Ngobrol Industri Musik Dengan Dave Grusin

Posted: Maret 19, 2013 in Uncategorized

Ketika mengetahui bahwa Dave Grusin akan tampil bersama Lee Ritenour dalamn ajang Java Jazz Festival saya langsung membatin……Yessssss. Akhirnya pemusik old crack yang juga dikenal sebagai produser rekaman ini datang juga ke Indonesia.Saya malah merasa bahwa jangan jangan Dave Grusin memang malas berkunjung ke Indonesia.Tapi toh semua rasa itu pupus setelah saya sendiri bertatap mata langsung dengan Dave Grusin yang menginap ndi Borobudur Hotel Jakarta.Dave Grusin adalah pemusik jazz paling tua yang tampil di ajang Java Jazz International Festival 2013.Dilahirkan dengan nama Robert David Grusin 26 Juni 1934.Dave Grusin yang murah senyum itu pertamakali merilis album di tahun 1962 “Subways for Sleeping”.Pianis,komposer dan pengaransir musik ini lalu memulai karir sebagai penulis score film di tahun 1967 lewat film “Divorce American Style” yang dibintangi Dick Van Dyke dan Debbie Reynolds.Dave Grusin dikenal dalam dua sisi musik yaitu pianis jazz dan pembuat music score film.Di tahun 1979,bersama Larry Rosen, dia mendirikan GRP (Grusin Rosen Production).Di tahun 1994 GRP menjadi bagian dari MCA Records.Tahun 1995 Dave Grusin dan Larry Rosen mundur dari GRP.Di tahun 1997 Grusin dan Rosen membentuk label baru N2K Encode Music bersama produser Phil Ramone.Model bisnis label ini mulai mengarah ke situs music online dengan merilis produknya melalui Music Boulevard.

Saya bersama Dave Grusin di Borobudur Hotel Jakarta

Saya bersama Dave Grusin di Borobudur Hotel Jakarta

Penampilan Dave Grusin bersama gitaris Lee Ritenour selama dua malam di Java Jazz Festival memukau penonton.Komposisi legendaris “Mountain Dance” yang diambil dari album solonya di tahun 1980 mengundang applause penonton.Di era 80an lagu instrumental ini cukup populer diputar di radio-radio kota besar di  Indonesia.   ASpaluse pun menggema lagi saat Dave Grusin yang telah membuat banyak music score film layar lebar itu kemudian memainkan intro piano “It Might Be You” yang menjadi theme song film Tootsie, film humanis yang dibintangi aktor kawakan Dustin Hoffmann.

Sabtu siang 2 Maret 2013 yang cerah  saya memang telah mempersiapkan diri untuk  berbincang-bincang  dengan Dave Grusin.Jam 14.10 lelaki tua ini  baru saja makan siang di Borobudur Hotel Jakarta.

Apa kabar ?

DG : Wow…..I’m fine walau terasa agak panas…..

Jika saya menyebut bahwa seluruh hidup anda,anda dedikasikan ke musik,apakah anda setuju ?

DG : Yeah off course.Saya dilahirkan dari lingkungan musik.Ayah saya pemain biola dan ibu saya seorang pianis.Seperti kebanyakan anak kecil saya juga mulai kursus piano.Saya berhenti belajar piano saat SMP dan SMA,tapi tetap main musik.Kemudian saya kuliah musik di University of Colorado dan lulus tahun 1956.

Setelah itu ?

DG : Ya…..memilih hidup sebagai pemusik.Karya pertama saya yang direkam yaitu  Subways For Sleeping di tahun 1962.Setahun kemudian saya mengisi musik untuk acara acara TV dan di tahun 1967 mulai membuat scoring untuk film layar lebar. I had a vague interest in writing music.

Kenapa berminat menulis scoring untuk film ?

DG : Karena menulis komposisi musik untuk film itu adalah hal yang saya lakukan sampai akhir hayat ha ha ha.Saya bisa bikin scoring film tanpa melihat batas waktu seperti trend dan semacamnya

Ada berapa music score film yang telah anda buat ?

DG : Sekitar 100 judul film……

Kemudian anda mendirikan label rekaman ?

DG : Betul.Di akhir era 70an saya dan Larry Rosen sepakat mendirikan GRP (Grusin Rosen Production), ini semacam bendera untuk kerja kita berdua dalam industri musik terutama musik jazz.Dengan basis freelance,kami memproduksi rekaman jazz seperti Earl Klugh juga dave Valentin.Akhirnya tujuan bisnis kami berubah dari sekedar produksi musik berlanjut ke label rekaman.Larry lalu mendekati Clive Davis dan akhirnya Arista Record berperan sebagai distributor produk-produk GRP.

Bergeser dari produksi musik ke label rekaman merupakan upaya yang berani.Betulkah ?

DG : Absolutely right.Kami memulai dengan interes terhadap musik yang kita hasilkan.Itu modal awal.Saat masih remaja saya memang telah berangan-angan ingin memiliki label rekaman.Ketika GRP terbentuk  kami hanya memiliki product deal saja,kami tak memiliki yang namanya product control ketika hasil rekaman telah meninggalkan studio mastering.Kami juga merasakan ada hal yang tak sesuai antara pemasaran dengan paradigm yang ada.Kesimpulannya,banyak hal yang seharusnya dilakukan ketika label telah didirikan.

Penjualan album jazz semakin hari kian menurun.Bagaimana cara mengatasinya ?

DG : Ini pertanyaan bagus yang sulit untuk saya jawab.Orang membeli album musik yang mereka senangi dan kami beruntung memiliki artis yang disukai orang.Terkadang kami tetap melaju walau terjadi kekeliruan dalam konsep marketingnya.Apalagi yang kami lakukan berada dalam area yang bukan arus besar.Ini adalah soal marketing juga promosi. but if you can get your own audience aware of what you are releasing at any given time, you have a better chance I think.

Lalu kenapa anda melepas label GRP ?

DG : Hmmmm….selama bertahun tahun kami ternyata banyak melakukan hal yang tidak feasible secara ekonomi. I had a film career and we didn’t really make any money at the record label.Secara artistik kami memperoleh kepuasan dalam menghasilkan rekaman melalui GRP tapi kami pun harus memenuhi banyak kewajiban secara ekonomi.Akhirnya saya dan Larry harus rela melepaskan GRP.

Bagaimana kemajuan teknologi berdampak pada dunia musik ?

DG :
Saya rasa ledakkan teknologi yang sedang terjadi sekarang, pada khususnya distribusi informasi (yang meluas), dan banyaknya data informasi yang tersedia, akan sanat mempengaruhi bagaimana musik akan di-distribusikan. Tadinya saya mau mengatakan ‘Bagaimana musik akan di jual’, tapi musik sekarang bisa dibilang sudah tidak dijual lagi. Musik ada diluar sana, dan banyak cara baru untuk menyebarkannya. Saya rasa ini pasti akan sangat mempengaruhi, secara negatif, cara musik dipasarkan. Saya rasa cara lama (memasarkan musik) tidak bisa bertahan lama lagi. Tidak ada alasan bagi cara pemasaran lama seperti itu untuk bertahan. Kadang saya berpikir, tidak ada alasan lagi untuk membeli album lagi – Banyak perusahan yang sekarang memfokuskan diri pada menghantarkan musik langsung ke rumah, kapanpun anda mau.

Banyak layanan yang akan memberikan anda kesempatan untuk mendengarkan musik yang anda mau, kapanpun anda, sampai anda muak dengan musik tersebut. Saya tidak tahu apa itu hal yang bagus atau tidak. Saya merasa ada sesuatu yang spesial dari memiliki sebuah CD (fisik) – yang berhubungan dengan rasa kepemilikkan. Saya rasa kita mengalami suatu proses keterikatan psikologis ketika kita memutuskan untuk membeli sebuah benda fisik. Kamu telah melakukan banyak hal dan proses untuk membelinya.

Ketika itu berubah, saya tidak tahu apakah itu akan mempengaruhi pandangan orang pada musik, pada umumnya. Masalah hak cipta sudah lama menjadi wacana, dan banyak pihak yang telah lama menganggap bahwa musik itu bebas dan milik siapa saja. Bahwa musik itu ada di udara untuk diambil oleh siapa saja. Orang-orang yang berpikir begitu, secara umum, telah dibuktikan sebagai pihak yang benar.

Lalu hilangkah musik ?

Secara filosofi, ketika kemampuan bagi musik untuk menghasilkan uang bagi para penciptanya telah hilang, maka sesuatu akan hilang dan akan ada pengaruhnya nanti. Kita akan kehilangan musik, dan kita akan kehilangan jenis musik yang mungkin tidak begitu menjual. Saya rasa itu bukan hal yang begitu bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s