Pramaqua Label Gila dan Idealis

Posted: Januari 15, 2013 in Uncategorized

 

Bersama Johannes Soerjoko pendiri label Pramaqua

Bersama Johannes Soerjoko pendiri label Pramaqua

kasetPHnoorbersaudaraachmad albar 5Pramaqua adalah label yang aneh.Itu menurut saya dan teman-teman.Kenapa ? Karena label yang merupakan kongsi antara radio Prambors Rasisonia dan label Aquarius ini terlihat super idealis.Di saat label label lain saat itu terutama Remaco berlomba-lomba merilis album-album super komersial antara lain merilis banyak album pop dari Koes Plus dan banyak band band pop lainnya (kabarnya di tahun 1974 Koes Plus pernah menghasilkan 22 album.Bayangkan), Pramaqua malah merilis album Noor Bersaudara yang bernuansa folk jazz di tahun 1975 atau God Bless di tahun 1976.Setidaknya Pramaqua menampilkan musik musik yang tak lazim dikuping pendengar awam,entah itu rock,folk,instrumental hingga jazz.

Tergelitik dengan pola produksi yang berbalut idealisme tinggi ini, September 2009 saat Aquarius merayakan anniversary yang ke 40 D&Rsaya lalu mewawancara Johannes Soerjoko,pemilik label Aquarius yang bekerja sama dengan radio Prambors untuk kemudian melahirkan label PramAqua yang merupakan akronim Prambors Aquarius.Pramaqua pun memperkenalkan tagline “Music For Talents Scouting” yang tertera di badan kaset.Menurut Ook demikian panggilan akrab Johannes Soerjoko,label Pramaqua dijalankannya bersama Tono Sebastian, penyiar Prambors Rasisonia.

Dibawah ini adalah penuturan Johannes Soerjoko yang menerbitkan label Pramaqua pada tahun 1975.Selamat mengikuti.

Pramaqua,sesungguhnya merupakan  sebuah  indie label , itu memang telah kami sadari sejak awal dan sebagaimana  lazimnya  indie label  kami tak mungkin menggunakan  strategi seperti  Major Label  yang ada saat itu seperti  Remaco ,Purnama, Yukawi maupun    Musica Studio’s yang senantiasa   merilis beberapa album secara rutin setiap bulannya . Pramaqua tetap konsisten dengan filosofinya ,  hanya   merilis album dari  artis yang musiknya lain dari pop standard yang ada dipasar saat itu .  Pramaqua menjadi label yang menawarkan alternatif  bagi pendengar musik pop  .Saat itu juga  ada beberapa perusahaan rekaman yang produksi albumnya mirip   Indie label seperti  Jackson Record & Tapes , Granada record  , Atlantic Record hingga   Hidayat  Audio yang  masing masing memiliki  ciri khas sendiri sendiri .

Pramaqua  juga   merilis  beberapa  album dari kerja sama  distribusi nya  dengan pihak ketiga  ,  seperti  album  album yang diproduksi panitia Festival lagu Populer Indonesia (FLPI).

Kerja sama ini menghasilkan income bagi Pramaqua .Salah satunya yang berhasil laku keras yaitu kompilasi 9 lagu terbaik dari Festival Lagu Populer Indonesia Tingkat Nasional tahun 1980 dengan  lagu  Simfoni Yang Indah   karya Robby Lea  yang dinyanyikan  Bob Tutupoly.Album ini diluar dugaan ternyata berhasil terjual diatas 200 ribu keeping kaset .

Kejadian  ini pada kahirnya memberi sebuah pelajaran  yang menjadi pengalaman berharga  bagi kami di Pramaqua  , bahwa kita harus bekerja  dengan  serasih  dalam bisnis musik ini agar tercipta sebuah keseimbangan antara merilis album yang idealis  dengan  album yang dapat jualan secara komersial  . Jika terlampau berat ke satu sisi , dapat menimbulkan sebuah ketidak seimbangan  , yang   justeru dapat menimbulkan sebuah kesulitan  . Ini adalah bisnis musik  .  Musik  dan  Bisnis   , adalah  dua  dunia yang berbeda .Jika kita menyatukannya, maka  kita harus menciptakan sebuah kesimbangan agar mendapat suasana yang  harmonis , agar kita jadi betah berada didalamnya .

Saat itu ada  yang bilang seperti ini :  Pramaqua  ? “orang gila tuh”   nekat  .,Sebetulnya kami  tidaklah seperti itu  . Apa yang terjadi adalah  ,  jika  kita melakukan sesuatu yang lain dari yang  pernah  ada kemudian  gagal dan merugi ,maka orang pun menyebut  kita  orang gila , tapi kalau berhasil  , kita disebut  “ Gile, hebat tuh orang   “ .

Jadi apapun yang kami kerjakan tetap dibilang gila. Hanya nada dan intonasinyanya saja yang lain . Paling tidak  kami sudah mencoba  untuk mendobrak dominasi musik sederhana yang ada di pasar music saat itu , yang  terus bermain dengan lagu lagu pop  konservatif   seperti   lagu pop  era 1950 an .

Kebetulan saat itu banyak juga  artis dan musisi yang memiliki selera dan pandangan sama dengan kami . Tahun 70 an merupakan Golden Era of Pop Music  ,  dekade  keemasan  bagi  industri musik di dunia  demikian juga yang terjadi   di Indonesia .

Di jenis musik  Dang Dut  pada tahun 1974 Oma Irama beserta Soneta Group  merilis lagu  legendarisnya  “Begadang “ . Lagu yang juga memiliki nafas rock ini merajai pasar musik dangdut  serta melakukan   breakthrough  ke kota kota besar sehingga masuk ke pendengar lagu Pop sekalipun .

Di lagu-lagu pop yang lebih progresif  muncullah    Pemusik  dari komunitas Jalan  Pegangsaan seperti Keenan Nasution dan Chrisye ,lalu ada Guruh Soekarno Putera , Eros Djarot,Yockie Surjoprajogo , Harry Roesli ,The  Rollies  dan banyak lagi.

Sebelum album  berada dipasar ,  kita tidak dapat dengan mudah  memberi  suatu kesimpulan  laku atau tidak nya sebuah album . Jelas kita tak bisa memberikan semacam prediksi. Kadang kadang sebuah album mengalami  sebuah proses dahulu sebelum bisa diserap oleh  pasar  , banyak unsur yang dapat  mempengaruhi  penjualan  sebuah album ,  seperti album Badai  Pasti Berlalu ketika  pertama  kali dirilis  penjualannya  sangat lemah  dan tersendat. Namun setelah  filmnya diputar di boskop-bioskop , barulah penjualannya  mulai jalan   , dan akhirnya  barulah album Badai Pasti Berlalu  seolah   lari marathon dan menjadi salah satu album yang nafasnya sangat panjang .

Timing dan  faktor keberuntungan ikut berperan  ,  istilah Harco nya ( pusat bursa kaset  waktu itu)   adalah hokie .

Ambil contoh Album  solo   Yockie Surjoprajogo  dengan guest star  Chrisye  ” Jurang  Pemisah ”   dan album  soundtrack yang digarap trio Eros Djarot,Chrisye dan Yockie Surjoprajogo,”  Badai Pasti Berlalu ” direkam dalam tahun yang sama dan dirilis berdekatan , bahkan studio  rekaman dan sound enginer nya pun  yang sama tapi hasil penjualannya bias jadi  berbeda sekali.Demikian pula album Fariz RM “Selangkah Ke Seberang”  yang dirilis Pramaqua dengan  album Fariz RM “Sakura” (Akurama Record) juga mengalami hal yang sama .Padahal materi lagunya hampir sama.

Ada seorang teman pengamat  musik waktu itu  bergurau  seperti ini “ Pramaqua adalah   Swedia Open dalam pertandingan Badminton ( game pemanasan ) bagi Rudy Hartono sebelum dia bertanding dan menang  di All England “ .Maksudnya  Pramaqua   ini cuma untuk tempat pemanasan saja sebelum album besar direkam di perusahaan rekaman lain .

Setelah  selesai merekam album debut God Bless di tahun 1976  , Pramaqua didatangi  Donny Fattah Gagola bassist Godbless yang menawarkan   proyek pribadi nya ,bersama adik kandungnya Rudy Gagola  dengan  nama D& R , sesuai  inisial nama mereka berdua.Album yang diberi judul “D & R” ini  dirilis pada tahun 1977.Penjulananya lumayan.Bahkan  D&R  memiliki radiohit   “Mimpi”  yang ngetop  di Surabaya . Album  ini  dibantu oleh  Achmad Albar ,Yockie Surjoprajogo,Keenan Nasution , Djatu Parmawati (Geronimo II)  , Ida Noor  serta  wartawan music  Theodore K.S. yang ikut  membantu menulis lirik lirik lagunya  .

Saya bicara dengan Tono Sebastian (Prambors Rasisonia)  waktu itu  , untuk  melanjutkan membuat  beberapa  proyek dengan  anggota God Bless lainnya yaitu Yockie Surjoprajogo  dan  Ian Antono .Saat itu kami  berencana untuk membuat    album solo mereka masing masing .Saya melihat baik Yockie maupun Ian  memiliki potensi besar untuk menjadi produser musik . Akhirnya Pramaqua menawarkan untuk membuat album intrumental.

Yockie  Surjoprajogo  tertarik dan  langsung saja menerima tawaran Pramaqua  untuk masuk ke studio merekam  Musik Santai 1 dan  Musik Santai 2 . Tapi Ian Antono justeru  menolak. “Saya tidak sanggup membuatnya” kata Ian Antono.

Sebetulnya Ian bukan tidak sanggup dia  hanya belum mau masuk ke wilayah musik  pop saat  itu .Lain dengan Yockie yang mau merekam jenis musik apa saja, asal dapat proyek .

Contohnya  seperti  ini .  Charles Hutagalung vokalis  dan pemain keyboard The Mercy’s , yang bermukim tinggal di Jalan  Batu Tulis dekat kantor Aquarius, mendadak mundur  dari  The Mercy’s ,untuk melakukan solo karir . Ini membuat  The Mercy’s  kehilangan pemain keyboard  sekaligus vokalis . Yockie tanpa ragu masuk studio Yukawa  mengantikan posisi Charles Hutagalung.Saya dan Tono Sebastian  hanya bisa geleng geleng  kepala saja .

Yockie memang seorang session player yang handal.Dia bekerja serius di studio.Sebagai seorang session player  , Yockie justeru  mendapatkan  pengalaman yang sangat berharga dengan bermain bersama   banyak musisi  . Memang tak ada  salahnya menjadi   session player.Jimmy Page dan John Paul John  dari Led Zepplein hingga  David Foster juga menjalani karir sebagai session player sebelum akhirnya mereka menjadi terkenal  diseantero jagad.

Setelah  serial album Musik Santai  berhasil menuai sukses  , Pramaqua  setuju  untuk merekam  proyek solo Yockie  ,  dengan syarat dia harus menggunakan seorang vokalis. Chrisye dan Achmad Albar  adalah dua vokalis yang   dipilih Yockie tampil di proyek albumk solonya. Tapi   , entah kenapa  Achmad Albar urung   ikut  , padahal dalam kontrak nama Achmad Albar sudah dicantumkan  bahkan  fee nya pun  sudah diperhitungan waktu itu.Yockie pun telah memilih lagu “Mesin Kota” dan “Jurang Pemisah” yang bernuansa progresif rock sebagai lagu yang akan dinyanyikan Albar. Dan menurut saya warna vokal Achmad Albar memang pantas membawakan lagu dengan nafas rock yang kental itu. Ini terbukti ketika Albar menyanyikian “Mesin Kota” dalam konser yang digagas Yockie  MUSIK SAYA ADALAH SAYA  (1979) .Dipanggung  Albar  tampil sangat mengesankan  membawakan  lagu karya Yockie Surjoprajogo dan James F Sundah itu.

Pramaqua adalah indie label yang  melakukan sebuah gerilya .Kami mendapat kesempatan bekerja sama dengan Yockie dan Chrisye , tapi saat itu , apa yang kami lakukan masih sebatas hit and run  , sehingga kesempatan untuk melanjutkan kerja sama dengan kedua artis ini  untuk  jangka panjang malah  tidak di manfaatkan . Padahal umumnya  kebiasaan yang ada di industri musik , ikatan kerja sama antara label dan artis  adalah untuk beberapa album ,ini disebabkan  karena sering terjadi  album pertama  dari seorang artis  atau grup baru  penjualannya  biasa biasa saja , baru pada album ke dua atau  ketiga berhasil dengan baik .

Yang saya kagum dengan Yockie adalah dalam keadaan ketergantungannya pada drugs (saat itu)  , dia tetap berperilaku sebagai seorang gentlemen  Bayangkan,semua perjanjian kerja sama (kontrak)  dengan Pramaqua diselesaikannya dengan baik  . Kami dari label  mendapat suatu kenangan yang manis   dapat bekerjasama dengan Yockie Surjoprajogo  yang kerap suka ngotot sama siapa saja .

Akhirnya Tono Sebastian yang mulai  laris sebagai pengisi  suara  (voice over) untuk iklan-iklan TV dan radio  , mulai sibuk diluar Pramaqua.Tono mendirikan sebuah  perusahaan  iklan   bersama  Papam Mardianto temannya  . Kegiatan inilah  yang   membuat Tono menjadi  terlalu sibuk , dan  tidak lagi  dapat  memberi waktu  untuk  Pramaqua . Tono adalah seorang narrator  iklan yang sangat terkenal waktu itu.Praktis Tono tak memiliki saingan dengan  , suaranya  yang berat , sejuk dan  hangat  .

Ketika album lawak Warung Kopi Prambors berhasil  meledak  dan disusul dengan album Festival Lagu Populer Indonesia 1980  , keadaan keuangan Pramaqua memang sedang bagus bagusnya  bahkan , semua hutang yang tadinya membuat kas kita jadi merah telah terlunasi .

Namun Onny mengutarakan keinginan nya untuk pergi study ke London  dan ingin agar Pramaqua dapat mengeluarkan dividen . Awalnya saya menentang keras dan  tidak setuju karena ingin melanjutkan usaha kami ini jauh  kedepan . Kami memerlukan cadangan modal untuk mengatur cash flow yang sewaktu waktu bisa  memberi tekanan .Karena  saya percaya bahwa  kita harus  bias mengorbankan kenikmatan yang dapat kita raih  hari ini untuk mencapai hasil  yang lebih baik lagi  dimasa yang akan datang . Tapi karena kekerasan tekad Onny  yang tak terbendung lagi ,akhirnya deviden pun  dibagikan  pada akhir tahun 1981.

Industri Musik di dunia International juga sedang mengalami krisis dengan merebaknya  resesi ekonomi .  Era Disco mulai pudar dan belum tergantikan. Sale musik di dunia merosot dengan drastis   .

Aquarius  pun mulai merintis  ekspor   rekaman kaset lagu barat ke Timur Tengah , sehingga semua energi dikerahkan untuk menerobos  pasar Arab tersebut . Inilah yang  membuat  Pramaqua  menjadi tidak aktif  berproduksi. Setahun kemudian  sekembalinya Onny dari London  , kami berkumpul kembali  untuk berpisah . Katalog Pramaqua  diambil alih oleh  Nico  sebagai  salah satu pemegang saham  di Pramaqua .

Sungguh sebuah kenangan yang indah , ketika kami bersama sama di Pramaqua , bekerjasama  dengan  berbagai sosok idealis dalam dunia hiburan negeri ini mulai God Bless , Chrisye , Yockie Surjoprajogo,Fariz RM,Warung Kopi Prambors,Jack Lesmana,Jopie Item maupun  Karim Suweileh .

Johannes Soerjoko yang kini masih mempertahankan label kebanggaannya Aquarius,mengakhiri ceritanya tentang label gila bernama PRAMAQUA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s