God bless God Bless

Posted: Mei 10, 2013 in Kisah, Sejarah

Ludwig "Loetje" LeMans saat di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Ludwig “Loetje” LeMans saat di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Reuni God Bless (Foto Yaya Moektio)

Reuni God Bless (Foto Yaya Moektio)

Achmad Albar jadi cover majalah Aktuil Bandung edisi no.128 /September 1973

Achmad Albar jadi cover majalah Aktuil Bandung edisi no.128 /September 1973

God Bless formasi 2000 dengan drummer Gilang Ramadhan

God Bless formasi 2000 dengan drummer Gilang Ramadhan

God Bless formasi 2011 dengan dukungan Harry Anggoman (keyboards) dan Inang Noorsaid (drum) (Foto Gatot Widayanto)

God Bless formasi 2011 dengan dukungan Harry Anggoman (keyboards) dan Inang Noorsaid (drum) (Foto Gatot Widayanto)

God Bless formasi 2007 dengan drummer Yaya Moektio

God Bless formasi 2007 dengan drummer Yaya Moektio

God Bless formasi 1997 dengan dua gitaris Ian Antono dan Eet Sjahranie

God Bless formasi 1997 dengan dua gitaris Ian Antono dan Eet Sjahranie

God Bless formasi 1980 Donny Fattah,Achmad Albar,Ian Antono,Teddy Sujaya dan Abadi Soesman (foto JC Records)

God Bless formasi 1980 Donny Fattah,Achmad Albar,Ian Antono,Teddy Sujaya dan Abadi Soesman (foto JC Records)

God Bless formasi 1973 dari kiri Deddy Dorres (keyboard),Ludwig LeMans (gitar),Achmad Albar (vokal),Fuad Hasan (drums) dan Donny Gagola (bass) (Foto Zan Zappa/Junior)

God Bless formasi 1973 dari kiri Deddy Dorres (keyboard),Ludwig LeMans (gitar),Achmad Albar (vokal),Fuad Hasan (drums) dan Donny Gagola (bass) (Foto Zan Zappa/Junior)

God Bless tampil di Pesta Musik Kemarau 1975 di Bandung (foto majalah Aktuil)

God Bless tampil di Pesta Musik Kemarau 1975 di Bandung (foto majalah Aktuil)

God Bless formasi 1975 dari kiri Ian Antono,Teddy Sujaya,Donny Gagola,Yockie dan Achmad Albar (foto majalah Junior 1975)

God Bless formasi 1975 dari kiri Ian Antono,Teddy Sujaya,Donny Gagola,Yockie dan Achmad Albar (foto majalah Junior 1975)

God Bless TUR Sumatera (Medan - Pekanbaru) 1974

God Bless TUR Sumatera (Medan – Pekanbaru) 1974

Saya bertsama God Bless formasi 1974-1975 Achmad Albar (vokal),Keenan Nasution (drums) dan Ian Antono (gitar) (Foto Denny Sakrie)

Saya bertsama God Bless formasi 1974-1975 Achmad Albar (vokal),Keenan Nasution (drums) dan Ian Antono (gitar) (Foto Denny Sakrie)

Keenan Nasution drummer God Bless saat manggung Agustus 1974 (foto koleksi Keenan Nasution)

Keenan Nasution drummer God Bless saat manggung Agustus 1974 (foto koleksi Keenan Nasution)

God Bless 1974 Achmad Albar,Donny Gagola dan Keenan,Debby serta Oding Nasution

God Bless 1974 Achmad Albar,Donny Gagola dan Keenan,Debby serta Oding Nasution

Achmad Albar vokalis God Bless di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

Achmad Albar vokalis God Bless di Mini Disco Jakarta 1973 (Foto Kreshna Aries)

5 mei 2013 lalu kelompok rock God Bless genap berusia 40 tahun.Ini dihitung ketika God Bless yang saat itu didukung Achmad Albar (vokalis utama),Ludwig Loetje LeMans (gitar),Donny Gagola (bass),Yockie Surjoprajogo (keyboard) dan almarhum Fuad Hasan (drums) pertamakali naik panggung di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta Pusat pada tanggal 5 mei 1973.Meski tanpa satu pun lagu karya cipta sendiri, God Bless mendapat applause luar biasa dari sejumlah anak muda Jakarta yang menyaksikan konser band rock.

Donny Gagola dan Deddy Dorres (Foto Prayitno Soelarko)

Donny Gagola dan Deddy Dorres (Foto Prayitno Soelarko)

Sejak bertahtanya rezim Orde Baru pada akhir era 60an,katup pelarangan musik Barat yang selama ini tertutup rapat sejak era rezim Orde Lama lalu terbuka lebar.Kredo rock mulai lasak merengsek ke permukaan.Terlebih lagi ketika  kabar dari barat tentang menggelegaknya budaya pop dengan gongnya berupa penyelenggaraan Woodstock di Amerika Serikat,mulai memunculkan embrio di Indonesia.Berbekal dengan menyimak siaran radio luar negeri seperti VOA Amerika atau ABC Australia,anak-anak muda khatulistiwa mulai terpicu untuk meniru pola tingkah anak muda Barat yang mengunggulkan budaya rock n’roll dan hippies tentunya.Tiru meniru dalam dunia seni itu lumrah,begitu juga terhadap dalam perkembangan jiwa anak muda dalam sudut pandang psikologi.

Di awal tahun 1973,Achmad Albar yang sejak meletusnya Gerakan 30 September 1965  PKI bermukim di Belanda, kembali mudik ke tanah air.Lewat berbagai media hiburan diantaranya majalah Aktuil Bandung,kabar dan ikhwal sosok Achmad Albar kerap ditulis.Penggemar musik Indonesia pun sudah khatam perihal Achmad Albar yang sejak paruh era 60an tergabung dalam berbagai band di Belanda mulai dari Take 5 hingga Clover Leaf.

Kepulangan Achmad Albar ke Jakarta saat itu sebetulnya untuk berlibur.Albar tiba di Jakarta bersama gitaris Indo Belanda Ludwig Loetje LeMans yang tergabung dalam Clover Leaf bersama Achmad Albar.Albar yang sejak tahun 1958 telah muncul di layar lebar lewat film anak-anak Djenderal Kantjil,terperanjat melihat scene rock di Jakarta.banyak band-band berlabel rock yang muncul dalam pelbagai pertunjukan.Kekaguman Albar bahkan berubah menjadi keinginan untuk ikut terjun juga menceburkan diri dalam gugus musik Indonesia yang terlihat euphoria.Semangat Albar untuk ngeband di Indonesia kian menggebu saat bertemu sahabat lama Fuad Hasan, salah satu drummer terbaik Indonesia yang tercatat banyak mendukung berbagai band era 60an hingga awal 70an seperti Medenaz,Zainal Combo hingga The Pro’s.

Achmad Albar merasa Fuad Hasan adalah orang yang tepat jika keinginannya membentuk band rock terwujud. Ludwig LeMans  merasa sumringah ketika Achmad Albar mengutarakan niat untuk membentuk sebuah band rock di Jakarta.Fuad Hasan lalu memperkenalkan bassist Donny Gagola yang saat itu telah memperkuat beberapa band rock mulai dari Equator Child hingga Fancy Junior.Donny kemudian membawa Yockie Surjoprajogo pemain keyboard yang juga telah memiliki jam terbang tinggi.

Ludwig awalnya mengusulkan nama The Balls sebagai jatidiri band yang mereka bentuk.Tapi kemudian Albar memberikan ide nama The Road.Namun nama ini tak disepakati.Kelak nama The Road dipakai oleh Deddy Dorres sebagai band rekaman bersama Fuad Hasan,Ludwig LeMans dan Donny Gagola.Setelah itu muncul gagasan memakai nama The God.Nama yang berkesan agung dan sakral ini pun urung dipakai.Mereka sepakat nama The God tak layak untuk sebuah band rock yang cenderung hedonistik.Sempat pula mereka menggunakan nama Crazy Wheels, karena kedekatan personil God Bless dengan komunitas pembalap diantaranya Derek Mandradi.Hingga akhirnya Albar dan Donny melihat sebuah kalimat ucapan pada kartu Natal : May God Bless You.

Spontan mereka kemudian memilih kata God Bless sebagai nama band rock yang telah siap manggung secara professional itu.Nama God Bless itulah yang kemudian dipergunakan sebagai jatidiri hingga sekarang ini,saat God Bless memasuki usia ke 40.

God Bless sendiri mendapat aplaus luar biasa saat tampil bersama 17 band lainnya dalam acara yang meniru Woodstock’69 yaitu Summer’28 yang digelar di Ragunan Pasar Minggu pada tanggal 16 Agustus 1973.God Bless menjadi perbincangan media hiburan.Sosok Achmad Albar muncul di sampul majalah ternama mulai dari majalah musik Aktuil Bandung hingga majalah berita Tempo Jakarta.

Rupanya nama God Bless justeru membawa tuah.Band ini ternyata berusia panjang.Bukan itu saja, hingga detik ini God Bless masih terus manggung dan masih aktif menulis lagu-lagu baru.Tahun 2007 silam God Bless merilis album bertajuk 36 yang diproduksi Nagaswara.God Bless bagaikan highlander yang tak pernah menua.Mereka seolah immortal, ketika sebagian band seangkatan mereka atau jauh sebelum mereka muncul,telah lama pension dari hiruk pikuk musik rock. Saya rasa pilihan nama God Bless sebagai identitas band merupakan adalah tepat.Secara harafiah God Bless bermakna diberkati Tuhan.Dan God Bless pada akhirnya memang memperoleh berkat dari Tuhan.God bless God Bless.

Bassist God Bless Donny Gagola (Foto Prayitno Soelarko)

Bassist God Bless Donny Gagola (Foto Prayitno Soelarko)

Selama 40 tahun God Bless mengalami pasang surut yang luar biasa terutama adalah proses gonta ganti personil yang telah berlangsung sejak tahun 1974. Dalam catatan saya,God Bless telah dimasuki begitu banyak pemusik rock mumpuni, mulai dari Deddy Dorres,Yockie Surjoprajogo,Soman Lubis,Fuad Hasan,Debby Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution,Abadi Soesman,Teddy Sujaya,Rudy Gagola,Yaya Moektio,Gilang Ramadhan, Dodo Zakaria hingga Eet Sjahranie.

Romantika anak band memang senantiasa sarat dengan riak gelombang.Menyatukan ego dan selera pemusik yang sudah pasti tak sama dalam sebuah band adalah pekerjaan yang berat.Belum lagi tetek bengek lainnya yang kerap berwujud krusial mulai dari konsepsi hingga persepsi bermusik.

Lihatlah band band sekarang yang usianya hanya seumur jagung.Ketika stardom mulai menghampiri anak band,biasanya mulai ada yang berubah dalam silaturahmi antar mereka.Mulai muncul persaingan yang terkadang tidak sehat hingga akhirnya merapuhkan kredo kekompakan serta skala prioritas dalam menjalankan keutuhan sebuah wadah band.

Gitaris God Bless formasi pertama Ludwig LeMans (Foto Prayitno Soelarko)

Gitaris God Bless formasi pertama Ludwig LeMans (Foto Prayitno Soelarko)

Kurun waktu 40 tahun bagi God Bless bukan sekedar pencapaian angka saja,tapi  juga tentang sebuah hasil bagaimana memintal dan menganyam kesepakatan dalam ketidaksepakatan sekalipun.

Dinamika dalam tubuh God Bless jelas penuh bara.Tapi yang menarik,adalah bagaimana mereka menjaga bara itu dalam intensitas yang tak sampai menghanguskan keberadaan mereka sebagai sebuah band dengan kerangka yang solid.Achmad Albar sebagai tokoh sentral dalam God Bless saya rasa adalah tipe pemimpin yang mampu berperan sebagai nakhoda bahtera yang terampil menjaga keseimbangan.Menjaga keseimbangan disaat bahtera oleng diterpa badai,termasuk menjaga keseimbangan ketika bahtera melaju di samudera yang tak menggelegak.Kemudi itu tampaknya dijaga keseimbangannya oleh Achmad Albar yang sejak tahun 1973 hingga sekarang tak pernah sekalipun mundur sebagai frontman God Bless.Sehingga akhirnya kita bias mahfum bahwa God Bless adalah Achmad Albar,dan Achmad Albar adalah God Bless.Tak jauh berbeda jika kita analogikan dengan The Rolling Stones yang telah berusia 50 tahun lebih itu,The Rolling Stones adalah Mick Jagger, begitu pula sebaliknya, Mick Jagger adalah The Rolling Stones.

Di usia ke 40.God Bless tak pernah berhenti mendentamkan musik rock.Mereka tetap laju,berpacu berhadapan dengan perubahan tren musik. Tuhan masih tetap memberkati God Bless.God bless God Bless !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s