Konser Yes Diambang Senjakala

Posted: April 26, 2012 in Uncategorized
Steve Howe memainkan Fender Steel Guitar (Foto Nelwin Aldriansyah)Yes di Grand Ball Room Ritz Carlton (Foto Nelwin Aldriansyah)Tanpa kehadiran Jon Anderson Yes tetap Yes.Dan ini bukan untuk pertamakali Yes tampil tanpa Jon Anderson sang vokalis utama sekaligus founder dari Yes.Dibanding Trevor Horn atau Benoit David,dua vokalis yang pernah menggantikan posisi vokalis asli Yes Jon Anderson, maka Jon Davison yang tadinya adalah vokalis dari Roundabout,band tribute Yes Amerika tampaknya memiliki kemiripan dengan Jon Anderson.Mulai dari potongan rambut,postur tubuh,gaya berpakaian hingga timbre vokal.Dengan kehadiran Jon Davison yang sebetulnya juga terampil bermain bass ini setidaknya menjadikan dahaga para penggemar musik Yes yang memenuhi Grand Ball Room Ritz Carlton Pacific Place Jakarta pada selasa 24 April 2012 terpupuskan.”Tapi saya tak berusaha mengimitasi Jon Anderson,suara saya memang seperti ini” urai Jon Davison saat saya interview sehari sebelum konser digelar.
Ketika introduksi lagu Yours Is No Disgrace yang diambil dari album “The Yes Album” (1971) menggema di ruangan yang dipenuhi sekitar 1500 penonton itu applause riuh memenuhi segenap ruangan.Yes  yang  terdiri atas Chris Squire (bass,vokal),Steve Howe (gitar,steel guitar,mandolin),Alan White (drums),Geoffrey Downes (keyboard,vokal) memulai konsernya jam 20.30 WIB.Konser Yes di era 2012 ini jangan dibandingkan dengan saat jaya mereka dulu pada dekade 70an hingga 80an.Sebagian dari mereka memang sudah tidak muda lagi.Chris,Steve dan Alan telah memasuki usia kepala 6. Jadi tak heran jika pada lagu “And You And I” ( dari album  Close To The Edge 1971) dan “Heart of Sunrise”  (dari album Fragile,1971) pola drumming Alan White agak kendur bahkan cenderung lamban.Hal serupa juga terdengar dari respon bass yang ditorehkan Chris Squire. Energi mereka jelas tak seperti gumpalan magma yang menderitkan permukaan panggung lagi.Saat itu usia mereka baru menginjak kepala dua.Stamina masih meletup-letup.Sangat tidak bijaksana jika menilai musikalitas mereka disaat sebagian anggota Yes telah diambang senja.
Saat pertunjukan berlangsung sebagian penonton membagi komentar di social media seperti twitter dan facebook,mulai dari yang memuja kepiawaian Yes dalam bermusik yang tak luntur hingga yang merasa kecewa dengan degradasi stamina dari personil Yes saat tampil di pentas pertunjukan.Salah satu twit berbunyi seperti ini : Akhirnya gw harus meninggalkan Concert Yes lebih awal karena mereka sdh kehilangan rohnya….
Mungkin sebagian penonton masih terpukau dengan kemercuaran pentas Yes era 70an yang tata artistiknya ditangani dan digarap langsung oleh seniman grafis terkenal Roger Dean,orang yang jugta merancang sebagian besar sampul album dan juga logo Yes.
Namun yang pantas dicatat adalah bentuk konsistensi Yes meniti genre musik yang mereka pilih sejak terbentuk di tahun 1968 oleh Jon Anderson dan Chris Squire.Benang merahnya tetap rock progresif.Tapi tetap membentuk transformasi yang bergeser dari era ke era. Sejak merilis album “Tormato” di tahun 1978 Yes mulai menghilang kebiasaan menulis lagu dengan durasi panjang. Ditahun 1983 Yes mulai menyeruak ke dalam aura musik yang lebih light dan catchy lewat album “90125”,tentunya lewat lagu “Owner Of A Lonely Heart” dengan sound yang lebih tebal kekiniannya lewat racikan gitar Trevor Rabin.
“Kami memang selalu berubah dan berubah” timpal Chris Squire saat wawancara dengan saya di Grand Ball Room Ritz Carlton.Saya mahfum.Yes pernah mengubah arahan musiknya menjadi lebih tebal dan keras pada saat pembuatan album “Drama” (1980).Salah satu lagu dari album “Drama” pun dihadirkan semalam yaitu ”Tempus Fugit”, saat itu Yes baru saja merekrut Geoffrey Downes dan Trevorn Horn sebagai personil baru Yes.Permainan gitar Steve Howe seolah meninggalkan habitatnya sebagai gitaris progresif rock,lebih keras dan lugas.Terbentuknya band Asia di tahun 1982 sebetulnya seperti ingin memenuhi obsesi Steve Howe dan Geoff Downes untuk menampilkan nuansa rock yang sifatnya lebih massal.
Repertoar yang ditampilkan Yes dalam konser yang digelar oleh Variant Entertaintmen dan Melon Indonesia ini seperti ingin menghampar kronologis perjalanan music Yes dari dulu hingga sekarang.Dari saat mereka disanjung sebagai band progresif rock terdepan di era 70an hingga gelimang popularitas di era 80an saat memasuki wilayah rock yang cenderung mainstream dan massive.Struktur lagu yang cenderung epic pada era 70an tertuang pada lagu “And You And I” yang dipilah dalam 4 part yaitu “Cord of Life” ,”Eclipse”,”The Preacher The Teacher” dan “Apocalypse “ atau  lagu “Heart of Sunrise” yang berdurasi sekitar 12 menit itu
Yes ,semalam,tampaknya ingin memberikan pelajaran pada penonton bahwa mereka adalah salah satu dari pelopor progresif rock dizamannya.Saya mencatat setidaknya ada 4 komposisi yang diambil dari album “The Yes Album” (1971) yaitu Yours Is No Disgrace”,”I”ve Seen All Good People”,The Clap” dan “Starship Trooper”.Lagu yang disebut terakhir ini selalu dibawakan Yes saat manggung dari era 70an hingga kini.Lagu ini menurut saya merupakan masterpiece Yes yang tetap hijau.Lagu dengan durasi lebih dari 10 menit ini terbagi dalam 3 movement yaitu “Life Seeker”,”Disilussion” dan “Wurm” yang masing masing ditulis oleh Jon Anderson,Chris Squire dan Steve Howe. Saat di panggung bagi saya yang menarik adalah pada movement “Wurm” yang menampilkan permainan gitar Steve Howe dengan aura spacey lewat efek flanger yang membuat kita seperti terpental ke awang-awang.
Steve Howe menjadi fokus perhatian dalam konser Yes yang pertamakali dilangsungkan di Jakarta.Howe mengedepankan permainan Fender steel guitar yang dimainkan dengan menggunakan slide pada lagu “And You And I”.Bahkan Howe bermain solo gitar akustik dengan gitar Theo Scharpach SKD masing-masing lagu “Solitaire” yang diambil dari album “Fly From Here” dan “The Clap” dari album “The Yes Album”.Lagu “The Clap” ini menurut Steve Howe ditulis untuk menyambut kelihatan putranya Dylan Howe.Komposisi akustik folk ini sangat dipengaruhi lagu “Fingerbuster” Davy Graham,gitaris folk Inggeris .
Karena tur konser ini dikaitkan dengan promo album “Fly From Here”,Yes banyak menampilkan lagu lagu dari album tersebut.Meskipun sebagian penonton kurang mengenal lagu-lagunya.Toh ketika Yes membawakan “We Can Fly From Here” yang terdiri atas 5 bagian suita serta lagu lainnya seperti “Into The Storm” maupun,”Life On A Fim Set”,penonton tetap memberikan respon applause.
Apaluse berkepanjangan dan diikuti dengan karaoke massal berlangsung saat “Owner Of The Lonely Heart” dijejalkan ke penjuru ruang Grand Ballroom.Lagu ini memang merupakan lagu yang paling sukses disepanjang perjalanan musik Yes.
Tanpa terasa sekitar 150 menit Yes memperlihatkan kemampuan musikal yang luar biasa.Encore Roundabout pun disambut penonton penuh sukacita. Komposisi yang memiliki cadenza ini seolah sebuah kantata yang dinyanyikan dalam ritual komunitas.Meski tanpa lighting dan tata panggung yang surealis seperti yang telah menjadi trademark panggung Yes bertahun-tahun,toh dengan repertoar yang representative diimbuh multimedia yang terus melatari penampilan Yes,rasanya band ini masih tetap yes……!!!!.
 
Foto Foto : Nelwin Aldriansyah
 
 
Iklan
Komentar
  1. CutAyu berkata:

    Dari mana asal nama Yes Om?

  2. allin berkata:

    lho fotographer Nelwin Aldriansyah sejak kapan suka Yes (art rock)?????? setau gw di sma doyannya metal, hehehe….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s