Fenomena Fariz

Posted: April 19, 2012 in Tinjau Album

Setiap karya Fariz RM,menurut saya,selalu menjadi fenomena.Masih ingat awal pemunculan Fariz sebagai artis solo ditahun 1979 lewat album “Selangkah Ke Seberang”  ? .Konsep musiknya telah menghela kredo musikal futuristik. Bayangkan,Fariz nyaris melakukan segalanya.Dia menulis lagu, sekaligus memainkan pelbagai perangkat musik serta bernyanyi.

Jatidiri musiknya kian mengkristal saat merilis album debut “Sakura” di tahun 1980.Ada secercah atmosfer baru dalam musik Fariz yang disumbangkan pada khazanah musik Indonesia saat itu .

Pertengahan dasawarsa 80an Fariz kembali menggurat fenomena dengan eksperimentasi music yang menghasilkan  musik lewat bantuan MIDI,sebuah system programming yang mempermudah memainkan perangkat musik secara simultan dalam sebuah kendali.

Sejak awal bergelut di dunia musik , Fariz memilih memainkan musik apa saja  tanpa sekat genre sedikitpun.Fariz bermain genre pop,R&B,soul funk,blues,rock bahkan  jazz sekalipun .

Pilihan bermusik semacam ini  setidaknya menjadikan pergaulan musik Fariz menjadi lebih luas dan lebar. Fariz bisa bermain dan berkolaborasi dengan pemusik mana saja.

Fariz tetap konsisten dengan paradigma musiknya.Dia tetap menyeruak dalam kekinian yang secara lentur diadaptasinya dalam gaya bermusiknya yang tetap kukuh dan ajeg.

Jika anda menyimak penampilan mutakhir Fariz dalam album Fenomena yang musiknya ditata oleh Erwin Gutawa,dipastikan anda akan mahfum bahwa mempertahankan jatidiri bisa dilakukan dengan berkolaborasi bersama pemusik lintas generasi.Toh dengan suasana yang terasa lebih kiwari tak serta merta berubah menjadi cadar yang menutupi perangai musik yang sesungguhnya.

Kerjasama Fariz dengan Erwin Gutawa memang patut dikaji sebagai sebuah persandingan yang saling mengisi.Keduanya pernah direkat dalam sebuah kerjasama musik di awal era 80an.Di tahun 1981 Fariz mengamati potensi beberapa bakat-bakat musik yang mencuat dari tembok sekolah lewat berbagai ajang kompetisi band antar sekolah yang kerap diadakan saat itu.

Syahdan Fariz mengajak satu persatu pemusik berseragam sekolah ini bergabung dalam band yang kemudian diberinama Transs, salah satu diantaranya adalah Erwin Gutawa yang permainan bassnya diatas rata-rata itu.Transs kemudian menceburkan diri pada industri musik rekaman.

Siapa nyana 30 tahun berselang Fariz dipertemukan kembali dengan Erwin Gutawa dalam proyek musik yang melibatkan begitu banyak talenta musik dari berbagai genre di negeri ini.

Fariz masih tetap bernyanyi,masih tetap bikin lagu dan masih tetap memainkan beberapa perangkat musik.Tapi,Fariz tidak lagi seperti Fariz yang dulu,yang melakoni semua bidang dalam sebuah proses  rekaman.Kini peran peran yang dulu kerap diborongnya sendiri,mulai terpilah-pilah ke sederet pemusik yang ikut berkontribusi di album ini.Untuk penulisan lagu,terlihat sederet komposer belia yang juga telah memiliki hits seperti Glenn Fredly hingga Pongki Barata  serta komposer berbakat lainnya seperti Bemby Noor,Andre Dinuth dan Teguh D.

Pemusik yang mendukung album ini pun beragam mulai dari yang bergenre pop,rock hingga jazz.Mereka antara lain adalah Barry Likumahuwa,Nikita Dompas,Rayendra Sunito,Echa Soemantri,Indro Hardjodikoro,Andre Dinuth,Budi “Drive” Rahardjo,Edi Kemput,Denny Chasmala ,Eugene Bonty,Adhitya Pratama, Ronald Fristianto dan masih banyak lagi.

Lagu “Fenomena” diimbuh dengan aransemen modern rock yang genial.Lagu ini tampaknya membidik pendengar dari dua kubu berbeda : generasi sekarang dan generasi penikmat music Fariz di era 80an.Simak pula dua ballad yang menawarkan aura adult contemporary yaitu “Terindah” karya Glenn Fredly dan Andre Dinuth serta “Hati Yang Terang” karya Pongki Barata. Lagu yang disebut terakhir menjadi lebih bernyawa dengan sentuhan string orchestra dari Prague Concerts Orchestra.

Di album ini Fariz mendaur ulang dua karyanya di masa lalu yaitu “Belenggu Perjalanan” dari album “Sakura” (1980) serta “Selangkah Ke Seberang” dari album “Selangkah Ke Seberang” (1979). Kedua lagu ini terasa kental benang merah soul funknya.Maklumlah di zamannya ,pengaruh kelompok soul funk Earth Wind & Fire sangat menginspirasi pemusik kita.Arransemen big band dengan aksentuasi horn section yang lugas mempertegas kekuatan lagu “Selangkah Ke Seberang” yang diambil secara live pada saat Fariz RM tampil bersama Erwin Gutawa Big Band di ajang Java Jazz International Festival 2011.

Album “Fenomena” ini terdiri atas satu keping CD yang berisikan 10 lagu disertai 2 keping DVD masing-masing berisikan rekaman konser Fariz RM dan Erwin Gutawa di Java Jazz 2012 serta videoklip “Fenomena” dan Behind The Album.

Seperti biasa,seorang Erwin Gutawa tampak hirau dengan pernak pernik tata aransemen secara detil.Erwin Gutawa tampaknya berupaya keras memintal berbagai benang seperti lagu,arransemen musik serta pemusik pendukung menjadi sebuah kesatuan busana yang harmonal untuk  jatidiri Fariz RM .

Kematangan jelas menyemburat dari sosok pemusik kompilt Fariz RM yang menghadirkan karya terbarunya di usia kepala lima.Sekaligus membuktikian bahwa pemusik yang telah matang masih memiliki ruang dalam industri musik.Karena berkarya tak mengenal usia.

Selamat menikmati Fenomena – FarizImage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s