Menanti Kebangkitan Eka Sapta

Posted: Juni 5, 2013 in Uncategorized
Kelompok Eka Sapta di halaman Metropolitan Studio yang sekarang berubah menjadi Musica Studio's

Kelompok Eka Sapta di halaman Metropolitan Studio yang sekarang berubah menjadi Musica Studio’s

Hampir dipastikan, generasi sekarang nyaris tidak mengetahui eksistensi kelompok musik Eka Sapta. Inilah salah satu band papan atas Indonesia yang malang-melintang dalam industri musik pop era 1960 -1970. Dalam band ini berkumpul sederet pemusik sohor mulai dari Bing Slamet, Idris Sardi, hingga Ireng Maulana. Lalu bagaimana sejarah Eka Sapta?

Dari sampul belakang piringan hitam Eka Sapta tersemat sejumput kisah tentang Eka Sapta:

Berdasar ide jang baik dari sekelompok seniman-seniman ibukota untuk menjumbangkan dharma bhaktinja demi memadjukan musik berselera baik ke tengah masjarakat ramai,memadjukan karja komponis komponis Indonesia untuk langkah pertama, maka pada tanggal 1 Djuni 1963 jang lalu lahirlah sebuah perkumpulan musik jang diberi nama “Eka Sapta” dibawah pimpinan Sapta Tunggal. Suatu keanehan dari perkumpulan musik ini ialah, tidak mempunjai seorang pimpinan tetap, melainkan semua anggautanja setjara bergilir memegang pimpinan. Semua anggauta berhak mengeluarkan pendapat pendapatnja demi memadjukan Eka Sapta untuk mempertinggi mutu musik jang ditondjolkan kemuka. Karena itu pula Eka Sapta djalan sendiri ditengah-tengah kesibukan dunia musik sekarang ini – mengemukakan berbagai tjorak dan pelbagai warna musik ketengah-tengah chalajak ramai. Adapun anggauta-anggauta dari orkes Eka Sapta ialah Bing Slamet (gitar, perkusi, vocal), Idris Sardi (biola, bass), Itje Kumaunang (gitar, composer), Ireng Maulana (gitar), Benny Mustafa Van Diest (drums), Darmono (vibraphone) dan Muljono (piano, organ).

Dream Team
Singkatnya, Eka Sapta diniatkan menjadi kelompok musik serba bisa. Yang mampu memainkan musik pop dari berbagai sub-genre. Eka Sapta saat itu telah dianggap sebagai kelompok musik pengiring yang berkualitas. Apalagi latar belakang para pemusiknya yang cukup beragam. Idris Sardi, misalnya, memiliki latar belakang musik klasik dan orkestrasi. Itje Kumaunang adalah gitaris yang hirau pada musik jazz dan pencipta lagu terkenal ‘Pengembara’ dan ‘Kasih Mesra’.

Ireng Maulana dan Benny Mustafa Van Diest, saat itu telah dikenal sebagai pentolan kelompok The Leading Stars. Belum lagi Bing Slamet, seniman serba bisa yang piawai bermain gitar, menyanyi, menulis lagu, bermain film, dan melawak. Tak berlebihan jika Eka Sapta disebut sebagai The Dream Team.

Kekuatan dari segi musikal Eka Sapta lebih terangkat lagi terutama bersinerginya kelompok ini dengan Yamin Widjaja. Dia sahabat Bing Slamet sejak kecil yang berkecimpung dalam industri musik Tanah Air. Yamin yang kerap dipanggil Amin Cengli ini berperan sebagai penyandang dana Eka Sapta. Mulai dari fasilitas untuk berlatih, menyediakan instrumen musik mutakhir hingga menggiring Eka Sapta masuk dapur rekaman. Amin Cengli yang memiliki toko elektronik di kawasan Pasar Baru memang telah merintis mendirikan perusahaan rekaman seperti Bali Record, Canary, Mutiara, dan kemudian menjelma menjadi Metropolitan yang kelak berubah menjadi Musica Studio’s pada awal dekade 1970-an.

Konsep Instrumental
Saat Eka Sapta melangkah ke dunia rekaman, popularitas kelompok musik instrumental seperti The Ventures lewat hits ‘Walk Don’t Run’ dan ‘Hawaii Five-O’ maupun The Shadows lewat hits ‘Apache’ dan ‘Kon Tiki’ tengah meretas. Eka Sapta merasa warna musik kedua grup itu dekat dengan konsep mereka sebagai kelompok instrumental yang menaruh porsi gitar di undakan pertama. Gaya duo gitar Hank Marvin dan Bruce Welch dari The Shadows maupun duo gitar Bob Bogle dan Don Wilson dari The Ventures terasa mempengaruhi konsep musik Eka Sapta. Sebagai pemain bas Eka Sapta, Idris Sardi menggemari teknik bermain bass Nokie Edwards dari The Ventures.

Jadi, tak heran jika debut album perdana Eka Sapta lebih memilih memainkan karya-karya instrumental seperti ‘Tirtonadi’ (ciptaan Gesang), ‘Gambang Suling’ (ciptaan Ki Narto Sabdo), ‘Euis’ (ciptaan M Jasin), ‘Kalau Djodo’ (ciptaan R Maruthi), ‘Gadisku’ (ciptaan Ireng Maulana), ‘Herlina’ (ciptaan Bing Slamet), serta ‘Titian Nan Lapuak’ dan ‘Suling Bambu’.

Selain itu, Eka Sapta pun mulai mengiringi sejumlah penyanyi dalam album-albumnya seperti album EP (Extended Play) bertajuk Kasih Remadja. Album ini menampilkan duet antara Ireng Maulana dan Alice Iskak melantunkan empat lagu yaitu ‘Hey Paula’, sebuah hits yang dipopulerkan duet Paul & Paula, ‘Dua Insan Di Dunia’, ‘Dara Manis’, dan ‘Kasih Remadja’. Di album EP lainnya, Eka Sapta mengiringi Bing Slamet dalam album Bing dan Giman Bernjanji. Di album yang berisikan lagu seperti ‘Bunda Piara’, ‘Bing dan Giman Bernjanji’, ‘Burung Nuri’, dan ‘Kunanti Djawabmu’ ini, Bing Slamet berduet dengan Giman yakni suara Bing Slamet sendiri yang meniru album Alvin & The Chipmunks.

Yang pantas dicatat adalah album Eka Sapta bertajuk Varia Malam Eka Sapta yang dirilis Bali Records pada tahun 1964. Eka Sapta di sini mengiringi berbagai penyanyi yang tenar saat itu, seperti Tetty Kadi (‘Semalam Di Kuala Lumpur’), Lilies Surjani (‘Ulang Tahun Kakek’), Trio Parsito (‘Django’), Yanti Bersaudara (‘Sang Bango’), Munif (‘Bunga Nirwana’), Elly Kasim (‘Mudiak Arau’), Elly M Harris (‘Kau Pergi Tanpa Pesan’) serta dua karya instrumental, yaitu ‘Bingkisan Eka Sapta’ yang dibawakan Eka Sapta dan penampilan biola Idris Sardi dalam ‘Bingkisan Idris Sardi’.

Album ini memang diangkat dari pertunjukan Malam Eka Sapta Non Stop Revue yang berlangsung di delapan kota. Di sampul belakang album tertulis sebuah liner notes: “Hadirin sempat tertegun mengagumi suatu rangkaian tari, njanjian, lawak, dan musical show jang terpadukan dengan harmonis disirami permainan tjahaja dengan utas-utas jang gemerlapan berwarna sedap, indah, dan dekorasi jang menakdjubkan. Ini semuanja berlangsung pada “Malam Eka Sapta Non Stop Revue”.

Pergantian Formasi
Di saat Eka Sapta merambah popularitas, secara bersamaan muncul problema. Beberapa personelnya, seperti Benny Mustafa Van Diest, Ireng Maulana, dan Idris Sardi disibukkan dalam kegitan nonmusik. Solusi pun dicari. Beberapa personel baru masuk ke dalam formasi Eka Sapta, di antaranya drummer Eddy Tulis, bassist Enteng Tanamal, dan gitaris Kibout Maulana.

Tanpa terasa, personel Eka Sapta semakin bertambah dengan masuknya Hengky Firmansyah (gitar), Jopie Reinhard Item (gitar), Ariffin Z (terompet) dan W Wiharto (saksofon, flute). Selain itu juga terbentuk Eka Sapta Junior yang terdiri atas Jopie Reinhard Item (gitar), Rully Djohan (kibor), Papo Parera (bas), Ronny Makasutji (bas), Henky Makasutji (drum) dan Henky Firmansyah (gitar).

Terkadang, formasi Eka Sapta dan Eka Sapta Junior menyatu, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman. Formasi inilah yang kemudian merilis album bertema musik keroncong modern yaitu Eka Sapta Kerontjong (1970) dengan lagu ‘Tjinta Pertama’, ‘Pulau Seribu’, ‘Love Is Blue’, ‘Don’t Forget To Remember Me’, ‘Whiter Shade Of Pale’, dan album The Best Of Romantic Keronchong (1972) dengan lagu ‘Spinning Wheel’, ‘Nobody’s Child’, ‘For Mama’, ‘I Can’t Stop Loving You’, ‘Song Of Joy’. ‘Aquarius’, dan banyak lagi yang diproduksi oleh Canary dan Metropolitan Studio milik Amin Widjaja.

Tak pernah bubar
Mendung menyelimuti Eka Sapta, ketika satu per satu personelnya berpulang ke rahmatullah. Di awali dengan meninggalnya Bing Slamet sang inspirator pada tanggal 17 Desember 1974 lalu disusul dengan kepergian Eddy Tulis. Lima tahun berselang Amin Widjaja berpulang pada Agustus 1979. Bahkan para personelnya mulai disibukkan oleh proyek musik sendiri-sendiri. Ireng Maulana dan Benny Mustafa membentuk kelompok jazz Ireng Maulana All Stars. Jopie Item pun merancang grup jazz rock dengan nama Jopie Item Combo. Idris aktif sebagai penata musik film yang berkali kali meraih Piala Citra. Enteng Tanamal menjadi produser rekaman dan menggagas Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Alhasil, Eka Sapta hanya tinggal nama belaka. Secara resmi Eka Sapta memang tak pernah membubarkan diri.

Di tahun ini bahkan terbetik kabar bahwa Eka Sapta akan melakukan reuni yang ditandai dengan merilis sebuah album pada perusahaan rekaman peninggalan Amin Widjaja yaitu Musica Studio’s. Personel Eka Sapta yang dipastikan akan mendukung album ini antara lain Jopie Item, Benny Mustafa, Kibout Maulana, Idris Sardi. Penampilan Eka Sapta ini akan mengiringi putra-putri mereka bernyanyi. Ada Audy (putri Jopie Item), Andrea (putri Ireng Maulana), Lukman Sardi (putra Idris Sardi), bahkan cucu Bing Slamet (putra Adi Bing Slamet) telah dijadwalkan ikut dalam sesi rekaman reuni Eka Sapta.
Mari kita nantikan kebangkitan Eka Sapta.

DISKOGRAFI
1. Burung Kutjitja – Eka Sapta (Mutiara MEP 007 – 1963)
2. Eka Sapta – Eka Sapta (Mutiara ML 10001 – 1963)
3. Kasih Remadja – Eka Sapta , Ireng Maulana & Alice Iskak (Bali BER 007 -1963)
4. Bing dan Giman Bernjanji – Eka Sapta & Bing Slamet (Bali BER 008 – 1963) 5. Varia Malam Eka Sapta Non Stop Revue – Eka Sapta (Bali BLM 7002- 1969)
6. Bing Slamet dan Eka Sapta – Eka Sapta (Bali BLM 7007 – 1970)
7. Kerontjong – Eka Sapta (Canary 1970)
8. The Best Of Romantic Keronchong (Canary/Metropolitan 1972)

Tulisan ini dimuat di Harian Republika Senin, 08 Oktober 2007
9. Album Kenang Kenangan Bing Slamet – Eka Sapta (Bali Record BL C01 1975)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s