Gipsy Ke Amerika

Posted: Januari 16, 2013 in Uncategorized
Gipsy di atas apartemen New York

Gipsy di atas apartemen New York

Gipsy tengah ngamen di Ramayana Restaurant New York milik Pertamina

Gipsy tengah ngamen di Ramayana Restaurant New York milik Pertamina

Setelah melakukan serangkain pertunjukan di berbagai tempat di Jakarta,Surabaya,Malang dan Bandung,Gipsy membuka lembaran baru dalam perjalanan musiknya yaitu ke Amerika Serikat !.Penggagasnya tak lain dan  tak bukan adalah Pontjo Sutowo,putera dari Dirut Pertamina saat itu Ibnu Sutowo.

Menurut Pontjo Sutowo ,Restauran Ramayana yang dikelola pihak Pertamina di New York saat itu tengah membutuhkan sebuah homeband resmi untuk mengisi acara hiburan untuk para tamu dan pengunjung.

Konsepnya adalah menampikan budaya Indonesia dalam repertoar musiknya.Jadi porsi musik yang disuguhkan kepada pengunjung restoran adalah didominasi oleh lagu-lagu rakyat dan tradisional.

Sudah barang tentu hal ini bukanlah sesuatu yang baru bagi para personil Gipsy .

Sebelumnya ketika masih bernama Sabda Nada,mereka telah terbiasa membawakan lagu-lagu seperti “Dondong Opo Salak”hingga “Manuk Dadali”.Bahkan ketika berkolaborasi dengan Mus Mualim,Gipsy telah pula memainkan lagu rakyat Jawa Barat “Es Lilin”.

Di New York,kelompok Gipsy mengalami pergeseran formasi yaitu Gauri Nasution (gitar),Keenan Nasution (drum,vocal),Chrisye (bas,vocal) ditambah anggota baru yaitu Rully Djohan (keyboard) dari kelompok Pappilon dan ERO dan Lulu Soemaryo (saxophone) dari kelompok The Tankers  serta almarhum  Adjie Bandy (biola) yang baru saja meninggalkan kelompok C’Blues.

Lalu kemana personil Gipsy lainnya ? Tammy Daudsyah  lebih cenderung menekuni kuliahnya di Fakultas Kedokteran,sedangkan Onan Soesilo telah bekerja di perusahaan milik Pontjo Sutowo.”Saya bekerja sebagai pehawai kantoran.Kegiatan musik pun mulai dilepaskan” jelas Onan Soesilo.

Di Restauran Ramayana Gipsy tampil menghibur para pengunjung,baik orang Indonesia maupun Amerika Serikat.Gipsy dalam seminggu setiap malam berkewajiban  mengiringi penyanyi Bob Tutupoly.Disini ternyata Bob Tutuploy memiliki peran yang cukup penting yaitu sebagai pemandu acara atau  master of ceremony.  Ini merupakan pengalaman pertama bagi Gipsy bermain band di negeri orang.Bahkan pengunjung yang dating ke Restauran Ramayana bukan hanya orang Indonesia tetapi juga warga Amerika Serikat.”Ini yang membuat kita awalnya sedikit grogi dan salah tingkah.Namun lama kelamaan toh kita telah mampu menyesuaikan diri.Kami mulai bisa bermain dengan agak santai” ucap Keenan Nasution.Bagi Gauri hal ini merupkan pelajaran berharga untuk lebih mematangkan Gipsy sebagai kelompok musik yang diperhitungkan kiprahnya di Tanah Air.

Bob Tutupoly yang terampil berbahasa Inggeris banyak pula berbagi pengalaman tentang bagaimana bersikap dalam menjalani kehidupan di dunia hiburan.”Bob itu banyak bagi-bagi cerita kepada kita’ jelas Gauri Nasution.

Gipsy dikontrak hampir setahun di Restauran Ramayana.Waktu senggang mereka isi dengan banyak hal antara lain nonton konser-konser musik bermutu yang berlangsung  di Radio City Music Hall hingga di tempat yang jauh lebih bnesar yakni di Madison Square Garden.

”Kami sempat nonton konser Yes,Blood Sweat & Tears hingga Return To Forever-nya Chick Corea.Juga Gentle Giant” cerita Keenan Nasution.Sungguh sebuah pengalaman berharga yang tiada ternilai.”Melihat permainan mereka.Rasanya jadi malas ngeband lagi.Mereka mainnya jago benar.Dan terus terang kita tertinggal jauh berpuluh-puluh tahun” cerita Keenan Nasution yang terperangah melihat setting panggung Yes garapan Roger Dean yang imajinatif dan bernuansa futuristik. “Saya hanya melongo melihat drummer Yes Alan White seolah berada dalam akuarium raksasa.Wah mereka idenya dahsyat.Hebat” puji Keenan Nasution lagi.

Inspirasi dan gagasan pun mulai berseliweran di benak mereka,entah Keenan,Gauri maupun Chrisye.Jika Keenan dan Chrisye menendam apa  yang mereka lihat sebagai bekal dalam berkarya maupun bermusik kelak.Lain pula dengan Gauri Nasution.Gauri justeru tertarik melihat gagasan produksi dan rancangan panggung serta grafis Yes yang digarap oleh seniman grafis sohor Roger Dean.

Jika anda amati logo nama Keenan Nasution dan Chrisye yang digarap Gauri Nasution pada   album album solo mereka pada akhir 70-an hingga 80-an,maka tak syak lagi Gauri Nasution memang banyak dipengaruhi oleh logo-logo karya Roger Dean yang imajinatif dan terkadang surealis.

Lawatan Gipsy ke Amerika Serikat memang memiliki nilai positif,yaitu menambah  wawasan bermusik dari berbagai sudut,mulai dari tata musik hingga tata produksi panggung yang spektakuler.Apa yang mereka lihat seolah terekam dalam benak mereka.Sebuah kelompok musik yang ingin maju memang harus memperlihatkan progress dengan menyerap berbagai pengaruh dan inspirasi.Disamping itu,kelompok Gipsy merasa bahwa mereka sebagai kelompok musik untuk pertamakalinya diperlakukan dengan sangat  istimewa.Gipsy ditempatkan di sebuah penthouse yang terletak di kawasan Fifth Avenue.Gipsy pun digaji dengan sangat layak.”Kami merasa sangat dihormati disini” kenang Gauri Nasution.

Chrisye dan Keenan seringkali mengisi waktu senggang dengan berbelanja piringan hitam.Keduanya kebetulan memiliki kegemaran yang sama yaitu mendengarkan lantunan musik melalui piringan hitam.”Beberapa piringan hitam yang saya beli seperti Genesis,Yes,Greenslade atau Gentle Giant,saya kirimkan ke Jakarta untuk Oding  dan Debbie.Maksudnya agar mereka mendapatkan sedikit pencerahan dalam bermusik” ujar Keenan sambil terkekeh. Keenan Nasution,Chrisye dan Abadi Soesman juga sering mengunjungi Electric Ladyland,tempat yang merupakan saksi abadi rekaman-rekaman legenda classic-rock.”Yang saya ingat,waktu kita jalan jalan kesitu.Ray Manzarek,pemain keyboards The Doors tengah melakukan rekaman” jelas Abadi Soesman.

Gauri Nasution sendiri lebih banyak mencari peluang untuk mencari semacam kursus terhadap dunia seni rupa yang digelutinya selain bermusik.”Sebelum ke New York,saya telah kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta,yang kini dikenal sebagai IKJ”papar Gauri Nasution.Tak lama berselang Gauri mendaftar di Arts Instructions School yang berada di Minneapolis.”Saya mengambil jurusan Commercial Arts dan melaluinya dengan kursus secara tertulis.Yang bikin saya yakin pada bidang ini adalah setiap tugas tugas yang diberikan saya selalu mendapat nilai A plus” ujar Gauri mengisahkan.

Setiba di Tanah Air,Gauri Nasution memang lebih memilih berkarir dibidang seni grafis.Gauri Nasution  bahkan sempat menerbitkan beberapa majalah mulai dari majalah Maskulin  hingga Visi.Gauri Nasution bahkan yang merancang konsep grafis album Guruh Gipsy.”Gauri juga yang menciptakan logo untuk Keenan ,Chrisye dan saya pada album-album solo kami” tukas Harry Sabar.Hampir semua rancangan grafis album solo Chrisye dan Keenan Nasution justeru dikerjakan oleh Gauri Nasution.

 

Image

Dan yang pantas dicatat,bahwa lawatan Gipsy ke Amerika Serikat bisa dianggap sebagai stepping stone  dan salah satu titik awal jejak kiprah anak-anak Pegangsaan dalam khazanah musik di Tanah Air. Karena sesungguhnya sepulang dari Amerika Serikat,keran kreativitas anak-anak Pegangsaan seolah mulai terbuka dan mulai mengalir tanpa terbendung lagi.Kelak mereka tak lagi membawakan atau menyanyikan karya-karya pemusik mancanegara.Mereka mulai menggurat dan menorehkan karya karya sendiri dalam bahasa Indonesia.Sebuah tahap-tahap bermusik yang patut diteladani oleh generasi generasi setelahnya.

Denny Sakrie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s