Ngumpul Bikin (Buku) Warung Kopi

Posted: Januari 17, 2013 in Uncategorized
Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Ini adalah catatan saya di saat ngumpul bareng untuk bikin buku tentang Warung Kopi,kelompok lawak Indonesia fenomenal.Selamat membaca :

Jam 11 tadi siang selasa 23 Maret 2010 merupakan hari yang istimewa buat saya.Kenapa karena di terik siang bolong itu ada satu pertemuan untuk membahas rencana penulisan buku Warung Kopi,kelompok lawak fenomenal yang kini hanya tinggal dihuni satu pelawak saja yaitu Indro.
Rencana penulisan buku ini sudah saya dengar sejak paruh tahun lalu melalui Johannes Soerjoko pemilik label Aquarius Musikindo dan Budiarto Shambazy wartawan senior dari harian Kompas.Penggagasnya adalah Rudy Badil.Lelaki  berusia 63 tahun dengan rambut memutih ini sesungguhnya adalah anggota orisinal Warung Kopi Prambors yang resmi mengudara tiap malam jumat di Radio Prambors Rasisonia yang bermukim di Jalan Borobudur Menteng Jakarta pada tahun 1975.
Menurut Rudy Badil yang sehari-hari ,menurut saya,gak ada lucu-lucu-nya sama sekali,embrio acara Warung Kopi itu bermula saat anak anak pencinta alam diberi porsi acara khusus di Radio Prambors.Karena acaranya lebih banyak ngocol dan berha ha hi hi timbullah ide untuk membuat acara talk show komedi yang kemudian bertajuk Warung Kopi Prambors.
Tadi siang si empunya ide pembuatan buku ini,Rudy Badil,bertutur secara kronologis tentang romantika anak muda di era Soeharto ini.Saat ngumpul ngumpul tim penulis buku Warung Kopi ini hadir juga budayawan Remy Sylado,penggagas puisi mbeling dan mantan wartawan majalah Aktuil Bandung era 70an.
Remy Sylado pun memuntahkan referensi secara historik tentang asal muasal lawak di Indonesia.Menurut Remy yang nama aslinya Jubal Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong ini kata lawak berasal dari bahasa Jawa.Bahwa tradisi kerajaan selalu menghadirkan ruang bagi para pelawak sebagai penghibur raja.Semacam court jester di belahan bumi sana.Bahkan dalam babad pewayangan dengan epik Ramayana maupun Mahabharata versi Indonesia selalu ada tokoh punakawan yang terdiri atas empat lelaki : Semar,Petruk,Gareng dan Bagong.
“Nama nama keempat punakawan itu sendiri sebetulnya berasal dari nama nama Arab.Misalnya Petruk yang berasal dari nama Al Faturk” ungkap budayawan Remy Sylado yang memun tahkan informasi historik tanpa henti dihadapan kita semua.Wow……banyak nian referensi yang kami raup dari mulut lelaki Manado yang kerap menyebut dirinya Munsyi itu.
Gilanya lagi,Remy pun menuliskan nama-nama Arab itu di Whiteboard dengan menggunakan aksara Hijayyah .Padahal Remy bukan muslim,dia Nasrani.Eduaannnn
Indro pun bertutur tentang kisah awal bergabung dalam Warung Kopi Prambors.”Saya memang yang paling muda dan terakhir bergabung dengan Warkop.Saat Warkop mulai siaran di Prambors yang berhadapan dengan rumah saya di Borobudur,saya tertarik untuk melihat mereka siaran langsung.Hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk ikut bergabung.Saya perlihatkan kemampuan saya mulai dari ngebanyol sampai meniup suling.Di Warkop Nanu tuh paling jago main gitar.Kasino juga bisa main gitar dan nyanyi” ungkap Indro panjang lebar.
Siang tadi,dari jam 11.00 hingga 15.00 ruangan kerja Soerjoko di Aquarius Pondok Indah ikut bergetar karena kelakar yang tiada berkesudahan.Banyak anekdot,banyak true story,banyak romantika yang pernah ditapaki dan digurat Warung Kopi dalam kurun waktu 1975 hingga era 2000-an disaat mana Dono dan Kasino akhirnya berpulang untuk selamanya.
Warkop Prambors memang kelompok lawak fenomenal yang pernah ada di negeri ini.Bahkan saya pun mengklaim bahwa Warkop tak tergantikan.
Bayangkan dalam setiap pertunjukan Warkop di panggung, dalam rekaman maupun film,mereka tercatat pernah didukung sederet pemusik handal negeri ini,mulai dari Abadi Soesman,Yockie Suryoprayogo,Ian Antono,Chris Manusama,Rezky Ichwan,Gilang Ramadhan,Mates,Dodo Zakaria dan entah siapa lagi.

Mungkin cuma Kasino Warkop,pelawak yang beruntung pernah diiringi oleh Badai Band beserta Orkestra yang dipimpin Idris Sardi saat menyanyikan lagu “Cinderella” dalam Konser “Musik Saya Adalah Saya” milik Yockie Suryoprayogo di tahun 1979.
Di tahun yang sama pula Warung Kopi termasuk elemen yang menjadi bagian menarik dari Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera I di Balai Sidsang Senayan Jakarta.
“Bayangkan waktu Pramaqua meminta Warkop untuk merekam lawakannya.Saya kontrak mereka sebesar Rp 25 juta.Untuk perbandingan,album God Bless di tahun 1975 saya bayar sekitar Rp 5 juta.Saya pun masih ingat betapa kagetnya Kasino dengan fee Warkop segede itu” tutur Johannes Soerjoko yang saat itu merilis dua album lawak Warkop melalui label Pramaqua (kongsi Prambors dan Aquarius).
“Mereka inovatif dan pantas menerima bayaran sebesar itu” dalih Soerjoko.Saat itu sound engineer yang menangani album Warkop adalah Alex Kumara.
Berbagai kepeloporan maupun terobosan yang dilakukan Warkop itulah yang nantinya direkam kedalam sebuah buku yang ditulis Rudy Badil serta didukung ,Budiarto Shambazy,Denny Sakrie dan Eddy  Suhardy.
Idealnya buku Warkop ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri dalam dunia hiburan di negeri ini.
Saya pun jadi teringat dengan tagline khas Warkop :”Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang “.
Salam Gerrrrrrr.

Komentar
  1. anton mengatakan:

    Aku tunggu bukunya Pakde, Kangen Banyolannya Warkop. Warkop memang punya ciri khas tersendiri dalam lawakannya..