Kembali ke Panggung

Posted: Desember 3, 2012 in Uncategorized

AlnarSoundreSaat sekarang ini industri musik tanah air,seperti yang kerap diberitakan, tengah berada di titik nadir.Pembajakan kian menggila dan seperti tak bisa dituntaskan serta semakin menjauhnya para konsumen musik dari medium fisik setelah menyeruaknya teknologi digital yang memudahkan siapa saja melakukan pengunduhan.Kegiatan ini semakin diminati karena lebih banyak yang memilih mengunduh  musik secara gratis.

Lalu darimanakah para pemusik bisa hidup dengan kondisi yang sangat terpuruk ini ? Upaya untuk bertahan  memang banyak telah dilakukan antara lain dengan menjajakan bentuk fisik musik diberbagai public area seperti gerai makanan cepat saji,mini market bahkan di sebuah stasiun pompa bensin.

Terobosan penjualan fisik diatas jutaan keping kini tinggal kenangan.Bahkan menjajakan musik melalui Ring Back Tone (RBT)  pun telah usai sejak diberlakukannnya regulasi baru mengenai aktivasi RBT pada 18 Oktober 2011 lalu. Pada akhirnya gejolak industri hiburan terutama musik kembali ke khittah yaitu menampilkan musik dalam pertunjukan panggung secara live yang dikemas mulai dari tempat berskala kecil di kafe atau gedung  tertutup hingga dalam skala besar berbentuk festival di atas panggung pertunjukan. Hal ini tampaknya masih menyisakan ruang bagi pemusik untuk berekspresi lewat musik dan juga bisa merasakan sebuah kehidupan bermusik yang lebih memadai.

Menikmati musik dan mengekspresikan musik secara paripurna   pada akhirnya adalah diatas panggung pertunjukan.Ritual musik yang berbalut interaksi antara pemusik dan penikmat musik secara jenial  memang hanya bisa terjadi diatas  panggung pertunjukan yang menebarkan gaung musik ke segala penjuru  .

Seperti apakah panggung music di Indonesia dari dahulu hingga sekarang ? .Mari kita buka lembar sejarah. Dalam sejarah musik panggung di Indonesia tercatat beberapa peristiwa musik panggung yang fenomenal seperti konser Summer’28 (singkatan Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke 28) yang berlangsung di hamparan Ragunan Pasar Minggu 16 dan 17 Agustus 1973 yang menampilkan puluhan artis dan band Indonesia dari berbagai genre mulai dari pop hingga rock.Mulai dari Koes Plus hingga God Bless. Konser sejenis juga terjadi di Bandung pada tahun 1975  “Pesta Musik Kemarau’75” yang digagas majalah musik Aktuil dengan hanya menampilkan band band rock yang jumlahnya menjamur saat itu. Bahkan di dasawarsa 80an juga digelar festival musik berskala besar di Lapangan Parkir Timur Senayan yang kembali menampilkan puluhan band-band rock.Festival musik semacam ini pun juga berlangsung dalam bentuk Festival Musik Rock yang digagas promotor Log Zhelebour mulai pertengahan 80an  hingga ke dasawarsa 90an   .

Kesemarakan  musik dengan panggung berskala besar semacam ini memang kerap terjadi di Indonesia.Saat itu genre musik rock masih kalah bersaing dengan musik pop yang merajai industri rekaman musik.Tapi ternyata ketika digelar musik panggung berbalut  rock justeru dikerubuti penonton dalam jumlah yang sangat besar.

Lihat saja ajang festival berskala besar Soundrenaline yang diadakan pada 2 dan  3 November 2002 di Lapangan Parkir Timur Senayan Jakarta  menarik minat penonton sebanyak 45 ribu orang dengan menghadirkan 38 band sohor seperti Slank,Gigi,Sheila On 7 dan banyak lagi.Festival Musik ini memang terlihat berwibawa terutama dalam merawat khazanah musik Indonesia.karena  ternyata membuat kegairahan sendiri bagi para pemusik serta penikmat musik.Fasilitas fasilitas yang tersedia di festival musik ini menurut saya tak kalah dengan fasilitas yang diberikan dalam konser-konser musik internasional. Peluang semacam ini jelas merupakan ruang bagi para pemusik menampilkan karya-karyanya secara maksimal. Bibit bibit baru dalam kancah musik pun terendus di konser konser bernuansa festival ini.

Sejak tahun 2005 gugus musik panggung di Indonesia diramaikan pula dengan munculnya Java Jazz International Festival yang dari tahun ketahun mulai memperlihatkan peningkatan mulai dari sisi kualitas dan kuantitas.Bahkan kabarnya festival jazz ini telah dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Ini tentu sebuah perkembangan bagus yang mesti dipertahankan untuk menambah nilai industri musik panggung di Indonesia.Kenapa karena para penampil loka pun diberi porsi yang sama dengan para penampil internasional.Bahkan antara pemusik lokal dan mancanegara diberi ruang pula untuk tampil bersama dalam kolaborasi musik yang saling mengisi.

Festival musik berskala besar kini tak hanya menampilkan rock dan jazz tapi juga genre musik lain yang sebelumnya justeru tak terjamah semisal metal, hip hop,soul termasuk blues.Diversifikasi semacam ini menjadi kian menarik.Keragaman materi konser setidaknya menjadikan iklim bermusik di negeri kian berwarna.Penonton pun tak akan jenuh dan jengah menyimak music yang itu itu saja.Pilihan konser panggung yang banyak merupakan solusi merawat eksistensi musik di Indonesia.

Kegairahan musik panggung yang tak pernah surut ini jelas merupakan pilar penyangga industri  musik yang tengah lesu darah akibat penurunan penjualan fisik yang drastic serta pembajakan yang seperti tak pernah tuntas untuk diberantas.Kembali ke Panggung adalah pilihan yang banyak mengimbuh kea rah profesionalisme bermusik, misalnya upaya tampil dengan cara lipsynch bisa dikikis habis.Bahkan interaksi musik sesungguhnya antara para pemusik dan penikmat musik yang paling ekspresif  dan bernilai adalah saat para pemusik tampil di atas panggung mengusung karya-karyanya. Pada akhirnya panggung merupakan ajang hakiki untuk melestarikan kegiatan musik dimana antara pemusik dan penikmat musik telah memintal jalinan simbiose mutualisme yang saling dukung dan saling isi.

Foto : Republika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s