Kisah Album Jurang Pemisah dan Badai Pasti Berlalu Di Mata Johannes Soerjoko

Posted: Juni 3, 2013 in Kisah, Wawancara

Sample Piringan Hitam Jurang Pemisah produksi Pramaqua 1977 yang dibagikan ke radio-radio swasta (Foto Denny Sakrie)

Sample Piringan Hitam Jurang Pemisah produksi Pramaqua 1977 yang dibagikan ke radio-radio swasta (Foto Denny Sakrie)

bpb_480

Beberapa tahun silam tepatnya tahun 2009, saat itu sebuah label Indonesia Aquarius Musikindo merayakan hari ulang tahunnya yang ke 40.Saya sempat melakukan wawancara panjang dengan pendiri sekaligus pemilik Aquarius yaitu pak Johannes Soerjoko atau yang kerap dipanggil pak Ook. Salah satu bagian yang menarik bagi saya dari serangkaian wawancara panjang itu adalah mengenai munculnya dwi tunggal Yockie-Chrisye di label PramAqua, yaitu kongsi antara radio Prambors dan Aquarius.

Nah berikut ini petikan dari sejumlah wawancara saya dengan pak Ook.Selamat mengikuti !

Inilah tutur kata pak Ook tentang album Jurang Pemisah dan Badai Pasti Berlalu :

Kita merekam album Yockie Jurang Pemisah dengan guest vokal Chrisye ditahun 1977  , setelah album selesai  , kita  pilih lagu jeritan seberang sebagai single nya , lagu bagus , musik dan vokal Chrisye bagus  , liriknya  (!)  memang bukan untuk semua orang karena  lirik nya   berbicara tentang situasi social yang terjadi diwaktu nya  , Pendengar   diminta mendengarkan   jeritan anak anak RMS  di  negeri Belanda ,  James F Sundah  menulis lirik ini karena  terketuk hatinya dengan kejadian diseberang sana di negeri Belanda  dimana  anak anak Maluku warga negara Belanda beraksi , Ya  mereka kembali  lagi  melakukan action  dengan menduduki  KBRI  di summer 1977  ,   setelah sebelumnya tahun lalu  ( 1976)  mereka telah membajak  kereta api di  Groninngen dan juga menduduki sebuah sekolah SD disebuah kota kecil  di Belanda  .  saya tidak keberatan untuk keluar dari lirik  rengekan cinta  gaya Indonesia.Mari  kita coba  menggunakan lirik  kehidupana sosial  di lagu pop negri ini  seperti John Lennon menulis lirik  lagu A Day In The Life yang dikenal dunia .

Alamrhum Tono Sebastian (Prambors Rasisonia) telah melakukan tugasnya untuk bertemu dengan beberapa program director    radio di Jakarta ,  Kita kirim piringan hitam  sample ke  Radio  radio  diseluruh Indonesia  , ternyata  lagu lagu dari album jurang pemisah  kurang mendapat respon  yang baik , tidak terlihat ada signal  permintaan   . Ada  kemungkinan bahwa  radio  kurang suka  atau belum bisa menerima  .  sehingga    sample PH  dimasukan  saja kedalam rack dan tidak pernah diputar( masuk kotak )   , atau ada yang putar tapi memang pasar belum bisa menerimanya . Sulit  untuk memonitor kegiatan radio  swasta diwaktu itu , tidak seperti sekarang kita ada email dan fax  menerima laporan secara rutin .

 Dengan reaksi pasar seperti ini , rilis album ditunda , kita harus jujur mungkin liriknya yang menyentuh kita tapi kurang  menyentuh pendengar lainnya.

 

Ada rencana untuk tambah single ,hanya itu yang kita bisa lakukan  tapi  hal menambah single  setelah album rampung  belum menjadi suatu kebiasaan  di industri kala itu   . Pramaqua masih berhati hati tidak ingin menyinggung perasaan Yockie dengan berkata terus terang  .Saya tidak tahu apakah Tono menyampaikan atau tidak hasil meeting kita  bahwa album ini  kita nilai adalah sebuah album yang bagus,  kita suka  tapi tidak ada keytracknya  .

Chrisye dan Yockie mampir ke kantor Aquarius  , sebelum mereka masuk ke studio  menggarap album Badai  ,  Tono yang memang mangkal di kantor Aquarius  setengah hari  setiap hari kerja nya , karena dia adalah  motornya Pramaqua  yang berhubungan  dengan artis , mengawal produksi nya  dan melakukan persiapan rilis album .

Saya mengambil kesempatan untuk  mempedengarkan lagu Spring Rain dari Bebu Silvetti  kepada  Chrisye  , saya rekam di kaset dan saya berikan kepadanya  dengan pesan , coba deh  Christ  buat lagu ,  dengan pola beat  seperti ini ,   harapan saya Pramaqua akan tambah lagu yang bisa diterima  oleh pasar di dalam album  Jurang . .Tak lama berselang  lahirlah sebuah lagu oleh Chrsiye   berjudul  “Serasa ”  tapi bukan untuk ditambahkan dalam  album Jurang Pemisah melainkan dimasukan kedalam album Badai Pasti Berlalu.

Dari pengalaman Prambors Hits , Pramaqua ingin mengunakan metode yang sama yaitu popularkan dulu lagunya sampai ada  yang request baru kita rilis albumnya  , kita ingin mengkondisikan dulu sebuah Hits dialbum yang akan kita rilis  .

Ternyata keadaan berbicara lain , album  Badai  Pasti Berlalu akhirnya keburu keluar  duluan oleh Irama Mas  dan  dengan spontan  diterima pasar  , sukses besar   bersamaan dengan sukses  filmnya  .Tapi  tetap saja  lagu lagu yang di album Jurang Pemisah  belum terlihat ada  signal  mau diputar oleh Radio    , biasanya jika sebuah album sukses  ,  album sebelumnya atau berikutnya   paling tidak akan terdongkrak dan akan bergerak  salenya  .

Ya apa boleh buat kita sudah harus rilis akhirnya .

 

Bagi saya album Badai Pasti Berlalu ini luar biasa.Tapi ada berapa kejadian  yang berhubungan dengan Pramaqua akan  saya ceritakan . Album ini adalah album  MAGIC   ,  Begitu banyak  orang yang memberi kontribusi tanpa pamrih  . album BAGUS yang patut kita miliki sebagai koleksi album musik kita . Album yang mengubah hidup kita .

Saya pilih lagu  yang menjadi titel film dan album , Badai Pasti Berlalu  , yang dinyanyikan Berlian Hutauruk   adalah  merupakan lagu yang terbaik dari album ini  , tidak bermaksud  mengecilkan Chrisye yang memang telah menoreh sejarah di musik Pop  Indonesia dan  juga untuk dirinya sendiri  . karena Chrisye bernyanyi di album ini merupakan rekaman dia yang terbaik . Jujur , Optimis dan Berani , Tidak kompromi . Persoalan kemudian karena sukses sehingga menjadi menuai Badai itu urusan lain .

 

Kontrak dengan artis pada saat itu adalah sangat sederhana , karena sistim Flat Pay yang dianut , sehingga tidak ada pasal didalam kontrak  yang  mengatur tentang sistim perhitungan dan pembayaran  royalty , demikian juga royalty kepada artis yang ikut menjadi guest star .

Flat Pay  disini  adalah  sebuah pembayaran dimuka   yang  all in right   termasuk mechanical rightnya . Jadi produser atau pimpinan proyek harus bertanggung jawab atas semua biaya atau fee kepada musisi yang memberi kontribusi dalam sebuah proyek . Persoalan disini  bisa menjadi ruwet dan konyol  dikemudian hari  , jika tidak diatur dengan baik .

Juga juga belum ada pasal yang melindungi kepentingan Label yaitu bahwa , artis tidak diperkenankan untuk merekam lagu yang sama dalam kurun waktu tertentu , biasanya  selama  5 tahun  setelah dirilis .

Juga  pasal yang mengatur bahwa artis tidak boleh membuat album lagi ,  tanpa permisi dari label  jika album yang  sebelumnya  ,belum  di rilis dan diberi  waktu minimal 6 bulan setelah rilis untuk melakukan masa promosi  .

 

Yockie  masih beberapa kali mampir ke kantor Pramaqua atau Aquarius di  Jalan Batutulis  untuk bertemu dengan Tono Sebastian .Yockie memang  dekat dengan Tono , ketika album ini sedang dalam penggarapan , sehingga Tono  mengetahui apa yang sedang mereka  kerjakan  , Tono memberi info kepada saya masalah pembuatan album sound track film ini . Saya belum kenal dengan Eros Djarot saat itu , tapi Tono yakin album ini akan jatuh ke Pramaqua , paling tidak distribusi albumnya .

Album digarap di studio yang sama  yaitu  studio Irama Mas milik In Chung  , sehingga Stanley atau Tetem  ( sound engineer )  dan Yockie the produser ( arranger ) sudah lebih mengenal  lagi  sound hasil studio tersebut . Apapun kata  orang  tentang  studio  di Pluit milik  Incung  itu     , adalah  studio  yang telah menghasilkan sound yang terbaik di Jakarta  pada waktu nya  dan studio yang melahirkan  album Badai Pasti Berlalu dan Jurang Pemisah   . Teten the engineer  dan Yokie The Produser   sudah mengenal studio Irama  Mas dengan baik  , melalui   proses  ketika mereka merekam  Musik Santai  dan Jurang Pemisah  untuk Pramaqua .

 “Tone ”  mulai terdengar lebih tepat  , Balance sudah baik  , jadi bukan hanya konsep albumnya Badai Pasti berlalu  saja  yang telah  lebih maju  tapi sound juga  telah lebih maju .  Mana mungkin kita dapat menikmati karya musik yang indah  dengan nyaman tanpa ditunjang   dengan sound yang baik .?

 

 Tono menceritakan kepada saya management produksi Album Badai Pasti Berlau  tidak rapi , karena tidak ada yang  membantu  mengurus  administrasi produksinya . Saya bertanya ke Tono , kenapa mereka tidak ke kita ya , Tono menjawab : Aah paling akhir dia ke kita lagi  kok , siapa sih yang mau  dengan album kaya gitu  !?

Saya tidak tau apakah ketika Eros  Djarot datang ke Pramaqua , dia sudah menawarkan master Badai Pasti Berlalu  ketempat lain .

Kantor Aquarius saat itu sedang dibangun , jadi tempat kita menerima tamu tidaklah tempat yang nyaman untuk berunding ,berdebu dan berisik  . Saat itu Eros  Djarot datang  bersama Titi Qadarsih   .  Eros tau saya rakus dengan musik progresif  jenis  seperti album Badai  ini , dan dia yakin bahwa album ini lebih komersial dibanding Jurang Pemisah , jadi dia yakin dia ada bargaining power yang lebih  , kita duduk dan kita  berunding  berhadap hadapan  , Titi ikut duduk disebelah kanan Eros  , kita duduk dan  besikap seperti pemain Poker profesional  .

Eros Dajrot lalu memberi sample lagu yang sudah jadi , dan memperdengarkan  lagu pertama dengan judul sesuai titel album  “Badai Pasti Berlalu “, ketika saya mendengar  lagu tersebut  yang dinyanyikan oleh Berlian Hutauruk  rahang saya jatuh dan saya tidak sadar sampai  melongo   , bulu ditangan saya berdiri , dan ini  tanda yang jarang timbul , saya merasa  lagu ini dahsyat sekali telah menyentuh sanubari saya , ketika lagu selesai diputar saya langsung jatuh cinta  ,  lagu berikutnya  di putar salah satu lagu yang dinyanyikan oleh  Chrisye , saya tidak ingat lagi lagunya apa  , karena   seluruh sistem  syaraf saya  dan emosi saya sudah tersedot dan ter sihir dengan   lagu Badai Pasti  Berlalu . Saya coba untuk menyembunyikan perasaan saya , orang kita lagi main Poker kok .

 

Saya tidak tau  apakah Eros Djarot  dapat melihat emosi saya ketika itu  tapi  Eros mulai bicara  bisnis  dan minta kondisi sistim royalti  , langsung saya setuju  .Royalty  rate yang diminta untuk  setiap kasetnya Rp 50 ,-  . saya langsung menjawab  OK  .setuju    ( harga ecer kaset waktu itu adalah  Rp 650 ( Maxcell UD ) untuk lagu barat  dan lagu Indonesia   Rp 450 ( Metro ) .

Tapi dia minta biaya penggantian  pembuatan master  , saya setuju   , masternya sebesar 5 juta rupiah , dia bilang masih hutang sewa studio di tempatnya Inchung . padahal  saya dengar dari Tono hutangnya cuma 2 juta rupiah , Wah apa nih maunya Eros .

Langsung saya menjadi    emosi   , karena God Bless saja kita bayar 5 juta  Flat Pay , kok ini biaya rekaman saja sebesar itu  demikian juga  album Jurang Pemisah  kita   keluar biaya keseluruhan nya  kira kira cuma 4 juta saja.

Saya terdiam cukup lama , Eros Dajrot melihat kepada saya  . karena  naluri saya  dalam negosiasi  telah saya persiapkan  sebagai seorang pemain Poker  , sehingga saya terus melakukan sikap dingin untuk melindungi posisi saya , dan inilah kesalahan besar  yang saya buat  .

Saya tanya kepada Eros , tidak salah kamu , Itukan harga FlatPay sebuah album ,  dia cuma  jawab ya begitu terserah mau atau tidak .

Eros ternyata juga main Poker , saya yakin dia tau sistem yang ada , tapi dia coba minta sistem Flat PLUS … royalty  .

Saya jadi kesal dan lepas kontrol , setan mana tau yang mampir kediri saya  , saya lupa Eros datang bersama Titi , langsung saja saya setengah mengusir dengan mengatakan , ya sudah kita tidak usah bicara lagi kalau begitu .  Eros  pun terkejut  tapi dia juga gengsi , diam sebentar  dan berdiri serta langsung pamit , disaat dia melangkah keluar dari kantor Aquarius di Batutulis , disaat itu saya sadar saya telah  kehilangan kesempatan   untuk memilki album Badai  Pasti Berlalu ,  tubuh saya  lemas  ,  saya hanya dapat menyebut Ya TUHAN   apa yang telah  saya perbuat , Apakah KAU tidak mau album ini ada ditempat kita  …………….sisanya adalah history .

 

Eros  Dajrot akchirnya kembali ke Irama Mas dan membuat perjanjian untuk merilis albumnya dengan Inchung  .  Karena Filmnya sudah mau tayang   , saya dengar  Eros minta royalty  sebesar 100 rupiah per kaset  tanpa biaya pengantian master karena hutang dari studio Inchung dianggap lunas  (?!) . Tapi sampai hari ini tidak jelas siapa pemilik masternya , kalau biaya produksi  album  ini dibayarkan oleh Inchung , master ini secara hukum menjadi milik Irama Mas .

Eros kemudian pergi ke Eropah untuk melanjutkan studinya , bisnis dengan Irama Mas dilanjutkan  oleh Chrisye  . Chrisye mengontrol peredaran kaset Badai  Pasti Berlalu dengan melakukan suatu tanda embose  dicover kaset nya , ini  dia lakukan  sendiri  , dia minta info kepada Tono dimana bikin mesin embose yang manual yang biasa dipakai oleh Pramaqua  ,  biasanya  sih yang  memberi tanda di cover kaset adalah  pemilik master yang melakukan  sistim jual label .  Saya tidak tau bagaimana deal yang dilakukan  oleh Eros  dengan Inchung  ,karena belum terbuka dan tinggal menjadi misteri sampai hari ini .

Sistem bisnis  ditahun  70an  masih primitif , kedua  belah pihak yaitu  Artis dan Record company masih belum memilki Understanding yang baik tentang  industri musik  .   Artis dan Label  juga tidak  memilki management yang profesional , semua dilakukan hanya berdasarkan insting saja .Celakanya kalau belum memiliki knowledge yang baik , biasanya  insting  bisa saja  jadi kampunganan dan   tersesat akhirnya .

 

Album ini sukses  , tapi timbul banyak masalah  dikemudian hari .Timbul tuntutan dari Berlian Hutaurul  ke Irama Mas karena merasa belum dibayar fee nya untuk dirilis di kaset . Belum lagi   dari yang lain  yang ikut memberi kontribusi dalam pembuatan nya  ikut mengeluh diabaikan begitu saja . Tapi  musisi dan arranger yang memang tidak umum menerima royalty , tentunya hanya menerima flat pay saja atas kontribusi mereka .

Album yang baik nilai artistiknya dan juga menjadi best seller dipasar , adalah impian setiap label  , dan  sering pada mulanya  tidak terlihat  tanda tanda nya  , Biasanya  tercipta nya pun  secara SPONTAN   tanpa persiapan management  yang baik  . Jika waktu itu dari awal proyek Badai sudah ditata  dengan sistim budget dan dengan  administrasi yang baik mungkin album tersebut tidak jadi seperti apa adanya . Karena pihak  label yang menyandang dana bisa berteriak dengan over budget  dan pemborosan yang dilakukan oleh Eros   , belum lagi jika dihitung kontribusi dari sutradara   Teguh Karya yang jelas tidak sedikit . Kalau saja Eros waktu itu bisa meyakinkan label , bahwa harga master yang diminta adalah pantas , dan dia bisa mendapatkan uang  waktu itu untuk membayar semua hutang hutangnya , hari ini kita  masih bisa menikmati CD nya   dengan versi remastering    uuuuuh uuuh uh .

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s