakrie bersama Rick Wakeman di Jakarta tahun 2002.

 

JIKA Rolling Stones telah menjalani masa 40 tahun berkutat di industri musik dunia tanpa henti, maka grup rock progresif, Yes, yang juga asal Inggris, telah mencapai perjalanan 35 tahun di hiruk-pikuk musik dunia. Walau tidak semassal musik Rolling Stones, banyak hal menarik yang bisa dicatat dalam retrospeksi karya-karya Yes di usianya yang ke-35 tahun ini.

Grup-grup progresif seangkatan Yes, seperti Genesis dan ELP (Emerson, Lake and Palmer) telah memasuki fase mati suri. Jika ada yang bertahan, seperti King Crimson, benang merah musiknya sudah berubah drastis, tidak lagi seperti saat mereka jaya dulu di era 1970-an.

Yes masih tetap konsisten di jalurnya memainkan genre rock progresif rock dengan subgenre “rock simfoni”. Mereka masih tetap merilis album demi album dan melakukan tur-tur panjang ke seantero jagat, termasuk mampir di Jakarta tanggal 23 September 2003 dalam paket Full Circle World Tour 2003, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.

Yes ibarat ksatria tahan banting yang senantiasa bertahan di era yang boleh jadi sarat dengan pelbagai perubahan. Lantas, apa yang membuat Yes masih memiliki nilai pukau dan pesona?

Fakta membuktikan bahwa penggemar Yes tetap besar karena mereka selalu menarik minat siapa saja, termasuk pendengar muda yang tidak mengalami zaman keemasan mereka dengan sajian yang selalu menampilkan virtuositas yang menggemaskan. Lirik-lirik lagu mereka terasa kosmik, bahkan terkadang mistis, serta memiliki tekstur musik yang kompleks. Dan, yang patut dicatat, timbre vokal Jon Anderson nyaris tidak berubah: lembut dan bertenaga.

“Mereka mampu menyiasati iklim bermusik dengan baik,” ungkap Iwan Hasan, gitaris sekaligus yang memimpin Discus, grup beraliran rock progresif. Di saat dunia tengah dilanda tren punk rock di tahun 1976, Yes masih mampu bertahan dengan lagu-lagu berdurasi pendek dalam album Going For The One maupun Tormato.

“Mereka bahkan memasukkan elemen dance music dalam lagu Owner of The Lonely Heart di tahun 1980-an, ketika dunia dilanda new wave dan dance music. Bahkan, mereka tetap tak bergeming ketika di tahun 1990-an wabah musik grunge merajai industri musik lewat grup Nirvana, misalnya,” tutur Iwan tentang kepiawaian Yes.

Yes tampaknya grup yang tegar menghadapi aneka benturan. Berbeda dengan Genesis, misalnya, yang penjualan albumnya, Calling All Stations (1997), tidak mencapai target sehingga mereka mengambil keputusan membubarkan diri. “Ketika dihantam badai Nirvana, mereka masih melahirkan album Talk yang penjualannya jauh di bawah album-album sebelumnya,” kata Iwan lagi.

Kelompok musik yang terbentuk di Birmingham tahun 1968 ini memang berbeda dengan grup progresif lainnya. Di tahun 1970-an, album-album Yes selalu menempati peringkat terlaris dalam penjualan, sekalipun tanpa ditopang sebuah single hit.

Setidaknya lima album yang berada di deretan 10 besar album terlaris versi Billboards, yakni Fragile (nomor 4 tahun 1971), Close To The Edge (nomor tiga tahun 1973), Tales From Topographic Oceans (nomor 6 tahun 1974), Relayer (nomor 5 tahun 1974), Going For The One (nomor 8 tahun 1977) dan Tormato (nomor 10 tahun 1978). Ini tentu berbeda dengan Genesis yang baru bisa menembus Hot 100 Billboards lewat Follow You, Follow Me (1978), single dengan sentuhan pop yang kuat, tanpa sedikit pun berkesan rock progresif.

Jadi, bisalah disebutkan Yes adalah grup rock progresif yang setia pada jalur progresif meskipun sempat memiliki single hit Owner of The Lonely Heart yang enak untuk dansa. “Tetapi, menurut saya, di situlah sisi progresif yang diperlihatkan Yes. Mereka memasukkan elemen musik baru tanpa harus meninggalkan jati diri yang telah ditorehkan sebelumnya,” komentar Fariz RM, pemusik serba bisa yang mengaku karya-karyanya banyak terinspirasi dari musik Yes.

Fariz pun menambahkan bahwa pergantian personel dalam tubuh Yes justru membuat musik Yes semakin kaya dan bergizi. “Ini jelas terlihat ketika terjadi pergantian personel di sektor kibor dan gitar. Musik Yes menjadi seperti pelangi penuh warna,” ujar pemusik yang menyebut Relayer sebagai album favoritnya.

Bayangkan, musik Yes, yang dari tahun 1971-1974 dibentuk oleh tipe permainan kibor Rick Wakeman yang rapi dan terstruktur bak disiplin musik klasik, harus bergeser ke gaya permainan musik jazz yang improvisatif, yang ditunjukkan Patrick Moraz, pengganti Wakeman. Atau juga gaya petikan gitar yang halus dan rapi dari Steve Howe harus berganti ke raungan gitar sarat distorsi dari Trevor Rabin.

“Jadi, karakter yang kuat dari pemusik yang direkrut masuk ke Yes itulah yang membuat musik Yes tidak statis,” kata Iwan, sarjana musik jebolan Portland, Amerika Serikat (AS) ini.

Di samping itu, Yes pun terampil melakukan trik bisnis dalam industri musik, terutama ketika mereka memperlihatkan sensasi di tahun 1991. Saat itu, dua kubu Yes yang tengah berseteru, yaitu “Yes barat” (yang terdiri dari Chris Squire, Rabin, Alan White, dan Tony Kaye) melawan “Yes timur” (yang terdiri dari Anderson, Bill Bruford, Wakeman, dan Howe) bersatu kembali di bawah panji Yes yang ditandai dengan merilis album keroyokan, Union.

Mereka juga menggelar tur akbar Reunion di tahun yang sama. Saking hebohnya berita bergabungnya para maestro musik ini, sebuah media berita yang tak pernah meliput konser-konser Yes ikut meletakkan Reunion dalam berita-berita headlines mereka.

Jauh sebelum itu, Yes yang sadar kurang atraktif dalam aksi panggung, selalu menampilkan tata panggung yang imajinatif. Ambil contoh ketika mereka melakukan tur album Close To The Edge di tahun 1973 dengan menggunakan jasa Roger Dean, seniman yang banyak menggagas sampul depan album-album Yes.

Yes menampilkan tata panggung yang membuat para penonton terpukau dan berimajinasi. “Saya jadi bengong melihat drummer Alan White dikelilingi ikan-ikan pada saat menggebuk drum,” begitu kesan Keenan Nasution, pemusik yang menyaksikan konser Yes di Madison Square Garden, New York City.

Keenan berpendapat bahwa Yes memang mempunyai strategi khusus untuk memasarkan musiknya. Selain lewat desain panggung yang berkesan surealis dan futuristis, Yes sejak album Fragile telah meminta bantuan Dean sebagai perancang grafis. Rancangan grafis Dean ini memang seolah merupakan bagian yang tak terpisah dari tema album-album Yes itu sendiri.

“Konsep grafis yang ditorehkan Dean itu nyambung dengan lagu-lagu dalam albumnya. Jadi, ada kesatuan antara sampul dengan lagu-lagunya,” papar Keenan. Akibat pengaruh Yes, Keenan juga sempat menerapkan konsep semacam ini di album-album solonya.

Memang banyak yang bisa dipetik dari Yes. Sebuah hal yang tak bisa dilupakan adalah sajian musiknya yang terasa kompleks. Pada awalnya, grup ini memang mencoba mencampurkan musik rakyat (folk) dengan musik klasik. Fusi ini lalu ditampilkan dengan sajian yang berharmonisasi tinggi.

Untuk harmoni vokal, Yes mengambil inspirasi dari duet musik rakyat, Simon and Garfunkel, serta corak koor kelompok soul, Fifth Dimension. Sedangkan beberapa repertoar klasik mereka adopsi ke dalam karya-karya Yes, misalnya saja Can and Brahms, yang merupakan interpretasi kibor elektronik atas salah satu nomor Brahms pada The 4th Symphony, atau Siberian Kathru yang merupakan adaptasi atas karya komponis klasik Rusia, Igor Stravinsky, Rites Of Spring.

Bahkan, karya Yes yang dirangkum dalam album Close To The Edge dan Tales From Topographic Oceans jelas merupakan “peniruan” atas pakem-pakem musik klasik, antara lain dengan memilah-milah impresi musik dalam beberapa bentuk movement. Makanya tak heran bila Chris Welch, seorang kritisi musik Inggris, menyebut Yes sebagai salah satu pilar berpengaruh genre musik rock progresif.

Denny Sakrie Pengamat musik

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas 2 Agustus 2003

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0308/02/Musik/467564.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s