Arsip untuk Juni, 2013

Reuni Band Adalah Bisnis ?

Posted: Juni 30, 2013 in Uncategorized

Slank reuni di Soundrenaline 2013 Stadion Maguwoharjo Yogyakarta 29 Juni 2013 (Foto Rolling Stone)

Slank reuni di Soundrenaline 2013 Stadion Maguwoharjo Yogyakarta 29 Juni 2013 (Foto Rolling Stone)

 Rasanya tak ada kehebohan yang paling utama disepanjang era 70an saat sebagian besar masyarakat dunia menginginkan The Beatles melakukan reuni setelah resmi membubarkan diri di tahun 1970.Bubarnya kuartet pop asal Liverpool ini,patut diakui sangat menggetarkan dunia.Siapa pun rasanya tak ikhlas dengan bubarnya The Beatles, band yang telah melakukan revolusi musik pop. Banyak upaya yang dilakukan orang agar The Beatles bersedia rujuk dalam sebuah reuni yang manis.The Beatles yang terdiri atas John Lennon,Paul McCartney,George Harrison dan Ringo Starr bergeming.Bahkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan petinju Muhammad Ali untuk membujuk rujuknya The Beatles pun berakhir dengan sia-sia.

Dalam salah satu wawancara yang dilakukan David Sheff dari majalah Playboy  terhadap John Lennon di tahun 1975 jelas-jelas John menampik gagasan untuk melakukan reuni The Beatles.

Ini kutipan wawancara majalah Playboy tersebut :

PLAYBOY: John, you’ve been asked this a thousand times, but why is it so unthinkable that the Beatles might get back together to make some music?

LENNON: Do you want to go back to high school? Why should I go back ten years to provide an illusion for you that I know does not exist? It cannot exist.

Secara logika, saya memang sependapat dengan apa yang dikatakan John Lennon perihal reuni the Beatles.Reuni adalah upaya paling tak kreatif.Reuni adalah upaya sentimental yang ujung-ujung bernuansa nostalgia.Reuni seperti sebuah perjalanan mundur yang nyaris tak berdampak apa pun kecuali nostalgia.Reuni bagaikan seorang sarjana yang kemudian kembali menekuni ulang pelajaran-pelajaran semasa SMA. Saya setuju dengan pendirian John Lennon yang keras dan lugas itu.

Dari kredo konsep dan kreativitas sebuah reuni memang tak memiliki alas an kuat untuk mengemukakan kembali gagasan-gagasan yang baru.

Dalam wawancara yang dilakukan majalah Shortlist pada Juli 2012, bassist Paul McCartney menjawab pertanyaan tentang reuni the Beatles. “Jika John dan George masih hidup kemungkinan besar kita berempat mau melakukan sebuah reuni.Hal itu bias saja terjadi Kita bias melakukan reuni untuk sebuah Big Anniversary,Big Charity atau apa saja.Tapi untungnya itu tak pernah kita lakukan sama sekali.I’m glad we didn’t “  tutur Paul McCartney.

Ketika The Police melakukan reuni di tahun 2007 tampaknya senada dengan apa yang diungkapkan Paul McCartney diatas tadi.The Police yang terdiri atas Sting,Stewart Copeland dan Andy Summers toh hanya melakukan tur reuni dengan memainkan sejumlah repertoar lama The Police.Mereka sama sekali tak lagi guyub untuk mengerjakan album baru dengan materi-materi lagu baru.Bagi The Police tur reuni hanya sebuah peristiwa bisnis belaka.Seusai tur reuni tiga personil The Police kembali ke habitat masing-,masing.

The Police melakukan tur reuni di tahun 2007

The Police melakukan tur reuni di tahun 2007

Mungkin agak berbeda dengan yang dilakukan Black Sabbath.Reuni Black Sabbath yang terdiri atas Ozzy Osbourne,Tony Iommi dan Geezer Butler ini tak hanya dilakukan di pentas-pentas pertunjukan melainkan menggarap karya baru pada album bertajuk “13” yang didampingi produser bertangan dingin Rick Rubin.

Lihatlah ajang konser Soundrenaline 2013  pada sabtu 29 Juni 2013 yang berlangsung di Stadion Maguwohardjo Sleman Yogyakarta ,setidaknya ada 3 band yang melakukan reuni manis dengan mengikutsertakan beberapa anggota original mereka masing-masing. Misalnya Dewa mengajak vokalis Ari Lasso dan drummer Tyo Nugros, lalu Slank menggamit keyboardis Indra Q dan gitaris Pay Burman serta Gigi yang mengajak gitaris Aria Baron,bassist Opeth Alatas serta dua drummer Budhy Haryono dan Ronald.Mereka tampil di panggung dengan aura nostalgia yang kuat.Para penggemar berdebar-debar menikmati musik yang mereka gebyar.

Reuni Gigi dari formasi pertama hingga sekarang

Reuni Gigi dari formasi pertama hingga sekarang

Penampilan reuni semacam ini jelas merupakan sebuah gimmick marketing yang masih memiliki tuah.Masih banyak penonton yang terpukau dengan hal-hal semacam ini.Ada peluang bisnis disitu tentunya.Kelompok Gigi misalnya telah melakukan tur formasi Gigi Reunion ini sejak tahun lalu.Banyak pihak yang tertarik dengan gagasan semacam ini. Apa yang dilakukan Slank,Dewa dan Gigi ini pasti lebih mengarah pada intuisi bisnis.Karena hingga detik ini, saya belum mendengar ketiga band ini melakukan workshop musik bersama-sama dan melakukan rekaman.

Berbeda dengan band jazz fusion Krakatau yang tahun ini juga mencanangkan gagasan untuk reuni.Selain melakukan sederet tur reuni, sekarang ini Krakatau yang terdiri atas Dwi Dharmawan,Pra Budi Dharma,Indra Lesmana,Donny Suhendra,Gilang Ramadhan dan Trie Utami juga melakukan rekaman karya-karya terbaru mereka.Hal yang sama juga dilakukan KLa Project yang juga merilis karya terbaru mereka di tahun 2011 lalu saat mereka melakukan sebuah reuni.

Bagi para penggemar reuni merupakan ajang surprising sekaligus nostalgia.Bagi para pemusik,reuni merupakan ajang silaturahmi yang memiliki dampak bisnis.Lalu menurut anda apa arti reuni sebuah band ?

 

Denny Sakrie

10 Album Terbaik Iwan Fals

Posted: Juni 28, 2013 in Tinjau Album

Iwan 

Memilih sebanyak 10 album terbaik dari hampir 40 album karya Iwan Fals sesungguhnya merupakan pekerjaan yang penuh dengan pilihan buah simalakama.Karena karya-karya Iwan Fals nyaris memiliki nilai yang esensial.Temanya pun beragam mulai dari tema gugat,kontemplatif hingga romansa yang memiliki gereget tak sama.Demikian pula dengan penataan musik yang tak pernah stagnan, karena selalu ada pergeseran-pergeseran dalam tekstur musiknya yang dikawal sedemikian banyak pemusik mumpuni negeri ini.Namun pada akhirnya toh saya berupaya untuk memilih 10 album yang bisa merepresentasikan atmosfer musikal Iwan Fals antara sosok seorang penyaksi dan penggugat dari era 80an hingga 2000an.

1.Sarjana Muda ( 1981)

Piringan Hitam Sarjana Muda rilis Maret 1981 (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Sarjana Muda rilis Maret 1981 (Foto Denny Sakrie)

Setelah merilis beberapa album secara impromptu mulai dari album yang berkolaborasi dengan sejumlah juara lawak mahasiswa seperti Canda Dalam Nada dan Canda Dalam Ronda serta album Perjalanan dan 3 Bulan, akhirnya Iwan Fals dipinang Musica Studio’s untuk sebuah album yang jelas benang merah musiknya.Iwan tak lagi memetik gitar sendiri sembari bernyanyi,kini didukung tatanan musik oleh Willy Sumantri disertai line up pemusik mumpuni.Ada penggesek biola jazz Luluk Purwanto hingga maestro Idris Sardi yang menyemaikan permainan biolanya dalam gaya bluegrass di lagu Oemar Bakrie yang kelak menjadi lagu signature Iwan Fals.Di album yang bertajuk Sarjana Muda ini secara tematik Iwan Fals tampak member porsi yang banyak pada tema kritik sosial.Dengan lirik-lirik yang gambling dan lugas,Iwan seperti seorang jurnalis yang memotret berbagai sisi kehidupan.Ada tutur tentang pengangguran,kaum marginal,ketimpangan sosial hingga ode kekaguman terhadap pemimpin bangsa yang hidup dalam kejujuran dan kesederhanaan pada lagu “Bung Hatta”.Juga tentang pengabdian seorang guru yang kerap tersia-siakan dalam “Oemar Bakrie”.Simak liriknya “Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri”.Nilai yang terjuntai sebagai paradoks adalah tema yang digurat Iwan.Walau terkadang Iwan tetap menyusupkan idiom yang menggelitik :

Garuda bukan burung perkutut

Sang saka bukan sandang pembalut

Dan coba kau dengarkan

Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Yang hanya berisikan harapan

Yang hanya berisikan khayalan

2.Opini (1982)

Album Opini (1982)

Album Opini (1982)

Banyak yang mulai membanding-bandingkan Iwan Fals dengan sosok penyanyi gugat Amerika Bob Dylan ketika menyimak album “Sarjana Muda” dan “Opini”.Apalagi cover album kedua album tersebut menyiratkan hal tersebut dengan foto Iwan yang tengah memegang harmonika.Seperti tajuk albumnya,Iwan memang ingin memaparkan opininya sebagai sosok seniman musik  yang menyaksikan berbagai rentetan peristiwa yang ada disekelilingnya.Iwan memintal beragam peristiwa yang kemudian dibingkai dalam berbagai frasa tema lagu-lagu yang dinyanyikannya.Dalam lagu “Galang Rambu Anarki”, Iwan bertutur tentang kelahiran anak pertamanya dalam potret kebanggaan seorang ayah yang diberi anugerah seorang anak,tapi disuatu sisi  harus menghadapi kenyataan hidup yang susah secara ekonomi. :

maafkan kedua orangtuamu
kalau tak mampu beli susu
bbm naik tinggi
susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
anak kami  kurang gizi

Lagu-lagu Iwan lainnya di album ini seperti “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak lagi”,”Opiniku”,”Tak Biru Lagi Lautku” maupun “Tarjimah dan Problemnya” memang sangat dekat dengan problematika sosial termasuk juga isu lingkungan.Tapi juga mendendangkan sebuah ballad bernuansa pop seperti “Antara Kau,Aku dan Bekas Pacarmu”.

Karya-karya Iwan di album “Opini” maupun “Sarjana Muda” kelak menjadi cetak biru gaya narasi lagu-lagu Iwan Fals .

3.Wakil Rakyat (1987)

Album Wakil Rakyat

Album Wakil Rakyat

Ini adalah album dengan narasi yang sangat menohok dan kena sasaran.Tema yang mungkin pada saat itu,zaman represif,  hanya menjadi bisik-bisik lirih dikalangan masyarakat ,oleh Iwan Fals justru tampil lugas membahana dalam lirik lagu yang bisa disebut nyaris tanpa kompromi.Keberanian label Musica Studio’s merilis album ini juga patut diacung jempol.Banyak yang seperti kebakaran jenggot menyimak deretan lirik yang ditoreh Iwan dengan judul “Surat Buat Wakil Rakyat” :

    Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

    Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu ’setuju’

Sontak album Wakil Rakyat jadi pembicaraan dimana-mana.Pencekalan lagu karya Iwan tersebut di TVRI malah membuat popularitas lagu ini kian merebak terutama saat itu memang tengah menjelang Pemilu.

Sejak menyimak lagu ini saya semakin yakin bahwa sosok Iwan Fals adalah penyanyi gugat Indonesia yang sesungguhnya.Dan seperti album-album sebelumnya Iwan selalu menyusipkan sebuah balada romansa,kali ini judulnya “Mata Indah Bola Pingpong” dengan musik oleh Bagoes A.Ariyanto.Lagu-lagu Iwan yang berpihak ke akar rumput pun selalu ada seperti “Libur Kecil Kaum Kusam”,”PHK” maupun “Potret Panen Mimpi Wereng

4.1910 (1988)

Album 1910 (1988)

Album 1910 (1988)

Seperti halnya Bob Dylan yang memasuki era rock atau going electric pada album Brick It All Back Home di tahun 1965,Iwan Fals tampaknya melakukan hal yang serupa pada album 1910 yang musiknya digarap sepenuhnya oleh Ian Antono gitaris rock dari God Bless.Ian Antono sendiri sebetulnya pernah dilibatkan dalam penggarapan album Iwan terdahulu yaitu “Sumbang” (1983). Namun kali ini Ian Antono terlihat ingin membentuk aura suara Iwan Fals menjadi lebih rock dan tegas.Saya merasakan tekstur suara Iwan Fals mulai berubah di album ini.Ketegasan suara Iwan Fals ditunjang pula dengan arransemen musik yang dracik Ian Antono.Album ini diberi judul 1910 berdasarkan judul lagu karya Iwan  “1910” yaitu tentang tragedi kecelakaan tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, pada tanggal 19 Oktober 1987. Namun ada 2 lagu yang mencuat sebagai hits dari album ini yaitu “Buku Ini Aku Pinjam” dengan gaya country rock ala The Eagles serta “Pesawat Tempurku”.Konon, Iwan melakukan kompromi dengan pihak label untuk menulis lagu  seperti “Buku Ini Aku Pinjam” dengan aura pop yang kuat.Toh lagu-lagu bernarasi gugat seperti “Balada Orang-Orang Pedalaman”,”Ada Lagi Yang Mati” hingga “Mimpi Yang Terbeli”. Iwan  toh masih bernyanyi dengan geram :

Hari-hari kita berisi hasutan.

Hingga kita tak tau diri sendiri
Melihat anak kecil mencuri mainan.

Yang bergaya tak terjangkau oleh bapaknya yang maling

5.Mata Dewa (1989)

Album Mata Dewa (1989)

Album Mata Dewa (1989)

Maecenas Setiawan Djody tertarik dengan sepak terjang Iwan Fals terutama saat menyimak album 1910 yang digarap Ian Antono.Setiawan Djody lalu ikut mendukung pendanaan album yang kemudian didistribusikan secara independen tanpa melalui campur tangan distributor kaset di Harco Glodok yang saat itu memiliki posisi tawar yang kuat dalam bisnis rekaman di negeri ini.Iwan Fals dipertemukan kembali dengan Ian Antono.Takaran rocknya lebih menggelegar dibanding album 1910.Setiawan Djody mengangsur lagu karyanya Mata Dewa, yang konon tercipta saat berselancar di pantai Kuta Bali.Di lagu “Mata Dewa” yang diberi sedikit aura musik Bali itu juga menampilkan suara Setiawan Djody disela-sela suara Iwan Fals.Tak semuanya lagu baru, Iwan menyanyikan kembali lagu-lagunya terdahulu seperti PHK,Puing,Berkacalah Jakarta serta Timur Tengah II yang kini diberi judul baru menjadi “Bakar”.Selain Mata Dewa, ternyata lagu “Nona” yang bernuansa ballad menjadi hits di radio-radio.Perubahan terbesar pada qua-vokal Iwan Fals terdengar jelas pada lagu “Air Mata Api” yang memuntahkan gelegak amarah Iwan Fals dalam meniti nada-nada yang terjal.Intensitas Iwan Fals sebagai vokalis menentukan makna yang ingin disampaikannya lewat lagu tersebut.Kelak saat bergabung dengan Kantata Takwa dan Swami, aura suara Iwan yang garang memberontak seperti itu menjadi kekuatan lagu-lagu yang dinyanyikannya.

Album Mata Dewa ini oleh Setiawan Djody beserta Airo Productions  bahkan siap melakukan promosi besar-besaran dengan melakukan Konser 100 Kita di seluruh Indonesia.Namun entah kenapa dengan alasan yang tak jelas,konser berskala mega ini kemudian tidak mendapat izin dari pihak berwajib.Spekulasi pun merebak, ada yang menduga pembatalan konser karena penguasa tak menyukai lagu-lagu protes Iwan Fals,ada juga yang menduga pencekalan konser Iwan Fals ini karena persaingan bisnis.Spekulasi hanya tinggal spekulasi.Namun album Mata Dewa bagi saya merupakan bentuk pencapaian baru lagi dalam perjalanan musik Iwan Fals.

6.Cikal (1991)

Album Cikal (1991)

Album Cikal (1991)

Ini adalah album Iwan Fals setelah keberhasilannya ikut mendukung proyek kolosal Kantata Takwa dan Swami antara tahun 1990 – 1991 .Iwan Fals menggunakan putri kedunya Cikal sebagai judul album.Musiknya terdengar lebih dalam.Arransemennya pun terasa lebih advance.Sederet pemusik rock dan jazz dipilih Iwan untuk mendukung albumnya kali ini.Ada Totok Tewel (gitar),Embong Rahardjo (saxophone,flute),Gilang Ramadhan (drums),Cok Rampal (gitar) serta Mates (bass).

Ada sedikit pergeseran dalam cara bertutur Iwan di album ini.Simak lirik “ Untuk Bram” :

Alam semesta.

Menerima perlakuan sia sia.

Diracun jalan napasnya.

Diperkosa kesuburannya
Rayat menilai.

Menerima penderitaan curang.

Digusur jalan hidupnya.

Digoda kemakmurannya.

Di album ini dengan sederet komposisi musik dan pola penulisan lirik yang lebih sastrawi pada akhirnya menjadikan sosok   Iwan seperti berada di garis paling depan jauh  meninggalkan penggemar-penggemanya.Tak semua orang mampu mencerna lagu-lagu seperti Intro’, ‘Untuk Yani’, ‘Cikal’, ‘Pulang Kerja’, ‘Alam Malam’, ‘Ada’, ‘Untuk Bram’, ‘Cendrawasih’, maupun ‘Proyek 13’,Album bagus ini sayangnya kurang mendapat apresiasi bagi para penikmat musik.

7.Belum Ada Judul (1992)

Belum Ada Judul (1992)

Belum Ada Judul (1992)

Entah kenapa setiap menyimak album ini saya selalu tergelitik membanding-bandingkan sosok Iwan Fals dan Bob Dylan singer/songwriter yang disemati sebutan protest singer.Bagi saya,di album ini Iwan Fals tampil paripurna atas namanya sendiri.Iwan adalah singer/songwriter yang menulis lagu sendiri sekaligus menyanyikannya.Posisi semacam ini jelas terasa lebih personal,lebih dalam dan lebih ekspresif. Menariknya lagi, penggarapan album “Belum Ada Judul” ini berlangsung secara live tanpa imbuh rekayasa.Iwan memetik gitar,meniup harmonica dan bernyanyi.Sangat bersahaja tapi memiliki banyak makna.

Simak lirik  Coretan Dinding :

Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota

Konon Iwan Fals dibayar sekitar Rp 200 juta oleh Handoko Kusuma dari Harpa Record untuk pengerjaan album yang berisikan lagu-lagu seperti Belum Ada Judul’, ‘Besar Dan Kecil’, ‘Iya Atau Tidak’, ‘Mereka Ada Dijalan’, ‘Potret’, ‘Di Mata Air Tidak Ada Air Mata’, ‘Ikrar’, ‘Aku Disini’, ‘Mencetak Sawah’, ‘Panggilan Dari Gunung’, serta ‘Coretan Dinding’.

Jika ingin menikmati karya Iwan Fals secara total,maka saya sarankan simaklah  album ini.

8. Hijau (1992)

Album Hijau (1992)

Album Hijau (1992)

Album ini memang agak berbeda dengan album-album Iwan Fals lainnya.Album ini digarap dengan pola jamming dengan menyertakan berbagai pemusik dari kecenderungan bermusik yang tak sama mulai dari Heirrie Buchaery (bass) ,almarhum  Jerry Soedianto (gitar) , Cok Rampal (gitar), Bagoes A.Ariyanto (keyboard), Iwang Noorsaid (keyboard), Arie Ayunir (drums) dan Jalu (kendang).Tema musik yang ditorehkan terasa lebih natural dengan semangat impromptu yang kuat.Ketukan kendang Jalu misalnya seolah menulusuri rusuk-rusuk bunyi yang keluar dari bunyi-bunyian keyboards atau dengan petikan gitar Jerry Sudianto yang berbasis rock progresif. Dialog antar pemain lewat instrumentasi masing-masing selanjutnya melebur dalam lirik-lirik yang terasa lebih kontemplatif dan impresif.Terkadang kita menemukan aura musik progresif ,ethno music hingga jazz sekalipun saat menyimak Lagu Satu’, ‘Lagu Dua’, ‘Lagu Tiga’, ‘Lagu Empat’, ‘Lagu Lima’, ‘Lagu Enam’, ‘Hijau’.

Iwan yang sebetulnya telah mempunyai jatidiri musik yang kuat toh ternyata masih menyimpan pelbagai kegelisahan dalam mengejawantahkan musiknya.Ini membuktikan bahwa Iwan Fals selalu terpicu untuk mencari dan mencari.Dan kearifan Iwan tetap termaktub dalam lirik yang ditulisnya :

Berlomba kita dengan sang waktu.

Jenuhkah kita jawab sang waktu.

Bangkitlah kita tunggu sang waktu.

Tenanglah kita menjawab waktu

9.Orang Gila (1994)

Album Orang Gila

Album Orang Gila

Almarhum Billy J Budiardjo yang selama ini kerap mendandani tata musik sejumlah album Ebiet G Ade kali ini  diminta menggarap album Iwan bertajuk Orang Gila.Entah kenapa di album ini Iwan kembali mengubah arah musiknya, yang jelas sangat berbeda dengan album Cikal atau Hijau yang saat itu oleh  beberapa penikmat karya Iwan Fals dianggap kurang bersahabat.

Musik yang ditata Billy J Budiardjo ini menurut saya terlalu plastis.Bermanis-manis dan cenderung illustrative.Meskipun tak mengurangi estetika penulisan lagu Iwan,namun penyajian kerangka arransemennya tak sesuai dengan karakter Iwan.Menurut saya,saat menyimak album ini Iwan seperti mengenakan busana yang tak sesuai dengan jatidirinya yang sesungguhnya.Sosok Iwan menjadi beda. Walaupun di album ini kita masih merasakan aura Iwan Fals lewat lagu “Satu Satu” atau “Orang Gila”.

Pola penulisan lirik yang tertuang pada lagu-lagu seperti   Orang Gila’, ‘Awang Awang’, ‘Satu Satu’, ‘Lagu Cinta’, ‘Doa Dalam Sunyi’, ‘Lingkaran Hening’, ‘Puisi Gelap’, ‘Menunggu Ditimbang Malah Muntah’ masih mutlak gaya Iwan Fals yang tak terbantahkan.

10.Suara Hati (2002)

Album Suara Hati

Album Suara Hati

Munculnya album Suara Hati ini bagi saya seperti bertemu lagi dengan sahabat lama yang terpisah oleh jarak dan waktu.Iwan kembali lagi menggurat karya setelah sekian lama menghilang pasca berpulangnya sang putra tercinta Galang Rambu Anarki pada tahun 1997.Kerinduan terhadap karya-karya Iwan Fals cukup lama memendam.Kesan pertama menyimak isi album ini secara keseluruhan adalah Iwan Fals telah berada di titik yang lebih tenang,berfikir jernih dan menghasilkan karya-karya yang lebih kontemplatif.Iwan banyak mengambil sisi kearifan dalam saripati peristiwa yang terjadi sehari-hari.Mari kita simak lirik lagu “Suara Hati” :

Kau dengarkah orang orang yang menangis?
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakah sakitnya orang yang terlindas?
Oleh derap sepatu pembangunan

Kau lihatkah pembantaian?
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan?
Lalu apa yang akan kau suarakan?

Pola penulisan lirik yang lugas,garang dan menohok secara perlahan mulai terkikis dalam lagu-lagunya.Iwan Fals lebih banyak melakukan permenungan-permenungan , salah satunya termaktub dalam lagu “Untukmu Negeri” :

Air mata darah telah tumpah.

Demi ambisi membangun negeri.

Kalaulah ini pengorbananTentu bukan milik segelintir orang
Belum cukupkah semua ini.

Apakah tidak berartiLihatlah wajah ibu pertiwi.

Pucat letih dan sedihnya berkarat.

Berdoa terus berdoa

Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone Special Edition’s Collectors Iwan Fals Juni 2013

Konser Dua Sahabat

Posted: Juni 24, 2013 in Konser
Keenan Nasution dan Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Keenan Nasution dan Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Tahun 1978 saat merilis album debut “Di Batas Angan Angan” Keenan Nasution menyanyikan lagu karya Fariz RM “Cakrawala Senja”.Di tahun 1979 Keenan meminta bantuan Fariz RM memainkan piano pada lagu “Embun” di album solo kedua Keenan “Tak Semudah Kata Kata”.Di tahun 1979 Fariz RM meminta Keenan memainkan drum pada lagu “Kutuk Seribu Dewa” di album debut Fariz RM “Selangkah Ke Seberang” yang dirilis Pramaqua.Sejak tahun 1978 Keenan dan Fariz RM tergabung dalam Badai Band, keduanya sama-sama bermain drum dalam duet drum yang memikat.
35 tahun kemudian Keenan dan Fariz melakukan kerjasama lagi dalam bentuk Konser Dua Sahabat yang akan digelar pada 27 Juni 2013 di Publo Kemang ,Jalan Kemang Raya 1 no 1 Jakarta Selatan.

Frau,Menenun Serpihan Bahagia

Posted: Juni 18, 2013 in Uncategorized
Single terbaru Frau "Tarian Sari" dari album kedua "Happy Coda" yang segera dirilis

Single terbaru Frau “Tarian Sari” dari album kedua “Happy Coda” yang segera dirilis

Clarissa Tamara tengah memecahkan rekor pebiola tercepat dengan membawakan karya klasik Flight Of The Bumble Bee yang ditulis oleh komposer Nikolaj Rimsy Korsakov untuk opera Thec Tale Of Tsar Saltan

Clarissa Tamara tengah memecahkan rekor pebiola tercepat dengan membawakan karya klasik Flight Of The Bumble Bee yang ditulis oleh komposer Nikolaj Rimsy Korsakov untuk opera Thec Tale Of Tsar Saltan

Setelah mencatat rekor baru dalam menggesek biola Clarissa didampingi Juri Saksi pemusik Widya Kristanti,Dian Hadi Pranowo dan Badrut Tamam Hoesein

Setelah mencatat rekor baru dalam menggesek biola Clarissa didampingi Juri Saksi pemusik Widya Kristanti,Dian Hadi Pranowo dan Badrut Tamam Hoesein

Akhirnya tercetak rekor 00:49.42

Akhirnya tercetak rekor 00:49.42

CT

Jika dulu kita selalu mendengar predikat si biola maut untuk maestro Idris Sardi.Maka baru baru ini kita mendengar predikat Penggesek Biola Tercepat di dunia yang rekornya dicetak oleh Clarissa Tamara, penggesek biola cilik Indonesia.Di usianya yang ke 14, Clarissa Tamara membuktikan talentanya pada tanggal 15 Juni 2013 dengan mencatat Rekor Dunia pada badan Record Holder Republic sebagai The Fastest Violinist dengan kecepatan 273 bpm (beat per minute) dalam waktu 49,42 detik.

Acara pencatatan rekor bermain biola tercepat ini berlangsung di Gedung Yamaha Music Jalan Gatot Subroto Jakarta pada sabtu 15 Juni 2013.

Clarissa dihadapan Saksi Juri seperti Badrut Tamam Hoesein,Dian Hadi Pranowo dan Widya Kristanti memainkan karya klasik Nikolai Rimsky Korsakov “Flight Of The Bumble Bee yang ditulis untuk opera bertajuk The Tale Of Tsar Saltan.

Clarissa Tamara, atau biasa dipanggil Icha dilahirka  di Jakarta, 28 April 1999 kini  adalah  pemain biola handal. Gadis remaja  ini memang telah menunjukkan keinginan dan  minat yang kuat terhadap instrumen  biola.Hebatnya hal ini telah terlihat saat Icha berusia dua tahun. Clarissa meminta sendiri kepada orang tua nya untuk mengkhursuskan Icha bermain biola. Dia pun mulai belajar memainkan biola sejak usia 4 tahun. Dan ternyata , Icha memang  berhasil menunjukkan prestasinya di dunia tersebut.

Saat berusia 5 tahun Icha berhasil meraih Juara I Kids Talent Contest, dan pada usia 6 tahun mulai mempersiapkan diri untuk membuat album pertamanya.

Ketika usianya bertambah menjadi delapan tahun, Icha telah meluncurkan album perdananya  bertajuk  “8” yang dirilis pada tanggal 8 Maret 2008.Kenapa disematkan judul “8” ? Konon angka 8 itu adalah angka istimewa,dan Icha memilih meluncurkannya pada tanggal 8 Maret tahun 2008.  Di album pertamanya ini Clarissa memadukan permainan biolanya dengan beberapa jenis musik seperti jazz, dangdut, dan pop. Album yang berisi 11 lagu ini 10 diantaranya adalah berupa musik instrumental dengan gesekan  biola Clarissa Tamara , tapi pada  lagu “Kring – Kring Halo” Clarissa Tamara justeru muncul sebagai seorang penyanyi.

Album yang digarap selama 2 tahun ini melibatkan beberapa musisi seperti  Badrut Tamam Hoesein (keyboards), Henry Lamiri (biola), Marcel Aulia (piano) ), Indro Hardjodikoro (bass) dan almarhum Uce Haryono (drums) .Setahun setelah album debut  Clarissa dirilis Clarissa berhasil meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2009 sebagai “Artis Terbaik” dan “Karya Produksi Terbaik” dalam bidang World Music/Instrumentalia.

Dan pada Desember 2009 Clarissa meriliskan album keduanya yang berisi lagu – lagu natal dan berjudul “9 Gift of Christmast”.

Band Alumni ITB Angkatan Tahun 1976 membawakan Heartbreaker Grand Funk Railroad

Band Alumni ITB Angkatan Tahun 1976 membawakan Heartbreaker Grand Funk Railroad

Band alumni angkatan era 80an membawakan lagu-lagu disko

Band alumni angkatan era 80an membawakan lagu-lagu disko

juri2

Saya tengah membacakan Penghargaan untuk Band Per Dekade

Saya tengah membacakan Penghargaan untuk Band Per Dekade

Band Alumni ITB 80an membawakan medley almarhum Chrisye

Band Alumni ITB 80an membawakan medley almarhum Chrisye

Ketiga juri, Denny Sakrie,Tohpati dan Nina Tamam saat mengumumkan hasil penjurian

Ketiga juri, Denny Sakrie,Tohpati dan Nina Tamam saat mengumumkan hasil penjurian

Sekitar dua bulan silam sahabat saya Bubi Sutomo, meminta saya untuk menjadi juri festival band.

“Festival band apa nih Bub ?” tanya saya.

“Saya dan teman-teman lagi bikin festival band antar alumni ITB Bandung dari berbagai angkatan” jawab Bubi.

Bubi Sutomo ini adalah salah satu pemain keyboard dari band fusion Indonesia 6 yang pernah menjadi Juara Light Music Contest tahun 1987 bersama Yovie Widianto,Iwan Wiradz,Yani Danuwijaya,Hentriesa,dan Desi Arnas Lahat.Bubi  adalah alumni ITB angkatan tahun 1984.

Sepengetuan saya ITB sejak era 60an,70an,80an  hingga sekarang banyak menghasilkan pemusik-pemusik yang handal baik dari genre pop,rock maupun jazz. Banyak contoh yang masih saya ingat misalnya Sam Bimbo dari jurusan Seni Rupa ITB.Almarhum Gito Rollies sempat pula terdaftar sebagai mahasiswa ITB,juga almarhum Harry Roesli hingga Fariz RM. Di era 80an ada juga nama nama seperti Tonny Sianipar maupun Ferina Zubeir yang kemudian dikenal secara luas saat teregabung dalam Elfa’s Singers.

“Wah seru tuh Bub…..oke gua siap nih jadi juri” pungkas saya.

Setelah itu saya dikabari bahwa gitaris Tohpati dan penyanyi Nina Tamam telah diminta pula untuk menjadi juri Festival Band Alumni ITB ini yang pertamakali telah diadakan pada tahun 2011.

Festival Band Alumni ITB ini berlangsung sehari penuh di Soehanna Hall,The Energy Building Jalan Sudirman Jakarta pada sabtu 8 Juni 2013.Pesertanya ada 20 band dimana satu band diberi kesempatan membawa dua lagu  secara bebas.Bebas dalam gunre/subgenre dan bebas berkreasiu apa saja.Wow gokil.Setiap band diberi kesempatan tampil sekitar 15 menit di pentas pertunjukkan.

Saya telah menghitung hitung berarti kami bertiga harus betah duduk menilai sekitar 5 jam lamanya.

Menurut panitia kompetisi ini diikuti oleh gabungan angkatan 60an,juga angkatan 1973,1975,!976,1979,1980,1981,1982,1983,1984,1985,1986,1987,1988,1989,1990,1991,1992,1995, dan 2004.Entah kenapa angkatan 2000an nya hanya diwakili angkatan 2004,itu pun yang tampil hanya satu orang yang bernyanyi sambil memetik gitar akustik.Ah,apakah generasi millenium sudah tak memiliki passion terehadap musik ? Entrahlah.

Menariknya masing-masing angkatan seperti merepresentasikan jamannya.Misalnya di era 60an yang memainkan blues rock Mustang Sally atau angkatan 1976 yang membawakan Heartbreaker-nya Grand Funk Rail Road hingga angkatan 80an yang memedeykan lagu-lagu Chrisye serta lagu-lagu disko.

Mereka semua tampil all out.Habis-habisan dan gokil semuanya.Sepertinya ritual musik seolah meluruhkan sekat-sekat usia maupun jabatan.Mereka seperti muda kembali seperti saat mereka tengah kuliah dulu yang lengkap dengan romantisme masa muda.

Musikalitas yangf dsiperlihatkan pun tak sekedar bermain-main belaka.Mereka serius menata arransemen,koreografi dan ekspresi bermusik.Seru seseru-serunya.

Aksi mereka yang dimulai sejak jam 12.30 hingga jam 19.00 malah membuat kami bertiga,saya Tohpati dan Nina Tamam juga merasa terhibur dan kepenatan saat menjrti pun nyaris tak terasa sama sekali.Luar biasa.Bahkan kami bertiga pun malah terpesona dengan aksi musikalitas para peserta.

Ini acara penyambung rasa dan penyambung silaturahmi yang menyenangkan.Sekalio lagi event semacam ini membuktikan bahwa musik adalah medium yang tepat untuk memintal nostalgia dan menenun silaturahmi antar angkatan.

ayny

Joey Alexander Sila saat menerima penghargaan di Ukraina Juni 2013

Joey Alexander Sila saat menerima penghargaan di Ukraina Juni 2013

Herbie Hancock memberikan  sambutan hangat terhadap pianis Joey Alexander Sila yang telah memainkan komposisi karyanya Watermelon Man pada 23 Desember 2011 di @atamerica

Herbie Hancock memberikan
sambutan hangat terhadap pianis Joey Alexander Sila yang telah memainkan komposisi karyanya Watermelon Man pada 23 Desember 2011 di @atamerica

Pianis Joey Alexander Sila dan drummer Sandy Winarta di Ukrain na Juni 2013

Pianis Joey Alexander Sila dan drummer Sandy Winarta di Ukrain
na Juni 2013

Mungkin banyak yang tidak mendengar kabar yang membanggakan tentang serorang pemusik cilik Indonesia yang menorehkan prestasi gemilang di mancanegara.Prestasi yang jelas membuat inspirasi bagi anak-anak bangsa lainnya apa boleh dianggap sesuatu yang tak menarik bagi para media yang berlomba-lomba meliput berrita berita sensasi murahan dan bodoh serta  tidak penting.

Pianis cilik Indonesia yang bernama Joey Alkexander Sila ini dan berusia jelang 10 tahun, ini tercatat berhasil meraih prestasi dalam  event dunia dengan meraih  Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill yang diselenggarakan pada 5-8 Juni 2013 di Odessa, Ukraina.

Joey ,lelaki cilik berkacamat ini menjentikkan jari jemarinya diatas  tuts piano dalam atmosfer jazz yang kental,menjadikan dewan juri jazz profesional dari berbagai negara seperti Ukraina, Rusia dan Perancis, berdecak kagum.Mereka  memuji bakat sang pianis cilik  sebagai anugerah tak ternilai dari Tuhan. Sebagai satu-satunya peserta paling muda, Joey Alexander berhasil mengungguli  43 peserta final lainnya yang datang  dari 15 negara.

Dalam  kompetisi improvisasi jazz yang  untuk pertama kalinya dilakukan  ini, para kontestan ini kemudian  dikelompokan  dalam 5 group band yang masing-masing terdiri dari drummer, bass gitar, gitar, piano, trumpet, trombone, saxsophone dan penyanyi. Selama 3 hari anggota band diganti dengan peserta yang berbeda-beda dan mereka berkompetisi memainkan beragam aliran jazz, seperti jazz rock, jazz funk, jazz soul, dan jazz fusion.”Saya kebnetulan banyak memainkan karya karya standar” tutur Joey Alexander Sila yang bertemu dengan saya didampingi orangtuanya pada kamis 13 Juni 2013 di Goethe Haus Menteng Jakarta.

Kompetisi Musik Jazz berlangsung secara terbuka dihadapan para dewan  juri dan para penonton . 5 kelompok  band secara bergantian bermain dengan menyajikan pola bermain dan pola  improvisasi jazz sekitar  satu jam dalam  Concert Hall yang memiliki daya tampung  sekitar 600 orang .

Kompetisi 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill Festival merupakan gagasan dari Mikhail Freidlin, organizator dan produser dari Odessa Jazz Carnival . Tujuan penyelenggaraan Festival ini adalah untuk menemukan musisi jazz yang kuat dalam berimprovisasi dan memperkenalkannya bakat musisi tersebut kepada kjhalayak disamping keinginan  keinginan untuk menaikkan nilai komersial dari musik jazz itu sendiri.

Joey-Alexander-Sila-________-______-1

Penonton yang antusias dan bergairah ,tampaknya memberikan semangat yang tinggi bagio pianis cilik Joey Alexander Sila.Joey sama sekali tidak kagok maupun nervouis.Passion nya yang tinggi dalam menggeluti musik tampaknya menghalau rasa gelisahnya.Joey memang tampak penuh percaya diri menggerayangi tuts piano dengan musik jazz.Penampilan Joey dalam bermain jazz didampingi drummer jazz berbakat Sandy Winarta.Secara kebetulan baik Joey dan Sandy memang berasal dari Denpasar Bali.Joey sendiri memang mengenal Sandsy Winarta dengan baik.

Bakat musik terutama jazz yang dimiliki Joey memang telah diendus oleh kedua orang tuanya Denny Sila dan Fara.Menurut ayahnya Denny, Joey , telah memperlihatkan talenta dan minatnya  yang tinggi terhadap permainan  piano sejak berusia 5 tahun. Di bawah asuhan ayahnya,

Joey Alexander pun  mengikuti berbagai festival jazz antara lain Java  Jazz International Festival, Jakarta I, World Youth Jazz Festival di Kuala Lumpur. Hingga suatu hari tepatnya tanggal 23 Desember 2011 Joey juga  diundang oleh UNESCO untuk bermain di depan tokoh jazz dunia yang juga berperan sebagai Unesco Goodwill Ambassador , Herbie Hancock, di  @atameri

ca Jakarta yang berada di lantai 3 Pacifiuc Place Sudirman Jakarta.

Herbie Hancock terperangah saat Joey memainkan komposisi karyanya Watermelon Man dengan fasih diatas tuts grand piano.

Namun sayangnya, tetap saja sosok Joey saebagai anak Indonesia berbakat musik luar biasa tak pernah diketahui khalayak.

Akan tetapi kemenangan Joey Alexander  dalam event kompetisi jazz  tersebut telah mengharumkan nama  Indonesia di Ukraina dan tentunya di mata internasional. Dengan meraih prestasi di kompetisi jazz tersebut , Joey jpun mendapat peluang untuk tur keliling Eropa dan rekaman album jazz .

Piringan Hitam promo  Iwan Fals dari album Opini yang dirilis pada tahun 1982 (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam promo Iwan Fals dari album Opini yang dirilis pada tahun 1982 (Foto Denny Sakrie)

iwan-fals

Piringan Hitam Iwan Fals Unbtuk Promo Radio (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Iwan Fals Unbtuk Promo Radio (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Iwan Fals dan KPJ (Kelompok Pengamen Jalanan) (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Iwan Fals dan KPJ (Kelompok Pemusik Jalanan) (Foto Denny Sakrie)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kali ini saya ingin berbagi tentang kejadian berburu piringan hitam,tepatnya piringan hitam Iwan Fals, seorang trubadur Indonesia yang fenomenal.

Setahun lalu Vincent Rompies mantan personil Club 80s menghubungi saya.Dia mengutarakan niatnya untuk mulai mengumpulkan piringan hitam.”Kalo cari piringan hitam Iwan Fals dimana ya ? Biasanya berapa duit ? ” kurang lebih demikian pertanyaan Vincent ke saya.

Lalu saya balas menjawab :”Wah……piringan hitam Iwan Fals sekarang memang agak sulit menemukannya.Rada rare0lah.Kalau pun ada,biasanya penjual atau pedagang piringan hitam bekas akan mematok dengan harga yang tinggi.Kadang sampai ke harga yang gak masuk akal”.

Dan kenyatannya memang demikian,nilai harga piringan hitam Iwan Fals yang dicetak oleh Musica Studios di sepanjang era 80an kini harganya melonjak tinggi ke langit.Saya masih ingat ada seorang pedagang piringan hitam bekas di Jalan Surabaya sekitar tahun 2006 mematok piringan hitam promo Iwan Fals bertajuk “Sais Pedati” dengan harga Rp.500.000. Si pedagang mungkin merasa pantas mematok harga sebesar itu mengingat vinyl tersebut dicetak dalam format 7 inch ,hal yang jarang dilakukan oleh Musica Studios.Toh dengan harga segila itu, ada saja orang yang rela membelinya.Mungkin mereka merasa pantas untuk membelinya dengan asumsi itu adalah barang langka yang sulit untuk dicari lagi.

Di era 80an hampir semua perusahaan rekaman di Indonesia termasuk Musica Studios sebetulnya sudah tidak lagi memproduksi album rekaman dalam bentuk vinyl atau piringan hitam.Tapi untuk mendistribusikan album album produksi mereka ke berbagai stasiun radio sebagai alat promosi,para label di Indonesia masih mencetak piringan hitam dalam jumlah terbatas.Biasanya untuk satu album,para label mencetak sekitar 1000 keping piringan hitam yang kemudian dibagi-bagikan secara gratis ke stasiun radio swasta yang berada dibawah naungan PRSSNI.

Beberapa stasiun radio malah tidakm memutar format piringan hitam tersebut karena nmereka merasa lebih praktis jika memutar atau mengudarakan lagu dengan menggunakan format kaset yang massal.Piringan hitam yang kerap disebut Promo Album itu akhirnya hanya disimpan di bagian kepustakaan atau diskotek radio yang bersangkutan.Di dalam piringan hitam tersebut biasanya tercantum tulisan “KHUSUS UNTUK RADIO TIDAK DIJUAL”.

Dan pada akhirnya pringan hitam promo itu toh dijual oleh pengelola radio ke Jalan Surabaya.Saya masih ingat album album promo tersebut oleh para pedagang di Jalan Surabaya di jual lagi dengan harga yang relatif murah antara Rp 3500 hingga Rp 5000.Saat itu memang belum merebak demam vinyl atau piringan hitam.

Harga piringan hitam promo ini mulai melonjak dan membumbung tinggi harganya sejak paruh era 2000an.Album-album yang dianggap berharga dan memiliki nilai kelangkaan yang tinggi,harganya bisa beberapa kali lipat.Dan yang membeli pun bukan hanya bangsa kita tapi bangsa asing yang kemudian mereka bawa ke negaranya masing-masing.Miris kan ?

Nah begitulah.Saya akhirnya pun mulai ikut membeli berbagai piringan hitam karya negeri sendiri.Piringan hitam Iwan Fals produksi Musica Studios mulai dari 1982 hingga 1987 itu saya beli per keping seharga Rp 100 ribu pada tahun 2007 di salah satu kios penjual piringan hitam bekas di Jalan Surabaya.Tadinya si pedagang mematok Rp 125 ribu perkeping, tapi karena saya beli lebih dari 10 keping, dia memberi diskon tipis hingga menjadi Rp 100 ribu.

Kini saya mendengar ada pembeli yang desperate mencari piringan hitam Iwan Fals dengan harga antara Rp 1 hingga 2 juta.Bukan main.

Kelompok Eka Sapta di halaman Metropolitan Studio yang sekarang berubah menjadi Musica Studio's

Kelompok Eka Sapta di halaman Metropolitan Studio yang sekarang berubah menjadi Musica Studio’s

Hampir dipastikan, generasi sekarang nyaris tidak mengetahui eksistensi kelompok musik Eka Sapta. Inilah salah satu band papan atas Indonesia yang malang-melintang dalam industri musik pop era 1960 -1970. Dalam band ini berkumpul sederet pemusik sohor mulai dari Bing Slamet, Idris Sardi, hingga Ireng Maulana. Lalu bagaimana sejarah Eka Sapta?

Dari sampul belakang piringan hitam Eka Sapta tersemat sejumput kisah tentang Eka Sapta:

Berdasar ide jang baik dari sekelompok seniman-seniman ibukota untuk menjumbangkan dharma bhaktinja demi memadjukan musik berselera baik ke tengah masjarakat ramai,memadjukan karja komponis komponis Indonesia untuk langkah pertama, maka pada tanggal 1 Djuni 1963 jang lalu lahirlah sebuah perkumpulan musik jang diberi nama “Eka Sapta” dibawah pimpinan Sapta Tunggal. Suatu keanehan dari perkumpulan musik ini ialah, tidak mempunjai seorang pimpinan tetap, melainkan semua anggautanja setjara bergilir memegang pimpinan. Semua anggauta berhak mengeluarkan pendapat pendapatnja demi memadjukan Eka Sapta untuk mempertinggi mutu musik jang ditondjolkan kemuka. Karena itu pula Eka Sapta djalan sendiri ditengah-tengah kesibukan dunia musik sekarang ini – mengemukakan berbagai tjorak dan pelbagai warna musik ketengah-tengah chalajak ramai. Adapun anggauta-anggauta dari orkes Eka Sapta ialah Bing Slamet (gitar, perkusi, vocal), Idris Sardi (biola, bass), Itje Kumaunang (gitar, composer), Ireng Maulana (gitar), Benny Mustafa Van Diest (drums), Darmono (vibraphone) dan Muljono (piano, organ).

Dream Team
Singkatnya, Eka Sapta diniatkan menjadi kelompok musik serba bisa. Yang mampu memainkan musik pop dari berbagai sub-genre. Eka Sapta saat itu telah dianggap sebagai kelompok musik pengiring yang berkualitas. Apalagi latar belakang para pemusiknya yang cukup beragam. Idris Sardi, misalnya, memiliki latar belakang musik klasik dan orkestrasi. Itje Kumaunang adalah gitaris yang hirau pada musik jazz dan pencipta lagu terkenal ‘Pengembara’ dan ‘Kasih Mesra’.

Ireng Maulana dan Benny Mustafa Van Diest, saat itu telah dikenal sebagai pentolan kelompok The Leading Stars. Belum lagi Bing Slamet, seniman serba bisa yang piawai bermain gitar, menyanyi, menulis lagu, bermain film, dan melawak. Tak berlebihan jika Eka Sapta disebut sebagai The Dream Team.

Kekuatan dari segi musikal Eka Sapta lebih terangkat lagi terutama bersinerginya kelompok ini dengan Yamin Widjaja. Dia sahabat Bing Slamet sejak kecil yang berkecimpung dalam industri musik Tanah Air. Yamin yang kerap dipanggil Amin Cengli ini berperan sebagai penyandang dana Eka Sapta. Mulai dari fasilitas untuk berlatih, menyediakan instrumen musik mutakhir hingga menggiring Eka Sapta masuk dapur rekaman. Amin Cengli yang memiliki toko elektronik di kawasan Pasar Baru memang telah merintis mendirikan perusahaan rekaman seperti Bali Record, Canary, Mutiara, dan kemudian menjelma menjadi Metropolitan yang kelak berubah menjadi Musica Studio’s pada awal dekade 1970-an.

Konsep Instrumental
Saat Eka Sapta melangkah ke dunia rekaman, popularitas kelompok musik instrumental seperti The Ventures lewat hits ‘Walk Don’t Run’ dan ‘Hawaii Five-O’ maupun The Shadows lewat hits ‘Apache’ dan ‘Kon Tiki’ tengah meretas. Eka Sapta merasa warna musik kedua grup itu dekat dengan konsep mereka sebagai kelompok instrumental yang menaruh porsi gitar di undakan pertama. Gaya duo gitar Hank Marvin dan Bruce Welch dari The Shadows maupun duo gitar Bob Bogle dan Don Wilson dari The Ventures terasa mempengaruhi konsep musik Eka Sapta. Sebagai pemain bas Eka Sapta, Idris Sardi menggemari teknik bermain bass Nokie Edwards dari The Ventures.

Jadi, tak heran jika debut album perdana Eka Sapta lebih memilih memainkan karya-karya instrumental seperti ‘Tirtonadi’ (ciptaan Gesang), ‘Gambang Suling’ (ciptaan Ki Narto Sabdo), ‘Euis’ (ciptaan M Jasin), ‘Kalau Djodo’ (ciptaan R Maruthi), ‘Gadisku’ (ciptaan Ireng Maulana), ‘Herlina’ (ciptaan Bing Slamet), serta ‘Titian Nan Lapuak’ dan ‘Suling Bambu’.

Selain itu, Eka Sapta pun mulai mengiringi sejumlah penyanyi dalam album-albumnya seperti album EP (Extended Play) bertajuk Kasih Remadja. Album ini menampilkan duet antara Ireng Maulana dan Alice Iskak melantunkan empat lagu yaitu ‘Hey Paula’, sebuah hits yang dipopulerkan duet Paul & Paula, ‘Dua Insan Di Dunia’, ‘Dara Manis’, dan ‘Kasih Remadja’. Di album EP lainnya, Eka Sapta mengiringi Bing Slamet dalam album Bing dan Giman Bernjanji. Di album yang berisikan lagu seperti ‘Bunda Piara’, ‘Bing dan Giman Bernjanji’, ‘Burung Nuri’, dan ‘Kunanti Djawabmu’ ini, Bing Slamet berduet dengan Giman yakni suara Bing Slamet sendiri yang meniru album Alvin & The Chipmunks.

Yang pantas dicatat adalah album Eka Sapta bertajuk Varia Malam Eka Sapta yang dirilis Bali Records pada tahun 1964. Eka Sapta di sini mengiringi berbagai penyanyi yang tenar saat itu, seperti Tetty Kadi (‘Semalam Di Kuala Lumpur’), Lilies Surjani (‘Ulang Tahun Kakek’), Trio Parsito (‘Django’), Yanti Bersaudara (‘Sang Bango’), Munif (‘Bunga Nirwana’), Elly Kasim (‘Mudiak Arau’), Elly M Harris (‘Kau Pergi Tanpa Pesan’) serta dua karya instrumental, yaitu ‘Bingkisan Eka Sapta’ yang dibawakan Eka Sapta dan penampilan biola Idris Sardi dalam ‘Bingkisan Idris Sardi’.

Album ini memang diangkat dari pertunjukan Malam Eka Sapta Non Stop Revue yang berlangsung di delapan kota. Di sampul belakang album tertulis sebuah liner notes: “Hadirin sempat tertegun mengagumi suatu rangkaian tari, njanjian, lawak, dan musical show jang terpadukan dengan harmonis disirami permainan tjahaja dengan utas-utas jang gemerlapan berwarna sedap, indah, dan dekorasi jang menakdjubkan. Ini semuanja berlangsung pada “Malam Eka Sapta Non Stop Revue”.

Pergantian Formasi
Di saat Eka Sapta merambah popularitas, secara bersamaan muncul problema. Beberapa personelnya, seperti Benny Mustafa Van Diest, Ireng Maulana, dan Idris Sardi disibukkan dalam kegitan nonmusik. Solusi pun dicari. Beberapa personel baru masuk ke dalam formasi Eka Sapta, di antaranya drummer Eddy Tulis, bassist Enteng Tanamal, dan gitaris Kibout Maulana.

Tanpa terasa, personel Eka Sapta semakin bertambah dengan masuknya Hengky Firmansyah (gitar), Jopie Reinhard Item (gitar), Ariffin Z (terompet) dan W Wiharto (saksofon, flute). Selain itu juga terbentuk Eka Sapta Junior yang terdiri atas Jopie Reinhard Item (gitar), Rully Djohan (kibor), Papo Parera (bas), Ronny Makasutji (bas), Henky Makasutji (drum) dan Henky Firmansyah (gitar).

Terkadang, formasi Eka Sapta dan Eka Sapta Junior menyatu, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman. Formasi inilah yang kemudian merilis album bertema musik keroncong modern yaitu Eka Sapta Kerontjong (1970) dengan lagu ‘Tjinta Pertama’, ‘Pulau Seribu’, ‘Love Is Blue’, ‘Don’t Forget To Remember Me’, ‘Whiter Shade Of Pale’, dan album The Best Of Romantic Keronchong (1972) dengan lagu ‘Spinning Wheel’, ‘Nobody’s Child’, ‘For Mama’, ‘I Can’t Stop Loving You’, ‘Song Of Joy’. ‘Aquarius’, dan banyak lagi yang diproduksi oleh Canary dan Metropolitan Studio milik Amin Widjaja.

Tak pernah bubar
Mendung menyelimuti Eka Sapta, ketika satu per satu personelnya berpulang ke rahmatullah. Di awali dengan meninggalnya Bing Slamet sang inspirator pada tanggal 17 Desember 1974 lalu disusul dengan kepergian Eddy Tulis. Lima tahun berselang Amin Widjaja berpulang pada Agustus 1979. Bahkan para personelnya mulai disibukkan oleh proyek musik sendiri-sendiri. Ireng Maulana dan Benny Mustafa membentuk kelompok jazz Ireng Maulana All Stars. Jopie Item pun merancang grup jazz rock dengan nama Jopie Item Combo. Idris aktif sebagai penata musik film yang berkali kali meraih Piala Citra. Enteng Tanamal menjadi produser rekaman dan menggagas Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Alhasil, Eka Sapta hanya tinggal nama belaka. Secara resmi Eka Sapta memang tak pernah membubarkan diri.

Di tahun ini bahkan terbetik kabar bahwa Eka Sapta akan melakukan reuni yang ditandai dengan merilis sebuah album pada perusahaan rekaman peninggalan Amin Widjaja yaitu Musica Studio’s. Personel Eka Sapta yang dipastikan akan mendukung album ini antara lain Jopie Item, Benny Mustafa, Kibout Maulana, Idris Sardi. Penampilan Eka Sapta ini akan mengiringi putra-putri mereka bernyanyi. Ada Audy (putri Jopie Item), Andrea (putri Ireng Maulana), Lukman Sardi (putra Idris Sardi), bahkan cucu Bing Slamet (putra Adi Bing Slamet) telah dijadwalkan ikut dalam sesi rekaman reuni Eka Sapta.
Mari kita nantikan kebangkitan Eka Sapta.

DISKOGRAFI
1. Burung Kutjitja – Eka Sapta (Mutiara MEP 007 – 1963)
2. Eka Sapta – Eka Sapta (Mutiara ML 10001 – 1963)
3. Kasih Remadja – Eka Sapta , Ireng Maulana & Alice Iskak (Bali BER 007 -1963)
4. Bing dan Giman Bernjanji – Eka Sapta & Bing Slamet (Bali BER 008 – 1963) 5. Varia Malam Eka Sapta Non Stop Revue – Eka Sapta (Bali BLM 7002- 1969)
6. Bing Slamet dan Eka Sapta – Eka Sapta (Bali BLM 7007 – 1970)
7. Kerontjong – Eka Sapta (Canary 1970)
8. The Best Of Romantic Keronchong (Canary/Metropolitan 1972)

Tulisan ini dimuat di Harian Republika Senin, 08 Oktober 2007
9. Album Kenang Kenangan Bing Slamet – Eka Sapta (Bali Record BL C01 1975)

Sketsa Cinta Sang Pemimpi

Posted: Juni 5, 2013 in Uncategorized
Berlian Hutauruk dan Erros Djarot di Studio Aquarius Pondok Indah (Foto Koran Tempo)

Berlian Hutauruk dan Erros Djarot di Studio Aquarius Pondok Indah (Foto Koran Tempo)

Andai bulan tak bersinar lagi
Matahari tak terbit kembali
Entah apa yang terjadi
Pada makhluk hidup yang tinggal di dunia

Dengan notasi berkarakter Prancis, Farman Purnama, penyanyi tenor kelahiran 30 April 1977, menyenandungkan komposisi karya Erros Djarot, Andai Bulan, dalam album terbaru Erros bertajuk Karena Cinta Kita Ada, yang bakal dirilis pada Februari 2009.

Lagu berkarakter muram ini sesungguhnya bukan karya terbaru Erros. Karya ini pernah dinyanyikannya dalam album solo keduanya, Manusia Manusia (Musica Studio’s 1985). Lagu yang semula berperangai pop itu berubah menjadi klasikal. Andi Rianto, yang bertugas memoles musiknya, memberikan sentuhan orkestra yang classy.

Ini ditunjang pula dengan interpretasi Farman yang pas. Kesan dramatis sedikit mencuat ketika Farman mengekspresikannya dalam penafsiran yang tepat. Farman memang telah terbiasa membawakan karya-karya klasik milik komposer klasik legendaris, semisal Schubert, Rachmaninoff, Bach, hingga Ananda Sukarlan.

Kesan elegan dan classy memang tertatah dalam album yang didukung sederet penyanyi ini: selain Farman, ada Lea Simanjuntak, Lucky Octavian, Annisa B.V., Berlian Hutauruk, dan Slamet Rahardjo. Simaklah ekspresi dan dinamika vokal yang ditisik Berlian Hutauruk dalam lagu Ketika Cinta Kehilangan Kata, yang menjadi penguak isi album ini. Sepertinya Erros memang menulis lagu ini untuk range suara Berlian Hutauruk, yang melebihi tiga oktaf.

Berlian memberikan ruh pada kata demi kata yang dilantunkannya. Dengan pengalaman bernyanyi yang extravaganza, Berlian jelas tak gamang mengimbuh dinamika. Pada karya serupa, Lea Simanjuntak pun terlihat terampil menaklukkan lagu yang memang sulit ini. Meskipun, jika ditilik lebih jauh, Lea masih tertinggal jauh dalam membingkai ekspresi, walau secara teknis telah melampauinya.

Apa boleh buat, karya terbaru Erros dalam zona musik pop ini mesti dibanding-bandingkan dengan pencapaian Erros dalam album soundtrack film Badai Pasti Berlalu pada 1977. Setidaknya karena tema yang digurat, seperti halnya Badai Pasti Berlalu, masih tetap seputar cinta. Komposisi dan struktur notasi yang diangsurkan Erros berkarakter Eropa, seperti halnya pada lagu-lagu Semusim, Merpati Putih, atau Badai Pasti Berlalu, dalam album Badai Pasti Berlalu.

Pembedanya, yang utama, album Karena Cinta Kita Ada dibingkai dengan anasir orkestra serta gaya menyanyi yang lebih serius dan klasikal. Simaklah, lagu Bisikku, yang dinyanyikan Lucky Octavian, terasa lebih berat jika dibanding versi orisinalnya, yang dinyanyikan Erros bersama iringan Barong’s Band, dalam album soundtrack Kawin Lari (Nirwana Record, 1976). Erros, dengan dukungan Andi Rianto sebagai music director, tampaknya ingin melakukan pengayaan pada lagu bertema kasmaran itu.

Tapi kritik perlu disampaikan kepada penyanyi seperti Lucky Octavian maupun Anissa B.V., terutama dalam tafsir atas lagu yang mereka lantunkan. Mereka baru mencapai sebuah fase: menyanyi dengan benar. Bukan memberi ruh atau jiwa pada struktur lagu yang mereka senandungkan. Ini adalah masalah besar yang banyak diidap para penyanyi zaman sekarang.

Hal yang pasti: album ini jelas sekali sengaja menjauh dari kredo industri musik yang memberhalakan sensasi dan komersialitas belaka. Erros seperti tengah melakukan antitesis, saat hiruk-pikuk panggung industri musik pop dengan tema musik seragam dan tanpa jati diri.

Situasi semacam ini mengingatkan kita pada 1977, ketika kuantitas menindih kualitas bermusik dalam industri musik pop negeri ini, tiba-tiba muncul album Badai Pasti Berlalu dari komunitas musik yang dihuni Erros Djarot, Chrisye, Yockie Suryoprayogo, Berlian Hutauruk, Fariz R.M., Debby Nasution, dan Keenan Nasution.

Di era ring-back tone diperlakukan bagai raja ini, siapa sih yang berani mengedepankan karya seperti Sendiri Menembus Malam, yang dinyanyikan Slamet Rahardjo? Erros memang seolah ingin menantang gelombang arus besar. Lagu berkarakter laid back jazz karya Erros itu pasti akan dihindari media radio dan televisi yang tetap memancang pakem: hanya menayangkan musik pop arus besar.
Sebagai seniman, Erros nyatanya tak menghiraukan dogma pasar itu. Dia tetap menorehkan karya dengan hati.

Simaklah lagu-lagu lainnya, seperti Melayang, Heningnya Malam, Renungan Sendiri, Bunga Sedap Malam, Rindu, dan Maafkan Daku, yang seolah ingin meneladani pemusik era sekarang bahwa lagu cinta sesungguhnya tak harus berkonotasi cengeng dan mendayu-dayu.

Di tengah kian banyaknya pemusik pop yang bersikap pragmatis, Erros tetap kukuh mengekspresikan karya-karyanya. Dia bagaikan pemimpi yang tetap lelap dalam peraduan. ***

DENNY SAKRIE, pengamat musik

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo  Senin, 19 Januari 2009