Saya Sting Bukan Gordon

Posted: Oktober 2, 2012 in Uncategorized

Beberapa minggu lalu ditwitter sempat terjadi euphoria ketika muncul sebuah tweet yang menginfokan bahwa Sting akan menggelar konser di Jakarta pada 15 Desember.Antusias ini kian membumbung karena akhirnya Sting memang bakal tampil di sebuah hall baru di Ancol Jakarta.Sebelumnya info yang beredar adalah bahwa Sting akan tampil di Singapore pada tanggal 13 desember.

Kicauan kaum pekicau di twitter kian marak apalagi setelah mengetahui bahwa Sting akan tampil bersama line up yang pernah dibawanya ketika tampil pertamakali di Jakarta Hilton Convention Center tahun 1994 yaitu Dominic Miller (gitar),Vinnie Colaiuta (drums) dan David Sancious (keyboards) dan Sting kembali membetot bass, sesuai dengan nama turnya kali ini “Back To Bass Tour 2012”.Perpaduan suara dan petikan bass Sting itulagsesungguhnya merupakan daya pikat utama Sting selama ini.Saya yakin sebagian besar penggemar Sting menyukai penampilan Sting dengan mendekap bass Fendernya yang melegenda itu.

Pagi ini saya terdorong untuk menulis tentang musikalitas Sting ketika mengetahui hari ini selasa 2 Oktober 2012 Sting berulang tahun yang ke 61.Tahun 1981 adalah saat pertama saya mengenal trio The Police lewat kaset Regatta DeBlanc yang ternyata merupakan album kedua The Police yang dirilis tahun 1979.Penikmat musik di Indonesia mulai ngeh dengan kehadiran trio ini sebetulnya pada sekitar tahun 1981 atau 1982,padahal the Police mulai merilis album debut Outlandos D’Amour di tahun 1978.Merebaknya ketenaran the Police di negeri ini seiring dengan dimulainya demam new wave dimana hampir semua perekam Barat disini mulai dari Aquarius,Team Record,King’s,Yess dan entah apa lagi mulai merekam secara illegal tapi legal sederet band-band beraliran new wave diantaranya adalah The Police.New Wave itu sendiri merupakan perpanjangan dari era Punk Rock yang mencapai titik kehebohan dunia pada tahun 1977.

Di Inggeris pada paruh era 70an Punk Rock tengah merajalela.Semua mendadak Punk.Ini pulalah yang membuat Sting dan Stewart Copeland,orang Amerika yang saat itu menetap di Inggeris memanfaatkan situasi serba punk untuk terjun dalam industri musik.Ini sebuah gagasan yang cerdik.Baik Sting maupun Copeland sebetulnya bukan orang baru dalam konstelasi musik.Mereka hanya berpura-pura menjadi pemusik punk antara lain dengan tampil di sebuah Punk Festival di Mont De Marsan.Jelas The Police seolah melanggar pakem punk saat itu,mulai dari format trio hingga timbre vokal Sting yang high-pitched belum lagi pola drumming Stewart Copeland yang sarat kompleksitas. Padahal Stewart Copeland sebelumnya pernah bergabung dalam band rock progresif Curved Air,gitaris Andy Summers sempat mendukung The Animals dan Sting yang menjadi bassist jazz di sederet band jazz seperti Last Exit,The Phenix Jazzmen hingga the Newcastles Big Band.Bahkan Sting dan Stewart Copeland pun ikut mendukung proyek album eksperimental pemusik kontemporer Jerman Eberhard Schoener yang pernah merilis album Bali Agung di tahun 1976.

Sting memang menyukai jazz dan rock.Di akhir era 60an Sting kerap mendatangi Club A Go Go untuk menyaksikan penampilan trio Cream dan Jimi Hendrix Experience.Dua band ini merupakan ilham musik terbesar Sting.Secara kebetulan baik Cream maupun Jimi Hendrix tampil dengan formasi trio.Bahkan keduanya menyilangkan genre musik rock dan jazz.

Tampaknya Sting memang telah mempersiapkan diri secara matang sebelum akhirnya terjun ke industri music di tahun 1977.Sejak remaja Sting terbiasa dengan kerja keras.Disela kegiatan rutin sekolah Sting menyempatkan diri bekerja serabutan sebagai kondektur bus,pekerja bangunan hingga menjadi petugas pajak.Setelah menyelesaikan pendidikan di Northern Counties College of Education,Sting lalu menekuni dunia pendidikan sebagai seorang guru sekolah .Di waktu senggang Sting bermain jazz secara berkala.Dia juga seorang kutu buku.Tak sedikit karya karyanya diangkat dari beberapa buku misalnya Ghost In The Machine karya Arthur Koestler yang menjadi inspirasi materi lagu dalam album The Police “Ghost In The Machine”  ,judul album Nothing Like The Sun diambil dari bagian karya William Shakespeare “Sonnet” lalu lagu “Moon Over Bourbon Street” terinspirasi dari buku “Interview With Vampire” karya Anne Rice.

Jika menelusuri perjalanan karir Sting secara seksama,maka saya berkesimpulan bahwa Sting adalah sosok penyuka perubahan.Sting selalu berubah dari waktu ke waktu.Dan saya kira itu jualah yang memperpanjang karirnya yang panjang dalam berkesenian entah itu seni  musik maupun seni peran.

Disaat The Police berada dipuncak kejayaan pada tahun 1983,Sting memilih untuk bersolo karir dimana perannnya kian maksimal.Musik yang dimainkannya pun kian eklektik tak hanya rock atau jazz tapi mulai menyambangi classical,New Age hingga World Music sekalipun.

Sting menjadi sosok yang fleksibel.Tak hanya musik atau film saja yang digelutinya.Sting bahkan menjadi seorang filantropi dan aktivis pelbagai kegiatan sosial. Dalam berkarya Sting tak pernah ingin kembali pada pencapaian terdahulu yang pernah dilakoninya.Apa yang dilakukan Sting tak ubahnya yang dilakukan Miles Davis,pemusik idolanya yang juga dianggap sebagai mentor.Sting bahkan pernah ikut mendukung album Miles Davis “You’re Under Arrest”.Ketika di tahun 2007 Sting melakukan reuni bersama The Police,toh itu hanya kangen kangenan dalam bentuk reuni saja.Dan memang terbukti The Police sampai detik ini tidak merilis album baru sedikitpun.Bagi Sting,The Police adalah masa lalu saja.Sting tak pernah terjebak kedigdayaan masa silam.Sting tetap menggali dan menggali kreativitas bermusik.

Bahkan Sting keberatan jika ada yang masih memanggilnya Gordon.Walaupun semua orang tahu bahwa nama asli Sting adalah Gordon Matthew Sumner.Masih ingatkah anda pada film documenter tentang Sting “Bring On The Night” (1985), dimana dalam salah satu bagian film tersebut Sting menolak disebut sebagai Gordon :” “My children call me Sting, my mother calls me Sting, who is this Gordon character?”.

Dalam hasil wawancara majalah Time dengan Sting yang terbit pada edisi tahun 2011 Sting berucap begini :” “I was never called Gordon. You could shout Gordon in the street and I would just move out of your way.

Dan saya pun berupaya mematuhi rule dari Sting ini jika pada tanggal 15 Desember nanti diberi kesempatan bertemu Sting.Saya akan menyapanya Sting bukan Gordon.

Happy Birthday Mr Gordon eh Sting………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s