Kenapa Marcell Bersolo Karir ?

Posted: Juli 2, 2012 in profil, Tinjau Album
Marcell Thee (foto la.lights.com)

Tak ada yang istimewa dari Marcell Thee,jika anda berkesempatan bertemu dengannya.Sosoknya sangat bersahaja.Dimata saya,Marcell sering bersikap canggung.Tapi setelah ngobrol dengannya sedikit demi sedikit terkuak visi dan jatidirinya.

Saya pertamakali mengenal Marcell saat dia bersama bandnya Sajama Cut bertandang di studio Pendulum di bilangan Brawijaya Jakarta Selatan.David Tarigan yang mengenalkan saya dengan Marcell.Saat itu saya sudah menyimak album Sajama Cut yang bertajuk The Osaka Journal.Saya tak menyangka bahwa Marcel Thee otak dari Sajama Cut dengan lirik-lirik menohok terlihat bagai orang biasa.Tak ada sedikitpun kesan bahwa dia adalah pemusik yang memiliki segudang gagasan dan wawasan dalam bermusik.
Selanjutnya saya justeru mengenal Marcell dari bidang yang lain ketika dia menghubungi saya untuk mewawancarai saya sehubungan dengan penyelenggaraan event Indonesia Cutting Edge Music Award 2010.Wow ternyata Marcell bekerja untuk sebuah surat kabar berbahasa Inggeris.
Beberapa kali Marcell mewawancarai saya untuk media tempatnya bekerja mulai dari soal soundtrack film hingga stand up comedy.
Walau hanya berkomunikasi lewat internet dan Blackberry saya dan Marcell sering bertukar pikiran.Saya memang jarang ketemu dia,padahal rumah Marcell dan saya berada di wilayah yang sama.
Setelah 2 tahun silam Marcell meminta testimoni saya untuk album Sajama Cut “Manimal”,kali ini Marcell meminta kesediaan saya untuk membuat liner note debut album solonya bertajuk “With Strong Hounds Three”.Kembali saya kaget.Kenapa Marcell bikin album solo ? Bukankah Sajama Cut itu merupakan album solo Marcell yang digarap bersama kerabat kerabatnya ?
12 lagu karya Marcell pun saya simak.Tampaknya Marcell melakukan solo dalam arti sesungguhnya.Dia bikin lagu dan menulis lirik.Dia bikin arransemen music dan sekaligus memainkan semua instrumennya.”Dengan kemampuan musik yang pas-pasan saya memainkan seluruh instrumentasi di album ini” urai Marcell suatu ketika.
Awalnya dia memainkan gitar kemudian Marcell banyak bereksplorasi dengan menggunakan i-Mac hadiah dari sang isteri yang memfasilitasi software Garage Band.Jadilah Marcell seorang multi-instrumentalis mendadak.
Atmosfer pertama yang mencuat dari benak saya saat menyimak lagu “Endless Heart”,”Like Dead Horses” maupun “Seaside Worship” adalah sebuah pengungkapan music worship yang berlumur nuansa gerejani.Ada tiruan bunyi orgel yang sacral.Bahkan Marcel dengan menggunakan multi layered mengubah tone vokalnya menjadi sebuah choir yang ritualistik.Sentuhan folkie era 60an berserakan dalam serpihan serpihan kedua belas lagu yang termaktub di album ini.Marcell seolah tengah melakukan jamming dengan John Lennon with Plastic Ono Band dan The Flaming Lips yang dihadiri The Beach Boys dalam sebuah ritual yang merefleksikan riak-riak kehidupan.
Lirik liriknya yang bernas memang bisa ditafsirkan dalam sudut pandang apapun.”Saya tak keberatan jika interpretasi yang mendengarkan karya saya pemahamannya berbeda dengan apa yang sebetulnya saya maksudkan”  ungkap Marcell terkekeh.
Lirik lagu “Endless Heart” dibawah ini boleh jadi memiliki makna ganda tergantung dari angle yang mana kita memandang :
Across these coasts and a fired up light
I rented a bridge and called it a name
Divine
Dan sekali lagi Marcell berhasil merampok perhatian pendengar lewat barisan lirik lagunya yang dalam dan maknawi.Marcell mengakui banyak terpengaruh dengan pola penulisan puisi dari William Butler Yeats,penyair,dramawan dan prosais Irlandia yang memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Sastra.
Saking kagumnya terhadap karya William Butler Yeats,Marcell mengabadikan penggalan puisi Yeats :” We rode in sorrow, with strong hounds three “ menjadi judul album solonya “With Strong Hounds Three”.
Penggalan lainnya bahkan dijadikan lagu “We Rode In Sorrow”
Singkatnya,Marcell ingin membuat miniatur kehidupan dalam gumpalan gumpalan lirik yang dibaluti melodi lagu yang cenderung kontemplatif. Sebagai pemusik,Marcell pun ingin membagi cerita tentang kehidupan.
Simaklah nyanyian Marcell : I fake Tom Sawyer like a factory line,I take your sorrow and return the crime
Makna apakah yang tertangkap ? Selamat menikmati.
Denny Sakrie
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s