Arsip untuk Mei, 2013

Pada tanggal 16 April 2013 saya diundang pihak TV One untuk jadi narasumber  dalam acara musik “Satu jam Lebih Dekat” di studio yang berada di kawasan Industri Pulogadung Jakarta..Ini bukan acara live melainkan taping.Ternyata sosok yang menjadi tamu di acara ini yaitu Amy Search,penyanyi rock Malaysia yang di sekitar pertengahan era 80an sangat populer di negeri ini lewat ballad rocknya Isabella.Ketika disebutkan nama Amy Search serta merta benak saya melakukan napak tilas seketika dan tepat berhenti di  tahun 1989 ketika hampir semua masyarakat Indonesia tiba-tiba memutar dan menyanyikan lagu Isabella dari album Fenomena milik band rock Malaysia Search yang dimotori Suhaimi Bin Abdulrahman dengan ciri khas suaranya yang melengking tinggi.

Kaset Search laku keras di Indonesia.Bahkan musik rock dengan cengkok Melayu ala Search ini justru jadi virus yang mewabah di Indonesia.Kelatahan mulai menjelma dalam industry musik di Indonesia.Ini hal yang lumrah,ketika sebuah karya merebak dan menggelegak menjadi hits yang fenomenal, maka para pemilik label rekaman di Indonesia pun rame rame antri untuk mengikuti jejaknya.Search sendiri seperti perambah hutan untuk lahan baru di negera tetangganya Indonesia.Karena usai Search mengharu biru pendengar Indonesia, mulailah muncul sederet band-band sejenis Search,ada Iklim,Wings dan entah apalagi.Kelatahan pihak perekam Indonesia mulai terlihat dengan munculnya nama nama seperti Deddy Dorres hingga Benny Panjaitan dari Panbers yang didapuk untuk membuat lagu-lagu yang setipe dengan band-band Malaysia itu.Bahkan tak cukup sampai disitu, kemudian muncul kesepakatan menduetkan Amy Search dengan penyanyi pop rock wanita Indonesia Inka Christie dalam lagu “Cinta Kita” yang termaktub dalam album Search.Amy Search pun bahkan dipasangkan dengan aktris Nia Dicky Zulkarnaen di layar lebar. Saat itu Amy Search kerap bolak-balik Jakarta – Kuala Lumpur.

Serbuan Malaysia ke Indonesia ini secara berkelakar saat itu kerap kita sebut Malaysian Invasion yang mengacu pada British Invasion.Namun dalam telaah yang saya lakukan,kedua Negara serumpun ini memang sejak era 60an hingga sekarang ini kerap terjadi saling pengaruh mempengaruhi dalam dunia musik.Penyebabnya ya  mungkin karena memang serumpun itu.Penyanyi populer pria Malaysia era akhir 50 hingga 60an Puteh Ramlee atau lebih dikenal dengan panggilan P.Ramlee adalah penyanyi yang banyak penggemarnya di Indonesia lewat lagu Anakku Zazali hingga Madu Tiga.Film film yang dibintangi P.Ramlee juga beredar dan diputar dibioskop-bioskop Indonesia saat itu.Lalu muncul tandingan dari Indonesia yaitu penyanyi Said Effendi yang menyanyi dengan cengkok Melayu yang cum laude.Tak heran jika Said Effendi seolah merupakan jawaban Indonesia atas invasi yang dilakukan Malaysia lewat tenggorokan emas P.Ramlee.Di Indonesia sendiri tak sedikit yang terkecoh menyangka Said Effendi adalah penyanyi dari negeri jiran Malaysia. Said Effendy pun juga memiliki banyak penggemar di Malaysia.Lalu terbetiklah kabar bahwa P.Ramlee itu sendiri sebetulnya berasal dari Indonesia, konon dia adalah keturunan Aceh.

Di tahun 1986 tercatat pula kehadiran penyanyi wanita Malaysia bernama Sheila Madjid.Musiknya agak berbeda, nyaris tanpa cengkok Melayu.Agaknya Sheila Madjid lebih banyak terpengaruh gaya R&B atau yang kerap diistilahkan sebagai Adult Contemporary Pop.Dalam pengakuannya Sheila banyak mengadopsi teknik dan gaya bernyanyi Vina Panduwinata.Jelas sudah atara Malaysia dan Indonesia ini memang terjadi semacam kekerabatan dalam musik yang terkadang dibumbui oleh ikhwal persaingan tentunya.Dan ini adalah sebuah kewajaran.

Di era 2000an, kembali banyak band Indonesia yang Berjaya di Malaysia semisal Sheila On 7 hingga Peterpan.Bahkan radio-radio di Malaysia lebih cenderung memutar lagu-lagu dari band Indonesia.Hal ini semakin memuncak ketika di tahun 2006 mulai merebak band-band Indonesia yang menyanyikan lagu-lagu pop dengan cengkok Melayu, sebut saja misalnya Kangen Band dan ST 12.Band yang disebut terakhir ini bahkan meremake lagu Isabella yang dulu dipopulerkan Amy bersama bandnya Search pada tahun 1989.

Amy Search di tahun 2008 secara lantang melakukan protes kepada pemerintah Malaysia agar mengurangi dominasi lagu-lagu dari band/penyanyi Indonesia di putar di radio-radio.Ini tentunya sebuan protes untuk meminta proteksi Pemerintah yang terasa aneh.Karena pada kenyataannya masyarakat Malaysia memang sangat menggandrungi lagu-lagu karya pemusik Indonesia.

Amy sendiri bahkan cukup dekat dengan para pemusik Indonesia.Selain berduet dengan Inka Christie, Amy sebetulnya adalah penggemar Gigi.Amy Search  bahkan pernah berkolaborasi dengan Gigi.Apa komentar Amy ? “  Saya tidak anti pemusik Indonesia.Tak ada masalah. Tapi masalahnya penguasa yang tidak menjaga kuota artis-artis Indonesia, sampai-sampai artis Malaysia, tidak mendapat show. Jadi kita cuma mita protection dari penguasa” tutur Amy Search.

Bagi saya ini masih dalam batas kelumrahan, karena pertikaian semacam ini sebetulnya telah terjadi sejak zaman dulu.

Dan saat tampil dalam Satu Jam Lebih Dekat dengan Amy Search di TVOne yang disiarkan pada 24 Mei 2013, Amy tak lagi mengungkit-ungkit hal yang diucapkannya pada tahun 2008.Amy lalu berduet dengan Inka Christie menyanyikan hits mereka dulu “Cinta Kita” bahkan berduet dengan Candil mantan vokalis Seurieus menyanyikan lagu “Never Say Goodbye” nya Bon Jovi.Keduanya kompak bernyanyi.Sama sama melengking.Tak ada persaingan yang terlihat.

 

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Album mini White Shoes and The Couples Company "Menyanyikan Lagu2 Daerah" (Foto Denny Sakrie)

Album mini White Shoes and The Couples Company “Menyanyikan Lagu2 Daerah” (Foto Denny Sakrie)

Banyak orang yang tak paham bagaimana merawat khazanah budaya bangsanya sendiri. Contoh yang paling kongkret mungkin adalah musik yang menjadi bagian produk budaya pop. Kita terkadang tak menganggap musik itu adalah warisan budaya yang menjadi tameng jatidiri kita sebagai anak bangsa.

Namun untungnya tak semua anak muda melupakan akar budayanya. Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau. Mereka kemudian merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an.

Pada dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Minang, Kalimantan, Minahasa, Ambon, Bugis, Makassar hingga Papua.

Uniknya, lagu-lagu dengan beragam bahasa daerah itu ternyata bisa terkenal dan dikenal luas, misalnya ketenaran lagu “Ayam Den Lapeh,” “Lembe Lembe,” “Anging Mamiri,” “Apuse” hingga “O Ina Ni Ke Ke” dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa ketenarannya saat itu? Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat Presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri. Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek. Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok yang tak sesuai dengan jati diri bangsa.

Saat rezim Orde Lama, mungkin masih kita ingat Manifesto Politik Republik Indonesia yang disingkat Manipol yang merupakan orasi Bung Karno pada 1959 yang kemudian oleh MPRS dikukuhkan sebagai Garis Garis Besar Haluan Negara lewat Ketetapan MPRS No.1/MPRS 1960, dimana saripatinya meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Dermokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK.

Nah, perihal Kepribadian Indonesia ini yang pada galibnya merupakan akar pangkal masalah berbudaya di negeri ini. Saya melihat ada sisi positif yang bisa dipetik dari “pengaturan” masalah kebudayaan dan perilaku berbudaya oleh Bung Karno, yaitu memberikan peluang sebesar-besarnya terhadap khazanah budaya Indonesia yang jumlahnya berlipat ganda itu. Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Ketika pada dasawarsa 60an pemusik Barat mencari pencerahan budaya ke India sebagai representasi budaya Timur, kita malah terjengkang dengan pola budaya Barat yang oleh Bung Karno disebut sebagai ngak-ngik-ngok itu tadi.

Pelarangan dan pembreidelan memang menggangu wilayah ekspresi dan kreativitas seniman. Film Rock Around The Clock milik Bill Haley and His Comets diturunkan dan tidak boleh diputar di bioskop oleh pemerintah Orde Lama karena dianggap menggali dekadensi moral bagi kaum muda. Lagu lagu rock and roll ala Elvis Presley dilarang.

Akhirnya pemusik kita melakukan akal-akalan dimana lagu “Bengawan Solo” dibawakan dengan gaya Elvis Presley oleh Oslan Husein dengan iringan Teruna Ria. Lagu-lagu daerah Minang dibawakan dengan ragam musik Latin seperti tango maupun cha cha.

Pengaruh musik Latin dari pemusik kelahiran Barcelona bernama Xavier Cugat terasa pada khazanah musik pop era 50an hingga 60an. Dilarangnya musik Barat yang dicap ngak-ngik-ngok, juga membuat sederet pemusik melakukan eksperimentasi menyusupkan Gambang Kromong ke dalam karya-karya mereka yang sebetulnya memiliki saripati blues rock ala John Mayall seperti yang dilakukan Benyamin S di era 60an.

Musik daerah berkembang pesat, lihatlah di Jawa Barat muncul istilah Arumba yang merupakan akronim Alunan Rumpun Bambu, dimana alat-alat musik tradisional digunakan untuk mengiringi para penyanyi dengan konteks pop.

Di Manado muncul musik Kolintang, yaitu alat musik daerah yang mirip Marimba atau Xylophone mengiringi penyanyi-penyanyi pop asal Kawanua mulai dari Frans Daromez hingga Vivi Sumanti. Salah satu kelompok Kolintang asal Sulawesi Utara yang terkenal di era itu adalah Kadodaan.

Perusahaan rekaman Lokananta, Irama hingga Mesra banyak merilis lagu-lagu daerah tersebut. Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 lalu kelompok White Shoes and The Couples Company meluncurkan album mini bertitel Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: “Jangi Janger,” “Tjangkurileung,” “Te O Rendang O,” “Lembe-Lembe,” “Tam Tam Buku.”

Secara khusus sebagian besar proses perekaman album mini ini dilakukan di studio Lokananta, Solo, Jawa Tengah secara live pada 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu.

Ini merupakan tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company bagi masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta, perusahaan rekaman milik pemerintah yang berada di Solo.

Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery Marantika and the Pros pada lagu “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang kini sudah tak banyak yang mengetahuinya Max Lesiangi.

Apa yang dilakukan White Shoes and The Couples Company rasanya jauh dari sudut eksploitasi sensasi bermusik. Bahwa mereka adalah sosok pemusik generasi penerus yang tak mau kehilangan akar budayanya. Bahwa kita dulu pun memiliki Golden Age of Pop, memiliki puncak kejayaan musik lokal. Nasionalisme sempit yang ingin mengganyang Malaysia karena lagu “Rasa Sayange” diaku sebagai bagian dari budaya mereka jelas adalah kekonyolan yang absurd. Berbuat seperti yang dilakukan White Shoes and The Couples Company jauh lebih patriotik.

Bob Dylan

Bob Dylan

How many roads must a man walk down,
before you call him a man?
How many seas must a white dove fly,
before she sleeps in the sand?
And how many times must a cannon ball fly,
before they’re forever banned?

Lirik lagu Blowin In The Wind yang ditulis Bob Dylan pada tahun 1962 dan direkam setahun kemudian dalam album “The Freewheelin’s Bob Dylan” dengan serta merta dibaptis sebagai  protest song lagu gugat pada zamannya.Di zaman,dimana kata damai seperti terkucil di pojok gudang tua tanpa satu pun orang pun yang ambil peduli.Lirik-lirik yang digurat Bob Dylan ini memajang pertanyaan retorika perihal damai,perang dan kebebasan.Tiga elemen yang menjadi isu paling hangat di Amerika,saat itu, dan diberbagai belahan dunia lainnya. Blowin’ In The Wind kemudian ditabalkan menjadi anthem gerakan civil right pada dasawarsa 60an yang nuansa musik serta budaya popnya beraroma psychedelia.   

Saya teringat dengan salah satu komentar dari penyanyi kulit hitam  Mavis Staples yang member komentar tentang Bob Dylan dalam film documenter Dylan “No Direction Home” besutan sutradara Martin Scorsese.Staples berucap seperti ini :”I could not understand how a young white man could write something which captured the frustration and aspirations of black people so powerfully”.

Dengan kata lain,Dylan sangat merasakan dan sangat memahami dera derita yang dirasakan kaum kulit hitam yang menjadi subyek diskriminasi di Amerika Serikat.

Dylan adalah turunan Yahudi yang memiliki kepekaan nan mendalam yang kemudian ditebar lewat lirik dan melodi lagu untuk selanjutnya mengetuk nurani penikmatnya.

Harin ini jumat 24 Mei 2013 saya memanggil ulang aura sensitivitas Bob Dylan, manakala saya mengetahui bahwa hari ini lelaki bernama lengkap Robert  Allen Zimmerman ini telah memasuki ambang senja usianya.Hari ini Bob Dylan genap 72 tahun.

Julukan ,protest singer melekat dibalik sosoknya yang sarat riap riap misteri.Namuni saya lebih suka menyematkan dia dengan sebutan penyanyi pengecam.Usia 72 tahun boleh jadi akan menimbulkan keraguan setiap orang akan tingkat kekritisan seseorang terhadap lingkung sosial maupun politik .Usia 72  tahun jelas merupakan usia mapan.Usia dimana seorang kakek hanya menjuntai-juntaikan kakinya di kursi malas,membaca headline Koran ditemani lagu-lagu nostalgia yang berpendar ke sudut ruang tamu. Bob Dylan memang telah beranjak tua.Kerutan di leher maupun di sebagian air mukanya menjelaskan semuanya.Lalu apa yang tersisa dari seorang Bob Dylan ?.Apakah Dylan masih gagah perkasa menyanyikan “The Time They Are A Changing”,”Like A Rolling Stones,Blowin’ In The Wind”,”Desolation Row” atau pun “Don’t Think Twice It’s Alright” termasuk juga lagu-lagu penanda zaman seperti “I Want You” maupun “It’s All Over Now,Baby Blue”.

Dylan memang tak pernah berhenti menata notasi dan menggurat lirik.Dylan masih tetap merilis album.Bahkan album-albumnya oleh sebagian besar majalah,media online maupun blog-blog pribadi direview dengan jumlah bintang yang bahkan mencapai 5 bintang.Itu terlihat jelas saat albumnya yang bertajuk Tempest dirilis pada tahun 2012 lalu. Bob Dylan pun masih tetap manggung.Ini memang luar biasa.Dylan seperti tak kehilangan energy dalam bermusik.Dylan menambah jadwal tur terbarunya mulai dari juni hingga agustus 2013.

Pada era 2000an.disaat dunia dilanda krisis global dalam ekonomi dan politik,Dylan merilis album juga seperti “Love & Theft” (2001),”Modern Times” (2006) hingga “Together Through Life” (2009).Memang sangat tak bijaksana jika membandingkan ketiga album yang masih dipuja kritikus musik itu dengan pencapaian artistic Dylan di era 60-an hingga 70-an.Tapi setidaknya kesan bahwa energi Dylan melemah itu memang tak mencuat.Tak ada bayangan bahwa karya-karyanya mengesankan seseorang yang siap melangkah ke liang lahat.

Prasangka orang akan memudarnya karya Dylan saat merilis album “Oh Mercy”(1989) yang merupakan comeback-nya Dylan ke dunia rekaman toh tetap tak berbuah bukti. Saya masih terkesima dengan deretan lirik yang digores Dylan dalam lagu yang berada di urutan pertama album “Oh Mercy” bertajuk “Political World” :

 We live in a political world
Wisdom is thrown in jail
It rots in a cell
Is misguided as hell
Leaving no one to pick up a trail.

We live in a political world
Where mercy walks the plank
Life is in mirrors
Death disappears
Up the steps into the nearest bank.

Pemunculan pertama Bob Dylan di tahun 1962 memang seperti merupakan estafet dari charisma Woody Guthrie.penyanyi folk Amerika yang banyak menyirami sekujur pikiran Dylan dengan inspirasi.Usia Dylan yang berdarah Yahudi saat itu 21 tahun.Dylan yang datang dari wilayah Duluth Minnesota ini memang tergila-gila dengan Woody Guthrie yang selama ini dikenal sebagai juru bicara generasi. Dylan tahun itu mengunjungi Woody Guthrie yang tengah terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit,seraya menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri.Tak lama berselang sosok Dylan menjadi terdepan dalam scene musik folk di Greenwich Village New York bahkan kemudian melambung lebih jauh ke tingkat dunia.

Tak berlebihan jika saya menyebut bahwa khazanah musik karya lelaki yang bernama asli Robert Zimmerman ini merupakan soundtrack yang melatari gelegak hiruk pikuk dunia di separuh abad ke 20 mulai dari gonjang ganjing politik dan sosial.Dimana ada peristiwa penting dan genting maka disitu jua lah menyelusup lagu-lagu  karya Bob Dylan,setidaknya pada 5 dasawarsa. Bob Dylan menguak karir musiknya yang panjang dan tak berkesudahan itu dengan lagu lagu protest yang beratmosfer anthemic di sepanjang era 60-an.Lalu beringsut ke tematik rock psychedelic yang puitik.Berlanjut ke intensitas lirik yang cenderung personal termasuk tentunya lirik lirik yang menakwilkan pesan bernuansa introspektif serta periode religius.

Dylan sendiri mengaku telah menulis sekitar 1000 lagu,bahkan dalam tercatat pula bahwa lagu-lagu karya Dylan telah dinyanyikan sebanyak 32.000 versi. Di usia yang ke 72  tahun,Bob Dylan yang konon pertamakali memperkenalkan psikotropika pada anggota the Beatles masih terlihat sehat walafiat.

Di usia yang ke 72 ini,Bob Dylan telah menapaki pelbagai lini kehidupan dalam era yang beda warna tapi tetap dengan dua wajah dunia yang  sama yang tak pernah berubah : yang baik dan yang buruk.

How many times must a man look up,
before he sees the sky?
And how many ears must one man have,
before he can hear people cry ?
And how many deaths will it take till we know,
that too many people have died?

The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.

Bob Dylan tak hanya sesosok pengecam yang kerap menggemerutuk,tapi seorang saksi zaman dan saksi peradaban.

Happy Birthday Mr Zimmerman !

Album The Golden Scarab - Ray Manzarek (1974)

Album The Golden Scarab – Ray Manzarek (1974)

Hari ini nyaris semua media termasuk media sosial mewartakan berpulangnya pemain keyboards The Door Ray Manzarek dalam usia 74 tahun.Ray memang selain dianggap sebagai founder the Doors,dia juga peletak dasar musik The Doors tanpa harus mengecilkan peran Jim Morrison,John Densmore maupun Robbie Krieger.

Tadi pagi saya lalu mengubek-ubek tumpukan vinyl dan lalu menemukan karya solo Ray Manzarek yang rada eksperimental.Albumnya berjudul The Golden Scarab.Sebuah album dengan konten musik yang terkesan eklektik.Abadi Soesman adalah pemusik yang pertamakali bercerita kepada saya perihal album istimewa ini. “Ada nuansa gamelan Bali lho di album ini” celutuk Abadi Soesman.Bahkan Abadi banyak menyerap gagasan eksperimental Ray Manzarek saat ikut terlibat penggarapan album kolosal Guruh Gipsy pada kurun 1975 – 1977.

Album The Golden Scarab adalah album solo Ray Manzarek di tahun 1974 yang lumayan kompleks.Ray adalah tipikal jenius yang tak pernah diam dalam melakukan pengembaraan musik hingga ke pelosok jagad.Eksplorasi yang padat itu tertuang di album ini.Pada sampul albumnya Ray Manzarek menulis : The Golden Scarab is just my baby entirely. That’s all about that’s the hero’s journey, that’s Joseph’s Campbell. That’s why it is called a rhythm myth.
Bagi Manzarek rhythm adalah segalanya.Rhythm adalah alas utama musik :””Rhythm is the foundation of the universe. The primitive African religions believed that in the beginning was rhythm and that by dancing and beating on drums and things you could get yourself in closer tune with the basic pulse of the universe. That’s exactly what I believe. The foundation of it all is rhythm. Without rhythm, there is nothing.”.
Disini,di album ini,Ray Manzarek memainkan banyak pola rhythm,mulai dari Cina,Timur Tengah hingga Bali dengan nuansa gamelannya.
Ketika Manzarek menyebut ritem adalah mithos, saya rasa hampir semua orang termasuk saya,meyakininya.

White Shoes and The Couples Company saat merekam Lagu Lagu Daerah di Studio Lokananta Solo pada tanggal 28 Oktober 2013 yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda (foto Keke Tumbuan)

White Shoes and The Couples Company saat merekam Lagu Lagu Daerah di Studio Lokananta Solo pada tanggal 28 Oktober 2012 yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda (foto Keke Tumbuan)

Saya lagi mewawamcarai kelompok White Shoes and The Couples Company

Saya lagi mewawamcarai kelompok White Shoes and The Couples Company

Tak semua anak muda melupakan akar budayanya.Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau.Mereka lalu merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an. Di dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing mulai dari bahasa Jawa,Sunda,Minang,Kalimantan,Minahasa,Ambon,Bugis Makassar hingga Papua.Dan bisa populer contoh misalnya ketenaran lagu Ayam Den Lapeh,Lembe Lembe Lembe,Anging Mamiri hingga O  Ina Ni Ke Ke dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa saat itu.Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri.Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek.Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak ngik ngok yang tak sesuai dengan jatidiri bangsa.

Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam Lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Senin bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 kelompok White Shoes and The Couples Company akan meluncurkan Mini Album “Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: Jangi Janger, Tjangkurileung, Te O Rendang O, Lembe-Lembe, Tam Tam Buku.
Secara khusus sebagian besar proses perekaman mini album ini dilakukan di studio Lokananta, Solo secara live pada tanggal 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu. Ini adalah tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company untuk masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta perusahaan rekaman milik Pemerintah yang berada di Solo. Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery & the Pros di “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang terlupakan, Max Lesiangi,

Piringan Hitam Chick Corea "Friends" (1978)

Piringan Hitam Chick Corea “Friends” (1978)

Album milik Chick Corea yang pertamakali saya beli adalah “Friends” yang dirilis tahun 1978. Saat itu saya duduk dibangku SMP kelas 2. Info mengenai Chick Corea saya dapatkan setelah membaca artikel tentang sosok Chick Corea sosok pemusik jazz yang luar biasa mumpuni memainkan perangkat keyboards.

Album “Friends” itu masuk di Indonesia lewat kaset kaset bajakan tapi legal.Kebetulan saya membeli album “Friends” yang versi Atlantic Record (bah nama label nyapun bajakan.Untung penyalahgunaan trade mark ini tak diketahui Ahmet Ertegun).Seingat saya,waktu itu kaset Chick Corea saya beli seharga Rp 800, setelah menabung dengan tidak menggunakan jatah uang jajan dari ortu.

Di album ini Chick Corea memainkan musik jazz nya secara akustik dengan menyertakan sosok-sosok jazzer kampiun seperti Steve Gadd (drums),Eddie Gomez (bass akustik) dan Joe Farrell (flute,saxophone).Chick Corea sendiri memainkan piano dan piano elektrik Fender Rhodes yang memiliki sound khas itu.

Terus terang,saat itu lagu yang bisa saya cerna hanya satu yaitu “Friends” dengan menonjolkan permainan piano elektrik Fender Rhodes Chick Corea serta hembusan flute Joe Farrell.Namanya juga baru coba-coba menyimak jazz.Masih anak kecil pula he he he.

Dua tahun silam saya bertemu lagi dengan album Friends – Chick Corea ini tapi dengan format aslinya yaitu vinyl atau piringan hitam.Vinyl Chick Corea ini dalam keadaan mulus banget.Mint conditions.Bahkan plastik pembungkusnya pun masih ada.Great. Oh iya,album ini saya dapatkan di Kios Warung Musik milik Agus Susanto di basement Blok M Square Jakarta. Tanpa pikir panjang saya lalu membeli vinyl Chick Corea.Karena album ini adalah album jazz pertama yang saya beli dengan menggunakan uang sendiri pada tahun 1978 dan yang kedua kaset yang saya beli dulu itu sudah lama menghilang, raib entah kemana.

Denny Sakrie

Margie Siegers dan album popnya dirilis Purnama Record (Foto Denny Sakrie)

Margie Siegers dan album popnya dirilis Purnama Record (Foto Denny Sakrie)

Sabtu 4 Mei 2013 lalu saya bertemu penyanyi jazz legendaris Indonesia Margie Siegers.Siang itu penyanyi yang fasih berbahasa Belanda ini tengah taping acara Kuis Berpacu Dalam Melodi yang dipandu penyanyi legendaris Koes Hendratmo.”Saya diminta tampil sebagai bintang tamu membawakan lagu Enggo Lari,salah satu hits saya di tahun 1982″ ungkap Margie Siegers.

Lalu saya menyodorkan sekeping piringan hitam tanpa cover produksi Purnama Record.Album hasil hunting saya beberapa waktu lalu itu memang merupakan promo album yang dulu dibagi-bagikan secara gratis ke berbagai radio di seluruh Indonesia.Tak ada keterangan sama sekali dalam album Margie Siegers ini selain judul-judul lagu dan nama penulis lagunya seperti Is Haryanto,Harry Toos,Harius dan Harry Van Hoove.

“Wah….saya lupa sama album ini” tukas Margie sambil membolak balik kepingan vinyl yang saya angsurkan ke tangannya untuk dibubuhkan tandatangan.

God bless God Bless

Posted: Mei 10, 2013 in Kisah, Sejarah

Ludwig "Loetje" LeMans saat di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Ludwig “Loetje” LeMans saat di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Reuni God Bless (Foto Yaya Moektio)

Reuni God Bless (Foto Yaya Moektio)

Achmad Albar jadi cover majalah Aktuil Bandung edisi no.128 /September 1973

Achmad Albar jadi cover majalah Aktuil Bandung edisi no.128 /September 1973

God Bless formasi 2000 dengan drummer Gilang Ramadhan

God Bless formasi 2000 dengan drummer Gilang Ramadhan

God Bless formasi 2011 dengan dukungan Harry Anggoman (keyboards) dan Inang Noorsaid (drum) (Foto Gatot Widayanto)

God Bless formasi 2011 dengan dukungan Harry Anggoman (keyboards) dan Inang Noorsaid (drum) (Foto Gatot Widayanto)

God Bless formasi 2007 dengan drummer Yaya Moektio

God Bless formasi 2007 dengan drummer Yaya Moektio

God Bless formasi 1997 dengan dua gitaris Ian Antono dan Eet Sjahranie

God Bless formasi 1997 dengan dua gitaris Ian Antono dan Eet Sjahranie

God Bless formasi 1980 Donny Fattah,Achmad Albar,Ian Antono,Teddy Sujaya dan Abadi Soesman (foto JC Records)

God Bless formasi 1980 Donny Fattah,Achmad Albar,Ian Antono,Teddy Sujaya dan Abadi Soesman (foto JC Records)

God Bless formasi 1973 dari kiri Deddy Dorres (keyboard),Ludwig LeMans (gitar),Achmad Albar (vokal),Fuad Hasan (drums) dan Donny Gagola (bass) (Foto Zan Zappa/Junior)

God Bless formasi 1973 dari kiri Deddy Dorres (keyboard),Ludwig LeMans (gitar),Achmad Albar (vokal),Fuad Hasan (drums) dan Donny Gagola (bass) (Foto Zan Zappa/Junior)

God Bless tampil di Pesta Musik Kemarau 1975 di Bandung (foto majalah Aktuil)

God Bless tampil di Pesta Musik Kemarau 1975 di Bandung (foto majalah Aktuil)

God Bless formasi 1975 dari kiri Ian Antono,Teddy Sujaya,Donny Gagola,Yockie dan Achmad Albar (foto majalah Junior 1975)

God Bless formasi 1975 dari kiri Ian Antono,Teddy Sujaya,Donny Gagola,Yockie dan Achmad Albar (foto majalah Junior 1975)

God Bless TUR Sumatera (Medan - Pekanbaru) 1974

God Bless TUR Sumatera (Medan – Pekanbaru) 1974

Saya bertsama God Bless formasi 1974-1975 Achmad Albar (vokal),Keenan Nasution (drums) dan Ian Antono (gitar) (Foto Denny Sakrie)

Saya bertsama God Bless formasi 1974-1975 Achmad Albar (vokal),Keenan Nasution (drums) dan Ian Antono (gitar) (Foto Denny Sakrie)

Keenan Nasution drummer God Bless saat manggung Agustus 1974 (foto koleksi Keenan Nasution)

Keenan Nasution drummer God Bless saat manggung Agustus 1974 (foto koleksi Keenan Nasution)

God Bless 1974 Achmad Albar,Donny Gagola dan Keenan,Debby serta Oding Nasution

God Bless 1974 Achmad Albar,Donny Gagola dan Keenan,Debby serta Oding Nasution

Achmad Albar vokalis God Bless di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Achmad Albar vokalis God Bless di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

5 mei 2013 lalu kelompok rock God Bless genap berusia 40 tahun.Ini dihitung ketika God Bless yang saat itu didukung Achmad Albar (vokalis utama),Ludwig Loetje LeMans (gitar),Donny Gagola (bass),Yockie Surjoprajogo (keyboard) dan almarhum Fuad Hasan (drums) pertamakali naik panggung di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta Pusat pada tanggal 5 mei 1973.Meski tanpa satu pun lagu karya cipta sendiri, God Bless mendapat applause luar biasa dari sejumlah anak muda Jakarta yang menyaksikan konser band rock.

Donny Gagola dan Deddy Dorres (Foto Prayitno Soelarko)

Donny Gagola dan Deddy Dorres (Foto Prayitno Soelarko)

Sejak bertahtanya rezim Orde Baru pada akhir era 60an,katup pelarangan musik Barat yang selama ini tertutup rapat sejak era rezim Orde Lama lalu terbuka lebar.Kredo rock mulai lasak merengsek ke permukaan.Terlebih lagi ketika  kabar dari barat tentang menggelegaknya budaya pop dengan gongnya berupa penyelenggaraan Woodstock di Amerika Serikat,mulai memunculkan embrio di Indonesia.Berbekal dengan menyimak siaran radio luar negeri seperti VOA Amerika atau ABC Australia,anak-anak muda khatulistiwa mulai terpicu untuk meniru pola tingkah anak muda Barat yang mengunggulkan budaya rock n’roll dan hippies tentunya.Tiru meniru dalam dunia seni itu lumrah,begitu juga terhadap dalam perkembangan jiwa anak muda dalam sudut pandang psikologi.

Di awal tahun 1973,Achmad Albar yang sejak meletusnya Gerakan 30 September 1965  PKI bermukim di Belanda, kembali mudik ke tanah air.Lewat berbagai media hiburan diantaranya majalah Aktuil Bandung,kabar dan ikhwal sosok Achmad Albar kerap ditulis.Penggemar musik Indonesia pun sudah khatam perihal Achmad Albar yang sejak paruh era 60an tergabung dalam berbagai band di Belanda mulai dari Take 5 hingga Clover Leaf.

Kepulangan Achmad Albar ke Jakarta saat itu sebetulnya untuk berlibur.Albar tiba di Jakarta bersama gitaris Indo Belanda Ludwig Loetje LeMans yang tergabung dalam Clover Leaf bersama Achmad Albar.Albar yang sejak tahun 1958 telah muncul di layar lebar lewat film anak-anak Djenderal Kantjil,terperanjat melihat scene rock di Jakarta.banyak band-band berlabel rock yang muncul dalam pelbagai pertunjukan.Kekaguman Albar bahkan berubah menjadi keinginan untuk ikut terjun juga menceburkan diri dalam gugus musik Indonesia yang terlihat euphoria.Semangat Albar untuk ngeband di Indonesia kian menggebu saat bertemu sahabat lama Fuad Hasan, salah satu drummer terbaik Indonesia yang tercatat banyak mendukung berbagai band era 60an hingga awal 70an seperti Medenaz,Zainal Combo hingga The Pro’s.

Achmad Albar merasa Fuad Hasan adalah orang yang tepat jika keinginannya membentuk band rock terwujud. Ludwig LeMans  merasa sumringah ketika Achmad Albar mengutarakan niat untuk membentuk sebuah band rock di Jakarta.Fuad Hasan lalu memperkenalkan bassist Donny Gagola yang saat itu telah memperkuat beberapa band rock mulai dari Equator Child hingga Fancy Junior.Donny kemudian membawa Yockie Surjoprajogo pemain keyboard yang juga telah memiliki jam terbang tinggi.

Ludwig awalnya mengusulkan nama The Balls sebagai jatidiri band yang mereka bentuk.Tapi kemudian Albar memberikan ide nama The Road.Namun nama ini tak disepakati.Kelak nama The Road dipakai oleh Deddy Dorres sebagai band rekaman bersama Fuad Hasan,Ludwig LeMans dan Donny Gagola.Setelah itu muncul gagasan memakai nama The God.Nama yang berkesan agung dan sakral ini pun urung dipakai.Mereka sepakat nama The God tak layak untuk sebuah band rock yang cenderung hedonistik.Sempat pula mereka menggunakan nama Crazy Wheels, karena kedekatan personil God Bless dengan komunitas pembalap diantaranya Derek Mandradi.Hingga akhirnya Albar dan Donny melihat sebuah kalimat ucapan pada kartu Natal : May God Bless You.

Spontan mereka kemudian memilih kata God Bless sebagai nama band rock yang telah siap manggung secara professional itu.Nama God Bless itulah yang kemudian dipergunakan sebagai jatidiri hingga sekarang ini,saat God Bless memasuki usia ke 40.

God Bless sendiri mendapat aplaus luar biasa saat tampil bersama 17 band lainnya dalam acara yang meniru Woodstock’69 yaitu Summer’28 yang digelar di Ragunan Pasar Minggu pada tanggal 16 Agustus 1973.God Bless menjadi perbincangan media hiburan.Sosok Achmad Albar muncul di sampul majalah ternama mulai dari majalah musik Aktuil Bandung hingga majalah berita Tempo Jakarta.

Rupanya nama God Bless justeru membawa tuah.Band ini ternyata berusia panjang.Bukan itu saja, hingga detik ini God Bless masih terus manggung dan masih aktif menulis lagu-lagu baru.Tahun 2007 silam God Bless merilis album bertajuk 36 yang diproduksi Nagaswara.God Bless bagaikan highlander yang tak pernah menua.Mereka seolah immortal, ketika sebagian band seangkatan mereka atau jauh sebelum mereka muncul,telah lama pension dari hiruk pikuk musik rock. Saya rasa pilihan nama God Bless sebagai identitas band merupakan adalah tepat.Secara harafiah God Bless bermakna diberkati Tuhan.Dan God Bless pada akhirnya memang memperoleh berkat dari Tuhan.God bless God Bless.

Bassist God Bless Donny Gagola (Foto Prayitno Soelarko)

Bassist God Bless Donny Gagola (Foto Prayitno Soelarko)

Selama 40 tahun God Bless mengalami pasang surut yang luar biasa terutama adalah proses gonta ganti personil yang telah berlangsung sejak tahun 1974. Dalam catatan saya,God Bless telah dimasuki begitu banyak pemusik rock mumpuni, mulai dari Deddy Dorres,Yockie Surjoprajogo,Soman Lubis,Fuad Hasan,Debby Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution,Abadi Soesman,Teddy Sujaya,Rudy Gagola,Yaya Moektio,Gilang Ramadhan, Dodo Zakaria hingga Eet Sjahranie.

Romantika anak band memang senantiasa sarat dengan riak gelombang.Menyatukan ego dan selera pemusik yang sudah pasti tak sama dalam sebuah band adalah pekerjaan yang berat.Belum lagi tetek bengek lainnya yang kerap berwujud krusial mulai dari konsepsi hingga persepsi bermusik.

Lihatlah band band sekarang yang usianya hanya seumur jagung.Ketika stardom mulai menghampiri anak band,biasanya mulai ada yang berubah dalam silaturahmi antar mereka.Mulai muncul persaingan yang terkadang tidak sehat hingga akhirnya merapuhkan kredo kekompakan serta skala prioritas dalam menjalankan keutuhan sebuah wadah band.

Gitaris God Bless formasi pertama Ludwig LeMans (Foto Prayitno Soelarko)

Gitaris God Bless formasi pertama Ludwig LeMans (Foto Prayitno Soelarko)

Kurun waktu 40 tahun bagi God Bless bukan sekedar pencapaian angka saja,tapi  juga tentang sebuah hasil bagaimana memintal dan menganyam kesepakatan dalam ketidaksepakatan sekalipun.

Dinamika dalam tubuh God Bless jelas penuh bara.Tapi yang menarik,adalah bagaimana mereka menjaga bara itu dalam intensitas yang tak sampai menghanguskan keberadaan mereka sebagai sebuah band dengan kerangka yang solid.Achmad Albar sebagai tokoh sentral dalam God Bless saya rasa adalah tipe pemimpin yang mampu berperan sebagai nakhoda bahtera yang terampil menjaga keseimbangan.Menjaga keseimbangan disaat bahtera oleng diterpa badai,termasuk menjaga keseimbangan ketika bahtera melaju di samudera yang tak menggelegak.Kemudi itu tampaknya dijaga keseimbangannya oleh Achmad Albar yang sejak tahun 1973 hingga sekarang tak pernah sekalipun mundur sebagai frontman God Bless.Sehingga akhirnya kita bias mahfum bahwa God Bless adalah Achmad Albar,dan Achmad Albar adalah God Bless.Tak jauh berbeda jika kita analogikan dengan The Rolling Stones yang telah berusia 50 tahun lebih itu,The Rolling Stones adalah Mick Jagger, begitu pula sebaliknya, Mick Jagger adalah The Rolling Stones.

Di usia ke 40.God Bless tak pernah berhenti mendentamkan musik rock.Mereka tetap laju,berpacu berhadapan dengan perubahan tren musik. Tuhan masih tetap memberkati God Bless.God bless God Bless !!!

Siaran bersama Fariz RM disela sela rehearsal di Red White Loung Jazz Lounge Kemang (Foto Raben marketeers)

Siaran bersama Fariz RM disela sela rehearsal di Red White Loung Jazz Lounge Kemang (Foto Raben marketeers)

Siaran di studio MarketeersRadio (foto Bono)

Siaran di studio MarketeersRadio (foto Bono)

Ngobrol di Rumah Baba bersama pianis jazz Boby Limijaya (foto Bono)

Ngobrol di Rumah Baba bersama pianis jazz Boby Limijaya (foto Bono)

Bersama Indra Qadarsih di Palu Studio Jakarta (Foto Raben )

Bersama Indra Qadarsih di Palu Studio Jakarta (Foto Raben )

Mewawancarai Ridho Hafiedz dari Slank di kafenya Saffron Bistro Kemang

Mewawancarai Ridho Hafiedz dari Slank di kafenya Saffron Bistro Kemang

Ngobrol bersama Indra Lesmana di Red White Jazz Lounge Kemang (Foto Raben Marketeers)

Ngobrol bersama Indra Lesmana di Red White Jazz Lounge Kemang (Foto Raben Marketeers)

Hari ini tepat setahun saya siaran di radio berbasis live streaming Marketeers yang bisa diakses melalui www.marketeers.fm. Masih segar dalam ingatan,saya ketika Mei 2012 saya mulai kembali bercuap cuap di udara,memutar music di radio tapi dengan format digital,medium yang selama ini belum pernah saya sentuh.

Saya sendiri mulai berkiprah sebagai penyiar radio sejak tahun 1988 lewat radio Madama Makassar,yang tercatat sebagai Radio FM pertama di provinsi Sulawesi Selatan.Ketika awal 1990an saya pindah ke Jakarta, saya mulai memasuki beberapa stasiun radio swasta.Dimulai dari radio Suara Irama Indah, yang merupakan stasiun radio swasta pertama di Indonesia yang berada di jalur FM.Suara Irama Indah dibentuk oleh Soejoso Karsono atau akrab dengan panggilan mas Jos.Beliau ini sebelumnya telah mendirikan Radio Elshinta bahkan di tahun 1950 almarhum yang perwira Angkatan Udara ini adalah pendiri studio rekaman pertama milik pribumi dengan nama Irama.

Kemudian saya berpindah ke Prambors Group sebagai Music Continuity Officer di Prambors Radio Network serta jadi penyiar di FeMale radio dan seterusnya ke radio yang dikelola Prambors juga yaitu M97FM classic rock station.Sempat pula selama 5 bulan menjadi penyiar radio Trijaya FM lewat acara Galera Musik Indonesia bersama penyanyi Irianti Erning Praja.Lalu tahun 2006 diajak lagi jadi penyiar acara Musical Box di FeMale radio yang juga disiarkan bersama Delta FM ke 10 kota di Indonesia. 

Tapi ketika saya diajak oleh Waizly Darwin dan Alvin Yunata dari Mark Plus untuk menjadi penyiar di Marketeers Radio yang disiarkan secara streaming, ini merupakan sesuatu yang baru.Siaran menjadi lebih praktis.Tak ada lagi tumpukan kaset,piringan hitam atau CD yang menemani siaran saya.Semua lagu telah diformat secara digital.Bahkan siaran saya tak hanya dijangkau di Jabotabek saja, atau di 10 Kota saat siaran di FeMale radio 7 tahun silam, melainkan bisa lintas teritori,lintas benua.Suatu saat saya ketemu sahabat saya komposer James F Sundah yang kini bermukim di Amerika Serikat.”Den, gua tiap hari denger siaran lo”. Wow……suara saya ternyata telah melanglang buana.Hal yang tak pernah saya bayangkan saat mulai menggeluti dunia radio secara professional di tahun 1988.

Di Marketeers Radio,saya bisa siaran dimana saja,tak hanya berkutat di studio.Saya bias mengunjungi studio rekaman Indra Qadarsih untuk siaran bareng dan berwawancara.Juga saya bisa siaran di Red White Jazz Lounge yang berada di kawasan Kemang saat Indra Lesmana dan Fariz RM tengah melakukan rehearsal.Saya juga melakukan siaran di kafe bersama pianis Ananda Sukarlan bahkan siaran sambil ongkang ongkang kaki di Resto Saffron milik gitaris Slank Ridho Hafiedz..

Keberadaan radio streaming memang belum diatur dalam sebuah regulasi.radio streaming memang tidak berada dibawah naungan PRSSNI ( Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia ). Tapi toh, siaran memang jalan terus.

Dunia radio memang mengasyikkan.Betapa tidak,kita dengan santai bisa memadukan obrolan bersama sajian lagu yang tiada habis-habisnya.Sys NS salah seorang senior saya mengatakan bahwa siaran radio itu candu dan selalu nagih dan nagih.Betul juga.Karena dari saat pertama saya siaran di tahun 1988 hingga sekarang ini saya selalu nagih dan nagih siaran radio.

Tanpa sadar saya mengamini apa yang dilantunkan almarhum Freddie Mercury lewat lagu Radio Gaga :

When we grow tired of all this visual
You had your time, you had the power
You’ve yet to have your finest hour
Radio

    

Diskusi Tentang PP No.109 bersama Denny Sakrie,Dewi Gontha dan Daru Supriyono di Rolling Stone Cafe 24 April 2013

Diskusi Tentang PP No.109 bersama Denny Sakrie,Dewi Gontha dan Daru Supriyono di Rolling Stone Cafe 24 April 2013

Dewi Gontha dari Java Festival Production

Dewi Gontha dari Java Festival Production

Peserta diskusi di Rolling Stone cafe

Peserta diskusi di Rolling Stone cafe

Promotor Log Zhelebour dan jurnalis Rolling Stone Wendi Putranto

Promotor Log Zhelebour dan jurnalis Rolling Stone Wendi Putranto

Denny Sakrie

Denny Sakrie

Tanpa banyak diketahui orang,entah itu penikmat musik hingga para pemusik,tiba-tiba telah keluar sebuah Peraturan Pemerintah yang pada galibnya melarang produk rokok melakukan promosi dalam event pertunjukan musik di Indonesia.

Arkian,muncullah yang namanya PP 109  lengkapnya adalah Peraturan Pemerintah No.109 Tahun 2012,  tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, yang jika ditelaah satu persatu ayat demi ayat maka akan timbul sesuatu yang ambigu,sesuatu yang dipaksa,sesuatu yang kuat elemen copypastenya dan sesuatu yang kerap membuat yang membaca akan menggeleng gelengkan kepala.Jika dikaji lebih dalam maka ujung-ujungnya PP No.109 ini pasti akan  menuai gugatan.

Gugatan yang berujung keresahan dari berbagai pihak,mulai dari produsen rokok hingga penyelenggara bisnis pertunjukan termasuk para penonton tentunya yang mungkin tak akan memperoleh hiburan musik lagi karena pihak sponsor terbesar dalam bisnis pertunjukan musik sekarang ini adalah dari produsen rokok.

Saya diminta hadir untuk memberikan semacam perspektif tentang kondisi yang akan terjadi,jika PP No.109 ini mulai diterapkan setidaknya hingga tahun 2014 nanti.Selain saya, ternyata juga ada Dewi Gontha,putri pengusaha Peter F Gontha, yang mengelola impresariat hiburan bernama Java Production yang setiap tahun menggelar 3 event dengan genre musik berbeda yaitu Java Jazz Festival,Java Rockin’Land dan Java Soul Nation.Juga hadir sebagai narasumber adalah Daru Supriyono,praktisi hukum yang mengkritisi meteri dari PP No.109  

Semuanya berlangsung dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Rolling Stone Café, Kemang, 24 April 2013 lalu. Para pelaku industri musik mengemukakan  perspektif mereka sehubungan dengan  pasal-pasal dalam PP 109 Tahun2012 yang intinya adalah  tentang pelarangan sponsorhip dari perusahaan rokok. Dan ini secara langsung  berdampak pada sektor bisnis yang mereka geluti tentunya.

 Dewi Gontha yang mewakili  Java Festival Production, mengatakan bahwa pada tahun 2014 nanti, pihaknya belum mendapatkan persetujuan sponsorship dari perusahaa rokok untuk salah satu event musik yang mereka kelola yaitu Java Jazz Festival, ini karena PP 109  ini baru  akan berlaku efektif pada tahun 2014. Dewi pun memaparkan bahwa : “Tahun ini penyelenggaraan Java Jazz memang mendapatkan dukungan yang sangat besar dari industri rokok. 40% kebutuhan dana penyelenggaraan acara tersebut disupport dari industri rokok, dan selebihnya ditutup oleh sponsor lain. Dan dana dari pihak sponsor tersebut juga kami gunakan untuk mensubsidi para pengunjung. Sehingga pengunjung dapat menjangkau harga tiket dan mendapatkan hiburan yang berkualitas internasional.”

Log Zhelebour, promotor musik rock yang  memulai bisnis pertunjukan rock sejak era 1980an itu pun angkat suara :  “Harusnya pemerintah kalau mau buat peraturan ya buat yang adil. Jangan membunuh seperti ini. Kalau kita baca dalam peraturan tersebut, akan sangat aneh. Misalnya di pasal 38, tidak boleh memberikan sponsor dengan menampilkan brand produknya. Ini kan aneh. Mana mau ada perusahaan mau memberikan sponsor kalau brand produknya tidak diperlihatkan. Ini kan membunuh industri musik di Indonesia.” .

Saya juga merasakan banyak keganjilan dalam materi PP 109 itu yang entah kenapa juga kurang atau memang sengaja tidak disosialisakan hingga berkesan bagai sebuah jebakan Batman yang mematikan.

Saya sendiri sebetulnya bukan perokok.Tapi peraturan yang dikemas dalam produk PP 109 ini terasa menyimpan keanehan yang jelas jelas nyata.Di satu sisi Pemerintah menuai cukai lewat industry rokok,tapi disatu sisi malah menolak dengan telak.Ini sebuah keanehan yang mengada-ada.

Dalam diskusi itu pun saya berwacana bahwa meskipun rokok nantinya tidak lagi diberi ruang gerak yang leluasa dalam promosi produknya dalam industri hiburan,bukan berarti bisnis pertunjukan musik akan mati.Toh masih banyak alternative sponsorship yang lumayan beragam.Namun tak dimungkiri bahwa industri adalah yang terbesar dalam menggelontorkan dana untuk bisnis pertunjukan musik.Dewi Gontha pun mengatakan bahwa dalam event Java Jazz Festival,sponsor rokok mengcover sekitar 70 persen dari total biaya pertunjukan.

Praktisi Hukum Daru Supriyono dari Tim Pembela Kretek yang juga menjadi nara sumber dalam diskusi ini mengatakan bahwa  PP 109 memiliki  cacat hukum baik secara formal maupun material. Dampak yang merugikan berbagai pihak, termasuk industri music didalamnya akan terus digali oleh Tim Pembela Kretek. “Jika memang industri musik dirugikan oleh aturan tersebut, maka kami tak akan ragu untuk melakukan Judicial Review ke Mahkamah Agung. Karena peraturan tersebut lahir justru memberikan kerugian yang besar bagi banyak orang.”

Kita sama sama mengetahui  bahwa industri hasil tembakau di Indonesia telah ikut berkiprah mengembangkan industri pertunjukan musik di Indonesia selama lebih dari tiga puluh tahun. Kini di tengah amburadulnya penegakan hukum dan tak teratasainya masalah  pembajakan karya musisi tanah air, memang tak sedikit yang beranggapan bahwa bisnis pertunjukan musik merupakan solusi bernafas panjangnya hidup seorang seniman musik walaupun seperti yang saya katakana,jika rokok tak lagi diberi ruang untuk mendukung industri hiburan toh bukan sebuah malapetaka atau kiamat.Musik tetap ada dengan dukungan dari sponsorship lain,meskipun harus kita amini bahwa rokok memang termasuk yang terbesar dalam menggelontorkan dana.

Tapi kita lihat sajalah nanti.Karena jika menilik pasal demi pasal dari PP No.109 ini sesungguhnya masih banyak “peluang peluang” yang entah disengaja atau tidak bakal bias “diselamatkan” dengan cara seksama, satu diantaranya yaitu UANG. Karena Negara ini sejak sekian lama telah “terselamatkan” oleh yang namanya UANG.Kita tunggu saja nanti saat tahun 2013 berganti ke tahun 2014.