The Rollies Menapak Hari Hari Silam

Posted: Desember 3, 2012 in Konser

20121112Titiek-Puspa-Konser-The-Rollies-121112-PeyRollies MerdekaWalaupun lima personilnya telah berpulang Iwan Krisnawan (drummer),Deddy Stanzah (bass,vokal),Delly Djoko Alipin (keyboard,gitar,vokal),Bonnie Nurdaya (gitar,vokal) dan Bangun Sugito (vocal,trumpet,biola) tapi The Rollies yang terbentuk di tahun 1967 tetap tegar.Mereka masih bermusik.Selama dua jam tanpa jeda The Rollies yang terdiri atas TZ Iskandar (vokal,gitar,saxophone),Benny Likumahuwa (trombone,saxophone,flute,vokal),Jimmie Manopo (drums),Oetje F Tekol (bass),Abadi Soesman (vokal,keyboards),Masrie (gitar),Hendro (trumpet,perkusi) dan dua vokalis baru yang mengisi posisi Gito Rollies dan Delly Djoko yaitu Guswin dan Alfredo.”Dua vokalis ini merupakan hasil audisi kami.Mereka ternyata juga penggemar the Rollies” ungkap Benny Likumahuwa yang masuk the Rollies pada formasi kedua di tahun 1968.

Konser   yang  bertajuk “The Rollies Journey In Concert” berlangsung Minggu 11 November 2012 di Air Man Lounge Sultan Hotel Jakarta.Tampaknya The Rollies ingin menelusuri perjalanan karir mereka selama 45 tahun.The Rollies termasuk band tertua di Indonesia.Dibentuk oleh Deddy Stanzah bersama Delly Djoko,TZ Iskandar dan Iwan Kresnawan dengan membawakan lagu lagu the Beatles hingga The Rolling Stones.” Suatu hari kami mendengar lagu The Beatles diiringi bunyi alat tiup.Kami pengen memiliki unsur instrument tiup juga.Lalu kami diperkenalkan dengan Benny Likumahuwa yang saat itu dikenal sebagai pemusik jazz” tutur TZ Iskandar.Ketika Benny Likumahuwa bergabung dengan The Rollies pada tahun 1968 musik The Rollies pun mulai berubah.” Saya malah mengajarkan mereka untuk bisa bermain alat tiup.Iskandar dari gitar kemudian meniup saxophone.Lalu Gito selain menyanyi juga saya ajarkan meniup trumpet” urai Benny Likumahuwa.

Di tahun 1969 lalu muncul kelompok Chicago dan Blood Sweat and Tears yang menggunakan alat tiup.”Inspirasi bermusik kami kian beragam dengan munculnya Chicago dan Blood Sweat and Tears” demikian papar Benny Likumahuwa tentang perjalanan musik the Rollies.

Jam 21.30 membuka konser dengan membawakan lagu karya Burt Bacharach yang dibawakan duo The Marbles pada tahun 1969.Ini adalah lagu yang kerap dibawakan The Rollies dulu.

Dalam konsernya ini The Rollies membawakan lagu-lagu karya sendiri antara lain yang ditulis oleh Oetje F Tekol maupun karya-karya Titiek Puspa ,Anto dan Johannes Purba.

Oetje F Tekol yang masuk The Rollies tahun 1974 menggantikan Deddy Stanzah sebagai bassist ternyata memiliki talenta sebagai hits maker.Lagu-lagu yang ditulis Oetje F Tekol sebagian besar menjadi hits mulai dari akhir era 70an hingga era 80an   seperti Kemarau yang mendapat Penghargaan Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup di tahun 1979, Astuti,Dunia Dalam Berita,dan Burung Kecil.Lagu lagu Oetje itu dibawakan The Rollies dihadapan penonton yang ikut bernyanyi bersama.

Suasana kian cair ketika Titiek Puspa (75 tahun) didaulat untuk tampil ke panggung bersama The Rollies.Diva yang juga komposer paling produktif di era 70an ini memiliki arti tersendiri dalam perjalanan musik the Rollies.Dua lagu karya Titiek Puspa masing masing “Dansa Yok Dansa” (1977) dan “Bimbi” (1978) menjadi hits besar saat itu.”Saat itu Delly dating ke saya minta dibikinin lagu buat rekaman.Lalu saya beri lagu Dansa Yok Dansa.Saat itu lagi tren irama hustle” cerita Titiek Puspa di atas panggung.Titiek Puspa kemudian menyanyikan dua lagu karyanya yang dipopulerkan the Rollies.Tak ketinggalan Titiek Puspa melantunkan karyanya yang fenomenal “Kupu Kupu Malam”.

Suasana nostlagia kian merebak saat TZ Iskandar menyanyikan lagu “Hanya Bila Haus Di Padang Tandus” karya Johannes Purba yang dulu dinyanyikan almarhum Gito  Rollies.Alfredo lalu menyanyikan lagu “Kau Yang Kusayang” karya Anto yang dulu dinyanyikan almarhum Delly Djoko.

Interpretasi The Rollies atas lagu lagu karya orang di era itu patut diberi pujian,karena mereka membawakannya dengan gaya mereka sendiri.Ruangan di Air Man kemudian dipenuhi dengan lagu lagu yang pernah discover The Rollies dulu seperti “The Love Of A Woman” (Samantha Sang),”You’re Still A Young Man” (Tower Of Power),”Everybody’s Everything” (Santana),” Ape Is High”  (Mandrill) termasuk beberapa repertoar The Beatles seperti “Golden Slumbers”,”When I’m 64 “dan  “ Lovely Rita”.”Saat the Rollies masih berempat kami sering juga membawakan the Beatles.Tahun itu the Beatles baru rilis album Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band” “ tutur TZ Iskandar.

Di tahun 1969 The Rollies mulai keranjingan soul funk terutama ketika Gito mencoba menjadi impersonator James Brown.Lagu “Get Up I Feel Like Being A  Sex Machine” nya James Brown pun berkumandang lewat vokal Guswi.The Rollies dalam konsernya ini lalu memberikan dua encore yaitu “Pick Up The Pieces” (Average White Band) dan Soul Vaccination (Tower of Power).

Anehnya lagu yang identik dengan The Rollies seperti “Gone Are The Songs Of Yesterday” (Love Affair) malah tidak mereka bawakan,ternasuk juga karya karya Chicago.Entah kenapa, malah para penggemar The Rollies sendiri agak kaget ketika The Rollies malah membawakan “Englishman In New York” nya Sting.

Foto Merdeka

Iklan
Komentar
  1. dennysakrie63 berkata:

    The Rollies di Airman Lounge (Foto Merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s