Malaysian Invasion atau Indonesian Invasion ?

Posted: Mei 28, 2013 in Kisah, Tinjau Acara

Pada tanggal 16 April 2013 saya diundang pihak TV One untuk jadi narasumber  dalam acara musik “Satu jam Lebih Dekat” di studio yang berada di kawasan Industri Pulogadung Jakarta..Ini bukan acara live melainkan taping.Ternyata sosok yang menjadi tamu di acara ini yaitu Amy Search,penyanyi rock Malaysia yang di sekitar pertengahan era 80an sangat populer di negeri ini lewat ballad rocknya Isabella.Ketika disebutkan nama Amy Search serta merta benak saya melakukan napak tilas seketika dan tepat berhenti di  tahun 1989 ketika hampir semua masyarakat Indonesia tiba-tiba memutar dan menyanyikan lagu Isabella dari album Fenomena milik band rock Malaysia Search yang dimotori Suhaimi Bin Abdulrahman dengan ciri khas suaranya yang melengking tinggi.

Kaset Search laku keras di Indonesia.Bahkan musik rock dengan cengkok Melayu ala Search ini justru jadi virus yang mewabah di Indonesia.Kelatahan mulai menjelma dalam industry musik di Indonesia.Ini hal yang lumrah,ketika sebuah karya merebak dan menggelegak menjadi hits yang fenomenal, maka para pemilik label rekaman di Indonesia pun rame rame antri untuk mengikuti jejaknya.Search sendiri seperti perambah hutan untuk lahan baru di negera tetangganya Indonesia.Karena usai Search mengharu biru pendengar Indonesia, mulailah muncul sederet band-band sejenis Search,ada Iklim,Wings dan entah apalagi.Kelatahan pihak perekam Indonesia mulai terlihat dengan munculnya nama nama seperti Deddy Dorres hingga Benny Panjaitan dari Panbers yang didapuk untuk membuat lagu-lagu yang setipe dengan band-band Malaysia itu.Bahkan tak cukup sampai disitu, kemudian muncul kesepakatan menduetkan Amy Search dengan penyanyi pop rock wanita Indonesia Inka Christie dalam lagu “Cinta Kita” yang termaktub dalam album Search.Amy Search pun bahkan dipasangkan dengan aktris Nia Dicky Zulkarnaen di layar lebar. Saat itu Amy Search kerap bolak-balik Jakarta – Kuala Lumpur.

Serbuan Malaysia ke Indonesia ini secara berkelakar saat itu kerap kita sebut Malaysian Invasion yang mengacu pada British Invasion.Namun dalam telaah yang saya lakukan,kedua Negara serumpun ini memang sejak era 60an hingga sekarang ini kerap terjadi saling pengaruh mempengaruhi dalam dunia musik.Penyebabnya ya  mungkin karena memang serumpun itu.Penyanyi populer pria Malaysia era akhir 50 hingga 60an Puteh Ramlee atau lebih dikenal dengan panggilan P.Ramlee adalah penyanyi yang banyak penggemarnya di Indonesia lewat lagu Anakku Zazali hingga Madu Tiga.Film film yang dibintangi P.Ramlee juga beredar dan diputar dibioskop-bioskop Indonesia saat itu.Lalu muncul tandingan dari Indonesia yaitu penyanyi Said Effendi yang menyanyi dengan cengkok Melayu yang cum laude.Tak heran jika Said Effendi seolah merupakan jawaban Indonesia atas invasi yang dilakukan Malaysia lewat tenggorokan emas P.Ramlee.Di Indonesia sendiri tak sedikit yang terkecoh menyangka Said Effendi adalah penyanyi dari negeri jiran Malaysia. Said Effendy pun juga memiliki banyak penggemar di Malaysia.Lalu terbetiklah kabar bahwa P.Ramlee itu sendiri sebetulnya berasal dari Indonesia, konon dia adalah keturunan Aceh.

Di tahun 1986 tercatat pula kehadiran penyanyi wanita Malaysia bernama Sheila Madjid.Musiknya agak berbeda, nyaris tanpa cengkok Melayu.Agaknya Sheila Madjid lebih banyak terpengaruh gaya R&B atau yang kerap diistilahkan sebagai Adult Contemporary Pop.Dalam pengakuannya Sheila banyak mengadopsi teknik dan gaya bernyanyi Vina Panduwinata.Jelas sudah atara Malaysia dan Indonesia ini memang terjadi semacam kekerabatan dalam musik yang terkadang dibumbui oleh ikhwal persaingan tentunya.Dan ini adalah sebuah kewajaran.

Di era 2000an, kembali banyak band Indonesia yang Berjaya di Malaysia semisal Sheila On 7 hingga Peterpan.Bahkan radio-radio di Malaysia lebih cenderung memutar lagu-lagu dari band Indonesia.Hal ini semakin memuncak ketika di tahun 2006 mulai merebak band-band Indonesia yang menyanyikan lagu-lagu pop dengan cengkok Melayu, sebut saja misalnya Kangen Band dan ST 12.Band yang disebut terakhir ini bahkan meremake lagu Isabella yang dulu dipopulerkan Amy bersama bandnya Search pada tahun 1989.

Amy Search di tahun 2008 secara lantang melakukan protes kepada pemerintah Malaysia agar mengurangi dominasi lagu-lagu dari band/penyanyi Indonesia di putar di radio-radio.Ini tentunya sebuan protes untuk meminta proteksi Pemerintah yang terasa aneh.Karena pada kenyataannya masyarakat Malaysia memang sangat menggandrungi lagu-lagu karya pemusik Indonesia.

Amy sendiri bahkan cukup dekat dengan para pemusik Indonesia.Selain berduet dengan Inka Christie, Amy sebetulnya adalah penggemar Gigi.Amy Search  bahkan pernah berkolaborasi dengan Gigi.Apa komentar Amy ? “  Saya tidak anti pemusik Indonesia.Tak ada masalah. Tapi masalahnya penguasa yang tidak menjaga kuota artis-artis Indonesia, sampai-sampai artis Malaysia, tidak mendapat show. Jadi kita cuma mita protection dari penguasa” tutur Amy Search.

Bagi saya ini masih dalam batas kelumrahan, karena pertikaian semacam ini sebetulnya telah terjadi sejak zaman dulu.

Dan saat tampil dalam Satu Jam Lebih Dekat dengan Amy Search di TVOne yang disiarkan pada 24 Mei 2013, Amy tak lagi mengungkit-ungkit hal yang diucapkannya pada tahun 2008.Amy lalu berduet dengan Inka Christie menyanyikan hits mereka dulu “Cinta Kita” bahkan berduet dengan Candil mantan vokalis Seurieus menyanyikan lagu “Never Say Goodbye” nya Bon Jovi.Keduanya kompak bernyanyi.Sama sama melengking.Tak ada persaingan yang terlihat.

 

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Kekerabatan satu rumpun (Foto TVone)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s