Arsip untuk Desember, 2012

Banyak orang yang suka menuding bahwa musik menunjukkan usia.Maksudnya mungkin,jika seseorang menyukai sebuah genre atau subgenre musik maka akan tertebaklah musik apa yang disukai.Bisa iya bisa juga tidak. Ini memang hal yang nisbi.Hal ini memang terjadi ketika saya membeli album debut “Innerspeaker” (2010) Tame Impala  ,band anak muda yang berasal dari Australia yang digagas Kevin Parker.

”Pasti mas Denny suka dengan Tame Impala.Agak Beatlesque dan psychedelic” ujar si anak muda yang menjadi pramuniaga sebuah took vinyl di selatan Jakarta.Anak muda itu benar,muatan musik yang disuguhkan Tame Impala memang beratmosfer psychedelick 60s.Ada harmoni The Beatles terutama gesture vokal Kevin Parker yang mau gak mau mengingatkan saya pada mendiang John Lennon.

Kevin Parker adalah Tame Impala,begitu pula sebaliknya.Ketika album Lonerism,album kedua Tame Impala dirilis Oktober 2012 baru baru ini,saya buru buru mengakui inilah band sekarang yang saya sukai.Bukan karena ada kepingan-kepingan nostalgia dari struktur dan esensi musiknya.Tapi karena Tame Impala mampu menempatkan aura band masa lalu sebagai ingredient yang menjadi adonan musiknya.Kevin Parker menurut saya bukanlah pemusik retro yang menghambakan diri pada kegemilangan musik pop masa lalu, tapi bagaimana Parker dengan cerdas menempatkannya sebagai picu kreativitas.

Konsep Tame Impala memang banyak meluncur dari benak Kevin Parker.Di album Lonerism ini Kevin Parker nyaris menulis sekitar 12 lagu,dua diantaranya yaitu  Apocalypse Dreams dan Elephant digarap bersama Jay Watson.

Divisi lirik Tame Impala pun patut distabillo bosskan,seperti pada lagu Elephant :

Well, he feels like an elephant
Shaking his big grey trunk for the hell of it
He knows that you’re dreaming about being over him

Kevin Parker banyak bermain tekstural dalam penggarapan sound yang menautkan bunyi gitar hingga keyboards.Kevin Parker adalah arsitek yang membangun jembatan yang menghubungkan antara perangai musik pop masa lalu dan masa kini   .Simak Be Above it yang memperkuat argument saya tentang kejeniusan Kevin Parker.

Lalu introduksi gitar yang meliuk-liuk dengan latar flanger sound dalam Endors Toi ini membuat kita terperangkap dalam sebuah déjà vu psikedelik.Penikmat The Beatles era Revolver pasti seperti menemukan sebuah reinkarnasi yang nyata di lagu ini.

Teknik falsetto yang diterapkan Kevin Parker pada Apocalypse Dreams ini juga seperti sebuah tamasya tak berujung.Parker memang bukan Lennon ,tapi Parker memiliki sudut pandang dan jejal visi musical yang rasanya sepadan dengan Lennon.

Agak sulit memilih mana track yang paling apik di album Lonerism ini.Harmoni vokal yang diimbuh detak drum,gitar dan bas ini rasanya telah menjadi signature Tame Impala terutama pada lagu Mind Mischief yang  sonikal itu.Pilihan notasi yang elegan pun yang membuat saya pada akhirnya memilih album Lonerism sebagai album mancanegara terbaik 2012 versi saya tentunya .

Tracklist

1.Be Above It

2.Endors Toi

3.Apocalypse Dreams

4.Mind Mischief

5.Music To Walk Home By

6.Why Won’t They Talk To Me ?

7.Feels Like We Only Go Backwards

8.Keep On Lying

9.Elephant

10.Sje Just Won’t Believe Me

11.Nothing That Has Happened  So Far Has Been Anything  We Could Control

12.Sun’s Coming UpImage

gesang4Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi…
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu…
Naik itu perahu

Langgam “Bengawan Solo” yang ditulis almarhum Gesang pada era Perang Dunia ke II tepatnya di tahun 1940.Saat Gesang berusia 23 tahun.Lirik dan notasinya sederhana.Tapi membekas dan membias ,tak hanya di Indonesia melainkan hingga ke Jepang,negeri yang sempat menjajah ibu pertiwa sekitar 3 setengah tahun lamanya.Uniknya,justeru penggemar “Bengawan Solo” terbesar di dunia justeru di Jepang.Penggemar Gesang di negeri Sakura justeru meluap.Kitaro,pemusik synthesizers asal Jepang bahkan membawakan “Bengawan Solo” dengan atmosfer grand dan orkestral.Penyanyi jazz Jepang Lisa Ono menyanyikan “Bengawan Solo” dalam rentak bossanova di Java Jazz beberapa tahun silam.
Tak syak lagi dengan langgam keroncongnya,karya Gesang itu merupakan ikon musik pop yang terhapus waktu.Riawayatnya akan terus berkumandang hingga akhir zaman,barangkali.
Jika menukil riwayat hidup Gesang.Maka sebetulnya tak ada yang berlebihan dalam arung waktu yang diengkuhnya dari kecil hingga ajal menjemput.Nama aslinya adalah Sutadi.Tapi karena kerap jatuh sakit lalu digantilah dengan nama Gesang .Gesang tetap sosok khas Jawa yang sederhana.
Dalam tuturnya terbetik kisah bahwa disaat bocah Gesang acapkali sakit-sakitan . Gesang juga menjadi anak yatim setelah ibunya meninggal dunia tataklai ia baru berusia lima tahun. Gesang sendiri hanya sempat mendapatkan pendidikan formal di Sekolah Rakyat Ongko Loro hingga kelas V.
Pada akhirnya,musik adalah dunia yang dititinya.
Setelah merampungkan “Bengawan Solo”,setahun berselang Gesang melahirkan sebuah lagu bernuansa romansa bertajuk “Sapu Tangan” yang kabarnya diangkat dari kisah personal yang pernah dialaminya.

Lagu “Saputangan” menurut Gesang menjadi karyayang memiliki maknai tersendiri .Lantaran lagu itu diciptakannya justeru merujuk pada pengalaman pribadi yang susah untuk dilupakan begitu saja. Gesang semasa hidupnya pernah bertutur bahwa ,seuntai saputangan dari kekasih yang menjadi inspirasi penulisan lagu itu masih tersimpan dengan baik hingga kini. Tapi Gesang tak pernah mau memperlihatkannya kepada siapa pun.Saputangan itu tetap disimpannya hingga maut menjemputnya 20 Mei 2010 lalu.
Tahun 1941, setelah menciptakan lagu Saputangan dan putus cinta dengan si pemilik saputangan, Gesang lalu menikah dengan seorang gadis pengagumnya. Namun ,seetelah menikah selama kurang lebih 20 tahun dan tidak dikaruniai seorang anak pun, Gesang dan sang isteri i memutuskan untuk bercerai di tahun 1961 .Sejak itu Gesang bertekad tak akan pernah menikah lagi. Kabarnya,Gesang takut mengulang kekecewaan untuk kedua kalinya.

Prestasi musik yang membanggakan Gesang adalah ketika bergabung dengan Orkes Keroncong Kembang Kacang sebagai penyanyi. Dalam Orkes Keroncong yang dipimpin oleh almarhum Supinah inilah bakat Gesang sebagai penyanyi dan pencipta lagu terasah tajam. Gesang senantiasa meminta pemain OK Kembang Kacang untuk memainkan setiap lagu baru yang baru saja ditulisnya. Seperti diakuinya,Gesang tak memiliki basic ilmu musik yang memadai.Tapi Gesang memiliki intuisi musik yang tajam.

“Kalau mencipta lagu, saya kira-kira dulu dalam pikiran saya. Hanya liriknya yang saya tulis, kemudian saya minta kepada teman untuk memainkan melodinya dengan alat musik, apakah sesuai dengan keinginan saya atau tidak, dan biasanya semuanya lancar,” ucap Gesang dalam biografi tentang dirinya yang diterbitkan pada tahun 2004 silam.

Gesang seolah mengabdi hidupnya pada seni.Gesang memang seolah lebih menomorsatukan musik dari segalanya . Kesetiaan pada musik itulah yang juga menyebabkan Gesang terpaksa berpisah dengan istri karena selama berumah tangga Gesang selalu berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu kota pementasan ke kota pementasan lainnya. Selain kesetiaan pada seni, satu ciri lain yang menonjol pada Gesang adalah kesederhanaan pribadinya. Ia jauh dari impian yang muluk-muluk. Gesang menerima seperti apa adanya semua yang menghampiri hidupnya.Seperti kata orang Jawa,Gesang itu nrimo.Tidak neko-neko.
Gesang memang telah berpulang.Tapi karya karyanya,saya yakin,tak akan lekang.Tetap berkumandang………seperti Bengawan Solo yang terus mengalir dan mengalir…….

Englishman In Jakarta

Posted: Desember 16, 2012 in Konser
Sting (Foto Santirta Martendano -  PlasaMSN

Sting (Foto Santirta Martendano – PlasaMSN

18 tahun yang lalu tepatnya sabtu 5 Februari 1994 Sting menggelar konser perdananya di Jakarta bertempat di Plenary Hall Jakarta Hilton Convention Center bersama gitaris turunan Argentina Dominic Miller,keyboardis David Sancious dan penggebuk drum stylish Vinnie Colaiuta.”Kini setelah 18 tahun berlalu kita bertemu lagi” ucap Sting kepada penonton yang mnemenuhi Mata Elang International Stadium (MEIS) yanbg berada di dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol Jakarta.Hampir tak ada yang berubah dari Sting.Berpakaian bersahaja.Suara melengking sambil membetot bass vintage Fender berdawai lima.Tur dunia yang diberi nama “Back To The Bass World Tour” ini telah berlangsung selama setahun dan Jakarta sabtu 15 Desember 2012 menjadi lawatan tur konser terakhir setelah konmser di Singapore 13 desember yang ternyata juga didukung oleh 3 permusik yang dulu dibawanya ke Jakarta pertama kali yaitu David Sancious,Vinnie Colaiuta dan Dominic Miller.Tampaknya ketiga pemusik ini dianggap Sting paling tepat untuk mengobarkan ekspresi bermusiknya di panggung.Dominic Miller bahkan telah 20 tahun mendampingi Sting    baik di bilik rekaman maupun di panggung pertunjukan.Sting dan Dom demikian panggilan akrabnya bahkan menulis lagu “Shape of My Heart” bersama-sama.

Meski telat sekitar 45 menit dari jadwal konser yang seharusnya dimulai jam 20.00 dibuka dengan hits If I Ever Lose My Faith In You dari album Ten Summoner’s Tale.Derai antusias penonton yang memang memahami repertoar Sting pun membahana.Lelaki Inggeris ini pun seperti kena strum semangaty dari applause penonton dan melanjutkan dengan   Every Little Thing She Does Is Magic sebuah hit dari album The Police di tahun 1981 “Ghost Machine”.Lagu ini ditulis oleh Sting di tahun 1976 dan sudah pernah direkam Sting saat masdih memakai nama Strontium 90.Tampaknya ini lagu yang cukup memiliki makna bagi Sting.Kenapa ? Karena lirik lagu ini pernah diulanginya lagi dalam lagu “O My God” dari album “Synchronicity” (1983).Bahkan lirik ini pun disusupkan lagi pada lagu “Seven Days” dari album solonya “Ten Summoner’s Tale” (1993).Bait lirik itu adalah :

Do I have to tell the story
Of a thousand rainy days since we first met?
It’s a big enough umbrella
But it’s always me that ends up getting wet.

Sting memang ramah dihadapan penggemarnya.Koor missal terjadi ketika Sting menyenandungkan “Englishman In New York”,sebuah lagu dengan komposisi unik terutama pergantian beat dari reggae ke swing jazz.Drummer Vinnie Colaiuta bermain secara artistic di lagu ini.

Tak bias disangkal popularitas the Police membumbung tinggi di Indonesia sejak awal era 80an.Saat itu lagu lagu The Police di putar  di berbagai radio siaran swasta.Bahkan kaset bajakan barat yang illegal tapi legal itu merilis semua album album Sting dari era 1979 hingga 1983.Perekam perekam Barat seperti Saturn,Contessa,King’s hingga Aquarius adalah medium yang secara takj langsung mempopulerkan the Police di Indonesia. Jadi tak heran ketika sekitar 10 lagu The Police dari 21 lagu yang dinyanyikan semalam oleh Sting membuat para penggemar The Police seperti dalam akuarium ekstasi yang memuaskan sanubari.Ke 10 lagu the Police yang dibawakan Sting adalah Every Little Things She Does Is Magic,Demolition Man,Driven To Tears,Message In The Bottle,Wrapped Around Your Finger.De Do Do Do,De Da Da Da,Roxanne,King Of Pain,Every Breathe You Take dan Next To You.

Sting banyak menyanyikan lagu lagu dari album solo bertajuk Ten Summoner’s Tale mulai dari If I Ever Lose My Faith In You,Seven Days,Fields Of Gold dan Shape Of My Heart.Di lagu yang terakhir itu Sting menulis lagu bersama gitaris Dominic Miller.Di panggung Dominic Miller memperlihatkan ekspresi emosi yang mermadai saat memetik gitar dari introduksi hingga interlude.

Dari album Nothing Like The Sun yang dirilis tahun 1987 ,Sting memilih menyanyikan Englishman in New York dan Fragile yang menjadi encore penutup konsernya.Menariknya,Sting member kepuasan para penonton dengan member encore lebih dari satu mulai dari Desert Rose yang bercvoirak World Music hingga 3 lagu the Police King Of Pain,Every Breathe You Take dan Next To You.

Fragile tampaknya adalah lagu yang paling tepat sebagai penutup konser Sting.Lagu ini ditulis Sting untuk Ben Linder seorang civil engineer  yang tewas dibunuh oleh Contras sebuah kelompok oposisi pemerintahan Nikaragua di tahun 1987 pada saat mengerjakan proyek hidro elektrik di Nikaragua.Banyak yang mengharapkan Sting mempersembahkan lagu ini untuk Munir,aktivis yang nasibnya sama dengan Ben Linder : Mati terbunuh.Di antara jubelan poenonton terrlihat ada yang menggunakan kaos T bergambar Munir. Tapi Sting tak melakukannya.Namun tanpa menyebut nama Munir,lagu Sting ini memang ingin menyuarkan sebuah ketimpangan dalam sebuah kekuasaan dan angkara.

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime’s argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

Setlist

1.If I Ever Lose My Faith In You

2.Every Little Thing She Does Is Magic

3.Englishman In New York

4.Seven Days

5.Demolition Man

6.I Hung My Head

7.The End Of The Game

8.Fields Of Gold

9.Driven To Tears

10.Heavy Cloud No Rain

11.Message In The Bottle

12.Shape Of My Heart

13.The Hounds Of Winter

14.Wrapped Around Your Finger

15.De Do Do Do, De Da Da Da

16.Roxanne

17.Desert Rose

18.King Of Pain

19.Every Breathe You Take

20.Next To You

21.Fragile

Sewindu Berpulangnya Harry Roesli

Posted: Desember 11, 2012 in Uncategorized
Harry Roesli (Foto Rumah Musik Harry Roesli)

Harry Roesli (Foto Rumah Musik Harry Roesli)

Tepat hari ini 11 Desember sewindu yang silam, Harry Roesli berpulang. Harry Roesli betul betul meninggalkan kita untuk selama lamanya. Banyak yang tak percaya mendengarkan kabar duka itu.Banyak yang menyangka kabar duka itu hanyalah jahil-jahilan almarhum yang memang sejak era 70an dijuluki biang Bengal Bandung. Saya masih ingat ketika Harry Roesli dan serombongan gang musiknya tampil di layar TVRI Pusat Jakarta tampil membawakan lagu Merak dengan menggunakan kaos bertuliskan ALMARHUM. Sebuah protes dan sebuah kritik yang damai telah dilakukan Harry Roesli tanpa menggunakan kekasaran gada dan kekasaran kata.Harry tetap santun tapi nyetrum. Lagu Merak itu sendiri adalah celoteh bengal Harry terhadap negeri ini,negeri kita tercinta Indonesia.

Negeri cantik dimana kau kini ? .
Tapi langkahmu terjejak di tanah.
Itulah tuan oh arahnya kan kukejar
Lihat daun daun berguguran .
Tapi mereka akan membersihkan.
Akupun yakin kau bermimpi kini
Lalu dalam lagu Berduka Cita, Harry  Roesli menuturkan tentang…..lagi lagi negeri ini yang dianggapnya hanya selalu mengiba pinjaman hutang dari negara Negara adi kuasa dan adi ekonomi :
Menjelaskan kepada dunia bahwa kita kan tetap bersatu
Tutup matamu dari rayuan bukakanlah tentang keadilan
Karya karya Harry Roesli dalam musik memang sarat satir dan metafora.Dia terampil bertutur dan menata kata.
Dalam lagu “Semut” yang ada di album Titik Api (1976) Harry Roesli berdendang lirih :Dunia pun bertambah tua menangis dan merana.menantikan darah membeku dibatas kelabu
Jam dinding tak terbalik berputarnya
Semut semut mengapa engkau dusta.
Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana.
Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati.
Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi.
Itulah penggalan lirik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pemusik dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli ini menghembuskan napas terakhirnya Sabtu 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.
Hari ini sewindu sudah kang Harry meninggalkan kita .

Namun, karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam pelbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.
Lagu Jangan Menangis Indonesia itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki biang Bengal Bandung ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.
Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda. Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.
Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.
Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini :
Kubunuh suamimu
kurebut tahtanya
dan engkau kujadikan isteriku!
Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.
Tahun 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. Ia mendapat beasiswa dari Ministerie Recreatien Maatscapeliik Werk. Harry yang merupakan cucu dari pujangga Marah Roesli menyelesaikan studinya pada 1981 sebagai seorang doktor dalam bidang musik.
Sekembalinya ke Indonesia, semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi.

Dia menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.
Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.
Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: ‘Jangan matikan lampu di kamar kerja saya’. Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.Tetap hidup hingga akhir zaman.

Jopie Item, Gitaris Abu Abu

Posted: Desember 10, 2012 in Opini, Sosok
Foto Dokumentasi Jopie Item

Foto Dokumentasi Jopie Item

Jopie Item Combo di TVRI 1976

Jopie Item Combo di TVRI 1976

Bagi saya Jopie Reinhard Item adalah gitaris abu-abu.Kenapa ? Jujur saya tidak bisa mengidentifisir apakah dia itu gitaris bergenre musik apa.Dia main pop jago.Main jazz rock apa lagi.Pernah main rock juga.Ngeblues apalagi.Pernah dengar lagu”Mengapa Tiada Maaf” nya Yuni Shara.Nah, musiknya dibikin oleh Jopie Item.
Tapi terus terang kekaguman saya terhadap musik Jopie Item terjadi antara tahun 1975-1977,saat itu Jopie Item bersama Karim Suweileh (drum) almarhum Wempy Tanasale (bass),almarhum Alex Faraknimella (keyboards) sering mengisi acara hiburan musik di TVRI sebagai band pengiring.Penyanyi yang diiringi semuanya pop ada GraceSimon,Tina Roy,Kustaman,Mira Tania,Roedy Damhudi,Maya Sopha dan banyak lagi ,tapi arransemennya dirombak habis menjadi rasa jazz rock plus funk.

Lagu “Mungkinkah”yang dipopulerkan Kris Biantoro bisa menjadi lain atmosfernya.Permainan gitarnya itu lho…..perpaduan antara Jeff Beck,Tommy Bolin hingga Mike Bloomfield.
Saat itu banyak kalangan purist jazz mengkritik Jopie Item menghancurkan kaidah jazz dengan eksperimentasi jazz rocknya itu.Tapi Jopie terus berlenggang.Dia terus bereksperimen di CelebrityStudio, sebuah studio yang dipergunakan TVRI untuk membuat playback acara siaran musiknya.
Jopie Item pun kemudian diajak bergabung dalam Jack Lesmana antara lain ikut mendukung album “Semua Bisa Bilang” Margie Segers yang dirilis Hidayat Record tahun 1975.
Dan di tahun 1976 Jopie Item malah mengiringi penyanyi rock Mickey Micahel Merkelbach dalam album solonya bertajuk “Rumah Sakit”yang dirilis Yukawi Corp.Saat ituJopie bersama Karim dan Wempy menggunakan nama Kamasutra Band.
Sempat pula mengisi gitar di salah satu album “Duo Kribo”.Bahkan sempat pula bergabung dalam formasi God Bless.
Yang jelas Jopie Item termasuk pemusik yang telah berkelana dalam berbagai band dengan berbagai genre.Jopie Item pernah tergabung dalam Buana Suara,Jejaka,Gitarama,Ayodya,Arulan,Kwartet Bintang,Empat Nada,Eka Sapta Junior,Eka Sapta All Stars,The Putri Tujuh,TheGalaxies,The Magicians,The Flamingo,DeSelmons,Babyface,Jack Lesmana Combo,Jopie Item Combo,Airman,JopieItem Collection,Subentra Band
Ketika bersama The Galaxie,JopieItem sempat mengiringi Oma Irama.Sebuah album pop dengan sedikit nuansa rock.
Jopie Item yang ayahnya gitaris jazz sohor Surabaya Loddy Item,sejak berusian8 tahun telah bermain dalam sebuah band bocah.Sejak kecil,Jopie telah mengenal Jack Lesmana,karena Jack adalah sahabat ayahnya.Di zaman itu musik jazz memang berkembang pesat di Surabaya yang ditandai munculnya sosok seperti Jack Lesmana,Bubi Chen,Maryono,Loddy Item  Didi Pattirane termasuk Wim Gontha,ayah kandung Peter F Gontha,pengusaha penggagas acara jazz terbesar Jakarta Internasional Java Jazz Festival .
Jopie Item pun tercatat telah mengiringi banyak penyanyi pop negeri ini,mulai dari TitiekPuspa,LilisSurjani,Elly Kasim,Emillia Contessa,Oma Irama,Ernie Djohan,Ida Royani,Deddy Damhudi,Vivi Sumanti,Inneke Kusumawati,Tetty Kadi,Elvy Sukaesih,Anna Mathovani,Broery Marantika,Mona Sitompul,Rien Djamain,MargieSegers,Mickey MichaelMerkelbach,Joan Tanamal,Utha Likumahuwa,Jacky Bahasoan,Nunung Wardhiman,2 D,Yuni Shara,Dessy Ratnasari,Andi Meriem Mattlatta,Dewi Yull,Pance Pondaag,Delly Rollies,Betharia Sonata,termasuk puterinya sendiri Audy.
Dan Jopie Item tetap memainkan musik apa saja.Dia tetap abu abu

Rendra Sang Wisanggeni

Posted: Desember 10, 2012 in Obituari
Foto : Dok.Keluarga Rendra

Foto : Dok.Keluarga Rendra

Foto : Dok.Bengkel Teater

Foto : Dok.Bengkel Teater

WS Rendra dan Puisi

Jam 22.24 WIB Kamis 6 Agustus 2009 saya ditelepon seorang teman :”Mas,Rendra meninggal dunia “.Sejenak saya tercenung.Kaget,karena beberapa pecan sebelumnya saya mendapat kabar Rendra yang dirawat di RS Harapan Kita telah pulih dan kembali ke rumah.Lalu saya menghubungi sahabat Rendra,Yockie Suryoprayogo,untuk memastikan berita berpulangnya Si Burung Merak.Tiwie,isteri Yockie membenarkan kabar duka cita itu.Sekelebat saya langsung teringat sajak yang ditulis Rendra, “Makna Sebuah Titipan” :

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
“derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja

Kata-kata adalah kekuatan utama Rendra.Dia adalah sosok yang kokoh.Tegak pada sikap dan pendirian,hal sederhana yang sesungguhnya sulit untuk dilaksanakan.
Perginya Rendra pada Kamis 6 Agustus 2009 jam 22.15 WIB di RS Mitra bagi kita seperti kehilangan sebuah benda pusaka yang langka.Yang sulit dicari tandingannya.
Dalam sajaknya “Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya”,Rendra bertutur :

Hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh
Dan bukan pula demi surga atau neraka
Tetapi demi kehormatan seorang manusia

Kita pun akhirnya mahfum bahwa Si Burung Merak tak lagi sekadar sosok seniman atau pun budayawan saja.Rendra adalah sosok manusia tegar yang pantang gentar.Dia dilahirkan 7 November 1935 di Solo,Jawa Tengah dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra ,sebagai anak tertua dari 7 bersaudara. Ayahnya Raden.Cyprianus .Soegeng Brotoatmodjo,seorang guru bahasa Indonesia dan Jawa kuno di sebuah sekolah Yayasan Katholik di Solo. Ibunya Raden Aju Catharina Ismadillah pernah menjadi penari serimpi kesohor kraton Yogyakarta Hadiningrat. Rendra memang berdarah biru.Bersekolah di Taman Kanak Kanak Susteran,lalu mulai dari SD hingga SMAdi Bruderan.Rendra dibesarkan dalam tradisi Katholik.Saat itu Rendra memang anak baik yang aktif dalam gerakan pramuka.Tapi pada akhirnya Rendra berubah.Mulai membantah dan pernah diusir ayahnya karena kerjanya keluyuran dan luntang lantung tak keruan. Terjadi perbedaan prinsip antara Rendra dan ayahnya.Mungkin di fase inilah sikap kritis Rendra mulai mencuat tajam.Sebuah sikap yang kelak menjadi jati diri yang melekat kuat dalam sepak terjangnya baik dalam dunia seni maupun dalam berbagai sendi kehidupan. Sikap semacam ini justeru mengingatkan kita pada Wisanggeni ,tokoh wayang yang yang ternyata sangat digandrungi Rendra.

Menurut Rendra,Wisanggeni adalah simbol anak muda yang tak kenal kompromi .Senantiasa mbalelo dan kerap memberontak terhadap nilai nilai yang dianggap tak layak.Wisanggeni bahkan memberontak terhadap ayahnya sendiri,Arjuna.Sesuatu yang mirip dengan sikap Rendra terhadap sang ayah.

Jiwa pemberontak Wisanggeni kelak mewarnai semua sikap dan karya karyanya dalam ranah seni. Disaat berusia 15 tahun dengan menggunakan nama Willy SRD cerita pendeknya yang pertama bertajuk “Drama Pasar Pon” dimuat di majalah Pembimbing Putera.

Di tahun 1952,Rendra yang duduk dibangku SMA telah menghasilkan karya drama pertamanya dalam bentuk stensilan Goncangan Pertama dengan sebuah tagline Dipersembahkan kepada masjarakat dan pemuda.
Di tahun itu juga karyanya mulai dimuat di majalah Siasat.

2 tahun berselang karya karya puisi Rendra mulai bertebaran di berbagai majalah dalam rubrik sastra dan budaya yang terbit di Solo dan Jakarta seperti Kisah,Seni,Basis,Siasat Baru dan Konfrontasi.
Ditahun 1956 Rendra mendapat penghargaan tahunan dari majalah “Kisah” untuk cerita pendeknya bertajuk “Ia Punya Leher Yang Indah”.

Lalu pada tahun 1957 Rendra memperoleh Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional,karena dianggap menunjukkan prestasi sebagai penyair terbaik dalam kurun waktu 1955-1956.
Meski agak jarang menulis cerita pendek,namun Rendra di tahun 1963 menerbitkan kumpulan cerita pendeknya yang pertama dengan judul “Ia Sudah Bertualang”.

Yang paling banyak diterbitkan justeru adalah buku kumpulan sajak.”Balada Orang Orang Tertjinta” adalah buku kumpulan sajak Rendra yang pertama diterbitkan pada tahun 1957.Yang disusul dengan penerbitan buku “Empat Kumpulan Sajak” (1961),”Blues Untuk Bonnie” (1971) dan “Sajak Sajak Sepatu Tua”. Semuanya diterbitkan Pustaka Jaya.Ini adalah era paling subur dalam atmosfer kepenyairan Rendra.

Aura kepenyairan Rendra seolah membius siapa saja saat itu terutama dari kalangan anak muda yang seolah memperoleh wadah untuk mengidentifisir diri dalam sajak sajak Rendra.Apakah yang menjadikan sajak sajak Rendra seolah menghipnotis penikmatnya ?.Sastrawan Ajip Rosidi menyebut bahwa sajak sajak Rendra yang berbentuk epik sangat berbeda dengan pola penulisan sajak zaman itu yang cenderung bergaya lirika.

Prof. A. Teeuw, dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), menulis bahwa dalam sejarah Sastra Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan seperti Angkatan 45,Angkatan 60-an maupun Angkatan 70-an.Ini terbukti jika menilik karya-karyanya terlihat bahwa sesungguhnya Rendra justeru memiliki kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya karya Rendra memang pada akhirnya memikat siapa saja termasuk pengamat seni sastra mancanegara seperti Profesor Harry Aveling, dari Australia yang menaruh minat terhadap dunia sastra Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh ahli sastra Jerman Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Di sisi lain,sosok Rendra dalam dunia teater pun kian membumbung tinggi.Apalagi setelah kepulangan Rendra dari belajar teater di Amerika Serikat.Dia banyak membawa gagasan gagasan baru dalam iklim teater di negeri ini.Gaya teater Rendra yang ditampilkannya bersama Bengkel Teater memang agak menyimpang dari kelaziman.Sarat improvisasi dan cenderung nyeleneh.

Bengkel Teater dibentuknya di Yogyakarta pada tahun 1968.Oleh Rendra Bengkel Teater tak hanya menjadi semacam kelompok teater belaka,tapi dikembangbiakkan sebagai sarang seni budaya yang bahkan menyelinap pula dalam ranah religi.

Kenapa Rendra menamakannya dengan Bengkel Teater ?

“Maksud saya adalah memperbaiki pribadi sehingga bisa kreatif dan berguna bagi kehidupan ,seperti halnya reparasi mesin di bengkel” kata Rendra (Aktuil No 182 edisi Desember 1975 hal.9 ). Beberapa seniman yang pernah tergabung dalam Bengkel Teater antara lain adalah AzwarAN,Putu Widjaja,Syu’bah Asa hingga Arifin C Noor yang kemudian membentuk grup grup teater modern seperti Teater Ketjil maupun Teater Mandiri.Patut diakui bahwa Rendralah yang bertanggung jawab atas menyebarnya virus teater kemana-mana.

Pentas pertama Bengkel Teater terjadi di tahun 1968 lewat pementasan Teater Mini Kata bertajuk “Bip Bop”.Peristiwa seni lalu menuai banyak opini,antara yang pro dan kontra.Ada yang bilang Rendra lebih pantas menjadi penguin bangsal rehabilitasi sakit jiwa.Menarik pula komentar dari Fuad Hasan (yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) yang dimuat di Kompas Juni 1968 :” Rendra ingin mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini yaitu individuasi versus massifikasi atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.”

Kemudian,Bengkel Teater mulai menggeliat dalam berbagai pentas teaternya.Dari 1968 hingga 2005,Rendra dan Bengkel Teater telah mementaskan 23 naskah,yaitu 15 naskah asing atau adaptasi , 7 naskah sendiri dan sebuah naskah diluar dari karya Bengkel Teater.

Sejak dasawarsa 1970 an rasanya tak berlebihan jika kita menyebut Rendra sebagai laras senjata dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia.Terlihat nyata pada naskah dramanya Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran dan kesewenangan militer. Lysistrata yang menyindir mental militer yang kaku. Panembahan Reso yang menyorot perihal megalomaniak poros-poros kekuasaan dengan durasi pertunjukan mendekati 7 jam . Atau Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satir terhadap kediktatoran rezim negeri ini.

Saya masih ingat isi selebaran tentang Kisah Perjuangan Suku Naga yang dibagikan kepada penonton saat dipentaskan pada tanggal 26 dan 27 Juli 1975.

“Kisah Perjuangan Suku Naga sebuah drama karya Rendra yang terbaru.Ia lahir dari wawancara dengan pemimpin desa,petani petani,,ibu-ibu,anak-anak yang belajar di kota,,anak-anak kecil di desa dll.Begitulah ide itu hadir ,sehingga lahirlah sebuiah naskah drama “Kisah Perjuangan Suku Naga”.Oleh karena itu kami persilahkan andamenikmati pertunjukan ini dengan hati yang bening dan sejuk – pasti bila pertunjukan ini usai ,anda akn pulang ke tempat tinggal anda masing masing dengan sebuah perasaan yang mengangguk tentunya,karena kenyataan hidup manusia telah anda nikmati lewat sebuah sandiwara” .

Satir dan sindiran yang menggelakkan tawa pun terlihat pada lakon “Sekda” yang berakhir pada pembreidelan oleh pihak berwajib.Dan ini menjadi semacam rutinitas dari setiap pementasan Bengkel Teater yang selalu di cap mengkritik Pemerintah.

Dalam “Sekda” Rendra menyentil berbagai ragam peristiwa menyimpang yang berubah menjadi kebiasaan di negeri ini.Bersama dukungan musik dari kelompok Nyai Pilis , Rendra menyentil lewat lagu bertajuk Tentara yang bertutur tentang profesi tentara sebagai profesi kesempatan,dimana kalu ada media massa ngritik nyelekit dikit akan dibreidel.

Di paruh era 70-an,Rendra lalu menyebut komunitasnya sebagai Kaum Urakan.Sebuah gerakan yang agak menyimpang saat itu,mengingat Yogyakarta selama ini dikenal sebagai zona kultural dan memiliki sopan santun tinggi,ternyata menyempal kelompok anak muda yang menyebut dirinya sebagai “kaum urakan”. Kelompok ini, pada tahun 1975 mengadakan perkemahan di Parangtritis. Mereka berjalan sepanjang 25 km dari markasnya di Patangpuluhan menuju Parangtritis . Sebuah jarak yang tak dekat. Dalam perkemahan itu mirip Woodstock di tahun 1969 itu, selain anak-anak Bengkel Teater, ikut pula Sunarti Suwandi dan Sitoresmi Prabuningrat. Kedua wanita cantik ini adalah istri-istri Rendra. Dalam perkemahan itu selain melakukan pelatihan teater, kaum urakan ini pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat. Sesungguhnya dari sini bisa dibaca, bahwa proses kreatif dalam teater tak hanya berujung pada sebuah pentas pertunjukan belaka , namun juga dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat.

Rendra semasa hidupnya menyebut Perkemahan Kaum Urakan itu sebagai sebuah gerakan penyadaran budaya.Masih terngiang-ngiang ucapan Rendra :”Seorang budayawan sesungguhnya tak berpihak pada apa pun atau siapapun.Tetapi berpihak pada kebenaran”.

Rendra dalam karir kesenimanannya yang panjang telah berulang kali kena cekal penguasa. Dengan sajak sajaknya yang lugas , Rendra terlihat pula menyokong gerakan mahasiswa pada masa Pemilu 1977. Saat itu mahasiswa mulai mengusung isu-isu politik, seperti ketidakpercayaan kepada pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden karena tidak bisa memulihkan kondisi perekonomian bangsa yang terpuruk. Pada 1 Desember 1977, dalam rapat mahasiswa di Kampus Universitas Indonesia Salemba Jakarta, Rendra membacakan puisi ‘Pertemuan Mahasiswa’ yang mengobarkan semangat mahasiswa menentang penguasa.

Kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”

Ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

Rekaman gambar pembacaan sajak fenomenal itu bahkan menjadi bagian introduksi film ‘Yang Muda Yang Bercinta’ yang dibintangi pula oleh Rendra sendiri .

Film ini pun kena cekal. Pihak berwajib tak memberi izin putar film itu. Konon seperti yang ditulis majalah Tempo, Laksusda menganggap film yang dibesut sutradara ternama Drs. Sjumandjaja itu mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi faham komunis yang telah dilarang di Indonesia.Di tahun 1978, perlawanan mahasiswa akhirnya dijawab Mendiknas Noegroho Notosoesanto dengan mengeluarkan sebuah peraturan yang diberi nama Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Kordinasi Kampus (BKK) untuk menetralisir kehidupan kampus bersih dari isu politik dan menghapuskan Dewan Mahasiswa yang dianggap menggoyang pemerintahan Soeharto. Rendra pun dijebloskan di rutan militer Jalan Guntur Menteng , Jakarta karena pembacaan salah satu karyanya di Taman Ismail Marzuki. Puisi yang dianggap menyulut hasutan dan mendorong publik pada gejolak sosial itu membuat gerah pihak berwajib.

Proses politik juga menjadi titik perhatian Rendra ,terutama pada saat sejumlah pementasan kesenian yang dianggap menyerang wibawa pemerintah dilarang pada 1991. Rendra dan sejumlah seniman mendatangi Gedung DPR untuk memprotesnya. Di kantor wakil rakyat itu, Rendra bahkan sempat membacakan sajak sajaknya dengan gayanya yang flamboyan dan mempesona.Rendra terlihat bagai merak yang tengah mengepak sayap sayapnya yang kilau kemilau.

Sayangnya,di jaman sekarang sangatlah sedikit orang yang berpihak pada kebenaran atau berani menyatakan kebenaran yang hakiki.Bahkan diantara yang sedikit itu pun telah berpulang ke pangkuanNya.
Selamat jalan Rendra,sang Wisanggeni.Tuturmu tetap subur bersemayam dalam dada kami.

(Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone edisi September Tahun 2009)

Mengenang Orkes Telerama di TVRI

Posted: Desember 9, 2012 in Kisah

Di tahun 1977 TVRI Pusat Jakarta dilanda kebingungan,karena acara musik yang ditampilkan mulai menunjukkan grafik yang membosankan.Tiba tiba pemusik senior Iskandar menantnag TVRI untuk membuat terobosan acara musik TVRI yang lebih memancing gairah pemirsanya.”Saya membayangkan sebuah orkestra yang bisa memainkan musik apa saja,mulai dari keroncong hingga pop” ungkap almarhum Iskandar pada pengelola TVRI. Ternyata gayung bersambut,tantangan Iskandar disambut baik oleh TVRI.

Iskandar yang saat itu menjabat ketua Yayasan Musik Indonesia lalu merancang strategi dan menuangkan seluruh kreativitasnya.Pihak TVRI menyambut antusias ide Iskandar.

Di penghujung tahun 1977 untuk pertamakali acara Telerama ditayangkan dilayar kaca.Pemirsa terhenyak.Pihak TVRI mengucurkan dana sebesar Rp 2 juta di setiap episode Telerama itu.

Orkes Telerama.Para pemusik yang tampil mendukung Telerama adalah pemusik rekaman,pemusik klab malam dan didukung beberapa pemusik dari Orkes Studio Jakarta (OSJ).Ide Telerama adalah membina penyanyi dan pemain
musik secara sungguh-sungguh. Telerama diambil dari kata tele
(jauh), ra (dari irama), dan ma (potongan mata).Ketika Iskandar wafat,posisinya digantikan sang adik yaitu Isbandi