DjakSphere 2012 Memintal Lintas Generasi dan Genre Musik

Posted: November 10, 2012 in Konser

Dinding yang membatasi generasi musik dan genre musik selama ini begitu kokoh menyekat dua kutub yang seolah tak mungkin bersatu dan bersenyawa dalam gugus musik Indonesia.Djakartmosphere sejak tahun 2009 berupaya meruntuhkannya dengan menyajikan pertunjukan musik lintas generasi dan lintas genre. Kebekuan dua kutub yang saling berbeda itu pada akhirnya lumer juga.Tak ada lagi gap antara pemusik era lalu dan era sekarang.

Mereka bersepanggung menyatukan genre maupun subgenre yang tak sama, yang menggema akhirnya adalah musik dan musik.

Tahun 2012 ini,untuk yang keempat kalinya G Production kembali menghamparkan panggung perhelatan DjakSphere,dengan merekatkan dua generasi musik dan genre musik  dalam sebuah kemempelaian yang unik dan memiliki nilai historik.

Ada Bob Tutupoly,Benny Soebardja,Ermy Kullit dan Andy Ayunir yang mewakili generasi silam.lalu ada Shaggydog,The S.I.G.I.T, Zeke Khaseli serta The Upstair yang mewakili generasi sekarang.Sebuah kolaborasi unik dan eksotik yang terkadang kerap dianggap sebagian ornag sebagai sesuatu yang muskil. Tapi toh G Production tampaknya telah memiliki kepiawaian untuk menyajikannya, dan sudah pasti didukung oleh niat dan hasrat para penampil untuk berpetualang dalam rimba musik yang rimbun dan sarat gelegak.

Rentang waktu yang jauh terpentang bukanlah kendala.Baik ShaggyDog maupun Bob Tutupoly menyatukannya lewat ekspresi dan groove music.Bukan lagi kendala gagal bersatunya air dan minyak.Tapi mereka adalah senyawa yang pasti menggetarkan penikmatnya. Sekstet ShaggyDog terbentuk di tahun 1997 menghadirkan fusi musik Ska Reggae Jazz,elemen musik yang bermuara pada ekspresi jiwa yang lugas.Didukung oleh Heru,Yoyok,Banditz,Lilik,Raymond dan Richard, ShaggyDog telah merilis 5 album yaitu ShaggyDog,Bersama,Hot Dogz,Kembali Berdansa dan Bersinar . Bob Tutupoly mulai rekaman tahun 1959 dan di tahun 2012 saat berusia 73 tahun Om Bob Tutupoly masih ajeg merilis album baru.

Bersatunya rocker senior Benny Soebardja dan The S.I.G.I.T seperti ingin memancangkan sebuah pemeo lama bahwa : Bandung adalah gudang pemusik pembangkang dalam idealisme dan kreativitas terutama rock.

Membangkang dan tak mau diatur itu kredo rock yang sesungguhnya.Ketika semua band rock Indonesia di era 70an berlomba lomba menjadi tribute band, Sharkmove dan Giant Step ,dua band rock yang digagas Benny Soebardja malah lebih suka menyanyikan lagu karya sendiri baik di rekaman maupun panggung.

Bersepanggungnya The S.I.G.I.T dengan Benny Sobardja seperti memintal tali generasi antar pemusik rock.Benny Soebardja mewakili kaum rock pendahulu dan The S.I.G.I.T mewakili kaum rock penerus.

Ermy Kullitt selama ini telah tersemat sebagai penyanyi jazz yang renyah dalam membisikkan nada nada beraksentuasi bossanova yang dirintisanya sejak tahun 1973.Awal karirnya bermula dari klab malam. Dan pada dasawarsa 80an mulai menembus industri musik dengan serial bossanova bersama Ireng Maulan.

Zeke Khaseli adalah pemusik muda yang pernah membentuk band Lain dan Zeke and The Popo.Dalam setiap anyaman musiknya setidaknya ada dua anasir musik yang terjejal dalam karya karya Zeke yaitu psychedellia dan folk. Ini adalah kolaborasi yang bikin penasaran siapa saja.Bagaimana mungkin Zeke Kaseli akan bersepanggung dengan Ermy Kullitt ? Musik seperti apakah yang akan ditawarkan oleh keduanya ?.

Bersandingnya The Upstairs dan Andy Ayunir menjadikan Andy Ayunir bak anggota baru bagi The Upstair yang juga memilih sofistikasi synthesizer dalam racikan musiknya.

Ini sebuah penampilan langka dari dua generasi berbeda dengan ragam musik yang memiliki relativitas.

Andy Ayunir adalah pemusikyang bergelimang teknologi masa depan.Pemusik yang pernah membentuk band Second Smile ini sehari-harinya memang bergelayut dengan jeram bunyi-bunyian sarat sofistikasi.Dkia bahkan pernah didapuk menjadi produser album The Upstairs.

The Upstairs yang terbentuk di tahun 2001 atas gagasan vokalis Jimi Multhazam  dan gitaris Kubil Idris telah memilih wacana synthpop atau new wave sebagai jatidiri musikalnya.

DjakSphere sesungguhnya bukan kegenitan untuk memamerkan sensasi belaka,tapi merupakan upaya pemetaan sekaligus pendokumentasi khazanah musik Indonesia yang harus kita akui mengalami putus rantai.Secara filosofis kolaborasi antar generasi dan genre musik ini ingin memperlihatkan sebuah keragaman yang berujung pada sebuah harmonisasi.

Hidup Musik Indonesia

@dennysakrie  #musikindonesiakeren

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s