Sewindu Berpulangnya Harry Roesli

Posted: Desember 11, 2012 in Uncategorized
Harry Roesli (Foto Rumah Musik Harry Roesli)

Harry Roesli (Foto Rumah Musik Harry Roesli)

Tepat hari ini 11 Desember sewindu yang silam, Harry Roesli berpulang. Harry Roesli betul betul meninggalkan kita untuk selama lamanya. Banyak yang tak percaya mendengarkan kabar duka itu.Banyak yang menyangka kabar duka itu hanyalah jahil-jahilan almarhum yang memang sejak era 70an dijuluki biang Bengal Bandung. Saya masih ingat ketika Harry Roesli dan serombongan gang musiknya tampil di layar TVRI Pusat Jakarta tampil membawakan lagu Merak dengan menggunakan kaos bertuliskan ALMARHUM. Sebuah protes dan sebuah kritik yang damai telah dilakukan Harry Roesli tanpa menggunakan kekasaran gada dan kekasaran kata.Harry tetap santun tapi nyetrum. Lagu Merak itu sendiri adalah celoteh bengal Harry terhadap negeri ini,negeri kita tercinta Indonesia.

Negeri cantik dimana kau kini ? .
Tapi langkahmu terjejak di tanah.
Itulah tuan oh arahnya kan kukejar
Lihat daun daun berguguran .
Tapi mereka akan membersihkan.
Akupun yakin kau bermimpi kini
Lalu dalam lagu Berduka Cita, Harry  Roesli menuturkan tentang…..lagi lagi negeri ini yang dianggapnya hanya selalu mengiba pinjaman hutang dari negara Negara adi kuasa dan adi ekonomi :
Menjelaskan kepada dunia bahwa kita kan tetap bersatu
Tutup matamu dari rayuan bukakanlah tentang keadilan
Karya karya Harry Roesli dalam musik memang sarat satir dan metafora.Dia terampil bertutur dan menata kata.
Dalam lagu “Semut” yang ada di album Titik Api (1976) Harry Roesli berdendang lirih :Dunia pun bertambah tua menangis dan merana.menantikan darah membeku dibatas kelabu
Jam dinding tak terbalik berputarnya
Semut semut mengapa engkau dusta.
Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana.
Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati.
Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi.
Itulah penggalan lirik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pemusik dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli ini menghembuskan napas terakhirnya Sabtu 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.
Hari ini sewindu sudah kang Harry meninggalkan kita .

Namun, karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam pelbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.
Lagu Jangan Menangis Indonesia itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki biang Bengal Bandung ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.
Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda. Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.
Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.
Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini :
Kubunuh suamimu
kurebut tahtanya
dan engkau kujadikan isteriku!
Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.
Tahun 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. Ia mendapat beasiswa dari Ministerie Recreatien Maatscapeliik Werk. Harry yang merupakan cucu dari pujangga Marah Roesli menyelesaikan studinya pada 1981 sebagai seorang doktor dalam bidang musik.
Sekembalinya ke Indonesia, semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi.

Dia menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.
Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.
Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: ‘Jangan matikan lampu di kamar kerja saya’. Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.Tetap hidup hingga akhir zaman.

Komentar
  1. Fierza Fahmi Fajri mengatakan:

    andai seorang Harry Roesli masih ada, mungkin musik indonesia bisa lebih berwarna dari warna yang telah dia buat om.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s