Genderang Orkes Gumarang

Posted: November 16, 2012 in Kisah, Sejarah

Album Orkes Gumarang yang dirilis Mas Jos melalui label miliknya Irama

Ketika sosok pemusik Xavier Cugat menjadi titik perhatian dunia dengan musik Latin (baca cha cha, mambo pada dasawarsa 40-an. Wabah ini pun merambat dan menjalar pula ke negeri kita tercinta  ini. Kenapa musik Latin bisa dengan cepat merasuk dalam lubuk dan sanubari kita ? Jika ditilik secara seksama,ternyata ada sedikit persamaan antara musik Latin dan musik melayu : sama sama membius penikmatnya untuk lebur dalam sebuah goyangan atau tarian.Dengan ritme repetitif yang diperkuat aksentuasi perkusif.

Maka baik musik Latin maupun Melayu dengan cepat mengagitasi siapapun untuk terjebak dalam tarian.  Demam Latin ini juga berdampak banyak dalam industri musik tanah air pada era 50-an hingga 60-an. Pada paruh dasawarsa 50-an mulai bertebaranlah kelompok kelompok musik yang menyematkan kata orkes pada jatidrinya masing masing.Satu diantaranya adalah Orkes Gumarang yang diarsiteki oleh lelaki berdarah Sumatera Barat,Asbon Madjid.

Pada pasca perang Dunia II,musik hiburan (ini adalah sebutan untuk musik pop) sangat dipengaruhi oleh musik rock n’roll dan doo wop yang diadopsi dari Amerika Serikat.Tapi pada saat bersamaan Amerika pun tak bisa menghambat menyelusupnya musik Latin dari wilayah Havana,Kuba Asbon secara genial memerikkan pengaruh Latin dalam racikan musik yang diangkat dari tradisi musik Minangkabau. Dan perpaduan yang dilakukan Asbon ternyata memang berjodoh.

Selain Asbon,juga terdapat beberapa pemusik muda Minang lainnya seperti Sjaiful Nawas,Awaluddin, Joeswar Chairudinn,Dhira Soehoed maupun Anwar Anif. Mereka sepakat memakai nama Gumarang yang konon diangkat dari cerita rakyat Minang, Tjindue Mato, yang tokoh utamanya memiliki tiga binatang kesayangan. Tiga binatang itu adalah Kinantan si ayam jantan yang jago, Binuang si banteng yang gagah berania, dan Gumarang si kuda sembrani dengan bulu putih yang larinya  konon bagaikan kilat sehingga menurut legenda tersebut bisa keliling dunia dalam sekejap.Seperti yang mereka maksudkan, Gumarang memang nyaris sekejap menuai ketenaran.
Jelas ada tersemburat idealisme dalam benak anak muda ini dalam melakoni dunia musik.Meskipun mereka tak mampu membendung kilau pesona musik Latin,tapi mereka mengambil jalan tengah.
Ditengah denyut lagu-lagu seperti Quisas Quisas hingga Besame Mucho ,para awak Gumarang menyelusupkan musik ranah sendiri : Minang. Lagu-lagu Minang sohor yang dipopulerkan Orkes Penghibur Hti  macam “Dajung Palinggam” hingga “Kaparinjo” mereka mainkan dengan imbuhan musik Latin. Setelah masa kepimpinan Anwar Anif yang dianggap melambungkan popularitas Gumarang termasuk merlis album di perusahaan rekaman Lokananta berakhir,tampuk pimpinan lalu dipegang Asbon Madjid. Asbon bahkan menggagas agar Gumarang mulai menulis lagu-lagu sendiri.
Kekuatan Gumarang kian menjadi setelah direkrutnya penyanyi Hasmanan yang pada dasawarsa 70-an malah merambah dunia pefilman sebagai penulis skenario dan sutradara antara lain menggarap film “Bing Slamet Setan Jalanan”,”Bing Salmet Sibuk”,”Dimana kau Ibu”,”Romi dan Yuli” dan banyak lagi. Selain Hasmanan,Gumarang juga didukung seorang pianis yang memiliki intuisi tajam dalam bermain musik Latin yaitu Januar Arifin. Termasuk pula penyanyi wanita Nurseha.
Disisi lain,setidaknya ada 3 orkes yang juga melakukan penyemaian musik hibrida.Yakni membenturkan musik Minang dengan bingkai rock n’roll.Ketiga orkes itu adalah Orkes  Zaenal Combo yang dimotori almarhum Zaenal Arifin.Lalu ada Orkes Kumbang Tjari yang dipimpin Nuskan Sjarif dan Orkes Teruna Rian yang digagas almarhum Oslan Hussein.
Salah satu album yang esensial dari fenomena ini adalah album “Kampung Nun Djauh di Mato” dari orkes Gumarang yang dirilis oleh perusahaan rekaman Irama milik alamrhum mas Jos atau Sujoso Karsono. Pemilik Irama Record memang sering mengamati sepak terjang Gumarang .Mas Jos begitu yakin percampuran Latin dan Minang ini akan menggedor kuping khalayak.
Tawaran dari Irama pun diterima.Gumarang pun siap dengan stetumpuk lagu antara lain “Ajam Den Lapeh “ karya  Abdul Hamid, Jiko Bapisoh dan Laruik Sandjo ciptaan Asbon, Jobaitu ciptaan Sjaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin, Badju Karuang, Ko Upiek Lah Gadang, Titian Nan Lapuak, serta Nasib Sawahlunto, Rentak Minang berpadu dengan beat cha cha. Cha Cha adalah sebuah gerakan tarian  pergaulan yang berasal dari Kuba dan diprakrasai oleh Enrique Jorrin.

Insting mas Jos terbukti .Lagu-lagu yang dibawakan Orkes Gumarang menjadi hits nasional yaitu : Ajam Den Lapeh dan Laruik Sandjo. Bahkan kedua lagu ini pun diangkat ke layar lebar dengan format hitam putih.Sutradara kesohor almarhum Usmar Ismail menggarap film “Laruik Sandjo” pada tahun 1960 dengan bintang utama pasangan Bambang Irawan (ayah dari Ria Irawan) dan Farida Oetojo (ibu dari drummer jazz Aksan Sjuman).

Lalu sutradara Gatot Iskandar  menggarap film “Ajam Den Lapeh” (Stupa Film 1960) dengan bintang utama Bambang Irawan dan Farida Ariany.

Album Bapisah Bukannjo Batjarai – Orkes Gumarang yang dirilis pada tahun 1971

Penyanyi Juni Amir pun turut serta berperan di film ini.Film ini bertutur tentang  Nurseha (Farida Arriany) dijodohkan orangtuanya dengan Rizal (Bambang Irawan), pemuda sekampung, kaya dan mencintai Nurseha. Tapi, Nurseha sendiri sudah terikat janji dengan Amir (Juni Amir),       biduan Orkes Gumarang, kawannya. Kemudian tampak perbedaan mereka. Nurseha bercita-cita mengabdi seni suara sepenuhnya, sedang Amir menginginkan Nurseha sebagai nyonya rumah saja. Keduanya bersikukuh pada pendirian masing-masing dan berpisah. Sementara itu Rizal yang menyadari tidak dicintai Nurseha, lalu memacari Yanti (Neneng Suharti), kawan Nurseha. Maka terjadilah seperti lirik lagu ”Ayam dan Lapeh”: sikucapang sikucapai (yang dikejar tak dapat, yang dikandung bercece

Sebuah film musikal yang mengangkat popularitas Gumarang.
Kini Gumarang berinkarnasi dalam Orkes New Gumarang ,kelompok yang dibentuk lagi untuk meneruskan kiprah dan ketenaran Gumarang di dawarsa 60-an.Mereka masuk bilik rekaman lagi dan mengjhasilkan album “Nan Bagala”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s