Arsip untuk Juli, 2012

Mick Jagger 69 Tahun

Posted: Juli 26, 2012 in Uncategorized

Irvan sahabat saya adalah pengagum berat Mick Jagger.Semua gaya Mick Jagger ditiru habis, termasuk life style hedonis materialistik Mick  Jagger. Irvan saat itu jarang sadar.Sering mabuk mabukan dan nyetun.Saking tergila gilanya dengan si dower Mick Jagger,Irvan hanya menyimak The Rolling Stones.Bagi dia musik terindah dan terbagus yang tercipta di muka bumi ini hanyalah The Rolling Stones.It’s only rock n roll, but I like it.Suatu hari tercetus dari mulut Irvan bahwa dia akan memasang bendera setengah tiang jika Mick Jagger sang idola meninggal dunia.Ketika Mick Jagger bermuhibah ke Jakarta dalam konser akbar di Stadion Utama Senayan yang berujung dengan bakar-bakaran mobil diluar stadion di tahun 1988 ,Irvan pun berada diantara kerumunan penonton yang mengelu-elukan Mick Jagger. Iravn bahkan sempat menerobos kerumunan wartawan saat Mick Jagger tengah melakukan konperensi pers sebelum konser berlangsung.Irvan seperti telah bertemu dengan rasulnya saat itu.

Sayangnya setahun kemudian Irvan berpulang kerahmatullah akibat kecelakaan lalu lintas.Pupus sudah impiannya untuk menaikkan bendera setengah tiang jika Mick Jagger berpulang.Itu adalah obsesi Irvan yang dibawanya hingga ke liang lahat.Dua puluh empat tahun setelah Irvan meninggal dunia,Mick Jagger masih segar bugar.Masih melakukan konser dengan The Rolling Stones yang tahun ini genap separuh abad.Bahkan Mick Jagger menjadi vokalis utama pada sebuah kelompok musik eklektik Super Heavy.

Dan hari ini kamis 26 juni 2012,Mick Jagger yang bernama lengkap Michael Phillip Jagger genap berusia 69 tahun. Jagger masih berjingkrak jingkrak mengitari panggung yang luas.Dia masih tetap menyanyikan I Can’t Get No Satisfaction.Tak pernah puas dalam lingkaran hedonistik.Hidupnya dikelilingi para wanita cantik.Mick Jagger memperoleh 7 putera puteri  dari 4 wanita mulai dari Marsha Hunt,Bianca De Macias,Jerry Hall dan  Luciana Gimenez.Jagger bahkan telah memiliki 4 cucu.Kisah romansanya dengan sederet wanita pun menjadi penghias lembaran majalah dan tabloid gossip.Mulai dari Marianne Faithfull,Anita Pallenberg, Chrissie Shrimpton,Pamela Des Barres,Bebe Buel,Uschi Obermaeier,Carly Simon,Margareth Trudueau,Mackenzie Phillips,Janice Dickinson,Carla Bruni,Sophie Dahl,Angelina Jolie dan entah siapa lagi.Kredo hedon sex,drugs and rock n’roll memang layak disematkan pada sosok Mick Jagger.

Christopher Anderson salah satu penulis biografi Mick Jagger menyebut Mick Jagger sebagai “one of the dominant cultural figures of our time“.Anderson pun mengimbuh bahwa Mick Jagger adalah “story of  a generation“.

Mick Jagger dan The Rolling Stones adalah oposisi the Beatles. Mick Jagger adalah bad boy yang fenomenal dalam konstelasi budaya pop sejak paruh era 60an.Era yang sarat dengan berbagai gerakan politik dan gerakan budaya yang merebak diseantero jagad.Sebuah era dimana generasi muda dengan budaya pop yang mereka pilih secara terang terangan dan lugas menggugat tirani dan kemapanan yang nyaris tak tersentuh dan tergapai.

Di era 60an ini The Rolling Stones dengan ksatria kembar Mick Jagger dan Keith Richard mulai menghasut generasi muda dalam bingkai kontra kultur lewat rock and roll.Mereka membangun semangat anti kemapanan yang mengkristal .Mick Jagger pun menjadi ikon.Mick Jagger menjadi berita yang tak habis habisnya ditulis para jurnalis.Mick Jagger mencuat dengan berita berita penyalahgunaan narkotika,pengumbaran seksualisme baik di panggung maupun rekaman melalui lirik lirik lagu yang provokatif.

Mick Jagger pun menumbuhkan penafsiran masyarakat terhadap imaji biseksualitas misalnya saat muncul dalam film Performance (1970).Di film layar lebar itu Mick Jagger berperan sebagai Turner yang biseksual.Belum lagi gossip yang merebak perihal hubungan tak lazim antara Mick Jagger dan David Bowie.Saat itu Jagger menggambarkan dirinya sebagai seorang anarkis sejati.Di tahun 1968 Jagger bergabung dalam para demonstran yang menggelar demosntrasi menentang Perang Vietnam di depan Kedutaan Amerika Serikat di London Inggeris.Kegiatan bernuansa politis ini lalu ditulisnya dalam lagu Street Fighting Man :

Hey! think the time is right for a palace revolution
But where I live the game to play is compromise solution
Well, then what can a poor boy do
Except to sing for a rock n roll band
Cause in sleepy london town
There’s no place for a street fighting man

Mick Jagger selalu bergelimang dengan kontroversi.Entah itu dalam perilaku maupun kreativitas yang dituangkannnya dalam bermusik.

Kehadiran Mick Jagger dalam budaya pop memang meresahkan orang tua.Mick Jagger lebih berbahaya dari Elvis Presley yang juga sempat menjadi kekhawatiran orang tua maupun pemuka agama serta pemerintah.Elvis mungkin hanya menimbulkan teriakan teriakan histeris para gadis remaja hingga gerakan gerakan pinggul yang sexist.Tapi kekhawatiran terhadap Mick Jagger lebih dari itu.Penafsiran atas lagu seperti Symphaty For The Devil,menempatkan Mick Jagger dan The Rolling Stones pada deretan virus berbahaya yang harus digerus.

Penulis novel Phillip Norman menyebutkan bahwa bahaya moral yang ditularkan Elvis hanya sebatas fisik belaka,tapi Mick Jagger justeru mempengaruhi hingga ke pola piker anak muda.Celakanya,justeru anak muda merasa memperoleh sebuah pembenaran atau legitimasi berdasarkan pola tingkah Mick Jagger yang mbalelo dan selalu keluar dari jalur moralitas.

Perilaku Mick Jagger pada akhirnya menembus batas gender termasuk meruntuhkan maskulinitas gender serta pembaptisan etika seksualitas yang plastis dan lentur.Dan kredo sex,drugs and rock and roll memang hanya pantas disandang Mick Jagger.

Di paruh era 70an dalam sebuah wawancara Mick Jagger sempat mengangsur wacana bahwa dia ingin mati di usia 40 tahun.Kenapa ? Karena menurut Mick Jagger (saat itu) music rock and roll tak pantas dinyanyikan oleh orang tua.Mick Jagger bahkan sempat mengukuhkan keinginan untuk pensiun dari musik.Tapi toh ternyata Mick Jagger malah melanggar statemen yang pernah dicuatkannya itu.The Rolling Stones tetap bergulir baik dalam konser pertunjukan maupun rilis album.

Jimi Hendrix,Brian Jones,Janis Joplin,John Lennon atau Andy Warhol telah lama berpulang.Ikon pop kultur mungkin menyisakan Mick Jagger. Tahun ini The Rolling Stones bahkan merayakan ulang tahun yang ke 50.Mick Jagger yang telah menjadi seorang kakek init oh  masih tetap berjingkrak jingkrak kesana kemari.Mulutnya yang dower masih terus melantunkan I Can’t Get No Satisfaction,tanpa henti ,tanpa jeda dan tanpa pernah merasa puas :

When I’m ridin’ round the world
and I’m doin’ this and I’m signing that
and I’m tryin’ to make some girl
who tells me baby better come back later next week
’cause you see I’m on losing streak.
I can’t get no, oh no no no.
Hey hey hey, that’s what I say.

Lord Of The Rock

Posted: Juli 20, 2012 in Uncategorized

ImageSebulan setelah merayakan hari ulang tahun yang ke 71 pada 9 juni, Jon Lord maestro rock keyboard berpulang pada 16 juli 2012 karena kanker pancreas di Rumah Sakit The Clinic London.Jon Lord yang membentuk band hard rock Deep Purple pada tahun 1968 dikenal luas di Indonesia.Terutama karena sejak awal 1970an music Deep Purple sangat popular dikalangan remaja kita.Bahkan  pada tanggal 4 dan 5 desember 1975,Deep Purple tampil dengan gegap gempita di Stadion Utama Senayan Jakarta atas prakarsa Buena Ventura Jakarta dan majalah Aktuil Bandung.

Penampilan Deep Purple di Jakarta ternyata menjadi kawah inspirasi bagi para pemusik rock Indonesia termasuk pola permainan keyboard atau organ Hammond B3 Jon Lord yang dianggap memnbawa referensi baru.Di Indonesia saat itu instrument organ yang kerap dipergunakan dalam konser band band rock adalah organ Farfisa.God Bless,band rock yang dibentuk tahun 1973 ternyata menggunakan organ Hammond.Yockie Surjoprajogo mungkin adalah salah satu pemain keyboard yang sedikit banyaknya terpengaruh dengan pola permainan keyboard Jon Lord yang bias ditelusuri pada album debut God Bless di tahun 1976.

Penampilan Jon Lord dengan perangkat keyboardnya di Jakarta pada tahun 1975 memang sangat memukau penonton.Penonton terkesima dengan solo keyboardnya yang luar biasa.Lord pun mengundang simpati 60 ribu penonton yang memnadati stadion utama Senayan dengan memainkan cuiplikan lagu “Burung Kakatua” dan hymne karya Kusbini “Bagimu Negeri”.

Sejak gimmick itu dipertontonkan Jon Lord di Stadion Utama Senayan Jakarta, beberapa band rock Indonesia mulai ikut-ikutan menytisipkan ekserp lagu Bagimu Nergeri saat menggelar konser di panggung panggung pertunjukan. 

Dalam konstelasi musik rock menurut saya setidaknya ada 3 pemusik yang memiliki karkater kuat dalam memainkan organ Hammond B3.Mereka adalah Keith Emerson dari Emerson Lake and Palmer,Rick Wakeman dari Yes dan tentunya Jon Lord dari Deep Purple.Hammond B3 adalah organ yang ternyata mampu memberikan ruang bagi para penggunanya untuk menggali bunyi-bunyian yang signatural serta tekstural.Baik Wakeman,Emerson maupun Lord sama sama memiliki karakter permainan Hammond yang berbeda dan mudah dikenali. Padahal baik Wakeman,Emerson dan Lord adalah tiga pemusik yang sama sama menyandingkan dua genre musik yang berbeda yaitu klasik dan rock.

Jon Lord mermang dibesarkan dari keluarga yang menggandrungi musik klasik.Bayangkan usia 5 tahun,Lord telah memainkan repertoar klasik melalui tuts piano.Perngaruh musik klasik jelas termaktub dalam karya-karyanya saat mengembangkan musik hard rock.Lord dipengaruhi struktur organ dalam karya-karya Johann Sebastian Bach,termasuk diantaranya mengadopsi karakter musiknya lewat karya klasik Edward Elgar.

Sebagai penggila musik sejati ,Jon Lord tak hanya terpukau dengan jaman keemasan musik klasik  melainkan juga menggali musik blues hingga jazz sekalipun.Lord seperti ingin menelusuri berbagai ragam musik dari era yang berbeda.Lord menyukai sound-sound organ yang kasar tapi ekspresif seperti yang diperlihatkan tiga organist yang kerap memainkan blues dan jazz  di era 50an dan 60an seperti Jimmy Smith,Jack McDuff dan Jimmy McGriff.Inspirasi bermain piano secara liar diraupnya dari gaya pianis rock and roll Jerry Lee Lewis.Pemusik jazz yang diidolakannya itu bermain sarat ekspresi pada bilah tuts Hammond B3.Trademark dari bunyi Hammond B3 adalah saat dipadukan dengan Leslie Speaker yang mampu menghasilkan raungan menderu deru bak tornado.Keinginan Jon Lord untuk membentuk band rock kian meletup seusai melihat konser band  rock Vanilla Fudge asal Amerika Serikat pada tahun 1967.Lord terkesima dengan permianan Hammon B3 dari Mark Stein yang juga mnerangkap sebagai vokalis Vanilla Fudge.

Karir music Jon Lord secara professional mulai dilakukannya sejak pindah dariu Leicester ke London pada tahun 1960.Jon Lord mengawalinya dengan bergabung bersama band jazz the Bill Ashton Combo .Antara tahun 1960 dan 1963 Lord mendukung ther Don Wilson Quartet.

Di tahun 1964 Jon Lord mulai meniti karir sebagai seorang pemusik studio diantaranya bermain piano dan organ untuk lagu “You Really Got Me” (The Kinks,1964) bersama gitaris Jimmy Page yang kelak membentuk Led Zeppelin.Di tahun yang sama pula,Jon Lord bersama vokalis Arthur “Art” Wood membentuk band blues rock The Artwood.Lord lalu bergabung dengan The Flower Pot Man. Tahun 1967 Jon Lord membewntuk The Roundabout bersama bassist The Flower Pot Man Nick Simper juga bersama vokalis Rod Evans, drummer Ian Paice serta gitaris Ritchie Blackmore .Tak lama berselang Roundabout mengganti nama menjadi Deep Purple.

Jon Lord mengemnbangkan sound Hammond B3 nya yang bersimbiose mutualisme dengan Leslie Speaker serta kemudian ditunjang dengan amplifikasi Marshall.Sound Hammnond B3 yang dahsyat dan bergemuruh itulah yang menjadi cirri tak terpisahkan dari diri seorang Jon Lord dalam Deep Purple maupun proyek proyek musik solonya yang dirintis sejak tahun 1971.

Dominasi Jon Lord sangat terasa pada saat Deep Purple muncul dengan album debut di tahun 1968.Sinergi klasik dan rock terasa sangat kokoh membentengi musik Deep Purple.Eksperimentasi Lord dengan menjejalkan klasik dan rock sangat terasa pada 3 album Deep Purpler pada akhir decade 60an seperti “The Book of Taliesyn”,”Deep Purple” dan “Concerto For Group and Ortchestra”.Album yang disebut terakhir itulah bukti obsesi terbesart Jon Lord dalam mengwinkan music rock dan klasik secara orkestral.  Ketiga album ini memang terasa sangat eksperimantalis.Jon Lord tampak serius melakoni eksperimentasi music ini dengan sosok musik klasik Malcolm Arnold yang juga bertindak sebagai konduktor dalam proyek rekaman yang direkam secara live di gedung Royal Albert Hall pada 24 September 1969.

Ambisi Jon Lord menggabungkan musik klasik yang elegan dan musik rock mbalelo menjadikan Deep Purple memperoleh sorotan dalam industri musik.Di tahun 1973 dalam majalah NME edisi Maret 1973 Jon Lord mengelurarkan statemen :”We’re as valid as anything by Beerthoven”.

Namun sejak album “In Rock” (1970),Jon Lord harus meredam ambisinya memainkan fusi antara klasik dan rock.Obsesinya terhadap tatanan klasik dilampiaskannya pada beberapa proyek album solonya yang dimulai dengan merilis album “Gemini Suite” (1972) dan “Windows” (1974) yang banyak terinspirasi dengan gaya komposer klasik Johann Sebastian Bach.Jon Lord menumpahkan gagasan musiknya secara orkestral seperti yang telah digagasnya sejak album “Concerto For Group and Orchestral” bersama Deep Purple pada tahun 1969.

Eksperimen simfonia rock Jon Lord ini berlanjut ke album berikutnya “Sarabande” yang menampilkan 8 komposisi klasikal yang mengacu pada era baroque dan berbaur dengan anasir rock yang kokoh dan gagah.

Setelah mundur dari Deep Purple di tahun 2002, semangat bermusik tak luruh dan memudar malah kian membara.Jon Lord tetap produktif merilis beberapa album klasikal hingga blues.

Tahun 2006 Jon Lord menghasilkan dua komposisi klasikal yaitu “Boom of The Tingling Strings” dan “Disguise (Suite For Strings Orchestra)”.Lalu di tahun 2010 Lord merilis album “To Notice Such Things”,sebuah album yangt berisikan enam suite movement untuk solo flute,piano dan string orchestra.

Rick Wakeman,mantan keyboardis Yes dan sahabat Jon Lord mengungkapkan bahwa sebelum Jon Lord jatuh sakit,mereka berdua telah berencana menulis komposisi klasikal bersama-sama sekaligus menjadikannya sebuah album.”Tapi ternyata Jon Lord telah kembali” tutur Rick Wakeman.  

Selamat jalan Jon Lord, Lord Of The Rock……!!!

jon-lord-close-corbis-660-80

Posted: Juli 20, 2012 in Uncategorized

jon-lord-close-corbis-660-80

41 tahun silam, 3 Juli 1971 Jim Morrison sang pujangga rock and roll meninggal dunia.Dia ditemukan telah tak bernyawa oleh Pamela Courson kekasihnya dibathtub apartemen  di 17 Rue Beautreillis  yang disewanya di Paris.Pamela adalah kekasih putus nyambung Jim Morrison.Jim ke Paris ,menurut Laurie historian Jim Morrison, dalam rangka untuk lebih total menjadi penulis.Jim ingin menjadi penyair.Namun kebiasaan buruk Jim menenggak alcohol menjadikan keadaan dirinya jadi kian runyam.Dalam sehari Jim mampu menenggak dua hingga tiga botol whiskey tanpa henti.”Jim benci jarum suntik dan tidak pernah menggunakan heroin sama sekali” urai Laurie.

Selama di Paris,Jim menelusuri pelosok kota menguak keingintahuannnya tentang para penyiar dan pujangga seperti  Charles Baudelaire  hingga Ernest Hemingway .Jim pun sempat pula menginap di L’Hotel at 13 Rue des Beaux Arts , tempat dimana pujangga Oscar Wilde meninggal dunia pada 30 November 1900.Beberapa minggu sebelum ditemukan tewas di apartemennya,Jim sempat berziarah dimakam Oscar Wilde.Jim sangat terkesan dengan makam Oscar Wilde.

Dalam buku “The Tombstone Tourist” yang menulis tentang ziarah ke makam para penghibur dunia seperti Billie Holiday,Miles Davis,Joey Ramone,Elvis Presley termasuk Jim Morrison,Scott Stanton menulis detil perihal detik-detik kematian Jim Morrison : Menurut Pamela Courson,dia dan Jim pergi ke bioskop nonton film klasik “Pursued” (1947) yang dibintangi Robert Mitchum.Lalu Jim dan Pam kembali ke apartemen.Sebelum tidur mereka  berdua sempat menonton beberapa film Morrison.Sejam kemudian Pam terbangun karena Jim tersedak dalam tidur.Pam lalu menyadarkan Jim yang kemudian memngeluarkan muntah darah di kamar mandi.Jim menolak upaya Pam memanggil dokter karena merasa sudah lebih baik.Jim kemudian masuk kebathtub untuk mandi.Pam kemudian meneruskan tidurnya.Ketika Pam terbangun jam 8 pagi dia menemukan Morrison dalam keadaan tidak sadar di dalam bathtub.Tetesan darah segar mengucur dari hidung Morrison.Pam lalu memanggil sahabatnya Alan Ronay pada jam 8.30,dan kemudian memanggil tim emergency.Petugas lalu menarik tubuh Morrison keluar dari bathtub dan membaringkannya di tempat tidur seraya memijat mijat jantung jim.Tapi ternyata Jim telah tiada.

Dalam buku “The Tombstone Tourist” ini juga Scott Stanton menulis bahwa jenazah Morrison tidak diautopsi.Bahkan Pamela Courson  konon tak mengingat siapa nama dokter yang menandatangani sertifikat kematian Jim Morrison.

Prasangka perselingkuhan,pengkhianatan dan konspirasi menebar di episode terakhir kehidupan Jim Morrison dan belahan jiwanya,Pamela Courson.

Pada hari senin 5 Juli 1971, berkelebat rumours di Amerika Serikat bahwa Jim Morrison telah tiada.Manajer Bill Siddon tak perduli dengan kabar angin itu.Tapi setelah menelpon Pam untuk memastikan kebenaran berita kematian Morrison,Siddon langsung terbang ke Prancis.Setiba di Paris,Pam menunjukkan peti mati dan sertifikat kematian kepada Bill Siddon di apartemen tanpa melihat jenazah Morrison sama sekali.Pada hari rabu 7 Juli pemakaman Jim Morrison berlangsung di Pere Lachaise yang hanya dihadiri 5 orang saja tanpa adanya pihak keluarga maupun sahabat Morrison termasuk anggota The Doors.Mereka sama sekali tak dihubungi.Enam hari setelah kematiannya,barulah Jim Morrison diberitakasan secara resmi telah meninggal dunia.

Ray Manzarek pun berupaya menakwilkan kematian sahabatnya Jim Morrison dalam buku bertajuk “Light My Fire – My Life With The Doors” (1998).Pada chapter pertama buku ini Ray Manzarek menguraikan bahwa mereka,The Doors, hampir tidak mengetahui kematian Jim Morrison yang sesungguhnya di Paris : “Rumours,innuendos,self-serving lies,psychic projections to justify inner needs and maladies, and just plain goofiness cloud the truth .There are simply too many conflicting theories.

Ray Manzarek dalam bukunya itu banyak menuliskan tentang kejanggalan kejanggalan dalam proses berpulangnya Jim Morrison.Manzarek melihat telah terjadi semacam konspirasi yang mengorbankan sahabatnya sejak kuliah sinematografi  di UCLA itu.

Dalam buku bertajuk Jim Morrison Life,Death,Legend (2004) yang disusun penulis biografi rock Stephen Davis ditulis bahwa Ray Manzarek marah besar terhadap manajer The Doors Bill Siddon yang tidak memeriksa keberadaan jenazah Jim Morrison di Paris.: Ray Manzarek was angry that Bill Siddon hadn’t insisted on seeing  Jim’s body.,and for years Ray seemed not to believe that was Jim actually dead

Kesimpang siuran mengenai kisah hidup dan kematian Jim Morrison ini pada akhirnya menjadi lahan bagi penerbitan sederet judul buku perihal Jim Morrison dan The Doors.Beberapa diantaranya adalah seperti “This Is The End…My Only Friend : Living and Dying (1991) oleh Judy Hudleston,”Riders On The Storm : My Life With Jim Morrison” (1991)  oleh John Densmore,”  Break On Through :The Life and Death of Jim Morrison (1992) oleh James Riordan,”No One Here Gets Out Alive” (2006) oleh Jerry Hopkins dan Danny Sugerman ,Morrison A Feast of Friends (1991) oleh Frank Lisciandro ,The Lizzard King Was Here : The Life and Times of Jim Morrison in Alexandria Virginia (2006) oleh Mark Opasnick dan masih banyak lagi.Oliver Stone kemudian membuat film tentang The Doors dengan fokus pada kehidupan Jim Morrison yang sarat pernak-pernik hedonis materialistik.

Jim Morrison adalah ikon rock yang berhasil menembus batas waktu dan lintas generasi.Sosok penghibur Amerika yang sarat sihir.Jim adalah penyair urakan yang sesungguhnya.Hidup dalam pelukan hedonistik.Tragisnya akhir hayat Jim Morrison  pun diperdebatkan .Tak ada yang melihat jasadnya.Ada yang tetap beranggapan bahwa Jim masih hidup..Walau telah berakhir,tetapi hikayat Jim  Morrison masih tetap bercadar misteri tak berujung.

This is the end
Beautiful friend
This is the end
My only friend, the end

It hurts to set you free
But you’ll never follow me
The end of laughter and soft lies
The end of nights we tried to die

 

Tapi yang pasti karya karya Jim baik puisi maupun musik memang masih hidup,masih bersemayam di sanubari penggemarnya atau yang bakal jadi penggemarnya.Jika ada yang pernah menyebut Jim Morrison “an angel in grace and a dog in heat”,maka saya pun mengangguk.Bagaimana dengan anda ?

Bram MakahekumKelompok Kampungan YogyakartaKelompok Kampungan (“Village People”)  emerged as one of the ethnical folk rock fusion group of the mid 70’s through early 80’s.They’re came  from Yogyakarta,Central of Java,Indonesia. This eclectical group who makes bewitching music was formed by Bram Makahekum an alumnus of WS Rendra’s Bengkel Theater,an Indonesia  famous theatrical group in the mid of 70’s.They present  once again the richness and important characteristics of Indonesa ethnical music which develop in the Indonesian archipelago and was enriched by a number of breakthrough from folk,jazz,classical even rock essence.Kelompok Kampungan played their original music stuff with acoustic instruments.At the time ,this was seen as a means of creativity, I called it a new direction for folk meets ethnic music and as a way of attracting the kinds of large audiences enjoyed by rock musicians.

The original members of  Kelompok Kampungan  were Bram Makahekum (lead vocalist,acoustic guitar,songwriter),Edi Haryono (Java percussions  ,Arabian percussions) ,Agus Murtono (violin,Bali percussions,cabassa),Rudra  Setiabudi (Flute,oboe,guitars,Java percussion ),Agus Salim (cello,Java Gamelans),Kelik (acoustic guitar,Java Percussions),Joko Surendro (violins,guitar,Java Gamelan) ,Areng Widodo (bass electric,Java Gamelan),Doddy Precil (Back up vocals,percussions),Sawung Jabo (vocalist,acoustic guitar,percussions) ,Innisisri (Bali drums,Drums Kit,percussions),Bujel (flute,gong).Bram Makahekum was also leader of the band and Agus Murtono was a music director.With only Bram Makahekum remaining in place throughout  the band’s life pan.

Bram Makahekum ,Sawung Jabo,and Edi Haryono all had experience playing music score for Bengkel Theater,a group of  theater led by artist WS Rendra,with Java Gamelan orchestration called Nyai Pilis.Innisisri have experienced with various rock group like The Lheps,Spider,Amudas and many others.Areng Widodo was bass player from a rock band called Golden Wings. And the others came from Akademi Musik Indonesia (Indonesia Music Academy) alumnus.

The embryo of  Kelompok Kampungan  started out in the mid of 1970s that supported Bengkel Theater play ’s performing.Bram Makahekum  was the center of the stage with  the blending of singing and poetry reading.His voices was expressive and distinctive .

In 1977 Bram Makahekum with his friends officially formed Kelompok Kampungan as a musical groups.Kelompok Kampungan for the first time played Bram Makahekum song titled “Mencari Tuhan” (In Search Of God) at Taman Ismail Marzuki Jakarta in the same  year .The audiences like their their musical concept.Kelompok Kampungan were unsurpassed  in their eclecticism,willing to borrow from folk,blues,jazz,classical  and Indonesia ethnical.Unexpectedly peoples likes their simple songs with protest lyrics.But the New Under regime under Soeharto administration banned Kelompok Kampungan music in several concerts .

Sadly,they  can’t do anything with their music.The government also banned their first recording  “Mencari Tuhan” (Akurama Records,1980).Their one and only album featured  9 tracks like  “Bung Karno” (with the excerpts of  Soekarno’s monumental  speech in 1964 ) ,”Ratna”,”Mereka Mencari Tuhan”,”Catatan Perjalanan”,”Hidup Ini Seperti Drama”,”Berkata Indonesia Dari Yogyakarta”,”Wanita”,”Terlepas Dari Frustrasi” dan “Aku Mendengar Suara”.All songs composition was written by Bram Makahekum with the assistance of Sawung Jabo,Edi Haryono and Areng Widodo.

Nowadays,Bram Makahekum (now 60 year old) still involve in music creativity.Sawung Jabo continuing his  music passionate in several bands like Sirkus Barock , Kantata Barock and Genggong,Rudra  Setiabudi has a career as sound engineer in Aqurius Recording studio,Areng Widodo still writing music especially for television music scoring,Agus Murtono was joined in some famous orchestra  in Jakarta and Yogyakarta and Innisisri was passed away in September 30,2009.Before he died,the brilliantly drummer  was being in a several idealism band like Kantata Takwa,Swami,Dalbo and Kahanan.

No doubt,Surely ”Mencari Tuhan” was a masterpiece  from  Kelompok Kampungan.It’s kinda  east meets west music with natural touched.It’s the early years of Indonesia world  music. Enjoy their music !

Denny Sakrie

Music Critics

Marcell Thee (foto la.lights.com)

Tak ada yang istimewa dari Marcell Thee,jika anda berkesempatan bertemu dengannya.Sosoknya sangat bersahaja.Dimata saya,Marcell sering bersikap canggung.Tapi setelah ngobrol dengannya sedikit demi sedikit terkuak visi dan jatidirinya.

Saya pertamakali mengenal Marcell saat dia bersama bandnya Sajama Cut bertandang di studio Pendulum di bilangan Brawijaya Jakarta Selatan.David Tarigan yang mengenalkan saya dengan Marcell.Saat itu saya sudah menyimak album Sajama Cut yang bertajuk The Osaka Journal.Saya tak menyangka bahwa Marcel Thee otak dari Sajama Cut dengan lirik-lirik menohok terlihat bagai orang biasa.Tak ada sedikitpun kesan bahwa dia adalah pemusik yang memiliki segudang gagasan dan wawasan dalam bermusik.
Selanjutnya saya justeru mengenal Marcell dari bidang yang lain ketika dia menghubungi saya untuk mewawancarai saya sehubungan dengan penyelenggaraan event Indonesia Cutting Edge Music Award 2010.Wow ternyata Marcell bekerja untuk sebuah surat kabar berbahasa Inggeris.
Beberapa kali Marcell mewawancarai saya untuk media tempatnya bekerja mulai dari soal soundtrack film hingga stand up comedy.
Walau hanya berkomunikasi lewat internet dan Blackberry saya dan Marcell sering bertukar pikiran.Saya memang jarang ketemu dia,padahal rumah Marcell dan saya berada di wilayah yang sama.
Setelah 2 tahun silam Marcell meminta testimoni saya untuk album Sajama Cut “Manimal”,kali ini Marcell meminta kesediaan saya untuk membuat liner note debut album solonya bertajuk “With Strong Hounds Three”.Kembali saya kaget.Kenapa Marcell bikin album solo ? Bukankah Sajama Cut itu merupakan album solo Marcell yang digarap bersama kerabat kerabatnya ?
12 lagu karya Marcell pun saya simak.Tampaknya Marcell melakukan solo dalam arti sesungguhnya.Dia bikin lagu dan menulis lirik.Dia bikin arransemen music dan sekaligus memainkan semua instrumennya.”Dengan kemampuan musik yang pas-pasan saya memainkan seluruh instrumentasi di album ini” urai Marcell suatu ketika.
Awalnya dia memainkan gitar kemudian Marcell banyak bereksplorasi dengan menggunakan i-Mac hadiah dari sang isteri yang memfasilitasi software Garage Band.Jadilah Marcell seorang multi-instrumentalis mendadak.
Atmosfer pertama yang mencuat dari benak saya saat menyimak lagu “Endless Heart”,”Like Dead Horses” maupun “Seaside Worship” adalah sebuah pengungkapan music worship yang berlumur nuansa gerejani.Ada tiruan bunyi orgel yang sacral.Bahkan Marcel dengan menggunakan multi layered mengubah tone vokalnya menjadi sebuah choir yang ritualistik.Sentuhan folkie era 60an berserakan dalam serpihan serpihan kedua belas lagu yang termaktub di album ini.Marcell seolah tengah melakukan jamming dengan John Lennon with Plastic Ono Band dan The Flaming Lips yang dihadiri The Beach Boys dalam sebuah ritual yang merefleksikan riak-riak kehidupan.
Lirik liriknya yang bernas memang bisa ditafsirkan dalam sudut pandang apapun.”Saya tak keberatan jika interpretasi yang mendengarkan karya saya pemahamannya berbeda dengan apa yang sebetulnya saya maksudkan”  ungkap Marcell terkekeh.
Lirik lagu “Endless Heart” dibawah ini boleh jadi memiliki makna ganda tergantung dari angle yang mana kita memandang :
Across these coasts and a fired up light
I rented a bridge and called it a name
Divine
Dan sekali lagi Marcell berhasil merampok perhatian pendengar lewat barisan lirik lagunya yang dalam dan maknawi.Marcell mengakui banyak terpengaruh dengan pola penulisan puisi dari William Butler Yeats,penyair,dramawan dan prosais Irlandia yang memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Sastra.
Saking kagumnya terhadap karya William Butler Yeats,Marcell mengabadikan penggalan puisi Yeats :” We rode in sorrow, with strong hounds three “ menjadi judul album solonya “With Strong Hounds Three”.
Penggalan lainnya bahkan dijadikan lagu “We Rode In Sorrow”
Singkatnya,Marcell ingin membuat miniatur kehidupan dalam gumpalan gumpalan lirik yang dibaluti melodi lagu yang cenderung kontemplatif. Sebagai pemusik,Marcell pun ingin membagi cerita tentang kehidupan.
Simaklah nyanyian Marcell : I fake Tom Sawyer like a factory line,I take your sorrow and return the crime
Makna apakah yang tertangkap ? Selamat menikmati.
Denny Sakrie