Arsip untuk Januari, 2013

DSCitos,mall yang selalu ramai di kawasan Selatan Jakarta,minggu 27 Januari 2013 tetap ramai.Di Score Citos radio Ninetyniners bikin acara 9 Gallery Happy Sunday.Menghadirkan band band yang kerap diputar lagu lagunya di radio yang berada dikawasan Menteng Jakarta seperti Kerispatih,Tangga,Stairway To Zina,Saint Loco dan banyak lagi.Di sela sela konser musik,Ninetyniner bikin talk show tentang Industri Musik Indonesia.Saya diminta bercerita selayang pandang mengenai industri musik Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang beserta pernak perniknya.Selain saya ada Melanie Subono aktivis yang juga suka nyanyi dan pernah bikin beberapa album.Juga ada Beben dari Sinjitos yang bertutur tentang pengalamannya dalam mengelola label.

Permasalahan permasalahan dalam industtri musik kita saat ini mau tidak mau harus dilontarkan,mulai dari pembajakan yang tak kunjung bisa diatasi secara tuntas,paltform atau paradigma musik sekarang yang mengarah ke musik digital.Habit penikmat musik sekarang yang cenderung lebih menggemari aktivitas downloading serta upaya bertahan dari para pelaku bisnis musik di Indonesia.

Sayang diskusi musik ini memang terasa sangat sempit.Bagaimana mungkin bisa memetakan problematika musik negeri ini dengan durasi hanya sekitar 30 menit.Namun toh itikad radio Ninedtyniners ini layaklah diacung jempolImage

Iklan

Tafsir Bebas Jesus Christ Superstar

Posted: Januari 28, 2013 in Kisah
Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Opera rock Jesus Christ Siperstar karya fenomenal Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice ini awalnya adalah sebuah album konsep yang didukung sejumlah pemusik dan penyanyi di tahun 1970 antara lain Ian Gillan,vokalis Deep Purple,John Gustfasson dari Quatermass,Murray Head hingga penyanyi pop Yvone Elliman.Kemudian dipanggungkan pertamakali di Broadway pada tahun 1971.Dan ternyata sukses.Jesus Christ Superstars memang merupakan multi tafsir yang sangat menghebohkan terutama pertentangan antara Jesus dan Judas Iscariot yang konon tak ada dalam Bible.Dalam film layar lebarnya pun karya Webber dan Rice ini banyak mengetengahkan anakronisme.Banyak protes yang muncul terhadap kontroversi interpretasi dalam lakon Jesus Christ Superstar ini.

Di Afrika Selatan lakon Jesus Christ Superstar dilarang untuk dipertunjukkan karena dianggap irreligius.

Bahkan di Indonesia pada tahun 1980,Remy Sylado mengangkat Jesus Christ Superstar di Balai Sidang Senayan Jakarta juga menuai kontroversi.Bayangkan sosok yang memerankan Jesus Christ justeru berkulit hitam, diperankan oleh Martin Luther Meset personil Black Brothers yang tampil naik becak.Juga Judas Iscariot berkulit putih yang diperankan penyanyi Yan Berlin.Jesus Christ Superstar hasil olah tafsir Remy Sylado pun jadi perbincangan yang menghebohkan.

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Dua lagu dari lakon Jesus Christ Superstar jadi hits yaitu I Only Want To Say (Gethsemane) yang dinyanyikan Ian Gillan serta I Don’t Know How To Love Him pleh penyanyi mungil Yvonne Elliman.Image

Achmad Rafiq

Achmad Rafiq

Ini mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.Sabtu 19 Januari 2013 saya mendapat dua kabar duka cita dari BBM dan WhatsApp saya.Pertama adalah berpulangnya penyanyi Johnny Killian,seorang pelopor impersonator Elvis Presley di Indonesia pada jam 14.45 WIB di Rumah Sakit Jakarta.Kedua,sekitar jam 16.00 WIB telah berpulang juga penyanyi dangdut A.Rafiq yang diawal karirnya pada akhir era 50an pernah pula menekuni karir musik sebagai impersonator Elvis Presley.

Elvis Presley adalah fenomena menarik dalam industri musik sejak berkembangnya musik rock n roll di era 50an.Rock n roll adalah sebuah kemempelaian antara blues dan country yang menawarkan kredo kebebasan yang meledak-ledak.Sebuah stigma yang pada akhirnya merupakan mazhab gaya hidup anak muda dari era ke era.

Pengaruh Elvis Presley memang sangatlah dahsyat karena berhasil membius anak muda diseantero jagad untuk menjadkikan rock n roll sebagai medium sarat pesan.Walaupun Elvis Presley bukanlah tokoh yang mempelopori lahirnya rock n’roll, tapi Elvis adalah ikon yang menghidupkan semangat rock n’roll itu sendiri.Bayangkan seorang remaja Inggris pun takjub dengan kemilau Elvis Presley yang “mencuri” kredo musik orang orang Afrika yang berimigrasi ke Amerika menjadi budak.Anak muda kelahiran tahun 1940 itu lalu mengepalkan obsesi ingin memainkan pula rock n roll.Obsesi remaja Inggeris asal Liverpool itu berbuah bukti saat dia,yang kemudian dikenal sebagai John Lennon, bersama band bentukannya The Beatles menginvasi Amerika Serikat pada tahun 1963.Ini semua karena daya pesona seorang Elvis Presley.

Di Indonesia sendiri Elvis pun menjadi panutan anak muda.Mulai dari sederet lagu-lagunya hingga fashion yang ditularkan Elvis melalui tata rambut hingga tata busana.Imprealisme rock n’roll ini toh pada akhirnya dibendung oleh Presiden Soekarno dengan melarang tingkah polah mazhab rock n’roll yang dianggap dekaden dengan istilah musik ngak ngik ngok.Film film rock n roll mulai dari Rock Around The Clock-nya Bill Halley and His Comets hingga film-film romantik Elvis Presley dilarang diputar di Indonesia.Saat itu Soekarno memang memancangkan sikap anti Barat lewat Manipol Usdek.Dengan lantang Soekarno menyerukan : Inggris kita linggis.Amerika kita setrika !. Bersama dengan beberapa seniman musik Indonesia,Soekarno menggali musik pop yang sesuai budaya bangsa.Akhirnya muncul tarian pergaulan Irama Lenso yang digali dari khazanah budaya Maluku di timur Indonesia.

Namun toh ada juga pemusik kita yang cerdas.Ketika Soekarno melarang musik Barat dalam hal ini rock n’roll, tiba-tiba mencuat lagu Bengawan Solo karya Gesang yang dibawakan penyanyi Oslan Husain dengan gaya rock n’roll ala Elvis Presley.Lagu Bengawan Solo ala Elvis Presley yang dikumandangkan Oslan Husain ini lolos dari pembredeilan.

Dengan larangan anti ngak ngik ngok itu,tak hanya Oslan Husain yang merancang strategi.Tapi banyak pemusik Indonesia terpicu kreativitasnya dengan larangan memainkan musik Barat ini.Kelompok musik Gumarang dengan pengaruh musik Latin Xavier Cugat menyanyikan lagu-lagu berbahasa Minang seperti Ayam Den Lapeh.Ini sebuah ironi,karena musik Latin toh bukan budaya Indonesia.Ironi ini juga terlihat ketika film film Hollywood dilarang untuk diputar dibioskop bioskop Indonesia, tapi sejak tahun 1952 impor film India justeru diperbolehkan.Namun larangan larangan memainkan musik Barat ini justeru membuat pemusik kita memutar otak agar bisa memainkan musik tanpa ada larangan sama sekali.Benyamin Sueb misalnya mulai memainkan musik blues dan funk yang dikawinkan dengan Gambang Kromong misalnya.

Penyanyi A.Rafiq yang berasal dari Semarang dan kemudian mengejar karir musik di Surabaya,mulai menanggalkan kebiasannya menyanyikan lagu-lagu Elvis Presley.A.Rafiq yang pada tahun 1969 bergabung dengan Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan A.Kadir mulai menyanyikan lagu-lagu yang berasal dari khazanah soundtrack film-film India yang tumbuh subur di negeri ini disamping lagu-lagu dari khazanah Timur Tengah.Uniknya A.Kadir bereksperimen dengan menggabungkan begitu banyak kecenderungan budaya dalam penampilan musik OM Sinar Kemala antara lain memadukan Irama Melayu dengan musik India dan Timur Tengah tapi para penyanyi dan pemusiknya menggunakan busana ala Barat.A.Rafiq salah satu penyanyi yang pernah berada dibawah naungan dan bimbingan A.Kadir menerapkan pola serupa saat merintis solo karir di Jakarta pada awal era 70an.A.Rafiq membuat musik dengan pengaruh musik India yang kuat tapi tampil dengan busana atau fashion yang mengambil inspirasi dari Elvis Presley terutama gaya busana Elvis Presley di era Las Vegas pada dasawarsa 70an dengan mengenakan kerah kemeja yang tegak berdiri.Sekujur kemeja hingga celana berlumurkan payet payet yang mengkilap serta celana cutbray serta rambut jambul dan cambang.Menariknya saat mengenakan busana ala Elvis Presley tersebut A.Rafiq justeru menemukan jatidiri penampilannya sebagai penyanyi dangdut tersohor.Saat itu celana cutbray ala Elvis Presley itu malah disebut orang sebagai celana Rafiq.

Memasuki orde baru,musik Barat tidak lagi dianggap sebagai budaya yang diharamkan.band band rock mulai bermunculan.Dan pesona Elvis Presley pun tak pernah luntur.Mulailah muncul para impersonator Elvis Presley di Indonesia seperti JW Errol,Mukti Wibowo,Johhny Killian,Gatot Soenyoto,Is Haryanto,John Phillips dan banyak lagi.Fenomena ini memang menjadi global,karena hampir semua Negara di seantero jagad memiliki para impersonator Elvis Presley.

Di Amerika Serikat sendiri impersonator Elvis mulai muncul di pertengahan era 50an,sesaat setelah Elvis memulai debut karirnya di zona musik.Tahun 1956 Jim Smith seorang remaja berusia 16 tahun memulai debut sebagai peniru Elvis .Smith tercatat sebagai impersonator Elvis pertama di dunia.Jumlah impersonator Elvis Presley kian membengkak setelah berpulangnya Elvis Presley pada 16 Agustus 1977.

Banyak impersonator Elvis Presley,yang menggunakan atribut Elvis ini hanyalah sebuah batu loncatan ke dunia hiburan.Salah satunya adalah aktor komedi Andy Kaufman yang memulai karir dunia hiburan sebagai peniru Elvis, namun setelah karirnya di dunia hiburan terbuka lebar,Kaufman lalu menanggalkan dan meninggalkan semua atribut Elvis Presley yang pernah dikenakannya.

Ketika mulai meraih popularitas luar biasa lewat lagu Pandangan Pertama dan Pengalaman Pertama, A.Rafiq memang telah lama tak menyanyikan Hound Dog atau Jailhouse Rock-nya Elvis Presley namun pengaruh busana Elvis Presley era Las Vegas masih dikenakannya di panggung pertunjukan maupun saat berakting dalam film layar lebar.

Pada akhirnya kita layak mahfum bahwa dalam dunia hiburan selalu ada peniruan peniruan dan premis orisinalitas sudah tak berlaku lagi.Elvis Presley yang ditiru jutaan orang itu pun meniru pemusik lain juga.Jadi buat apa ngotot soal orisinalitas ?

Johnny Killian

Johnny Killian

Ngumpul Bikin (Buku) Warung Kopi

Posted: Januari 17, 2013 in Uncategorized
Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Ini adalah catatan saya di saat ngumpul bareng untuk bikin buku tentang Warung Kopi,kelompok lawak Indonesia fenomenal.Selamat membaca :

Jam 11 tadi siang selasa 23 Maret 2010 merupakan hari yang istimewa buat saya.Kenapa karena di terik siang bolong itu ada satu pertemuan untuk membahas rencana penulisan buku Warung Kopi,kelompok lawak fenomenal yang kini hanya tinggal dihuni satu pelawak saja yaitu Indro.
Rencana penulisan buku ini sudah saya dengar sejak paruh tahun lalu melalui Johannes Soerjoko pemilik label Aquarius Musikindo dan Budiarto Shambazy wartawan senior dari harian Kompas.Penggagasnya adalah Rudy Badil.Lelaki  berusia 63 tahun dengan rambut memutih ini sesungguhnya adalah anggota orisinal Warung Kopi Prambors yang resmi mengudara tiap malam jumat di Radio Prambors Rasisonia yang bermukim di Jalan Borobudur Menteng Jakarta pada tahun 1975.
Menurut Rudy Badil yang sehari-hari ,menurut saya,gak ada lucu-lucu-nya sama sekali,embrio acara Warung Kopi itu bermula saat anak anak pencinta alam diberi porsi acara khusus di Radio Prambors.Karena acaranya lebih banyak ngocol dan berha ha hi hi timbullah ide untuk membuat acara talk show komedi yang kemudian bertajuk Warung Kopi Prambors.
Tadi siang si empunya ide pembuatan buku ini,Rudy Badil,bertutur secara kronologis tentang romantika anak muda di era Soeharto ini.Saat ngumpul ngumpul tim penulis buku Warung Kopi ini hadir juga budayawan Remy Sylado,penggagas puisi mbeling dan mantan wartawan majalah Aktuil Bandung era 70an.
Remy Sylado pun memuntahkan referensi secara historik tentang asal muasal lawak di Indonesia.Menurut Remy yang nama aslinya Jubal Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong ini kata lawak berasal dari bahasa Jawa.Bahwa tradisi kerajaan selalu menghadirkan ruang bagi para pelawak sebagai penghibur raja.Semacam court jester di belahan bumi sana.Bahkan dalam babad pewayangan dengan epik Ramayana maupun Mahabharata versi Indonesia selalu ada tokoh punakawan yang terdiri atas empat lelaki : Semar,Petruk,Gareng dan Bagong.
“Nama nama keempat punakawan itu sendiri sebetulnya berasal dari nama nama Arab.Misalnya Petruk yang berasal dari nama Al Faturk” ungkap budayawan Remy Sylado yang memun tahkan informasi historik tanpa henti dihadapan kita semua.Wow……banyak nian referensi yang kami raup dari mulut lelaki Manado yang kerap menyebut dirinya Munsyi itu.
Gilanya lagi,Remy pun menuliskan nama-nama Arab itu di Whiteboard dengan menggunakan aksara Hijayyah .Padahal Remy bukan muslim,dia Nasrani.Eduaannnn
Indro pun bertutur tentang kisah awal bergabung dalam Warung Kopi Prambors.”Saya memang yang paling muda dan terakhir bergabung dengan Warkop.Saat Warkop mulai siaran di Prambors yang berhadapan dengan rumah saya di Borobudur,saya tertarik untuk melihat mereka siaran langsung.Hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk ikut bergabung.Saya perlihatkan kemampuan saya mulai dari ngebanyol sampai meniup suling.Di Warkop Nanu tuh paling jago main gitar.Kasino juga bisa main gitar dan nyanyi” ungkap Indro panjang lebar.
Siang tadi,dari jam 11.00 hingga 15.00 ruangan kerja Soerjoko di Aquarius Pondok Indah ikut bergetar karena kelakar yang tiada berkesudahan.Banyak anekdot,banyak true story,banyak romantika yang pernah ditapaki dan digurat Warung Kopi dalam kurun waktu 1975 hingga era 2000-an disaat mana Dono dan Kasino akhirnya berpulang untuk selamanya.
Warkop Prambors memang kelompok lawak fenomenal yang pernah ada di negeri ini.Bahkan saya pun mengklaim bahwa Warkop tak tergantikan.
Bayangkan dalam setiap pertunjukan Warkop di panggung, dalam rekaman maupun film,mereka tercatat pernah didukung sederet pemusik handal negeri ini,mulai dari Abadi Soesman,Yockie Suryoprayogo,Ian Antono,Chris Manusama,Rezky Ichwan,Gilang Ramadhan,Mates,Dodo Zakaria dan entah siapa lagi.

Mungkin cuma Kasino Warkop,pelawak yang beruntung pernah diiringi oleh Badai Band beserta Orkestra yang dipimpin Idris Sardi saat menyanyikan lagu “Cinderella” dalam Konser “Musik Saya Adalah Saya” milik Yockie Suryoprayogo di tahun 1979.
Di tahun yang sama pula Warung Kopi termasuk elemen yang menjadi bagian menarik dari Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera I di Balai Sidsang Senayan Jakarta.
“Bayangkan waktu Pramaqua meminta Warkop untuk merekam lawakannya.Saya kontrak mereka sebesar Rp 25 juta.Untuk perbandingan,album God Bless di tahun 1975 saya bayar sekitar Rp 5 juta.Saya pun masih ingat betapa kagetnya Kasino dengan fee Warkop segede itu” tutur Johannes Soerjoko yang saat itu merilis dua album lawak Warkop melalui label Pramaqua (kongsi Prambors dan Aquarius).
“Mereka inovatif dan pantas menerima bayaran sebesar itu” dalih Soerjoko.Saat itu sound engineer yang menangani album Warkop adalah Alex Kumara.
Berbagai kepeloporan maupun terobosan yang dilakukan Warkop itulah yang nantinya direkam kedalam sebuah buku yang ditulis Rudy Badil serta didukung ,Budiarto Shambazy,Denny Sakrie dan Eddy  Suhardy.
Idealnya buku Warkop ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri dalam dunia hiburan di negeri ini.
Saya pun jadi teringat dengan tagline khas Warkop :”Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang “.
Salam Gerrrrrrr.

Mengenang Musik dan Bodor Yan Asmi

Posted: Januari 17, 2013 in Obituari

Saya terkesiap membaca sms yang masuk tadi pagi dari seorang kerabat yang mewartakan bahwa Kang Yan Asmi telah menghadap sang Illahi.
Dalam pesan singkat dikabarkan Yan Asmi yang bernama lengkap Uyan Suryana bin Dodo Sukardi telah menghembuskan nafas terakhir senin dini hari 29 Maret 2010 di RS Umum Daerah Syamsudin Sukabumi .Sebelum berpulang, Yas Asmi sempat dilarikan kerumah sakit,pada minggu 28 maret 2010 karena penyakit liver yang diderita.

Dia sempat tidak sadarkan diri ketika dibawa untuk memdapakan penanganan medis. Selain menderita liver, dia juga menderita vertigo. Yan Asmi saat itu harus dirawat selama sebulan.
Sya jelas kaget.Padahal beberapa waktu lalu saya masih melihat Kan Yan tampil mengocok perut lewat lawak dan lagu di acara Zona Memori Metro TV.Bahkan selama ini sebetulnya sosok almarhum masih sering terlihat berkelebat di layar kaca TVRI Jawa Barat Stasiun Bandung memandu acara “Pasosore Edas ” bersama Aci Padmo.
Tapi yang tetap teringat di benak kita saat mendengar nama Yan Asmi adalah sosok berkulit coklat gelap dengan rambut panjang dikuncir,memetik gitar dan mulai meniru-niru suara suara penyanyi yang tengah ngetop saat itu di era 80-an seperti Ebiet G Ade (terutama),Jamal Mirdad,Tommy J Pisa atau Ade Putera.Secara kebetulan nama-nama yang saya sebut itu adalah penyanyi penyanyi yang mencoba meraih peruntungan dengan mendompleng gaya bernyanyi atau cengkok yang dipopulerkan Ebiet G.Ade.Dan sebelum semua orang senantiasa mengikuti gaya bertutur dan bernyanyi sarat cengkok ala Rhoma Irama,rasanya Yan Asmi lah yang duluan memulainya.
Menariknya Yan menguasai beberapa alat musik terutama gitar dan Yan juga terampil menulis lagu sendiri.Ini yang menjadi titik istimewa Yan Asmi.
Silat kata yang diperlihatkan Yan Asmi bersama dua rekannya dalam D’Bodors : Abah Us Us dan Mang Engkus a.k.a Kusye sangat terampil.Tentunya dengan aksen Sunda yang menurut saya sangat mudah memecah tawa penikmatnya.
Jelas D’Bodor adalah kelompok yang mengangkat sosok Yan Asmi di dunia hiburan.Di era 80-an saat TVRI masih memonopoli dunia pertelevisian negeri ini,D’Bodors nyaris mendapat porsi menguntungjkan tampil dalam berbagai acara hiburan yang dikemas TVRI semisal Aneka Ria Safari,Aneka Ria TVRI,Selekta Pop maupun Kamera Ria.
Dilahirkan dengan nama Uyan di Sukabumi.Seterusnya dia menggunakan nickname Yan Asmi.Asmi itu merujuk atas akronim Asli Sukabumi.
Lawakan atau bodoran yang ditampilkan D’Bodor memang unik teruatama karena menjumput atmosfer Pasundan dengan aksenya yang khas .Us Us yang di era 60-an kerap dijuluki Jerry Lewis Indonesia dengan cerdas memadukan antara lawakan dan musik humor .
Materi humor ala D’Bodor inilah yang kemudian memikat perhatian pengusaha rekaman .D’Bodor lalu digiring ke bilik rekaman.Lalu muncullah beberapa album musik dan lawak D’Bodor yang memunculkan serial gadis mulai dari “Gadis 4 Sehat 5 Sempurna” hingga “Gadis Manis Bau Jengkol” yang sempat tenar dimana-mana.Juga album bertajuk “Gadis dan Kumis”.Selain mengandalkan lagu “Gadis & Kumis” dengan humor bodor bernuansa Sunda,di album ini juga termaktub lagu bertajuk “Rock & Pong” yang merupakan perpaduan antara rock n’roll dan jaipong.Eksperimentasi ini walau sebatas menyerap unsur humor,tapi menurut saya merupakan bukti keseriusan Yan Asmi sebagai komposer sekaligus penata musiknya.
Dalam album “Gadis 4 Sehat 5 Sempurna” D’Bodors malah diiringi band rock Bandung Staccatto,yang dulu kerap mengiringi penampilan rocker kontroversial almarhum Deddy Stanzah
Di tahun 1992 D’Bodor sempat membuat album kolaborasi dengan Desy Ratnsari bertajuk “Sari” (Terminal Record) yang merupakan album soundtrack dari sinetron komedi “Jual Tampang”.
Tak sampai disitu,ternyata Yan Asmi mulai menyusup ke industri rekaman.Terbukti dengan dirilisnya beberapa album .Racikan musik yang ditampilkan didalam albumnya penuh warna. Ada yang ngepop, country serta dangdu yang berlumur aksen etnikal Sunda .

Aktifitasnya lumayan padat terutama sebagai pembawa acara, baik di stasiun televisi, seminar-seminar maupun di berbagai acara hiburan, belakangan ini Yan Asmi sedang sibuk sebagai pembawa acara pada panggung-panggung kampanye pilkada dan pemilu, tak heran apabila pergaulannya dikenal cukup luas dengan orang-orang dari berbagai kalangan.

Sejak dasawarsa 80-an Yan Asmi ternyata telah merintis semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang penyelamatan lingkungan dan alam dengan nama “Yayasan Kemasyarakatan Pepeling”.
Disat sebagian artis rekaman menikmati ranumnya rezeki dari ringbacktone (RBT),tanpa banyak yang mengetahui sebetulnya almarhum Yan Asmi pun telah melakukannya lewat lagu-lagu yang ditulis sekaligus disenandungkannya itu.Lagu lagu Yan Asmi yang dijadikan RBT antara lain seperti :”Super Sabar”,”Stir Star Stor”,”Gugal Gegel”,”Kokom”,”Ampun”,”To

gmol”,”Hayang Apel”,”Ojek Sedan” dan masih banyak lagi.Yan Asmi pun merilis berbagai VCD.Semuanya bernuansa Sunda.
Selamat Jalan kang Yan Asmi.Karya karyamu tetap membekas di benak dan hati.Image

Pelawak Sunda (Nyaris) Punah ?

Posted: Januari 17, 2013 in Opini

dbodorDekabayanJudul diatas bukan untuk cari sensasi.Tapi memang terbersit dari benak saya manakala secara berturut-turut dalam selang waktu sekitar sebulanan,dua pelawak senior Jawa Barat yaitu Yan Asmi dan Abah Us Us telah berpulang menghadap sang khalik.Keduanya bahkan tergabung dalam satu grup lawak bertajuk D’Bodors.Nyaris tak ada lagi regenerasi dalam deretan pelawak yang bermuasal dari Pasundan.Ini jelas jelas memprihatinkan.Apakah sudah tak ada lagi seniman Bandung yang tergerak untuk berprofesi sebagai pelawak.Di era 70-an dan 80-an setidaknya ada 3 “kubu” pelawak yang mengandalkan logat atau dialek daerah yaitu dialek Jawa,dialek Betawi (bisa dibaca : Lenong) dan dialek Sunda.
Deretan para bodor dari Sunda yang memiliki reputasi nasional dengan dialek Sunda tercatat antara lain adalah Abah Us Us,Rudy Djamil,Kang Ibing,Aom Kusman hingga Sup Yusup.Salah satu yang menarik dari pelawak Sunda ini adalah bahwa mereka menampilkan komedi secara komplit yaitu membaurkan lawak dan musik.Selain mampu mengocok perut dan memancing tawa,biasanya meeka terampil bernyanyi bahkan bermain musik,termasuk diantaranya mencipta lagu.
Mungkin anda masih ingat bahwa ada 2 pelawak Sunda yang diajak kelompok Bimbo dalam beberapa album mereka yang dirilis Remaco pada paruh 70-an yaitu Rudy Djamil dan Kang Ibing.Mereka ikut menulis lagu pula.Bahkan Rudy Djamil bersama Bimbo menyanyikan lagu “Main Kim” yang sempat ngetop itu.Sup Yusup yang diajak bergabung oleh almarhum Ateng dan Iskak itu pun kerap bersenandung di panggung.
Bandung dan sekitarnya memang daerah sejuk yang banyak menghasilkan seniman penghibur yang cenderung bodor dan heureuy.
Pelawak senior Us Us yang mulai tampil pada paruh 60-an itu juga merupakan sosok pelawak yang musikal.Saat itu Us Us kerap dijuluki Jerry Lewis Indonesia.
Us Us mendirikan D’Bodor,sebuah kelompok lawak yang tetap eksis hingga kedua pendukungnya (Us Us dan Yan Asmi) meninggal dunia.D’Bodors telah empat kali ganti formasi.Yang pertama Us Us bersama almarhum Teten Ahmad dan almarhum Dori.Teten lalu diajak bergabung dalam acara Ria Jenaka TVRI bersam Sampan Hismanto,Slamet Harto serta Ateng dan Iskak.Teten di acara itu lalu kerap dikenal sebagai Mono.
Pada formasi kedua D’Bodors,Us Us mengajak Rudy Djamil dan Sup Yusuf.Tetapi Rudy Djamil kemudian tampil sendiri sebagai master of ceremony dengan celutukan Sunda yang tetap nempel sampai sekarang.Sedang Sup Jusuf bergabung bersama Ateng dan Iskak,setelah keduanya memisahkan diri dari Kwartet Jaya-nya Eddy Sud.
Selanjutnya Us Us hanya berdua tampil dengan Sambas.Lalu D’Bodor lebih berkibar dengan masuknya Yan Asmi (Uyan) dan Kusye (Engkus).Bahkan trio lawak Sunda ini pun menghasilkan beberapa album kaset lawak dan lagu.
Kompetitor D’Bodor saat itu adalah De Kebayan yang terdiri atas Kang Ibing,Aom Kusman serta Suryana Patah yang selalu didapuk sebagai Babah Ho Liang.De Kebayan pun senantiasa hadir dengan konsep Lawak dan Lagu.
Di luar itu,mulailah muncul kelompok lawak dan musik alternatif yang berasal dari tembok kampus Universitas Padjadjaran dan Parahyangan.Awalnya para mahasiswa ini terlibat dalam lakon hiburan bernuansa komedi terutama menampilkan karya karya komedi parodi.Para mahasiswa kedua universitas itu mengusung nama Kelompok Padhyangan yang merupakan akronim dari Padjadjaran dan Parahyangan.
Memasuki era 90-an kelompok ini lalu mulai merambah industri musik dan TV dengan nama Padhyangan Project bahkan kemudian berhasil melakukan semacam regenerasi dengan munculnya Project Pop yang hingga saat ini masih tetap eksis.
Tapi diluar Project Pop,hampir tak ada lagi terdengar kiprah kelompok komedi Bandung yang mampu berbicara secara nasional.Bahkan wujudnya pun hampir tak ada sama sekali.
Betul betul sangat disayangkan.Apakah dunia lawak atau komedi sudah tidak menimbulkan “nafsu” lagi bagi seniman Bandung ?.
Siapa yang mau menjawab ?

Gipsy Ke Amerika

Posted: Januari 16, 2013 in Uncategorized
Gipsy di atas apartemen New York

Gipsy di atas apartemen New York

Gipsy tengah ngamen di Ramayana Restaurant New York milik Pertamina

Gipsy tengah ngamen di Ramayana Restaurant New York milik Pertamina

Setelah melakukan serangkain pertunjukan di berbagai tempat di Jakarta,Surabaya,Malang dan Bandung,Gipsy membuka lembaran baru dalam perjalanan musiknya yaitu ke Amerika Serikat !.Penggagasnya tak lain dan  tak bukan adalah Pontjo Sutowo,putera dari Dirut Pertamina saat itu Ibnu Sutowo.

Menurut Pontjo Sutowo ,Restauran Ramayana yang dikelola pihak Pertamina di New York saat itu tengah membutuhkan sebuah homeband resmi untuk mengisi acara hiburan untuk para tamu dan pengunjung.

Konsepnya adalah menampikan budaya Indonesia dalam repertoar musiknya.Jadi porsi musik yang disuguhkan kepada pengunjung restoran adalah didominasi oleh lagu-lagu rakyat dan tradisional.

Sudah barang tentu hal ini bukanlah sesuatu yang baru bagi para personil Gipsy .

Sebelumnya ketika masih bernama Sabda Nada,mereka telah terbiasa membawakan lagu-lagu seperti “Dondong Opo Salak”hingga “Manuk Dadali”.Bahkan ketika berkolaborasi dengan Mus Mualim,Gipsy telah pula memainkan lagu rakyat Jawa Barat “Es Lilin”.

Di New York,kelompok Gipsy mengalami pergeseran formasi yaitu Gauri Nasution (gitar),Keenan Nasution (drum,vocal),Chrisye (bas,vocal) ditambah anggota baru yaitu Rully Djohan (keyboard) dari kelompok Pappilon dan ERO dan Lulu Soemaryo (saxophone) dari kelompok The Tankers  serta almarhum  Adjie Bandy (biola) yang baru saja meninggalkan kelompok C’Blues.

Lalu kemana personil Gipsy lainnya ? Tammy Daudsyah  lebih cenderung menekuni kuliahnya di Fakultas Kedokteran,sedangkan Onan Soesilo telah bekerja di perusahaan milik Pontjo Sutowo.”Saya bekerja sebagai pehawai kantoran.Kegiatan musik pun mulai dilepaskan” jelas Onan Soesilo.

Di Restauran Ramayana Gipsy tampil menghibur para pengunjung,baik orang Indonesia maupun Amerika Serikat.Gipsy dalam seminggu setiap malam berkewajiban  mengiringi penyanyi Bob Tutupoly.Disini ternyata Bob Tutuploy memiliki peran yang cukup penting yaitu sebagai pemandu acara atau  master of ceremony.  Ini merupakan pengalaman pertama bagi Gipsy bermain band di negeri orang.Bahkan pengunjung yang dating ke Restauran Ramayana bukan hanya orang Indonesia tetapi juga warga Amerika Serikat.”Ini yang membuat kita awalnya sedikit grogi dan salah tingkah.Namun lama kelamaan toh kita telah mampu menyesuaikan diri.Kami mulai bisa bermain dengan agak santai” ucap Keenan Nasution.Bagi Gauri hal ini merupkan pelajaran berharga untuk lebih mematangkan Gipsy sebagai kelompok musik yang diperhitungkan kiprahnya di Tanah Air.

Bob Tutupoly yang terampil berbahasa Inggeris banyak pula berbagi pengalaman tentang bagaimana bersikap dalam menjalani kehidupan di dunia hiburan.”Bob itu banyak bagi-bagi cerita kepada kita’ jelas Gauri Nasution.

Gipsy dikontrak hampir setahun di Restauran Ramayana.Waktu senggang mereka isi dengan banyak hal antara lain nonton konser-konser musik bermutu yang berlangsung  di Radio City Music Hall hingga di tempat yang jauh lebih bnesar yakni di Madison Square Garden.

”Kami sempat nonton konser Yes,Blood Sweat & Tears hingga Return To Forever-nya Chick Corea.Juga Gentle Giant” cerita Keenan Nasution.Sungguh sebuah pengalaman berharga yang tiada ternilai.”Melihat permainan mereka.Rasanya jadi malas ngeband lagi.Mereka mainnya jago benar.Dan terus terang kita tertinggal jauh berpuluh-puluh tahun” cerita Keenan Nasution yang terperangah melihat setting panggung Yes garapan Roger Dean yang imajinatif dan bernuansa futuristik. “Saya hanya melongo melihat drummer Yes Alan White seolah berada dalam akuarium raksasa.Wah mereka idenya dahsyat.Hebat” puji Keenan Nasution lagi.

Inspirasi dan gagasan pun mulai berseliweran di benak mereka,entah Keenan,Gauri maupun Chrisye.Jika Keenan dan Chrisye menendam apa  yang mereka lihat sebagai bekal dalam berkarya maupun bermusik kelak.Lain pula dengan Gauri Nasution.Gauri justeru tertarik melihat gagasan produksi dan rancangan panggung serta grafis Yes yang digarap oleh seniman grafis sohor Roger Dean.

Jika anda amati logo nama Keenan Nasution dan Chrisye yang digarap Gauri Nasution pada   album album solo mereka pada akhir 70-an hingga 80-an,maka tak syak lagi Gauri Nasution memang banyak dipengaruhi oleh logo-logo karya Roger Dean yang imajinatif dan terkadang surealis.

Lawatan Gipsy ke Amerika Serikat memang memiliki nilai positif,yaitu menambah  wawasan bermusik dari berbagai sudut,mulai dari tata musik hingga tata produksi panggung yang spektakuler.Apa yang mereka lihat seolah terekam dalam benak mereka.Sebuah kelompok musik yang ingin maju memang harus memperlihatkan progress dengan menyerap berbagai pengaruh dan inspirasi.Disamping itu,kelompok Gipsy merasa bahwa mereka sebagai kelompok musik untuk pertamakalinya diperlakukan dengan sangat  istimewa.Gipsy ditempatkan di sebuah penthouse yang terletak di kawasan Fifth Avenue.Gipsy pun digaji dengan sangat layak.”Kami merasa sangat dihormati disini” kenang Gauri Nasution.

Chrisye dan Keenan seringkali mengisi waktu senggang dengan berbelanja piringan hitam.Keduanya kebetulan memiliki kegemaran yang sama yaitu mendengarkan lantunan musik melalui piringan hitam.”Beberapa piringan hitam yang saya beli seperti Genesis,Yes,Greenslade atau Gentle Giant,saya kirimkan ke Jakarta untuk Oding  dan Debbie.Maksudnya agar mereka mendapatkan sedikit pencerahan dalam bermusik” ujar Keenan sambil terkekeh. Keenan Nasution,Chrisye dan Abadi Soesman juga sering mengunjungi Electric Ladyland,tempat yang merupakan saksi abadi rekaman-rekaman legenda classic-rock.”Yang saya ingat,waktu kita jalan jalan kesitu.Ray Manzarek,pemain keyboards The Doors tengah melakukan rekaman” jelas Abadi Soesman.

Gauri Nasution sendiri lebih banyak mencari peluang untuk mencari semacam kursus terhadap dunia seni rupa yang digelutinya selain bermusik.”Sebelum ke New York,saya telah kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta,yang kini dikenal sebagai IKJ”papar Gauri Nasution.Tak lama berselang Gauri mendaftar di Arts Instructions School yang berada di Minneapolis.”Saya mengambil jurusan Commercial Arts dan melaluinya dengan kursus secara tertulis.Yang bikin saya yakin pada bidang ini adalah setiap tugas tugas yang diberikan saya selalu mendapat nilai A plus” ujar Gauri mengisahkan.

Setiba di Tanah Air,Gauri Nasution memang lebih memilih berkarir dibidang seni grafis.Gauri Nasution  bahkan sempat menerbitkan beberapa majalah mulai dari majalah Maskulin  hingga Visi.Gauri Nasution bahkan yang merancang konsep grafis album Guruh Gipsy.”Gauri juga yang menciptakan logo untuk Keenan ,Chrisye dan saya pada album-album solo kami” tukas Harry Sabar.Hampir semua rancangan grafis album solo Chrisye dan Keenan Nasution justeru dikerjakan oleh Gauri Nasution.

 

Image

Dan yang pantas dicatat,bahwa lawatan Gipsy ke Amerika Serikat bisa dianggap sebagai stepping stone  dan salah satu titik awal jejak kiprah anak-anak Pegangsaan dalam khazanah musik di Tanah Air. Karena sesungguhnya sepulang dari Amerika Serikat,keran kreativitas anak-anak Pegangsaan seolah mulai terbuka dan mulai mengalir tanpa terbendung lagi.Kelak mereka tak lagi membawakan atau menyanyikan karya-karya pemusik mancanegara.Mereka mulai menggurat dan menorehkan karya karya sendiri dalam bahasa Indonesia.Sebuah tahap-tahap bermusik yang patut diteladani oleh generasi generasi setelahnya.

Denny Sakrie