Film Perekam Sejarah, Film Perekat Ingatan

Posted: Maret 15, 2013 in Opini
Film Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya 1977)

Film Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya 1977)

Film Djenderal Kantjil  (Nja' Abba Akup 1958)

Film Djenderal Kantjil (Nja’ Abba Akup 1958)

Film Lewat Djam Malam (Usmar Ismail,1954)

Film Lewat Djam Malam (Usmar Ismail,1954)

Film Gie (Riri Riza 2005)

Film Gie (Riri Riza 2005)

Film Komedi Warung Kopi Prambors

Film Komedi Warung Kopi Prambors

Dulu disaat rezim Orde Baru tengah berkuasa ada sebuah pemeo yang kerap didengung dengungkan pada saat seremonial Festival Film Indonesia berlangsung yaitu  Film adalah tontonan sekaligus tuntunan.Sebuah permainan kata yang memikat yang dikoarkan Harmoko,Menterei Penerangan yang pernah berkarir sebagai  karikaturis dan wartawan .Masih ada lagi pemeo lain yang muncul dari mulut Harmoko yaitu Jadikanlah Film Indonesia Tuan Rumah Di Negeri Sendiri. Apa yang dilontarkan Bung Harmoko ini memang beralasan karena meskipun film Indonesia telah berproduksi pada dasawarsa 30an,toh masih tergencet dengan kemilau film-film asing mulai dari Hollywood,Hongkong,Malaysia dan India.Di paruh era 70an para pengimpor film asing diharuskan membuat film Indonesia.Saat itu, patut diakui,banyak penonton kita yang enggan dan malu nonton film Indonesia.”Film Indonesia norak,film Indonesia kampungan.Mudah ditebak dan serba kebetrulan”.Ini adalah reaksi dan respon penonton terhadap film-film Indonesia.Walaupun hal tersebut memang tak semuanya betul.

Menonton film Indonesia,dari kacamata mereka yang merasa berada di kelas menengah keatas,adalah aib tak kepalang tanggung.Bagi mereka jika ingin melihat kasta sosial masyarakat adalah dengan melihat dari film apa saja yang ditonton.Penonton film melodrama dangdut Rhoma Irama, mistis Suzanna atau komedi slapstick Warkop  sudah bisa dipastikan dari kalangan menengah kebawah yang konon hanya menempatkan film sebagai medium hiburan belaka.

Namun bagi saya sendiri yang sejak duduk dibangku SD telah keranjingan nonton bioskop, tetap menganggap bahwa film entah itu film impor maupun film lokal merupakan sebuah dokumentasi sejarah serta penanda atau refleksi zaman.Walaupun seni film tetap berada di zona rekayasa fiksi, namun pola pikir,paradigma,kecenderungan mode,gaya hidup atau arsitektur yang menyelusup dalam skenario dan setting cerita itu adalah cerminan sebuah zaman yang tak terelakkan.Gumpalan gumpalan budaya itu menyatu dalam adegan adegan film yang merefleksikan sebuah miniature peradaban budaya dan sosial.Misalnya kita bisa melihat isu apa yang tengah berlangsung dalam paparan adegan dalam film Lewat Djam Malam misalnya.Kita juga bisa memahami polemic apa yang berkembang secara massive lewat film Guna Guna Isteri Muda.Atau kenapa masyarakat begitu terpukau dengan kisah Nyi Blorong termasuk serial konyol-konyolan mahasiswa kos-kosan dalam film film Warkop.Semuanya adalah kejadian kejadian faktual yang ditumpahkan ke layar lebar melalui semangat hiburan yang betul betul dengan tendensi menghibur.

Saya masih ingat ketika masih anak anak film film  yang saya tonton bersama kedua orang tua saya pastilah film yang telah berlabelkan Untuk Semua Umur .Film film itu antara lain adalah serial Heintje “Heintje – Ein Herz geht auf Reisen” (1968), “ Hurra, die Schule brennt” (1969),” Einmal wird die Sonne wieder  Scheinnen “ (1970) hingga film film yang dibintangi Mark Lester seperti “Oliver Twist” (1968) ,”Run Wild Run Free (1969),”Melody” (1971) dan “Black Beauty” (1971).Dan tentunya film film Indonesia seperti “Malin Kundang (Anak Durhaka)” karya sutradara D.Djajakusuma dengan bintang Rano Karno.Saat itu Rano Karno adalah aktor cilik ketiga yang saya kagumi setelah Heintje dan Mark Lester.Sebagai anak kecil saya mulai mengidentifisir diri saya terhadap tingkah laku mereka dalam film yang menurut saya pantas jadi panutan.Berbagai film Rano Karno pun mulai saya tonton bersama adik adik saya didampingi ibu, seperti Si Doel Anak Betawi,Tabah Sampai Akhir,Yatim,Rio Anakku,Dimana Kau Ibu ?,Romi dan Juli hingga Anak Bintang

Di era 70an itu film  anak-anak Indonesia cukup banyak diproduksi, yang saya ingat ada film Samtidar yang dibintangi Andy Carol,Si Bagong Mujur yang dibintangi Hasanuddin hingga Bonnie dan Nancy yang dibintangi Astri Ivo.Selain itu film Ratapan Anak Tiri yang dibintangi Faradilla Sandy adalah film anak-anak yang laris ditonton walaupun dengan kisah yang menguras air mata setelah sebelumnya film anak anak India  seperti Balak (1969) dengan bintang cilik Mehmood Jr hingga film Haathi Mere Sathi (1971) yang dibintangi aktor Rajesh Khanna tentang persahabatan dengan seekor gajah yang baik hati.

Film film komedi pun menjadi bagian masa kecil saya yang tak terlupakan mulai dari serial film Crazy Boys-nya Les Charlots dari Prancis ,film film Benyamin S hingga film film Kwartet Jaya seperti Bing Slamet Setan Djalanan,Bing Slamet Dukun Palsu,Bing Slamet Sibuk dan Bing Slamet Koboi Cengeng.

Itulah sekelumit film film yang mewarnai masa kecil saya.Banyak pelajaran yang saya bisa ambil dari film film yang oleh pihak Badan Sensor Film dikategorikan sebagai tontonan Untuk Semua Umur. Film sebagai rekayasa fiksi bagi saya selain sebagai medium hiburan juga menjadi inspirasi dan motivasi hidup.Film sebagai miniatur kehidupan banyak memberikan pelajaran tanpa disadari apalagi bagi saya yang saat itu masih seorang murid SD. Misalnya perihal persaingan sesama anak kecil antara Doel (Rano Karno) dan Sjafii (Tino Karno) adalah kejadian kejadian yang kerap kali kita temui dalam kehidupan nyata.

Dalam film juga saya bisa melihat pengadeganan Koes Bersaudara yang dijebloskan ke dalam penjara Glodok oleh pemerintah Orde Lama karena dianggap mengadopsi budaya Barat dsengan musik yang diistilahkan Bung Karno sebagai musik ngak ngik ngok.Adegan memenjarakan Koies Bersauadara ini adalah film A.M.B.I.S.I yang disutradarai Njak Abbas Akup pada tahun 1973.

Bagi saya dan keluarga nonton film di bioskop adalah ritual perekat keharmonisan keluarga yang tiada tanding saat itu.Apalagi tontonan adalah hiburan yang termasuk langka.Saat itu belum ada video,belum ada VCD dan DVD, semua film harus ditonton di bioskop.Televisi saat itu masih satu yaitu TVRI bahkan di zaman saya TVRI baru ada di Jakarta belum meluas ke daerah daerah.Alhasil nonton film adalah hiburan utama.Bandingkan dengan kondisi zaman sekarang,sinepleks bertebaran dimana-mana termasuk di mall-mall megah.Anak anak sekarang bias melihat film-film hanya dengan mengklik kanal Youtube mulai dari trailer film-film termutakhir hingga film film klasik   yang bisa didownload secara utuh pula.

Film harus tetap ada.Film harus tetap diproduksi.Karena film adalah sumber mata air dalam sisi hiburan,perenungan,intropeksi,motivasi sekaligus inspirasi.Dan seperti yang saya tuturkan diatas tadi bahwa film adalah perekam zaman sekaligus perekat ingatan.Bayangkan saja, era atau zaman yang tidak kita alami sebelumnya, bisa kita rekonstruksikan lagi dengan menonton kelebat adegan dalam film.Melihat suasana Jakarta dalam film Tiga Dara adalah sensasi belajar sejarah budaya dan kehidupan yang tiada bandingannya termasuk saat kita menonton rekonstruksi Indonesia di era peralihan Orde Lama ke Orde Baru dalam film besutan Riri Riza “Gie” misalnya.

Antrian panjang penonton film 5 Cm (Rizal Mantovani)  maupun Habibie dan Ainun  (Faozan Rizal) sebetulnya merupakan bukti bahwa film Indonesia masih memiliki penonton yang banyak jumlahnya.Sebuah film yang mampu membuat keseimbangan antara hiburan dan idealisame dipastikan akan dengan cepat menjadi buah bibir masyarakat.Insan film pendahulu seperti Usmar Ismail misalnya terbukti mampu memikat masyarakat penonton dengan rumusan seperti yang saya paparkan diatas.Di tahun 2012 lalu film besutan Usmar Ismail “Lewat Djam Malam” (1955) setelah melalui proses restorasi akhirnya bisa ditronton kembali oleh generasi sekarang, dan tiudak menutup kemungkinan bahwa film-film Indonesia lainnya yang dating dari berbagai era sebelumnya bisa ditonton lagi oleh generasi sekarang.

Jelas sudah bahwa film adalah perekam sejarah yang timeless yang bisa ditonton kapan saja,dimana saja  dan oleh generasi yang tak mengalaminya sama sekali.Jadi sesungguhnya tak ada alasan mematikan film dalkam kondisi apapun.Kelebat adegan film harus tetap terpantul di layar lebar.  Bukanlah kita tak mau disebut bangsa amnesia ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s