Gesang , Riwayatmu Ini (1917 -2010)

Posted: Desember 18, 2012 in Uncategorized

gesang4Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi…
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu…
Naik itu perahu

Langgam “Bengawan Solo” yang ditulis almarhum Gesang pada era Perang Dunia ke II tepatnya di tahun 1940.Saat Gesang berusia 23 tahun.Lirik dan notasinya sederhana.Tapi membekas dan membias ,tak hanya di Indonesia melainkan hingga ke Jepang,negeri yang sempat menjajah ibu pertiwa sekitar 3 setengah tahun lamanya.Uniknya,justeru penggemar “Bengawan Solo” terbesar di dunia justeru di Jepang.Penggemar Gesang di negeri Sakura justeru meluap.Kitaro,pemusik synthesizers asal Jepang bahkan membawakan “Bengawan Solo” dengan atmosfer grand dan orkestral.Penyanyi jazz Jepang Lisa Ono menyanyikan “Bengawan Solo” dalam rentak bossanova di Java Jazz beberapa tahun silam.
Tak syak lagi dengan langgam keroncongnya,karya Gesang itu merupakan ikon musik pop yang terhapus waktu.Riawayatnya akan terus berkumandang hingga akhir zaman,barangkali.
Jika menukil riwayat hidup Gesang.Maka sebetulnya tak ada yang berlebihan dalam arung waktu yang diengkuhnya dari kecil hingga ajal menjemput.Nama aslinya adalah Sutadi.Tapi karena kerap jatuh sakit lalu digantilah dengan nama Gesang .Gesang tetap sosok khas Jawa yang sederhana.
Dalam tuturnya terbetik kisah bahwa disaat bocah Gesang acapkali sakit-sakitan . Gesang juga menjadi anak yatim setelah ibunya meninggal dunia tataklai ia baru berusia lima tahun. Gesang sendiri hanya sempat mendapatkan pendidikan formal di Sekolah Rakyat Ongko Loro hingga kelas V.
Pada akhirnya,musik adalah dunia yang dititinya.
Setelah merampungkan “Bengawan Solo”,setahun berselang Gesang melahirkan sebuah lagu bernuansa romansa bertajuk “Sapu Tangan” yang kabarnya diangkat dari kisah personal yang pernah dialaminya.

Lagu “Saputangan” menurut Gesang menjadi karyayang memiliki maknai tersendiri .Lantaran lagu itu diciptakannya justeru merujuk pada pengalaman pribadi yang susah untuk dilupakan begitu saja. Gesang semasa hidupnya pernah bertutur bahwa ,seuntai saputangan dari kekasih yang menjadi inspirasi penulisan lagu itu masih tersimpan dengan baik hingga kini. Tapi Gesang tak pernah mau memperlihatkannya kepada siapa pun.Saputangan itu tetap disimpannya hingga maut menjemputnya 20 Mei 2010 lalu.
Tahun 1941, setelah menciptakan lagu Saputangan dan putus cinta dengan si pemilik saputangan, Gesang lalu menikah dengan seorang gadis pengagumnya. Namun ,seetelah menikah selama kurang lebih 20 tahun dan tidak dikaruniai seorang anak pun, Gesang dan sang isteri i memutuskan untuk bercerai di tahun 1961 .Sejak itu Gesang bertekad tak akan pernah menikah lagi. Kabarnya,Gesang takut mengulang kekecewaan untuk kedua kalinya.

Prestasi musik yang membanggakan Gesang adalah ketika bergabung dengan Orkes Keroncong Kembang Kacang sebagai penyanyi. Dalam Orkes Keroncong yang dipimpin oleh almarhum Supinah inilah bakat Gesang sebagai penyanyi dan pencipta lagu terasah tajam. Gesang senantiasa meminta pemain OK Kembang Kacang untuk memainkan setiap lagu baru yang baru saja ditulisnya. Seperti diakuinya,Gesang tak memiliki basic ilmu musik yang memadai.Tapi Gesang memiliki intuisi musik yang tajam.

“Kalau mencipta lagu, saya kira-kira dulu dalam pikiran saya. Hanya liriknya yang saya tulis, kemudian saya minta kepada teman untuk memainkan melodinya dengan alat musik, apakah sesuai dengan keinginan saya atau tidak, dan biasanya semuanya lancar,” ucap Gesang dalam biografi tentang dirinya yang diterbitkan pada tahun 2004 silam.

Gesang seolah mengabdi hidupnya pada seni.Gesang memang seolah lebih menomorsatukan musik dari segalanya . Kesetiaan pada musik itulah yang juga menyebabkan Gesang terpaksa berpisah dengan istri karena selama berumah tangga Gesang selalu berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu kota pementasan ke kota pementasan lainnya. Selain kesetiaan pada seni, satu ciri lain yang menonjol pada Gesang adalah kesederhanaan pribadinya. Ia jauh dari impian yang muluk-muluk. Gesang menerima seperti apa adanya semua yang menghampiri hidupnya.Seperti kata orang Jawa,Gesang itu nrimo.Tidak neko-neko.
Gesang memang telah berpulang.Tapi karya karyanya,saya yakin,tak akan lekang.Tetap berkumandang………seperti Bengawan Solo yang terus mengalir dan mengalir…….

Komentar
  1. […]                                                     https://dennysakrie63.wordpress.com/2012/12/18/2773/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s