Arsip untuk Mei, 2013

Pada tanggal 16 April 2013 saya diundang pihak TV One untuk jadi narasumber  dalam acara musik “Satu jam Lebih Dekat” di studio yang berada di kawasan Industri Pulogadung Jakarta..Ini bukan acara live melainkan taping.Ternyata sosok yang menjadi tamu di acara ini yaitu Amy Search,penyanyi rock Malaysia yang di sekitar pertengahan era 80an sangat populer di negeri ini lewat ballad rocknya Isabella.Ketika disebutkan nama Amy Search serta merta benak saya melakukan napak tilas seketika dan tepat berhenti di  tahun 1989 ketika hampir semua masyarakat Indonesia tiba-tiba memutar dan menyanyikan lagu Isabella dari album Fenomena milik band rock Malaysia Search yang dimotori Suhaimi Bin Abdulrahman dengan ciri khas suaranya yang melengking tinggi.

Kaset Search laku keras di Indonesia.Bahkan musik rock dengan cengkok Melayu ala Search ini justru jadi virus yang mewabah di Indonesia.Kelatahan mulai menjelma dalam industry musik di Indonesia.Ini hal yang lumrah,ketika sebuah karya merebak dan menggelegak menjadi hits yang fenomenal, maka para pemilik label rekaman di Indonesia pun rame rame antri untuk mengikuti jejaknya.Search sendiri seperti perambah hutan untuk lahan baru di negera tetangganya Indonesia.Karena usai Search mengharu biru pendengar Indonesia, mulailah muncul sederet band-band sejenis Search,ada Iklim,Wings dan entah apalagi.Kelatahan pihak perekam Indonesia mulai terlihat dengan munculnya nama nama seperti Deddy Dorres hingga Benny Panjaitan dari Panbers yang didapuk untuk membuat lagu-lagu yang setipe dengan band-band Malaysia itu.Bahkan tak cukup sampai disitu, kemudian muncul kesepakatan menduetkan Amy Search dengan penyanyi pop rock wanita Indonesia Inka Christie dalam lagu “Cinta Kita” yang termaktub dalam album Search.Amy Search pun bahkan dipasangkan dengan aktris Nia Dicky Zulkarnaen di layar lebar. Saat itu Amy Search kerap bolak-balik Jakarta – Kuala Lumpur.

Serbuan Malaysia ke Indonesia ini secara berkelakar saat itu kerap kita sebut Malaysian Invasion yang mengacu pada British Invasion.Namun dalam telaah yang saya lakukan,kedua Negara serumpun ini memang sejak era 60an hingga sekarang ini kerap terjadi saling pengaruh mempengaruhi dalam dunia musik.Penyebabnya ya  mungkin karena memang serumpun itu.Penyanyi populer pria Malaysia era akhir 50 hingga 60an Puteh Ramlee atau lebih dikenal dengan panggilan P.Ramlee adalah penyanyi yang banyak penggemarnya di Indonesia lewat lagu Anakku Zazali hingga Madu Tiga.Film film yang dibintangi P.Ramlee juga beredar dan diputar dibioskop-bioskop Indonesia saat itu.Lalu muncul tandingan dari Indonesia yaitu penyanyi Said Effendi yang menyanyi dengan cengkok Melayu yang cum laude.Tak heran jika Said Effendi seolah merupakan jawaban Indonesia atas invasi yang dilakukan Malaysia lewat tenggorokan emas P.Ramlee.Di Indonesia sendiri tak sedikit yang terkecoh menyangka Said Effendi adalah penyanyi dari negeri jiran Malaysia. Said Effendy pun juga memiliki banyak penggemar di Malaysia.Lalu terbetiklah kabar bahwa P.Ramlee itu sendiri sebetulnya berasal dari Indonesia, konon dia adalah keturunan Aceh.

Di tahun 1986 tercatat pula kehadiran penyanyi wanita Malaysia bernama Sheila Madjid.Musiknya agak berbeda, nyaris tanpa cengkok Melayu.Agaknya Sheila Madjid lebih banyak terpengaruh gaya R&B atau yang kerap diistilahkan sebagai Adult Contemporary Pop.Dalam pengakuannya Sheila banyak mengadopsi teknik dan gaya bernyanyi Vina Panduwinata.Jelas sudah atara Malaysia dan Indonesia ini memang terjadi semacam kekerabatan dalam musik yang terkadang dibumbui oleh ikhwal persaingan tentunya.Dan ini adalah sebuah kewajaran.

Di era 2000an, kembali banyak band Indonesia yang Berjaya di Malaysia semisal Sheila On 7 hingga Peterpan.Bahkan radio-radio di Malaysia lebih cenderung memutar lagu-lagu dari band Indonesia.Hal ini semakin memuncak ketika di tahun 2006 mulai merebak band-band Indonesia yang menyanyikan lagu-lagu pop dengan cengkok Melayu, sebut saja misalnya Kangen Band dan ST 12.Band yang disebut terakhir ini bahkan meremake lagu Isabella yang dulu dipopulerkan Amy bersama bandnya Search pada tahun 1989.

Amy Search di tahun 2008 secara lantang melakukan protes kepada pemerintah Malaysia agar mengurangi dominasi lagu-lagu dari band/penyanyi Indonesia di putar di radio-radio.Ini tentunya sebuan protes untuk meminta proteksi Pemerintah yang terasa aneh.Karena pada kenyataannya masyarakat Malaysia memang sangat menggandrungi lagu-lagu karya pemusik Indonesia.

Amy sendiri bahkan cukup dekat dengan para pemusik Indonesia.Selain berduet dengan Inka Christie, Amy sebetulnya adalah penggemar Gigi.Amy Search  bahkan pernah berkolaborasi dengan Gigi.Apa komentar Amy ? “  Saya tidak anti pemusik Indonesia.Tak ada masalah. Tapi masalahnya penguasa yang tidak menjaga kuota artis-artis Indonesia, sampai-sampai artis Malaysia, tidak mendapat show. Jadi kita cuma mita protection dari penguasa” tutur Amy Search.

Bagi saya ini masih dalam batas kelumrahan, karena pertikaian semacam ini sebetulnya telah terjadi sejak zaman dulu.

Dan saat tampil dalam Satu Jam Lebih Dekat dengan Amy Search di TVOne yang disiarkan pada 24 Mei 2013, Amy tak lagi mengungkit-ungkit hal yang diucapkannya pada tahun 2008.Amy lalu berduet dengan Inka Christie menyanyikan hits mereka dulu “Cinta Kita” bahkan berduet dengan Candil mantan vokalis Seurieus menyanyikan lagu “Never Say Goodbye” nya Bon Jovi.Keduanya kompak bernyanyi.Sama sama melengking.Tak ada persaingan yang terlihat.

 

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Iklan
Album mini White Shoes and The Couples Company "Menyanyikan Lagu2 Daerah" (Foto Denny Sakrie)

Album mini White Shoes and The Couples Company “Menyanyikan Lagu2 Daerah” (Foto Denny Sakrie)

Banyak orang yang tak paham bagaimana merawat khazanah budaya bangsanya sendiri. Contoh yang paling kongkret mungkin adalah musik yang menjadi bagian produk budaya pop. Kita terkadang tak menganggap musik itu adalah warisan budaya yang menjadi tameng jatidiri kita sebagai anak bangsa.

Namun untungnya tak semua anak muda melupakan akar budayanya. Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau. Mereka kemudian merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an.

Pada dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Minang, Kalimantan, Minahasa, Ambon, Bugis, Makassar hingga Papua.

Uniknya, lagu-lagu dengan beragam bahasa daerah itu ternyata bisa terkenal dan dikenal luas, misalnya ketenaran lagu “Ayam Den Lapeh,” “Lembe Lembe,” “Anging Mamiri,” “Apuse” hingga “O Ina Ni Ke Ke” dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa ketenarannya saat itu? Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat Presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri. Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek. Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok yang tak sesuai dengan jati diri bangsa.

Saat rezim Orde Lama, mungkin masih kita ingat Manifesto Politik Republik Indonesia yang disingkat Manipol yang merupakan orasi Bung Karno pada 1959 yang kemudian oleh MPRS dikukuhkan sebagai Garis Garis Besar Haluan Negara lewat Ketetapan MPRS No.1/MPRS 1960, dimana saripatinya meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Dermokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK.

Nah, perihal Kepribadian Indonesia ini yang pada galibnya merupakan akar pangkal masalah berbudaya di negeri ini. Saya melihat ada sisi positif yang bisa dipetik dari “pengaturan” masalah kebudayaan dan perilaku berbudaya oleh Bung Karno, yaitu memberikan peluang sebesar-besarnya terhadap khazanah budaya Indonesia yang jumlahnya berlipat ganda itu. Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Ketika pada dasawarsa 60an pemusik Barat mencari pencerahan budaya ke India sebagai representasi budaya Timur, kita malah terjengkang dengan pola budaya Barat yang oleh Bung Karno disebut sebagai ngak-ngik-ngok itu tadi.

Pelarangan dan pembreidelan memang menggangu wilayah ekspresi dan kreativitas seniman. Film Rock Around The Clock milik Bill Haley and His Comets diturunkan dan tidak boleh diputar di bioskop oleh pemerintah Orde Lama karena dianggap menggali dekadensi moral bagi kaum muda. Lagu lagu rock and roll ala Elvis Presley dilarang.

Akhirnya pemusik kita melakukan akal-akalan dimana lagu “Bengawan Solo” dibawakan dengan gaya Elvis Presley oleh Oslan Husein dengan iringan Teruna Ria. Lagu-lagu daerah Minang dibawakan dengan ragam musik Latin seperti tango maupun cha cha.

Pengaruh musik Latin dari pemusik kelahiran Barcelona bernama Xavier Cugat terasa pada khazanah musik pop era 50an hingga 60an. Dilarangnya musik Barat yang dicap ngak-ngik-ngok, juga membuat sederet pemusik melakukan eksperimentasi menyusupkan Gambang Kromong ke dalam karya-karya mereka yang sebetulnya memiliki saripati blues rock ala John Mayall seperti yang dilakukan Benyamin S di era 60an.

Musik daerah berkembang pesat, lihatlah di Jawa Barat muncul istilah Arumba yang merupakan akronim Alunan Rumpun Bambu, dimana alat-alat musik tradisional digunakan untuk mengiringi para penyanyi dengan konteks pop.

Di Manado muncul musik Kolintang, yaitu alat musik daerah yang mirip Marimba atau Xylophone mengiringi penyanyi-penyanyi pop asal Kawanua mulai dari Frans Daromez hingga Vivi Sumanti. Salah satu kelompok Kolintang asal Sulawesi Utara yang terkenal di era itu adalah Kadodaan.

Perusahaan rekaman Lokananta, Irama hingga Mesra banyak merilis lagu-lagu daerah tersebut. Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 lalu kelompok White Shoes and The Couples Company meluncurkan album mini bertitel Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: “Jangi Janger,” “Tjangkurileung,” “Te O Rendang O,” “Lembe-Lembe,” “Tam Tam Buku.”

Secara khusus sebagian besar proses perekaman album mini ini dilakukan di studio Lokananta, Solo, Jawa Tengah secara live pada 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu.

Ini merupakan tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company bagi masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta, perusahaan rekaman milik pemerintah yang berada di Solo.

Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery Marantika and the Pros pada lagu “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang kini sudah tak banyak yang mengetahuinya Max Lesiangi.

Apa yang dilakukan White Shoes and The Couples Company rasanya jauh dari sudut eksploitasi sensasi bermusik. Bahwa mereka adalah sosok pemusik generasi penerus yang tak mau kehilangan akar budayanya. Bahwa kita dulu pun memiliki Golden Age of Pop, memiliki puncak kejayaan musik lokal. Nasionalisme sempit yang ingin mengganyang Malaysia karena lagu “Rasa Sayange” diaku sebagai bagian dari budaya mereka jelas adalah kekonyolan yang absurd. Berbuat seperti yang dilakukan White Shoes and The Couples Company jauh lebih patriotik.

Bob Dylan

Bob Dylan

How many roads must a man walk down,
before you call him a man?
How many seas must a white dove fly,
before she sleeps in the sand?
And how many times must a cannon ball fly,
before they’re forever banned?

Lirik lagu Blowin In The Wind yang ditulis Bob Dylan pada tahun 1962 dan direkam setahun kemudian dalam album “The Freewheelin’s Bob Dylan” dengan serta merta dibaptis sebagai  protest song lagu gugat pada zamannya.Di zaman,dimana kata damai seperti terkucil di pojok gudang tua tanpa satu pun orang pun yang ambil peduli.Lirik-lirik yang digurat Bob Dylan ini memajang pertanyaan retorika perihal damai,perang dan kebebasan.Tiga elemen yang menjadi isu paling hangat di Amerika,saat itu, dan diberbagai belahan dunia lainnya. Blowin’ In The Wind kemudian ditabalkan menjadi anthem gerakan civil right pada dasawarsa 60an yang nuansa musik serta budaya popnya beraroma psychedelia.   

Saya teringat dengan salah satu komentar dari penyanyi kulit hitam  Mavis Staples yang member komentar tentang Bob Dylan dalam film documenter Dylan “No Direction Home” besutan sutradara Martin Scorsese.Staples berucap seperti ini :”I could not understand how a young white man could write something which captured the frustration and aspirations of black people so powerfully”.

Dengan kata lain,Dylan sangat merasakan dan sangat memahami dera derita yang dirasakan kaum kulit hitam yang menjadi subyek diskriminasi di Amerika Serikat.

Dylan adalah turunan Yahudi yang memiliki kepekaan nan mendalam yang kemudian ditebar lewat lirik dan melodi lagu untuk selanjutnya mengetuk nurani penikmatnya.

Harin ini jumat 24 Mei 2013 saya memanggil ulang aura sensitivitas Bob Dylan, manakala saya mengetahui bahwa hari ini lelaki bernama lengkap Robert  Allen Zimmerman ini telah memasuki ambang senja usianya.Hari ini Bob Dylan genap 72 tahun.

Julukan ,protest singer melekat dibalik sosoknya yang sarat riap riap misteri.Namuni saya lebih suka menyematkan dia dengan sebutan penyanyi pengecam.Usia 72 tahun boleh jadi akan menimbulkan keraguan setiap orang akan tingkat kekritisan seseorang terhadap lingkung sosial maupun politik .Usia 72  tahun jelas merupakan usia mapan.Usia dimana seorang kakek hanya menjuntai-juntaikan kakinya di kursi malas,membaca headline Koran ditemani lagu-lagu nostalgia yang berpendar ke sudut ruang tamu. Bob Dylan memang telah beranjak tua.Kerutan di leher maupun di sebagian air mukanya menjelaskan semuanya.Lalu apa yang tersisa dari seorang Bob Dylan ?.Apakah Dylan masih gagah perkasa menyanyikan “The Time They Are A Changing”,”Like A Rolling Stones,Blowin’ In The Wind”,”Desolation Row” atau pun “Don’t Think Twice It’s Alright” termasuk juga lagu-lagu penanda zaman seperti “I Want You” maupun “It’s All Over Now,Baby Blue”.

Dylan memang tak pernah berhenti menata notasi dan menggurat lirik.Dylan masih tetap merilis album.Bahkan album-albumnya oleh sebagian besar majalah,media online maupun blog-blog pribadi direview dengan jumlah bintang yang bahkan mencapai 5 bintang.Itu terlihat jelas saat albumnya yang bertajuk Tempest dirilis pada tahun 2012 lalu. Bob Dylan pun masih tetap manggung.Ini memang luar biasa.Dylan seperti tak kehilangan energy dalam bermusik.Dylan menambah jadwal tur terbarunya mulai dari juni hingga agustus 2013.

Pada era 2000an.disaat dunia dilanda krisis global dalam ekonomi dan politik,Dylan merilis album juga seperti “Love & Theft” (2001),”Modern Times” (2006) hingga “Together Through Life” (2009).Memang sangat tak bijaksana jika membandingkan ketiga album yang masih dipuja kritikus musik itu dengan pencapaian artistic Dylan di era 60-an hingga 70-an.Tapi setidaknya kesan bahwa energi Dylan melemah itu memang tak mencuat.Tak ada bayangan bahwa karya-karyanya mengesankan seseorang yang siap melangkah ke liang lahat.

Prasangka orang akan memudarnya karya Dylan saat merilis album “Oh Mercy”(1989) yang merupakan comeback-nya Dylan ke dunia rekaman toh tetap tak berbuah bukti. Saya masih terkesima dengan deretan lirik yang digores Dylan dalam lagu yang berada di urutan pertama album “Oh Mercy” bertajuk “Political World” :

 We live in a political world
Wisdom is thrown in jail
It rots in a cell
Is misguided as hell
Leaving no one to pick up a trail.

We live in a political world
Where mercy walks the plank
Life is in mirrors
Death disappears
Up the steps into the nearest bank.

Pemunculan pertama Bob Dylan di tahun 1962 memang seperti merupakan estafet dari charisma Woody Guthrie.penyanyi folk Amerika yang banyak menyirami sekujur pikiran Dylan dengan inspirasi.Usia Dylan yang berdarah Yahudi saat itu 21 tahun.Dylan yang datang dari wilayah Duluth Minnesota ini memang tergila-gila dengan Woody Guthrie yang selama ini dikenal sebagai juru bicara generasi. Dylan tahun itu mengunjungi Woody Guthrie yang tengah terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit,seraya menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri.Tak lama berselang sosok Dylan menjadi terdepan dalam scene musik folk di Greenwich Village New York bahkan kemudian melambung lebih jauh ke tingkat dunia.

Tak berlebihan jika saya menyebut bahwa khazanah musik karya lelaki yang bernama asli Robert Zimmerman ini merupakan soundtrack yang melatari gelegak hiruk pikuk dunia di separuh abad ke 20 mulai dari gonjang ganjing politik dan sosial.Dimana ada peristiwa penting dan genting maka disitu jua lah menyelusup lagu-lagu  karya Bob Dylan,setidaknya pada 5 dasawarsa. Bob Dylan menguak karir musiknya yang panjang dan tak berkesudahan itu dengan lagu lagu protest yang beratmosfer anthemic di sepanjang era 60-an.Lalu beringsut ke tematik rock psychedelic yang puitik.Berlanjut ke intensitas lirik yang cenderung personal termasuk tentunya lirik lirik yang menakwilkan pesan bernuansa introspektif serta periode religius.

Dylan sendiri mengaku telah menulis sekitar 1000 lagu,bahkan dalam tercatat pula bahwa lagu-lagu karya Dylan telah dinyanyikan sebanyak 32.000 versi. Di usia yang ke 72  tahun,Bob Dylan yang konon pertamakali memperkenalkan psikotropika pada anggota the Beatles masih terlihat sehat walafiat.

Di usia yang ke 72 ini,Bob Dylan telah menapaki pelbagai lini kehidupan dalam era yang beda warna tapi tetap dengan dua wajah dunia yang  sama yang tak pernah berubah : yang baik dan yang buruk.

How many times must a man look up,
before he sees the sky?
And how many ears must one man have,
before he can hear people cry ?
And how many deaths will it take till we know,
that too many people have died?

The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.

Bob Dylan tak hanya sesosok pengecam yang kerap menggemerutuk,tapi seorang saksi zaman dan saksi peradaban.

Happy Birthday Mr Zimmerman !

Album The Golden Scarab - Ray Manzarek (1974)

Album The Golden Scarab – Ray Manzarek (1974)

Hari ini nyaris semua media termasuk media sosial mewartakan berpulangnya pemain keyboards The Door Ray Manzarek dalam usia 74 tahun.Ray memang selain dianggap sebagai founder the Doors,dia juga peletak dasar musik The Doors tanpa harus mengecilkan peran Jim Morrison,John Densmore maupun Robbie Krieger.

Tadi pagi saya lalu mengubek-ubek tumpukan vinyl dan lalu menemukan karya solo Ray Manzarek yang rada eksperimental.Albumnya berjudul The Golden Scarab.Sebuah album dengan konten musik yang terkesan eklektik.Abadi Soesman adalah pemusik yang pertamakali bercerita kepada saya perihal album istimewa ini. “Ada nuansa gamelan Bali lho di album ini” celutuk Abadi Soesman.Bahkan Abadi banyak menyerap gagasan eksperimental Ray Manzarek saat ikut terlibat penggarapan album kolosal Guruh Gipsy pada kurun 1975 – 1977.

Album The Golden Scarab adalah album solo Ray Manzarek di tahun 1974 yang lumayan kompleks.Ray adalah tipikal jenius yang tak pernah diam dalam melakukan pengembaraan musik hingga ke pelosok jagad.Eksplorasi yang padat itu tertuang di album ini.Pada sampul albumnya Ray Manzarek menulis : The Golden Scarab is just my baby entirely. That’s all about that’s the hero’s journey, that’s Joseph’s Campbell. That’s why it is called a rhythm myth.
Bagi Manzarek rhythm adalah segalanya.Rhythm adalah alas utama musik :””Rhythm is the foundation of the universe. The primitive African religions believed that in the beginning was rhythm and that by dancing and beating on drums and things you could get yourself in closer tune with the basic pulse of the universe. That’s exactly what I believe. The foundation of it all is rhythm. Without rhythm, there is nothing.”.
Disini,di album ini,Ray Manzarek memainkan banyak pola rhythm,mulai dari Cina,Timur Tengah hingga Bali dengan nuansa gamelannya.
Ketika Manzarek menyebut ritem adalah mithos, saya rasa hampir semua orang termasuk saya,meyakininya.

White Shoes and The Couples Company saat merekam Lagu Lagu Daerah di Studio Lokananta Solo pada tanggal 28 Oktober 2013 yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda (foto Keke Tumbuan)

White Shoes and The Couples Company saat merekam Lagu Lagu Daerah di Studio Lokananta Solo pada tanggal 28 Oktober 2012 yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda (foto Keke Tumbuan)

Saya lagi mewawamcarai kelompok White Shoes and The Couples Company

Saya lagi mewawamcarai kelompok White Shoes and The Couples Company

Tak semua anak muda melupakan akar budayanya.Contoh paling gamblang adalah White Shoes and The Couples Company yang tetap menelusuri akar musik pop Indonesia di masa lampau.Mereka lalu merekonstruksi komposisi lagu-lagu daerah yang sempat menjadi bagian utama khazanah musik pop Indonesia pada paruh era 50an dan 60an. Di dasawarsa itu sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing mulai dari bahasa Jawa,Sunda,Minang,Kalimantan,Minahasa,Ambon,Bugis Makassar hingga Papua.Dan bisa populer contoh misalnya ketenaran lagu Ayam Den Lapeh,Lembe Lembe Lembe,Anging Mamiri hingga O  Ina Ni Ke Ke dan masih banyak lagi.

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa saat itu.Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri.Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek.Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak ngik ngok yang tak sesuai dengan jatidiri bangsa.

Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam Lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya.

Senin bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013 kelompok White Shoes and The Couples Company akan meluncurkan Mini Album “Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah yang berisikan 5 lagu yaitu: Jangi Janger, Tjangkurileung, Te O Rendang O, Lembe-Lembe, Tam Tam Buku.
Secara khusus sebagian besar proses perekaman mini album ini dilakukan di studio Lokananta, Solo secara live pada tanggal 25 – 28 Oktober 2012 yang lalu. Ini adalah tribut yang dilakukan White Shoes and The Couples Company untuk masa kejayaan musik pop Indonesia di era paruh 50an hingga 60an dan tentunya, Lokananta perusahaan rekaman milik Pemerintah yang berada di Solo. Kumpulan rekaman ini ibarat buku jurnal pengalaman mereka dalam menghidupi kembali roh era emas musik pop Indonesia. Ada karya legendaris seniman Pasundan Mang Koko Koswara di “Tjangkurileung”, lagu permainan klasik Melayu “Tam Tam Buku” alias “Trang Trang Kolantrang” atau “Chock Chock Kundong”, serenada Amboina legendaris gaya Broery & the Pros di “Lembe Lembe”, serta lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang terlupakan, Max Lesiangi,

Piringan Hitam Chick Corea "Friends" (1978)

Piringan Hitam Chick Corea “Friends” (1978)

Album milik Chick Corea yang pertamakali saya beli adalah “Friends” yang dirilis tahun 1978. Saat itu saya duduk dibangku SMP kelas 2. Info mengenai Chick Corea saya dapatkan setelah membaca artikel tentang sosok Chick Corea sosok pemusik jazz yang luar biasa mumpuni memainkan perangkat keyboards.

Album “Friends” itu masuk di Indonesia lewat kaset kaset bajakan tapi legal.Kebetulan saya membeli album “Friends” yang versi Atlantic Record (bah nama label nyapun bajakan.Untung penyalahgunaan trade mark ini tak diketahui Ahmet Ertegun).Seingat saya,waktu itu kaset Chick Corea saya beli seharga Rp 800, setelah menabung dengan tidak menggunakan jatah uang jajan dari ortu.

Di album ini Chick Corea memainkan musik jazz nya secara akustik dengan menyertakan sosok-sosok jazzer kampiun seperti Steve Gadd (drums),Eddie Gomez (bass akustik) dan Joe Farrell (flute,saxophone).Chick Corea sendiri memainkan piano dan piano elektrik Fender Rhodes yang memiliki sound khas itu.

Terus terang,saat itu lagu yang bisa saya cerna hanya satu yaitu “Friends” dengan menonjolkan permainan piano elektrik Fender Rhodes Chick Corea serta hembusan flute Joe Farrell.Namanya juga baru coba-coba menyimak jazz.Masih anak kecil pula he he he.

Dua tahun silam saya bertemu lagi dengan album Friends – Chick Corea ini tapi dengan format aslinya yaitu vinyl atau piringan hitam.Vinyl Chick Corea ini dalam keadaan mulus banget.Mint conditions.Bahkan plastik pembungkusnya pun masih ada.Great. Oh iya,album ini saya dapatkan di Kios Warung Musik milik Agus Susanto di basement Blok M Square Jakarta. Tanpa pikir panjang saya lalu membeli vinyl Chick Corea.Karena album ini adalah album jazz pertama yang saya beli dengan menggunakan uang sendiri pada tahun 1978 dan yang kedua kaset yang saya beli dulu itu sudah lama menghilang, raib entah kemana.

Denny Sakrie

Margie Siegers dan album popnya dirilis Purnama Record (Foto Denny Sakrie)

Margie Siegers dan album popnya dirilis Purnama Record (Foto Denny Sakrie)

Sabtu 4 Mei 2013 lalu saya bertemu penyanyi jazz legendaris Indonesia Margie Siegers.Siang itu penyanyi yang fasih berbahasa Belanda ini tengah taping acara Kuis Berpacu Dalam Melodi yang dipandu penyanyi legendaris Koes Hendratmo.”Saya diminta tampil sebagai bintang tamu membawakan lagu Enggo Lari,salah satu hits saya di tahun 1982″ ungkap Margie Siegers.

Lalu saya menyodorkan sekeping piringan hitam tanpa cover produksi Purnama Record.Album hasil hunting saya beberapa waktu lalu itu memang merupakan promo album yang dulu dibagi-bagikan secara gratis ke berbagai radio di seluruh Indonesia.Tak ada keterangan sama sekali dalam album Margie Siegers ini selain judul-judul lagu dan nama penulis lagunya seperti Is Haryanto,Harry Toos,Harius dan Harry Van Hoove.

“Wah….saya lupa sama album ini” tukas Margie sambil membolak balik kepingan vinyl yang saya angsurkan ke tangannya untuk dibubuhkan tandatangan.