Arsip untuk November, 2012

Album Jezz Karimata yang dirilis aquarius indonesia di tahun 1991

Di tahun 1990 saat GRP Artist melakukan konser di Istora Senayan Jakarta pada 5 Desember 1990 ,Karimata band telah menjajaki untuk mengajak para pendukung konser tersebut seperti Bob James,Lee Ritenour,Phil Perry dan Don Grusin untuk menjadi bintang tamu dalam album rekaman Karimata saat itu yaitu “Jezz”

Karimata Band saat rekaman bersama Phil Perry yang membawakan lagu “Rainy Days and You” karya Aminoto Kosin dan liriknya oleh Mira Lesmana

Inilah cendera mata pernikahan penyanyi Rachmat Kartolo dengan Ratna Karsono,puteri Soejoso Karsono pemilik label Irama pada 15 Oktober 1966 yaitu sebuah piringan hitam EP yang berisikan suara emas Rachmat Kartolo.Hal yang sangat mewah untuk ukuran zaman itu.
Tidak semua orang bisa melakukan hal semacam ini. Orang orang seperti Rachmat Kartolo yang dikenal sebagai artis layar lebar dan musik ini pastilah memiliki akses yang kuat untuk mewujudkan cindera mata semacam ini.Apalagi isteri Rachmat Kartolo merupakan puteri dari mas Jos demikian panggilan akrab komodor Soejoso Karsono yang memiliki perusahaan piringan hitam

Cinderamata pernikahan artis Rachmat Kartolo di tahun 1966

Genderang Orkes Gumarang

Posted: November 16, 2012 in Kisah, Sejarah

Album Orkes Gumarang yang dirilis Mas Jos melalui label miliknya Irama

Ketika sosok pemusik Xavier Cugat menjadi titik perhatian dunia dengan musik Latin (baca cha cha, mambo pada dasawarsa 40-an. Wabah ini pun merambat dan menjalar pula ke negeri kita tercinta  ini. Kenapa musik Latin bisa dengan cepat merasuk dalam lubuk dan sanubari kita ? Jika ditilik secara seksama,ternyata ada sedikit persamaan antara musik Latin dan musik melayu : sama sama membius penikmatnya untuk lebur dalam sebuah goyangan atau tarian.Dengan ritme repetitif yang diperkuat aksentuasi perkusif.

Maka baik musik Latin maupun Melayu dengan cepat mengagitasi siapapun untuk terjebak dalam tarian.  Demam Latin ini juga berdampak banyak dalam industri musik tanah air pada era 50-an hingga 60-an. Pada paruh dasawarsa 50-an mulai bertebaranlah kelompok kelompok musik yang menyematkan kata orkes pada jatidrinya masing masing.Satu diantaranya adalah Orkes Gumarang yang diarsiteki oleh lelaki berdarah Sumatera Barat,Asbon Madjid.

Pada pasca perang Dunia II,musik hiburan (ini adalah sebutan untuk musik pop) sangat dipengaruhi oleh musik rock n’roll dan doo wop yang diadopsi dari Amerika Serikat.Tapi pada saat bersamaan Amerika pun tak bisa menghambat menyelusupnya musik Latin dari wilayah Havana,Kuba Asbon secara genial memerikkan pengaruh Latin dalam racikan musik yang diangkat dari tradisi musik Minangkabau. Dan perpaduan yang dilakukan Asbon ternyata memang berjodoh.

Selain Asbon,juga terdapat beberapa pemusik muda Minang lainnya seperti Sjaiful Nawas,Awaluddin, Joeswar Chairudinn,Dhira Soehoed maupun Anwar Anif. Mereka sepakat memakai nama Gumarang yang konon diangkat dari cerita rakyat Minang, Tjindue Mato, yang tokoh utamanya memiliki tiga binatang kesayangan. Tiga binatang itu adalah Kinantan si ayam jantan yang jago, Binuang si banteng yang gagah berania, dan Gumarang si kuda sembrani dengan bulu putih yang larinya  konon bagaikan kilat sehingga menurut legenda tersebut bisa keliling dunia dalam sekejap.Seperti yang mereka maksudkan, Gumarang memang nyaris sekejap menuai ketenaran.
Jelas ada tersemburat idealisme dalam benak anak muda ini dalam melakoni dunia musik.Meskipun mereka tak mampu membendung kilau pesona musik Latin,tapi mereka mengambil jalan tengah.
Ditengah denyut lagu-lagu seperti Quisas Quisas hingga Besame Mucho ,para awak Gumarang menyelusupkan musik ranah sendiri : Minang. Lagu-lagu Minang sohor yang dipopulerkan Orkes Penghibur Hti  macam “Dajung Palinggam” hingga “Kaparinjo” mereka mainkan dengan imbuhan musik Latin. Setelah masa kepimpinan Anwar Anif yang dianggap melambungkan popularitas Gumarang termasuk merlis album di perusahaan rekaman Lokananta berakhir,tampuk pimpinan lalu dipegang Asbon Madjid. Asbon bahkan menggagas agar Gumarang mulai menulis lagu-lagu sendiri.
Kekuatan Gumarang kian menjadi setelah direkrutnya penyanyi Hasmanan yang pada dasawarsa 70-an malah merambah dunia pefilman sebagai penulis skenario dan sutradara antara lain menggarap film “Bing Slamet Setan Jalanan”,”Bing Salmet Sibuk”,”Dimana kau Ibu”,”Romi dan Yuli” dan banyak lagi. Selain Hasmanan,Gumarang juga didukung seorang pianis yang memiliki intuisi tajam dalam bermain musik Latin yaitu Januar Arifin. Termasuk pula penyanyi wanita Nurseha.
Disisi lain,setidaknya ada 3 orkes yang juga melakukan penyemaian musik hibrida.Yakni membenturkan musik Minang dengan bingkai rock n’roll.Ketiga orkes itu adalah Orkes  Zaenal Combo yang dimotori almarhum Zaenal Arifin.Lalu ada Orkes Kumbang Tjari yang dipimpin Nuskan Sjarif dan Orkes Teruna Rian yang digagas almarhum Oslan Hussein.
Salah satu album yang esensial dari fenomena ini adalah album “Kampung Nun Djauh di Mato” dari orkes Gumarang yang dirilis oleh perusahaan rekaman Irama milik alamrhum mas Jos atau Sujoso Karsono. Pemilik Irama Record memang sering mengamati sepak terjang Gumarang .Mas Jos begitu yakin percampuran Latin dan Minang ini akan menggedor kuping khalayak.
Tawaran dari Irama pun diterima.Gumarang pun siap dengan stetumpuk lagu antara lain “Ajam Den Lapeh “ karya  Abdul Hamid, Jiko Bapisoh dan Laruik Sandjo ciptaan Asbon, Jobaitu ciptaan Sjaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin, Badju Karuang, Ko Upiek Lah Gadang, Titian Nan Lapuak, serta Nasib Sawahlunto, Rentak Minang berpadu dengan beat cha cha. Cha Cha adalah sebuah gerakan tarian  pergaulan yang berasal dari Kuba dan diprakrasai oleh Enrique Jorrin.

Insting mas Jos terbukti .Lagu-lagu yang dibawakan Orkes Gumarang menjadi hits nasional yaitu : Ajam Den Lapeh dan Laruik Sandjo. Bahkan kedua lagu ini pun diangkat ke layar lebar dengan format hitam putih.Sutradara kesohor almarhum Usmar Ismail menggarap film “Laruik Sandjo” pada tahun 1960 dengan bintang utama pasangan Bambang Irawan (ayah dari Ria Irawan) dan Farida Oetojo (ibu dari drummer jazz Aksan Sjuman).

Lalu sutradara Gatot Iskandar  menggarap film “Ajam Den Lapeh” (Stupa Film 1960) dengan bintang utama Bambang Irawan dan Farida Ariany.

Album Bapisah Bukannjo Batjarai – Orkes Gumarang yang dirilis pada tahun 1971

Penyanyi Juni Amir pun turut serta berperan di film ini.Film ini bertutur tentang  Nurseha (Farida Arriany) dijodohkan orangtuanya dengan Rizal (Bambang Irawan), pemuda sekampung, kaya dan mencintai Nurseha. Tapi, Nurseha sendiri sudah terikat janji dengan Amir (Juni Amir),       biduan Orkes Gumarang, kawannya. Kemudian tampak perbedaan mereka. Nurseha bercita-cita mengabdi seni suara sepenuhnya, sedang Amir menginginkan Nurseha sebagai nyonya rumah saja. Keduanya bersikukuh pada pendirian masing-masing dan berpisah. Sementara itu Rizal yang menyadari tidak dicintai Nurseha, lalu memacari Yanti (Neneng Suharti), kawan Nurseha. Maka terjadilah seperti lirik lagu ”Ayam dan Lapeh”: sikucapang sikucapai (yang dikejar tak dapat, yang dikandung bercece

Sebuah film musikal yang mengangkat popularitas Gumarang.
Kini Gumarang berinkarnasi dalam Orkes New Gumarang ,kelompok yang dibentuk lagi untuk meneruskan kiprah dan ketenaran Gumarang di dawarsa 60-an.Mereka masuk bilik rekaman lagi dan mengjhasilkan album “Nan Bagala”

Achmad Albar membawakan lagu tentang problematika anak muda metropolitan “Jenuh”

Dari judulnya saja,sudah terbaca hasrat Guruh Soekarno Putera : ingin menorehkan rasa nasionalisme lewat bentuk warna warni hiburan yang mematut musik,tari dan teater.Seperti pertunjukannya yang pertama di tahun 1979 bertajuk “Karya Cipta Guruh Soekarno Putera” yang bersimbah gelimang cahaya mulai dari tata cahaya,busana yang penuh kilau serta sosok-sosok ayu dan cantik berpupur yang menyungging senyum tiada henti ke arah penonton.

Para penari lagu Melati karya Guruh untuk ibunda tercinta Fatmawati

Saat itu saya ingat Yudhistira Ardi Nugraha Massardi di majalah Tempo terbitan September 1980 menaruh judul yang sinikal Patriotisme Gedongan.
Apa yang diungkap Yudhis jelas ada benarnya.Tapi kemercusuaran karya karya Guruh pun tak ada salahnya juga.
Yang saya tangkap dari pertunjukan yang digelar 4 hari berturut-turut antara tanggal 12,13,14 dan 16 September ini (dimana dalam sehari digelar dua jam pertunjukan) adalah sebuah obsesi bernuansa nostalgik dari putera proklamator Indonesia ini.Guruh yang sejak kecil telah belumur kesenian itu memang selalu ingin menampilkan pesona merah putih.Dia memendarkan patriotisme dalam karya karyanya yang beratmosfer kemewahan,hibrida antara budaya Barat dan Timur .Bersama dengan organisasi kesenian Swara Maharddhika yang dibentuknya tahun 1977 itu,Guruh ingin merekonstruksi ulang kedigdayaan negara kepulauan ini di masa lalu yang terentang dari golden age era kerajaan Majapahit hingga Sriwiajaya
Upaya yang pantas dipuji sebetulnya.Sebuah upaya agar generasi muda tidak terbenam dalam amnesia sejarah yang tiada berkesudahan tentunya.
Lihatlah adegan yang terlihat di panggung Balai Sidang Senayan : Seorang Ratu yang elok rupawan melintas dengan tandu yang memukau dengan iringan para prajurlt bertombak telanjang dada. Suatu prosesi yang dihadirkan secara khusyuk, penuh penghormatan dan keelokan.
Guruh seperti sosok yang terpukau dan silau pada pencapaian zaman feodalisme tengah mengangkasa. Seperti yang ditulis Yudhis dalam majalah Tempo :”Itulah pula agaknya hasil yang
ia peroleh selama mempelajari masa lampau Indonesia ketika
sekolah arkeologi di Negeri Belanda, 1972.Barangkali Guruh hanya melihat apa yang berlangsung di sekitar kursi emas keraton. Bukan yang di luarnya — kehidupan rakyat
sebenarnya, yang hampir tak pernah tercatat dalam prasasti. Dan yang diwariskan masa lampau memang hanya berita kemegahan. Tak ada cerita tentang darah atau air mata”.Sebuah kritisi yang tajam dan menohok.

Trio Bebek

Trio Bebek

Saya memahami maksud Yudhis.Dunia yang diciptakan Guruh dihadapan sekitar 5 ribuan penonton itu memang bagaikan sebuah parade sebuah negara impian yang utopis.bagai sebuah surga yang menghampar tanpa benturan benturan yang gegar.” Tanpa warna buram, tanpa kepedihan. Bahkan tanpa pergulatan” sergah Yudhis di majalah Tempo yang terbit 30 tahun silam itu.
Sebenarnya, kalau saja Guruh tidak takut dicap macam-macam –sebagaimana ia menerima sebutan glamorous yang ditiupkan orang secara sinis kepadanya, dengan gagah — tak ada masalah. Hanya
agaknya ia banyak diganggu oleh tuntutan yang mungkin juga di bawah sadar — untuk “mengembalikan citra kebesaran Indonesia” segala. Padahal bobot kedalamannya, dan lingkungannya yang lebih
banyak meriah daripada menukik, ternyata membatasi kakinya untuk hanya bergerak di sekitar klise dalam pemikiran dan ucapan.

Guruh Sukarnoputra seusai pagelaran Untukmu Indonesiaku 1980

Guruh Sukarnoputra seusai pagelaran Untukmu Indonesiaku 1980

Berbeda dengan pertunjukan Guruh dan Swara Mahardhhika yang pertama yang berlangsung sekitar Januari 1979 yang lebih menonjolkan atmosfer nonstop musical revue ,maka dalam “Untukmu Indonesaiku” yang juga difilmkan ke layar lebar oleh sutradara Ami Priyono ini,Guruh ingin mengangkat sebuah tematik dengan setting dan plot.Meskipun pada akhirnya jadi keteteran.
Disini Guruh membuat penokohan diantaranya dengan mengedepankan sosok si Anu dan si Polan, dua remaja putera yang bertualang untuk “mempertanyakan kebesaran negeriya”, diberi
berbagai semboyan yang gagah dan satu pekikan: “Mari kita dobrak kebobrokan!” Namun di panggung yang berkonotasi mewah itu,toh ada kontradiksi yang menganga.Karena ternyata tak
terjadi pendobrakan atau bentuk pergeseran sedikit pun.Yang terlihat nyata adalah sekelompok orang yang hanya menari dan menari diimbuh nyanyian puja puji yang membuat kita kepayang pada akhirnya.
Namun keplok aplaus jelas membahana.Mungkin karena Guruh adalah sosok yang mampu mengendus tren anak muda kota yang katakanlah tengah keranjingan disko dan hal-hal artifisial lainnya.Kemudian dibungkus dengan semangat merah putih berbalut keanekaragaman budaya.
Lihatlah lagu “Melati Suci” (dinyanyikan Tika Bisono) yang ditulis Guruh untuk sang ibunda Fatmawati menampilkan sebuah koreografi berdasar tari Pakarena yang berasal dari Sulawesi Selatan.Lengkap dengan kipas dan baju bodo berwarna putih.
Guruh memang seperti tengah menenun mimpi yang kemudian dilambai-lambaikan ke penonton yang menyambutnya dengan sukacita.
Penonton terhibur dan tak beranjak selama durasi 2 jam pertunjukan.
Untuk urusan musik Guruh memang selalu perfeksionis.Setidaknya jika garapan melihat para penata musik untuk pertunjukan ini mulai dari Candra Darusman ,Elfa Secioria hingga Franki Raden.
Simaklah upaya Guruh memusikalisasikan puisi karya Sitor Situmorang “To My Friends On Legian Beach” yang orkestrasinya digarap serius oleh Franki Raden.Sayangnya penjiwaan Chrisye terasa kurang di lagu ini.
Jangan lupa,Guruh pun menggunakan jasa orkestra dari Jepang yaitu Tokyo Philahrmonic Orchestra.Jelas sebuah upaya yang tak main main.
“Untukmu Indonesiaku” disajikan oleh 300 reamaja yang tergabung dalam Swara Maharddhika.Kabarnya pertunjukan yang jika boleh disebut kolosal ini menghabiskan budget sebesar Rp.100 juta.Jumlah yang besar untuk ukuran saat itu.
Guruh tampak fasih bertutur tentang idiom idiom anak muda metropolitan yang modis dan artifisial.Lihatlah lagu “Hura Hura” yang dibawakan Trio Bebek atau saat Johnny Leweirisa melantunkan lagu “Keranjingan Disko”.
Guruh tampak ingin seimbang dalam pertunjukannya ini.Dia tetap menghadirkan bagian kehidupan rakyat jelata yang tampak melata.Pada bagian kiri dan kanan panggung terlihat mengonggok becak,gerobak bakso,penjaja sate hingga para waria kelas bawah.Termasuk parade dokter dan perawat rumah sakit,aparat keamanan hingga mahasiswa.Namun mereka seperti hanya model videoklip yang menjadi pelengkap sebuah pertunjukan.Tak ada pendalaman.Meskipun para mahasiswa itu terwakili oleh lagu “Hai Pemuda” yang dinyanyikan Djajusman :”Hai pemuda harapan jangan kau biarkan sejarah ternoda.Tulislah dengan tinta emas”.
Beberapa penampil lain seperti Achmad Albar yang mewakili anak muda broken home seolah hanya mengulang penampilan di pertunjukan tahun 1979 lewat lagu “Anak Jalanan”.Kali ini dengan jins belel dan tatto di bahu Achmad Albar bernyanyi :”Aku frustrasi.Ku merasa jenuh.Masa bodoh”.
Guruh memang telah berbuat sesuatu dengan dunia seni yang digelutinya saat itu.Saat ini Guruh berada di zona yang lain : politik.

Karya musik seorang pemusik kini kian dekat dengan penikmatnya.Setidaknya kredo itu diperlihatkan Indra Lesmana,pemusik jazz yang baru saja merampungkan  penggarapan album terbarunya bertajuk “11-11”.Upaya mendekatkan diri dengan penikmat music dilempangkan oleh teknologi yang menawarkan banyak ragam sofistikasi.

Gagasan cemerlang yang melibatkan kemajuan teknologi ini diperlihatkan Indra Lesmana di Red White Lounge Kemang Jakarta Selatan kamis siang 8 November 2012, tiga hari sebelum peluncuran album mutakhirnya “11-11” yang semuanya digarap dengan menggunakan medium i-Pad. Indra Lesmana yang sejak kecil telah memperlihatkan ketertarikan terhadap elektronik dan sejenisnya,akan merilis albumnya dalam format aplikasi yang bisa diperoleh di App Store. Album yang memakai numeric 11-11 itu juga menyediakan beragam fitur, mulai dari lirik,tablature,videoklip termasuk game yang unik.

Kabarnya Indra Lesmana telah menelusri dalam search engine untuk memastikan apakah ada sosok yang telah melakukan seperti yang dilakukannya.”Ternyata sejauh ini belum ada.Kemungkinan saya orang pertama yang melakukan hal semacam ini dalam menghasilkan karya music” tukasnya.

Secara runut,Indra mengungkapkan perihal aplikasi yang diterapkannya dalam menghasilkan karya musiknya itu.Menurut Indra,kita bisa melakukan apa saja dengan aplikasi ini tanpa limitasi.”Saya bisa langsung melakukan interaksi dengan penikmat musik saya “ urai Indra penuh semangat.

Secara gambling Indra pun menjelaskan kenapa dia memilih App Store untuk perilisan albumnya.”Saya memutuskan untuk mendistribusikannya di App Store, karena fasilitas i-Tunes Store ternyata tidak tersedia di Indonesia” ungkapnya lagi.

Album 11-11 yang akan dirilis secara resmi pada tanggal 11 bulan 11 ini berisikan 5 komposisi yang kesemuanya dikerjakan dengan menggunakan i-Pad mulai dari menulis komposisi,memainkan musik,merekam dan mixing musik.”Hanya mastering yang tak saya lakukan dengan i-Pad” jelasnya.

Ke 5 komposisi itu adalah “Two Steps At At Time” yang telah diperkenalkannya beberapa waktu lalu,”Reborn (8 Bit Chronicle),” The Sign “ ,”11:11” dan “Angels On My Side”.Di lagu yang disebut terakhir Indra Lesmana menyanyikannya secara duet dengan putrinya Eva Celia Lesmana.

Setiap bulannya,ungkap Indra Lesmana,dia akan melakukan updating  dengan menambah sebuah komposisi baru.

Musik Masa Depan sudah dalam genggaman Indra Lesmana.

Chicago Menelusuri Hari Hari Usang

Posted: November 12, 2012 in Konser

Jason Scheff (vokalis/bass) dan James Pankow (trombone/pendiri Chicago) (Foto Dian Triyuli Handoko/Tempo)

Gitaris Keith Howland dan bassist/vokalis Jason Scheff (Foto Dian Triyuli Handoko/Tempo)
Lee Loghnane seusai menyanyikan lagu Coloure My World yang di era 70an dinyanyikan almarhum Terry Kath (Foto Dian Triyuli Handoko/Tempo)

Chicago adalah band tua yang masih tetap bertahan.Di usia ke 45 band yang awalnya bernama Chicago Transit Authority ini masih melakukan tur dunia yang panjang termasuk mampir di Jakarta sabtu 27 Oktober untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama di tahun 1993.Meskipun telah berpuluh kali gonta ganti formasi, Chicago tetap mempertahankan jatidirinya sebagai “rock and roll band with the horns”,seperti yang diungkapkan James Pankow saat berbincang dengannya di Peacock Sultan Hotel.”Ketika the Beatles memasukkan instrument tiup dalam lagu “Got To Get You Into My Life” di tahun 1966,kami pun terinspirasi untuk membuat band dengan mengetengahkan  unsur horn” urai James Pankow (75 tahun).

Chicago di Plenary Hall Jakarta Convention Center (Foto: Dian Triyuli Handoko/Tempo)

Tanpa horn sections rasanya Chicago sudah kehilangan jatidiri.Meskipun Peter Cetera telah mundur sejak tahun 1985 dan Bill Champlin mundur tahun 2009, Chicago tetap berkibar.Pendiri awal Chicago di tahun 1967 seperti Robert Lamm (keyboard,vokal),James Pankow (trombone) dan Lee Lougnane (trumpet) masih setia mendukung Chicago kecuali Walter Parazaider (saxophone,flute) yang sejak 5 tahun lalu mundur karena sakit.

Penampilan Chicago di Plenary Hall seperti perjalanan metamorfosa Chicago dari album debut “Chicago Transit Authority” (1969) hingga sekarang ini.Di latar panggung terpampang logo Chicago yang mirip logo Coca Cola dan dirancang Nick Fasciano 43 tahun silam.

Dihadapan 2500 penonton,Chicago membuka pertunjukan dengan komposisi karya James Pankow dari album Chicago 2 (1970) bertajuk “Ballet For A Girl In Buchanon” yang merangkum 7 bagian komposisi berdurasi 13 menit,diawali dengan “Make Me Smile” yang menjejalkan jazz rock,lalu serangkaian instrumental yang menggabungkan nuansa rock,jazz dan klasikal : So Much To Say,So Much To Give,Anxiety’s Moment dan West Virginia Fantasies dan ditutup lewat ballad Colour My World yang dinyanyikan Lee Loughnane.Dulu bagian ini dinyanyikan gitaris Terry Kath yang meninggal dunia di tahun 1978 karena mencoba bermain Russian Roulette.

Dibagian awal ini penonton membisu, karena mungkin tak mengenal komposisi Chicago di era 70an yang saat itu masih mengais tema seputar sosial hingga politik.lagu lagu bertendensi politik seperti “Saturday In The Park” hingga “Dialogue Part 1 and 2” juga bergaung di Jakarta.Lirik “Dialogue Part 1 dan 2” ini mengangkat tentang debat politik antara seorang aktivis politik dan seorang mahasiswa.Dulu lagu yang ada dalam album Chicago V (1972) menampilkan Terry Kath sebagai aktivis politik dan Peter Cetera sebagai mahasiswa.Kini Lou Pardini berperan sebagai aktivis politik dan Jason Scheff sebagai mahasiswa.

Tatkala “If You Leave Me Know” dari album Chicago X (1976) barulah penonton merespon dengan bernyanyi serempak.Sebetulnya para penonton Chicago rata rata mengharapkan Chicago hadir dengan sederet lagu baladanya yang menjadi hits terutama di era 80an seperti “You’re The Inspiration”,”Hard Habit To Break” hingga “Hard To Say I’m Sorry”.Era ini adalah bangkitnya Chicago dari keterpurukan karena sejak merilis album Chicago XI (1977),Chicago mengalami paceklik hits.Penyebabnya adalah pergeseran tren musik dengan merebaknya demam punk rock dan disko pada kurun waktu 1977-1979 .Chicago bahkan terbawa arus membuat lagu disko “Street Player” di tahun 1979.Lagu “Street Player” belakangan malah dijadikan sampling oleh Pitbull dalam lagu “I Know You Want Me” (2009) dan malam itu diluar dugaan lagu ini dibawakan Chicago.

Kebangkitan Chicago pun dimulai saat David Foster muncul sebagai produser album.Foster banyak melakukan renovasi terhadap struktur musik Chicago,mulai dari meminimalisasikan bunyi-bunyian instrument tiup yang dianggap kadaluwarsa,memasukkan banyak unsur synthesizers serta membawa banyak pemusik tambahan untuk mendukung rekaman Chicago.Orientasi lagu Chicago tidak lagi kea rah isu politik tapi ke tema cinta dengan tempo balada.

Renovasi musik yang dilakukan David Foster berbuah hasil : lagu lagu Chicago mulai masuk lagi dalam chart lagu terlaris.Album “Chicago 17” menjadi album yang paling sukses secara komersial dalam sejarah Chicago.

Kemampuan David Foster  membaca selera publik terbukti.Setidak para penonton yang rata rata berusia separuh baya malam itu lebih antusias menerima lagu-lagu Chicago era david Foster.Walaupun demikian,penonton tergerak juga untuk bergoyang menyimak lagu instrumental Mongonucleosis karya James Pankow yang bernuansa Latin Rock dari album Chicago VII (1974).

Meskipun Robert Lamm mengatakan kepada penonton akan membawakan lagu-lagu dari tiap album yang dirilis,toh hal itu tak mungkin dilakukan dengan durasi sekitar 190 menit.Namun Chicago tetap memiliki stamina menelusuri hari hari usang mereka di pentas pertunjukan.Dengan distorsi gitar yang dimainkan Keith Howland dan hentakan drum Tris Imboden,Chicago menumpahkan aura rock lewat “Old Days” :

Old days,good times I remember

Fun days,filled with simple pleasures

Denny Sakrie,pengamat musik.

(Tulisan ini dimuat di majalah Tempo edisi 4 November 2012)

Merupakan konser kedua Chicago di Jakarta sejak yang pertama tahun 1993 (Foto:Dian Triyuli Handoko/Tempo)

Dinding yang membatasi generasi musik dan genre musik selama ini begitu kokoh menyekat dua kutub yang seolah tak mungkin bersatu dan bersenyawa dalam gugus musik Indonesia.Djakartmosphere sejak tahun 2009 berupaya meruntuhkannya dengan menyajikan pertunjukan musik lintas generasi dan lintas genre. Kebekuan dua kutub yang saling berbeda itu pada akhirnya lumer juga.Tak ada lagi gap antara pemusik era lalu dan era sekarang.

Mereka bersepanggung menyatukan genre maupun subgenre yang tak sama, yang menggema akhirnya adalah musik dan musik.

Tahun 2012 ini,untuk yang keempat kalinya G Production kembali menghamparkan panggung perhelatan DjakSphere,dengan merekatkan dua generasi musik dan genre musik  dalam sebuah kemempelaian yang unik dan memiliki nilai historik.

Ada Bob Tutupoly,Benny Soebardja,Ermy Kullit dan Andy Ayunir yang mewakili generasi silam.lalu ada Shaggydog,The S.I.G.I.T, Zeke Khaseli serta The Upstair yang mewakili generasi sekarang.Sebuah kolaborasi unik dan eksotik yang terkadang kerap dianggap sebagian ornag sebagai sesuatu yang muskil. Tapi toh G Production tampaknya telah memiliki kepiawaian untuk menyajikannya, dan sudah pasti didukung oleh niat dan hasrat para penampil untuk berpetualang dalam rimba musik yang rimbun dan sarat gelegak.

Rentang waktu yang jauh terpentang bukanlah kendala.Baik ShaggyDog maupun Bob Tutupoly menyatukannya lewat ekspresi dan groove music.Bukan lagi kendala gagal bersatunya air dan minyak.Tapi mereka adalah senyawa yang pasti menggetarkan penikmatnya. Sekstet ShaggyDog terbentuk di tahun 1997 menghadirkan fusi musik Ska Reggae Jazz,elemen musik yang bermuara pada ekspresi jiwa yang lugas.Didukung oleh Heru,Yoyok,Banditz,Lilik,Raymond dan Richard, ShaggyDog telah merilis 5 album yaitu ShaggyDog,Bersama,Hot Dogz,Kembali Berdansa dan Bersinar . Bob Tutupoly mulai rekaman tahun 1959 dan di tahun 2012 saat berusia 73 tahun Om Bob Tutupoly masih ajeg merilis album baru.

Bersatunya rocker senior Benny Soebardja dan The S.I.G.I.T seperti ingin memancangkan sebuah pemeo lama bahwa : Bandung adalah gudang pemusik pembangkang dalam idealisme dan kreativitas terutama rock.

Membangkang dan tak mau diatur itu kredo rock yang sesungguhnya.Ketika semua band rock Indonesia di era 70an berlomba lomba menjadi tribute band, Sharkmove dan Giant Step ,dua band rock yang digagas Benny Soebardja malah lebih suka menyanyikan lagu karya sendiri baik di rekaman maupun panggung.

Bersepanggungnya The S.I.G.I.T dengan Benny Sobardja seperti memintal tali generasi antar pemusik rock.Benny Soebardja mewakili kaum rock pendahulu dan The S.I.G.I.T mewakili kaum rock penerus.

Ermy Kullitt selama ini telah tersemat sebagai penyanyi jazz yang renyah dalam membisikkan nada nada beraksentuasi bossanova yang dirintisanya sejak tahun 1973.Awal karirnya bermula dari klab malam. Dan pada dasawarsa 80an mulai menembus industri musik dengan serial bossanova bersama Ireng Maulan.

Zeke Khaseli adalah pemusik muda yang pernah membentuk band Lain dan Zeke and The Popo.Dalam setiap anyaman musiknya setidaknya ada dua anasir musik yang terjejal dalam karya karya Zeke yaitu psychedellia dan folk. Ini adalah kolaborasi yang bikin penasaran siapa saja.Bagaimana mungkin Zeke Kaseli akan bersepanggung dengan Ermy Kullitt ? Musik seperti apakah yang akan ditawarkan oleh keduanya ?.

Bersandingnya The Upstairs dan Andy Ayunir menjadikan Andy Ayunir bak anggota baru bagi The Upstair yang juga memilih sofistikasi synthesizer dalam racikan musiknya.

Ini sebuah penampilan langka dari dua generasi berbeda dengan ragam musik yang memiliki relativitas.

Andy Ayunir adalah pemusikyang bergelimang teknologi masa depan.Pemusik yang pernah membentuk band Second Smile ini sehari-harinya memang bergelayut dengan jeram bunyi-bunyian sarat sofistikasi.Dkia bahkan pernah didapuk menjadi produser album The Upstairs.

The Upstairs yang terbentuk di tahun 2001 atas gagasan vokalis Jimi Multhazam  dan gitaris Kubil Idris telah memilih wacana synthpop atau new wave sebagai jatidiri musikalnya.

DjakSphere sesungguhnya bukan kegenitan untuk memamerkan sensasi belaka,tapi merupakan upaya pemetaan sekaligus pendokumentasi khazanah musik Indonesia yang harus kita akui mengalami putus rantai.Secara filosofis kolaborasi antar generasi dan genre musik ini ingin memperlihatkan sebuah keragaman yang berujung pada sebuah harmonisasi.

Hidup Musik Indonesia

@dennysakrie  #musikindonesiakeren