Musik Pisang Deep Purple

Posted: Januari 2, 2013 in Sosok, Tinjau Acara
Foto bareng Deep Purple usai interview di Lagoon Tower Hilton Hotel April 2004

Foto bareng Deep Purple usai interview di Lagoon Tower Hilton Hotel April 2004

Ian Gillan (tetap) karismatik

Ian Gillan (tetap) karismatik

Steve Morse

Steve Morse

Purple itu bagai seorang istri. Aku menikahinya pada 1969 dan cerai pada 1973, lalu rujuk lagi pada 1984, kemudian cerai lagi pada 1989. Pada 1992 aku nikah lagi. Sejak itu aku bersumpah tidak mau kawin cerai lagi, ” kata Ian Gillan bersumpah ketika merekam album The Battle Rages On , Desember 1992 di studio milik penyanyi  Peter Maffay , yang berada di Munich Jerman.

Ian Gillan, 59 tahun, vokalis Deep Purple memang membuktikan sumpahnya. Ia bertahan dengan Deep Purple. Grup dari Inggris yang tahun ini berusia 36 tahun-lewat formasi Mark VIII terdiri Ian Paice (drum), Roger Glover (bas), Steve Morse (gitar), dan Don Airey (kibor). Seperti halnya grup-grup rock legendaris yang tetap bertahan seperti Rolling Stones maupun Yes, Deep Purple pun tetap menghasilkan karya baru.

Bananas adalah album terakhir Purple yang dirilis pada 2003. Apakah album ini masih tetap konsisten dengan semangat hard rock Purple di puncak keemasannya pada 1970-an? Ada yang menyebut Bananas tak lebih dari upaya Deep Purple sebagai grup musik yang survival. Tapi juga, tak sedikit yang memuji Deep Purple berhasil mengetengahkan pelebaran wilayah bunyi. Tak lagi sekadar mempertahankan identitas genre hard rock yang telanjur menjadi cap mereka bertahun-tahun.

Musik Purple kini tak berlebihan jika diibaratkan dengan pisang. Manis rasanya, gampang dikunyah, dan biasanya menjadi bagian dari cuci mulut seusai menyantap makanan. Pisang pun bisa disajikan dalam bentuk pisang goreng, kolak pisang dan berbagai penganan lainnya. Siapa pun pasti menyukainya.

Tak heran bila di antara 2.000 penonton yang memadati Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin 12 April 2004 dalam konser Deep Purple Peace to The World, Bananas Tour yang diprakarsai Original Productions, tak hanya terdiri dari penggemar Deep Purple yang telah mengelu-elukan grup kesayangannya sejak 1970-an. Melainkan juga dari generasi sekarang yang dibesarkan kultur MTV.

Seorang remaja murid SMP, Michael Adrian, 15 tahun, ditemani sang ayah menyusup ke tengah-tengah konferensi pers Deep Purple yang berlangsung di Libra Room Hilton Hotel, Minggu (11/4) malam. Michael yang memiliki gitar Ernie Ball Music Man dengan tanda tangan Steve Morse lalu menghampiri Steve dan menitipkan sepucuk surat yang antara lain berbunyi: “I like you very much Mr. Morse. I always play Deep Purple and your music. Your music brings advantage to me”.

Karismatik

Dan tepuk tangan membahana ketika Deep Purple membuka konser tepat pukul 20.30 WIB dengan panggung berlatar hutan penuh pohon pisang. Ian Gillan mengenakan setelan putih-putih tanpa mengenakan sepatu. Suaranya memang sudah tidak seprima dulu. Ia mengaku, jangkauan vokalnya telah turun sebanyak 2 oktaf. Namun, tetap karismatik. Ia masih mencoba untuk menjerit, meski dengan lengkingan yang sangat hati-hati. Ini terlihat menyanyikan pembuka bertajuk Silver Tongue dari album Bananas:

Well, I’m Standing here on moving station All the world is traveling by to strange outlandish destination

Ya, meskipun usia rata-rata personel Deep Purple telah memasuki kepala 5, mereka tetap bersemangat melakukan tur ke seantero jagat. Menurut Ian Gillan dalam wawancara khusus Koran Tempo, Minggu (11/4) malam di salah satu kamar di lantai 11 Lagoon Tower Hilton Hotel, tur konser justru banyak mendatangkan ilham untuk penggarapan album-album Deep Purple.

“Contohnya ketika fotografer kami memotret orang yang tengah mengangkut pisang maupun yang menjual pisang. Itu hanya sebagian dari gagasan yang kami angkat ke dalam album,” kata Gillan.

Hadirin kurang bereaksi ketika Deep Purple malam itu banyak menghadirkan repertoar dari album Bananas seperti I Got Your Number, Picture Of Innocence, Bananas hingga satu-satunya lagu balada yang dihadirkan dalam konser Haunted yang beratmosfer Amerika. Ian Gillan pun merasakan sambutan yang dingin dari penonton. “Can I hear you ?” teriaknya sambil memegang telinganya.

Toh, penonton sebetulnya sangat menikmati kepiawaian Deep Purple dalam mengolah musik terutama penjelajahan wilayah bunyi yang dilakukan Don Airey dibalik tumpukan keyboards. Airey menampilkan keterampilannya mengaduk-aduk suara Hammond dengan dukungan perangkat Leslie speakers yang memiliki efek distorsi. Berbeda dengan gaya Jon Lord dulu. Airey lebih cenderung berkesan fusion. Mungkin karena dia pernah tergabung dalam kelompok Colloseum II, yang banyak mengadopsi idiom rock dan jazz.

Dalam salah satu permainan solonya, Airey mengingatkan kita akan salah satu karya fenomenalnya bersama Colloseum II, The Dark Side Of The Moog. Airey yang humoris itu bahkan menyelipkan karya klasik Wolfgang Amadeus Mozart Turkish March, music score film Star Wars (John Williams) dan St. Elmo’s Fire (David Foster). Juga memainkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hal yang pernah dilakukannya ketika Purple tampil di Jakarta Convention Center pada 30 April 2002.

Tingkat tinggi

 Lalu, solo gitar Steve Morse yang dinanti-nanti sebagian besar penonton. Berkumandanglah nomor instrumental dari Steve Morse, Well Dressed Guitar dan Contact Lost. Tak pelak lagi Morse adalah salah satu pahlawan gitar yang memiliki kemampuan tingkat tinggi. Rasanya Morse adalah salah satu nyawa dari eksistensi Deep Purple. Morse banyak memberi nuansa baru dalam grup yang telah 36 tahun malang melintang di dunia musik rock.Seperti halnya konser Deep Purple yang digelar 2 tahun silam. Aplaus meriah dari penonton tetap bertumpu pada repertoar old school seperti Woman From Tokyo, Strange Kind Of Woman, Highway Star, Lazy, Smoke On The Water, Space Truckin”. Termasuk dari album comeback mereka pada 1984, Perfect Strangers, yaitu Knocking At Your Back Door maupun lagu yang reff-nya berkesan musik Arab Perfect Strangers. Di lagu ini Ian Gillan bahkan melucu dengan meniru gerakan penari perut.Dari menu yang ditampilkan konser ini, jelas terbaca Deep Purple banyak menampilkan lagu-lagu yang disesuaikan dengan kondisi vokal Ian Gillan. Tak heran bila lagu-lagu bertaraf sakral seperti Child In Time tidak muncul. Gillan pun melakukan trik jitu, yaitu pada saat mendaki nada-nada tinggi, vokalnya senantiasa ditempel oleh lengkingan gitar dari Steve Morse.
Ketika Koran Tempo melakukan wawancara khusus dengan seluruh personel Deep Purple di Hilton Hotel, mereka berniat ingin membuat sebuah album live dari konser yang digelar hari ini Rabu 14 April di Lotus Pond, Bali. “Jika hasil rekaman tersebut bagus dan layak, maka kami pasti akan merilis dalam bentuk album live,” ungkap Ian Paice, sang penggebuk drum yang diiyakan oleh Roger Glover, pencabik bass yang tak pernah lepas dengan bandananya. Tepat 22.00 WIB Deep Purple menyudahi penampilannya lewat Smoke On The Water, lagu yang termasuk dalam deretan lagu rock dengan riff-riff melegenda di dunia. Permintaan penonton untuk sebuah lagu pungkasan dipenuhi Purple dengan menyajikan Black Night. Sebuah masterpiece dari album In Rock (1970).Malam itu Purple kembali membuat kesan mendalam penggemarnya. Meskipun tidak seheboh ketika Deep Purple tampil pertama kali di Stadion Senayan Jakarta pada tanggal 4 dan 5  Desember 1975. Rasanya mereka menyadari kalau waktu telah merenggut banyak hal : usia dan kejayaan. Yang muncul sisa-sisa keperkasaan mereka.
Pemusik baru telah siap menggantikan. Seperti yang tersirat dalam lagu Bananas :
Some will rise and some will fall

Some will come to nothing at all

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 14 April 2004
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s