Rendra Sang Wisanggeni

Posted: Desember 10, 2012 in Obituari
Foto : Dok.Keluarga Rendra

Foto : Dok.Keluarga Rendra

Foto : Dok.Bengkel Teater

Foto : Dok.Bengkel Teater

WS Rendra dan Puisi

Jam 22.24 WIB Kamis 6 Agustus 2009 saya ditelepon seorang teman :”Mas,Rendra meninggal dunia “.Sejenak saya tercenung.Kaget,karena beberapa pecan sebelumnya saya mendapat kabar Rendra yang dirawat di RS Harapan Kita telah pulih dan kembali ke rumah.Lalu saya menghubungi sahabat Rendra,Yockie Suryoprayogo,untuk memastikan berita berpulangnya Si Burung Merak.Tiwie,isteri Yockie membenarkan kabar duka cita itu.Sekelebat saya langsung teringat sajak yang ditulis Rendra, “Makna Sebuah Titipan” :

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
“derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja

Kata-kata adalah kekuatan utama Rendra.Dia adalah sosok yang kokoh.Tegak pada sikap dan pendirian,hal sederhana yang sesungguhnya sulit untuk dilaksanakan.
Perginya Rendra pada Kamis 6 Agustus 2009 jam 22.15 WIB di RS Mitra bagi kita seperti kehilangan sebuah benda pusaka yang langka.Yang sulit dicari tandingannya.
Dalam sajaknya “Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya”,Rendra bertutur :

Hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh
Dan bukan pula demi surga atau neraka
Tetapi demi kehormatan seorang manusia

Kita pun akhirnya mahfum bahwa Si Burung Merak tak lagi sekadar sosok seniman atau pun budayawan saja.Rendra adalah sosok manusia tegar yang pantang gentar.Dia dilahirkan 7 November 1935 di Solo,Jawa Tengah dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra ,sebagai anak tertua dari 7 bersaudara. Ayahnya Raden.Cyprianus .Soegeng Brotoatmodjo,seorang guru bahasa Indonesia dan Jawa kuno di sebuah sekolah Yayasan Katholik di Solo. Ibunya Raden Aju Catharina Ismadillah pernah menjadi penari serimpi kesohor kraton Yogyakarta Hadiningrat. Rendra memang berdarah biru.Bersekolah di Taman Kanak Kanak Susteran,lalu mulai dari SD hingga SMAdi Bruderan.Rendra dibesarkan dalam tradisi Katholik.Saat itu Rendra memang anak baik yang aktif dalam gerakan pramuka.Tapi pada akhirnya Rendra berubah.Mulai membantah dan pernah diusir ayahnya karena kerjanya keluyuran dan luntang lantung tak keruan. Terjadi perbedaan prinsip antara Rendra dan ayahnya.Mungkin di fase inilah sikap kritis Rendra mulai mencuat tajam.Sebuah sikap yang kelak menjadi jati diri yang melekat kuat dalam sepak terjangnya baik dalam dunia seni maupun dalam berbagai sendi kehidupan. Sikap semacam ini justeru mengingatkan kita pada Wisanggeni ,tokoh wayang yang yang ternyata sangat digandrungi Rendra.

Menurut Rendra,Wisanggeni adalah simbol anak muda yang tak kenal kompromi .Senantiasa mbalelo dan kerap memberontak terhadap nilai nilai yang dianggap tak layak.Wisanggeni bahkan memberontak terhadap ayahnya sendiri,Arjuna.Sesuatu yang mirip dengan sikap Rendra terhadap sang ayah.

Jiwa pemberontak Wisanggeni kelak mewarnai semua sikap dan karya karyanya dalam ranah seni. Disaat berusia 15 tahun dengan menggunakan nama Willy SRD cerita pendeknya yang pertama bertajuk “Drama Pasar Pon” dimuat di majalah Pembimbing Putera.

Di tahun 1952,Rendra yang duduk dibangku SMA telah menghasilkan karya drama pertamanya dalam bentuk stensilan Goncangan Pertama dengan sebuah tagline Dipersembahkan kepada masjarakat dan pemuda.
Di tahun itu juga karyanya mulai dimuat di majalah Siasat.

2 tahun berselang karya karya puisi Rendra mulai bertebaran di berbagai majalah dalam rubrik sastra dan budaya yang terbit di Solo dan Jakarta seperti Kisah,Seni,Basis,Siasat Baru dan Konfrontasi.
Ditahun 1956 Rendra mendapat penghargaan tahunan dari majalah “Kisah” untuk cerita pendeknya bertajuk “Ia Punya Leher Yang Indah”.

Lalu pada tahun 1957 Rendra memperoleh Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional,karena dianggap menunjukkan prestasi sebagai penyair terbaik dalam kurun waktu 1955-1956.
Meski agak jarang menulis cerita pendek,namun Rendra di tahun 1963 menerbitkan kumpulan cerita pendeknya yang pertama dengan judul “Ia Sudah Bertualang”.

Yang paling banyak diterbitkan justeru adalah buku kumpulan sajak.”Balada Orang Orang Tertjinta” adalah buku kumpulan sajak Rendra yang pertama diterbitkan pada tahun 1957.Yang disusul dengan penerbitan buku “Empat Kumpulan Sajak” (1961),”Blues Untuk Bonnie” (1971) dan “Sajak Sajak Sepatu Tua”. Semuanya diterbitkan Pustaka Jaya.Ini adalah era paling subur dalam atmosfer kepenyairan Rendra.

Aura kepenyairan Rendra seolah membius siapa saja saat itu terutama dari kalangan anak muda yang seolah memperoleh wadah untuk mengidentifisir diri dalam sajak sajak Rendra.Apakah yang menjadikan sajak sajak Rendra seolah menghipnotis penikmatnya ?.Sastrawan Ajip Rosidi menyebut bahwa sajak sajak Rendra yang berbentuk epik sangat berbeda dengan pola penulisan sajak zaman itu yang cenderung bergaya lirika.

Prof. A. Teeuw, dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), menulis bahwa dalam sejarah Sastra Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan seperti Angkatan 45,Angkatan 60-an maupun Angkatan 70-an.Ini terbukti jika menilik karya-karyanya terlihat bahwa sesungguhnya Rendra justeru memiliki kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya karya Rendra memang pada akhirnya memikat siapa saja termasuk pengamat seni sastra mancanegara seperti Profesor Harry Aveling, dari Australia yang menaruh minat terhadap dunia sastra Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh ahli sastra Jerman Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Di sisi lain,sosok Rendra dalam dunia teater pun kian membumbung tinggi.Apalagi setelah kepulangan Rendra dari belajar teater di Amerika Serikat.Dia banyak membawa gagasan gagasan baru dalam iklim teater di negeri ini.Gaya teater Rendra yang ditampilkannya bersama Bengkel Teater memang agak menyimpang dari kelaziman.Sarat improvisasi dan cenderung nyeleneh.

Bengkel Teater dibentuknya di Yogyakarta pada tahun 1968.Oleh Rendra Bengkel Teater tak hanya menjadi semacam kelompok teater belaka,tapi dikembangbiakkan sebagai sarang seni budaya yang bahkan menyelinap pula dalam ranah religi.

Kenapa Rendra menamakannya dengan Bengkel Teater ?

“Maksud saya adalah memperbaiki pribadi sehingga bisa kreatif dan berguna bagi kehidupan ,seperti halnya reparasi mesin di bengkel” kata Rendra (Aktuil No 182 edisi Desember 1975 hal.9 ). Beberapa seniman yang pernah tergabung dalam Bengkel Teater antara lain adalah AzwarAN,Putu Widjaja,Syu’bah Asa hingga Arifin C Noor yang kemudian membentuk grup grup teater modern seperti Teater Ketjil maupun Teater Mandiri.Patut diakui bahwa Rendralah yang bertanggung jawab atas menyebarnya virus teater kemana-mana.

Pentas pertama Bengkel Teater terjadi di tahun 1968 lewat pementasan Teater Mini Kata bertajuk “Bip Bop”.Peristiwa seni lalu menuai banyak opini,antara yang pro dan kontra.Ada yang bilang Rendra lebih pantas menjadi penguin bangsal rehabilitasi sakit jiwa.Menarik pula komentar dari Fuad Hasan (yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) yang dimuat di Kompas Juni 1968 :” Rendra ingin mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini yaitu individuasi versus massifikasi atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.”

Kemudian,Bengkel Teater mulai menggeliat dalam berbagai pentas teaternya.Dari 1968 hingga 2005,Rendra dan Bengkel Teater telah mementaskan 23 naskah,yaitu 15 naskah asing atau adaptasi , 7 naskah sendiri dan sebuah naskah diluar dari karya Bengkel Teater.

Sejak dasawarsa 1970 an rasanya tak berlebihan jika kita menyebut Rendra sebagai laras senjata dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia.Terlihat nyata pada naskah dramanya Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran dan kesewenangan militer. Lysistrata yang menyindir mental militer yang kaku. Panembahan Reso yang menyorot perihal megalomaniak poros-poros kekuasaan dengan durasi pertunjukan mendekati 7 jam . Atau Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satir terhadap kediktatoran rezim negeri ini.

Saya masih ingat isi selebaran tentang Kisah Perjuangan Suku Naga yang dibagikan kepada penonton saat dipentaskan pada tanggal 26 dan 27 Juli 1975.

“Kisah Perjuangan Suku Naga sebuah drama karya Rendra yang terbaru.Ia lahir dari wawancara dengan pemimpin desa,petani petani,,ibu-ibu,anak-anak yang belajar di kota,,anak-anak kecil di desa dll.Begitulah ide itu hadir ,sehingga lahirlah sebuiah naskah drama “Kisah Perjuangan Suku Naga”.Oleh karena itu kami persilahkan andamenikmati pertunjukan ini dengan hati yang bening dan sejuk – pasti bila pertunjukan ini usai ,anda akn pulang ke tempat tinggal anda masing masing dengan sebuah perasaan yang mengangguk tentunya,karena kenyataan hidup manusia telah anda nikmati lewat sebuah sandiwara” .

Satir dan sindiran yang menggelakkan tawa pun terlihat pada lakon “Sekda” yang berakhir pada pembreidelan oleh pihak berwajib.Dan ini menjadi semacam rutinitas dari setiap pementasan Bengkel Teater yang selalu di cap mengkritik Pemerintah.

Dalam “Sekda” Rendra menyentil berbagai ragam peristiwa menyimpang yang berubah menjadi kebiasaan di negeri ini.Bersama dukungan musik dari kelompok Nyai Pilis , Rendra menyentil lewat lagu bertajuk Tentara yang bertutur tentang profesi tentara sebagai profesi kesempatan,dimana kalu ada media massa ngritik nyelekit dikit akan dibreidel.

Di paruh era 70-an,Rendra lalu menyebut komunitasnya sebagai Kaum Urakan.Sebuah gerakan yang agak menyimpang saat itu,mengingat Yogyakarta selama ini dikenal sebagai zona kultural dan memiliki sopan santun tinggi,ternyata menyempal kelompok anak muda yang menyebut dirinya sebagai “kaum urakan”. Kelompok ini, pada tahun 1975 mengadakan perkemahan di Parangtritis. Mereka berjalan sepanjang 25 km dari markasnya di Patangpuluhan menuju Parangtritis . Sebuah jarak yang tak dekat. Dalam perkemahan itu mirip Woodstock di tahun 1969 itu, selain anak-anak Bengkel Teater, ikut pula Sunarti Suwandi dan Sitoresmi Prabuningrat. Kedua wanita cantik ini adalah istri-istri Rendra. Dalam perkemahan itu selain melakukan pelatihan teater, kaum urakan ini pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat. Sesungguhnya dari sini bisa dibaca, bahwa proses kreatif dalam teater tak hanya berujung pada sebuah pentas pertunjukan belaka , namun juga dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat.

Rendra semasa hidupnya menyebut Perkemahan Kaum Urakan itu sebagai sebuah gerakan penyadaran budaya.Masih terngiang-ngiang ucapan Rendra :”Seorang budayawan sesungguhnya tak berpihak pada apa pun atau siapapun.Tetapi berpihak pada kebenaran”.

Rendra dalam karir kesenimanannya yang panjang telah berulang kali kena cekal penguasa. Dengan sajak sajaknya yang lugas , Rendra terlihat pula menyokong gerakan mahasiswa pada masa Pemilu 1977. Saat itu mahasiswa mulai mengusung isu-isu politik, seperti ketidakpercayaan kepada pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden karena tidak bisa memulihkan kondisi perekonomian bangsa yang terpuruk. Pada 1 Desember 1977, dalam rapat mahasiswa di Kampus Universitas Indonesia Salemba Jakarta, Rendra membacakan puisi ‘Pertemuan Mahasiswa’ yang mengobarkan semangat mahasiswa menentang penguasa.

Kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”

Ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

Rekaman gambar pembacaan sajak fenomenal itu bahkan menjadi bagian introduksi film ‘Yang Muda Yang Bercinta’ yang dibintangi pula oleh Rendra sendiri .

Film ini pun kena cekal. Pihak berwajib tak memberi izin putar film itu. Konon seperti yang ditulis majalah Tempo, Laksusda menganggap film yang dibesut sutradara ternama Drs. Sjumandjaja itu mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi faham komunis yang telah dilarang di Indonesia.Di tahun 1978, perlawanan mahasiswa akhirnya dijawab Mendiknas Noegroho Notosoesanto dengan mengeluarkan sebuah peraturan yang diberi nama Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Kordinasi Kampus (BKK) untuk menetralisir kehidupan kampus bersih dari isu politik dan menghapuskan Dewan Mahasiswa yang dianggap menggoyang pemerintahan Soeharto. Rendra pun dijebloskan di rutan militer Jalan Guntur Menteng , Jakarta karena pembacaan salah satu karyanya di Taman Ismail Marzuki. Puisi yang dianggap menyulut hasutan dan mendorong publik pada gejolak sosial itu membuat gerah pihak berwajib.

Proses politik juga menjadi titik perhatian Rendra ,terutama pada saat sejumlah pementasan kesenian yang dianggap menyerang wibawa pemerintah dilarang pada 1991. Rendra dan sejumlah seniman mendatangi Gedung DPR untuk memprotesnya. Di kantor wakil rakyat itu, Rendra bahkan sempat membacakan sajak sajaknya dengan gayanya yang flamboyan dan mempesona.Rendra terlihat bagai merak yang tengah mengepak sayap sayapnya yang kilau kemilau.

Sayangnya,di jaman sekarang sangatlah sedikit orang yang berpihak pada kebenaran atau berani menyatakan kebenaran yang hakiki.Bahkan diantara yang sedikit itu pun telah berpulang ke pangkuanNya.
Selamat jalan Rendra,sang Wisanggeni.Tuturmu tetap subur bersemayam dalam dada kami.

(Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone edisi September Tahun 2009)

Komentar
  1. Angga mengatakan:

    Errata: Menteri P dan K saat itu (1978) bukan Nugroho Notosusanto melainkan Dr. Daoed Joesoef

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s