Mendokumentasikan Karya Musik Chrisye (1978 – 2004)

Posted: April 6, 2012 in Tinjau Album
Tag:

Sekitar April tahun 2007,Indrawati Widjaja pemilik label Musica Studio’s yang kerap dipanggil Bu Acin menelpon saya.Dia mengabarkan akan membuat semacam boxset retrospektif album-album Chrisye yang pernah dirilis Musica Studio’s dalam kurun waktu 1978 hingga 2004.
Wah ini rencana luar biasa yang patut didukung.Kenapa ? Pertama ,Chrisye adalah pemusik yang saya kagumi sejak namanya mencuat lewat album eksperimental Bali Rock Guruh Gipsy di tahun 1977 serta dua proyek musiki lainnya yaitu Badai Pasti Berlalu dan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1 tahun 1977 dimana Chrsiye mempopulerkan lagu karya James F Sundah “Lilin Lilin Kecil”. Kedua,upaya pendokumentasian semacam ini rasanya jarang atau malah belum ada yang melakukannya terutama label rekaman.
Lalu Ibu Acin yang murah senyum ini menawarkan ke saya untuk menuliskan buku yang dibundling menjadi satu dengan boxset Chrisye ini.Tanpa pikir panjang lagi,saya menyanggupinya.Saat itu juga sudah terbayang dalam benak saya akan seperti apa wujud dari buku yang nantinya akan bertutur dan berceloteh terhadap karya-karya Chrisye disemasa hidupnya.
Mungkin karena passionate saya terhadap Chrisye berbuncah-buncah ,pengerjaan buku ini relatife singkat.Tak lebih dari 2 minggu saja.Beberapa pemusik yang pernah terlibat dalam penggarapan musik Chrisye saya hubungi dan saya wawancarai diantaranya adalah Yockie Surjoprajogo,Keenan Nasution,Fariz RM,Gauri Nasution,Addie MS dan Adjie Soetama.
Saat penggarapan Masterpiece Trilogy Chrisye ini saya mondar mandir ke studio Musica Studio’s yang berada dikawasan Perdatam.Saya mengusulkan ke Ibu Acin agar beberapa karya Chrisye seperti yang terdapat dalam album “Musik Saya Adalah Saya” (Yockie) diikutsertakan dalam boxset ini.Juga termasuk 3 lagu Chrisye yang dinyanyikan dalam lirik berbahasa Inggeris pada pertengahan era 80an agar dimasukkan.Namun ide saya itu tidak berhasil diwujudkan karena beberapa alas an yang dikemukakan oleh Ibu Acin.
Saya juga senantiasa brainstorming dengan Chandra Widjaja dari Musica Studio’s mengenai lay out hingga bentuk fisik dari boxset tersebut.Terus terang saya sangat menikmati pekerjaan yang satu ini.Ya sekali lagi karena kesukaan saya terhadap Chrisye ini.
Dalam buku yang terbagi tiga untuk melengkapi 3 boxset trilogy Masterpiece ini,saya menuliskan berbagai aspek musikalitas Chrisye bersama sederet pemusik-pemusik yang membantunya,juga tentang ikhwal pembuatan lagu serta proses perekaman dan lain lain.Semua saya upayakan ditulis secara rinci dan akurat.Bahkan saya diberi kebebasan pula untuk melontarkan kritik terhadap diskografi yang dihasilkan Chrisye termasuk ditemukannya unsure plagiarism dalam beberapa lagu yang dinyanyikan Chrisye.
Mbak Yanti Noor isteri almarhum juga saya libatkan dalam penggalian data penulisan buku ini.
Akhirul kalam,tanggal 16 September 2007,Trilogy Masterpiece Chrisye ini akhirnya diluncurkan bertempat di Musica Studio’s.
Boxset ini memang dicetak sangat terbatas yaitu sebanyak 1500 unit dan tidak diperjual belikan secara bebas.
Dibawah ini adalah cuplikan foreword yang saya tulis sebagai penguak isi bukunya :
Masterpiece Trilogy Limited Edition adalah album kompilasi dari penyanyi Chrisye yang merupakan kumpulan seluruh album Chrisye dari rentang waktu 1978-2004. Dalam kurun waktu kurang lebih 26 tahun berkarya, Chrisye telah menghasilkan 21 album pada Musica’s Studio. Mulai dari Sabda Alam (1978) hingga Senyawa (2004).
Gagasan merangkum seluruh karya album ini memang berasal dari alm. Chrisye sendiri sekitar 10 tahun silam, agar karya-karya yang telah tertoreh bisa dinikmati atau disimak oleh berlapis generasi, yang dahulu hingga sekarang atau nanti. Bahkan Chrisye sendiri yang mengusulkan kata masterpiece ,yang memayungi 21 albumnya dalam bentuk boxset yang terbagi dalam 3 bagian.
Secara kebetulan dari 21 album yang dihasilkan Chrisye selama 3 dasawarsa, beberapa diantaranya berbentuk trilogi – sebuah bunga rampai yang saling bertaut dalam 3 album.
Dimulai dengan trilogi Yockie-Chrisye (Sabda Alam, Percik Pesona dan Pantulan Cinta). Ada pula trilogi Eros-Chrisye-Yockie (Resesi, Metropolitan dan Nona). Kemudian trilogi Chrisye-Raidy Noor-Adjie-Gelly (Aku Cinta Dia, Hip Hip Hura dan Nona Lisa). Jangan pula dilupakan trilogi Chrisye-Yonkie Soewarno (Jumpa Pertama, Pergilah Kasih dan Sendiri Lagi). Terakhir trilogi Chrisye-Erwin Gutawa (Akustichrisye, Chrisye dan Dekade).
Trilogi ini mungkin hanya hanya sebuah kebetulan belaka, tapi hal ini memperlihatkan bagaimana Chrisye mampu menyiasati pendengarnya, untuk tak selalu terjebak menghadirkan sebuah pengulangan. Yang jelas konsep berkolaborasi dengan banyak pemusik dengan visi berbeda, merupakan gagasan untuk memperpanjang karier musiknya. Akhirnya gagasan ini berhasil diwujudkan oleh Musica’s Studio dengan boxset trilogi “CHRISYE MASTERPIECE” yang terdiri atas 21 album. Termasuk diantaranya mini album bertajuk Cintamu Telah Berlalu.
Dalam kemasan ini juga disertai tulisan berupa telaah album per album yang saya tulis,untuk memudahkan apresiasi bagi penikmat karya Chrisye. Disini ditulis tentang pelbagai kisah, dibalik kisah pembuatan lagu-lagu. Lengkap dengan komentar dari orang-orang yang mengawal Chrisye dalam proses penggarapan album-albumnya.
Denny Sakrie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s